MANAGED BY:
SABTU
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Rabu, 06 September 2017 08:53
Spandukmu, Kelirumu, Statusmu

PROKAL.CO, CATATAN: SB SILABAN

BOLAK-balik saya baca, tak salah lagi, ada yang  tidak pas dengan kalimat di baliho itu. “Kasih Ibu Tak Sepanjang Pilkada”. Itulah kalimat di baliho, yang juga dihiasi foto Bupati Kukar, Rita Widyasari menggendong bayi. Baliho itu dipasang di berbagai tempat di Samarinda. Membaca kalimat itu, dengan mudah kita berkomentar, alangkah singkatnya kasih ibu.

Jika tahapan pilkada berlangsung selama enam bulan, berarti kasih ibu lebih pendek dari itu. Jika pilkada adalah pemungutan suara yang hanya berlangsung setengah hari, berarti kasih ibu super super super singkat. Saya tidak tahu siapa orang di balik pembuatan baliho itu. Saya juga tidak tahu, apakah Rita menyadari, makna kalimat itu bisa merugikan dia. Citra yang konon ingin dibangun Rita, sebagai seorang ibu (yang penyayang), atau sebagai ibu yang mengayomi, bisa rusak.

Yang kritis mungkin akan bilang: berarti setelah pilkada, jangan-jangan Rita menjadi ibu yang tak pedulian terhadap anak-anak. Alangkah manisnya jika kalimat itu diperbaiki menjadi “Pilkada Itu Sesaat, Kasih Ibu Abadi”. Atau “Kasih Ibu Lebih Panjang Dibandingkan Pilkada”. Bukankah kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah, kata pepatah? Mengamati baliho dan spanduk sejumlah figur yang berhasrat menjadi gubernur dan calon wakil gubernur, respons publik bisa jadi beragam. Sebuah baliho menyebutkan “Siapa pun wakilnya, gubernurnya Rita Widyasari”.

Yang lain seperti Hadi Mulyadi juga menyebut dirinya sebagai calon gubernur. Begitu juga beberapa figur lain. Menyebut diri mereka sebagai calon gubernur atau wakil gubernur. Dalam beberapa bulan terakhir, nama sejumlah orang semakin beredar. Mantan wali kota Bontang Sofyan Hasdam, mantan bupati Berau Makmur HAPK, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail, Bupati PPU Yusran Aspar dan Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi, termasuk figur yang disebut akan menjajal peluang di Pilkada Kaltim 2018.

Saat berada di Kutim pertengahan Agustus, saya melihat baliho dan spanduk Rusmadi Wongso termasuk yang paling mudah ditemukan. Spanduk yang “menjual” Sekprov Kaltim itu, dan spanduk dirinya bersama anggota DPR-RI Awang Ferdian, menarik perhatian saya. Secara personal, menurut saya, keduanya termasuk yang paling santun menyebut diri mereka.

Yakni, bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur. Secara faktual, itulah memang sebutan yang paling tepat. Keduanya, seperti juga semua figur yang berambisi itu, adalah bakal calon. Mereka baru menjadi calon setelah KPU Kaltim menyatakannya begitu. Bahkan Rita, yang akan diusung Golkar tanpa harus berkoalisi dengan partai lain karena memiliki kursi yang cukup di DPRD Kaltim, juga belum bisa menyebut dirinya sebagai calon.

Karena proses resmi Pilkada Kaltim 2018 belum sampai ke mana-mana, alias baru menjelang tahap awal. Karena itu, saya tertawa melihat sebuah baliho yang menyandingkan Rita dengan Farid Wadjdy, mantan gubernur Kaltim. Rita disebut sebagai calon, sedangkan Farid sebagai bakal calon. Kita tahu, politik terkadang teramat sangat dinamis. Sebagai pihak luar, saya menunggu dengan penuh minat, akankah Rita benar-benar menjadi calon gubernur.

Jika Setya Novanto, ketua umum DPP Golkar sudah menjadi terdakwa untuk kasus KTP-el, lalu katakanlah terjadi perubahan pimpinan partai itu, akankah Rita mulus menjadi calon? Jika berhasil menjadi calon, Rita akan menjadi perempuan kedua –semoga saya tak salah-, yang menjajal peluang untuk memimpin provinsi. Sebelumnya adalah Ratu Atut Chosiyah, yang berhasil menjadi gubernur Banten sebelum berakhir sebagai terpidana kasus korupsi. Jika Rita akhirnya bersaing dengan nama-nama yang disebut akhir-akhir ini, dia jelas unggul dalam sejumlah hal.

Paling muda. Paling cantik. Paling tinggi gelar akademisnya. Kata anak muda, menang banyak.

Tapi, sebagai warga Kaltim selama hampir 38 tahun terakhir, belum satu pun isi baliho para figur itu yang mampu menarik perhatian atau meyakinkan saya. Sebab, yang saya rindukan belum tergambar di dalamnya. Misalnya belum ada yang menjanjikan bahwa Bandara APT Pranoto di Sungai Siring akan mampu didarati jet (pada 2019), sebagaimana pernah dijanjikan seorang pemimpin. Duluuuuu…… Kalau hanya bisa didarati pesawat turboprop, bisa dibayangkan berapa banyak pengguna transportasi udara yang kecewa.

Saya ingat percakapan saya dengan Kadis Perhubungan Kaltim pada 2015, bahwa penyelesaian bandara itu molor dua tahun akibat persoalan menyangkut calon investor. Itu entah molor yang ke berapa, jika mengingat bahwa groundbreaking dilakukan pada 2005. Juga tak satu pun baliho para figur itu yang menyebutkan, akan membuat penerangan jalan Samarinda – Balikpapan lebih baik lagi. Minimal di kawasan yang ada penduduknya.

Spanduk Awang Ferdian sejak awal menarik minat saya. Ada kata-kata “melanjutkan” di dalamnya.

Saya sudah mendengar sejumlah komentar seru tentang itu. “Melanjutkan yang entah kapan selesainya-kah,” ujar beberapa kawan menyoroti jalan tol, bandara Samarinda dan terbengkalainya penggunaan sejumlah fasilitas berbiaya hingga ratusan miliar rupiah. Seperti Education Center. “Melanjutkan” di baliho Ferdian, juga ditanggapi  sebagian orang dengan mengaitkannya atas statusnya anak Awang Faroek, gubernur saat ini.

Baliho, spanduk, poster para figur itu memang bisa menjadi subjek sekaligus objek yang menarik. Di sebuah warung makan saya menemukan kalender 2017-2018 berisi foto Isran Noor, mantan bupati Kutim.

Tulisannya simpel: sosialisasi calon gubernur Kaltim. Saya merasa, model sosialisasi itu ke-pede-an, karena tanpa penjelasan sedikit pun siapa itu Isran. Jika dicermati, baliho Isran juga semakin sulit ditemukan. Entah ada kaitannya dengan kabar bahwa ia akan maju melalui jalur perseorangan, atau kabar bahwa kemampuan finansialnya tak sebesar, katakanlah 2014. Beberapa bulan lagi, kita tahu, spanduk sebagian figur itu hanya akan menjadi barang rongsokan. Wajah-wajah yang sekarang tampak percaya diri dan penuh senyum, tak lagi menjadi wajah yang dicari. Itu setelah mereka resmi gagal menjadi calon.

Para bakal calon akan menjadi mantan bakal calon, dan setelah itu, sebagian calon akan menjadi mantan calon. Pertanyaan sejak sekarang adalah, apakah mereka yang berhasil menjadi calon lalu terpilih, akan membawa kebaikan bagi provinsi ini. Siapa pun yang terpilih, akankah mampu bekerja sama maksimal dengan pemimpin Samarinda untuk membuat kota ini lebih minim banjir? Akankah ia juga mampu berkolaborasi dengan pemimpin Kukar, misalnya untuk membuat kabupaten ini terbaik di Kalimantan dalam hal meningkatkan kesejahteraan penduduk?

Atau, akankah ia benar-benar pemimpin dengan wibawa yang baik,  dan bukannya pemimpin yang bisa disetir sekelompok orang di lingkaran dalamnya?

Warga Kaltim sudah waktunya tak terbuai dengan janji manis, apalagi penampilan keren para figur. Itu semua tak ada kaitannya dengan kebaikan yang bisa dihadirkan. Tak perlu calon pemimpin yang gagah, tinggi besar terkesan berwibawa, atau senyum manis yang ditebar di mana-mana. Presiden Jokowi kurus dan tak gagah, toh hasil kerjanya “gagah”.

Untuk sekarang, silakan menikmati baliho para bakal calon itu. Mau tersenyum atau merengut membaca isinya, terserah Anda sajalah. (riz/k15)

(*) Anggota Dewan Redaksi Kaltim Post Group


BACA JUGA

Jumat, 10 November 2017 09:54

Kenapa Takut Degradasi?

CATATAN: RIZAL JURAID HARI ini “bersejarah”. Persiba Balikpapan akan menjamu Mitra Kukar.…

Rabu, 08 November 2017 09:16

Triliunan Disia-siakan, Belukar di Gedung Ratusan Miliar

CATATAN: SB SILABAN* BERUBAH memang tak mudah. Presiden Joko Widodo mengkritik tingkah birokrasi yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .