MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Rabu, 30 Agustus 2017 07:59
Citra Guru vs Citra Siswa

PROKAL.CO, CATATAN: ULIL MU’AWANAH
(Wartawan Kaltim Post)

PEMUKULAN yang dilakukan oknum guru kepada murid, akhir-akhir ini kembali melukai citra pengajar. Kasus itu tentu berdampak domino. Tak hanya kepada satu orang tapi juga sekolah, dan mempertaruhkan kepercayaan orangtua. Dalam konteks ini, saya mencoba mengambil sudut pandang dari seorang psikolog dan pengalaman pribadi.

Dwita Salverry, seorang psikolog dan pemerhati anak di Balikpapan berujar, hampir seluruh orangtua mengatakan pendidikan merupakan masa depan anak. Padahal, menurutnya pendidikan hanya upaya dalam memberikan kesempatan menjadikan anak sebagai subjek. Bukan sekadar objek yang harus menyesuaikan diri dengan kurikulum dan sistem yang telah dirancang. Dengan menjadikan anak sebagai subjek pendidikan, layak bagi kita untuk selalu berada di dalam kesadaran sebagai fasilitator.

Berlaku tegas bagi guru memang perlu. Sebagai tindakan terakhir. Tetapi bukan berarti guru dengan mudah melayangkan tangan ke anak. Contohnya dengan mencubit, menjewer atau menampar, dirasa sudah keluar dari batas ‘ajar-mengajar’. Mengingat medio terus beralih. Membawa perubahan kompleks hingga pola pikir seseorang. Tak bisa dipukul rata. Masing-masing individu kini membangun kepribadian berbeda. Terlebih dalam masa tumbuh kembang anak. Tak boleh membandingkan dengan medio anak gaul 80-90 an kala itu.

Maksud saya, sistem mendidiknya. Bila dulu, A dijawab A, maka bisa saja sekarang menjawab B ataupun Z. Sebab setiap anak membutuhkan gaya pengajaran berbeda. Apalagi bila si anak dicap hiperaktif. Padahal, bisa jadi dia memiliki kecenderungan kinestetik. Mengambil contoh sederhana, yakni keponakan saya. Ahza yang duduk di bangku kelas 3 SDIT Al-Auliya. Dia merupakan bocah hiperaktif. Kinestetik.

Menurut Howard Gardner, seorang pakar perkembangan anak Amerika, anak kinestetik memiliki ciri belajar dengan merasakan atau menyentuh langsung. Rasa ingin tahu tinggi hingga tak bisa diam.   

Seringkali guru-guru di sekolah mengadukan tingkah laku Ahza. Ketika pelajaran dimulai, ada saja gerakan maupun tingkah yang dilakukan. Termasuk mengganggu teman di sebelahnya. Wajarlah guru-guru dibuat pusing. Meski begitu, dia tak kesulitan dalam menangkap pelajaran yang disampaikan gurunya. Sekalipun hanya mendengar, dia bisa menghafal dan berhasil menjawab pertanyaan guru. Nilai pelajarannya juga cukup memuaskan. Meski jarang sekali membuka buku.

Ibunya yang merupakan sepupu saya, sempat menjadi pengajar. Dia pun memahami watak buah hatinya. Sesekali dia bisa bersikap tegas. Tapi tak mau membuat anaknya merasa tertekan. Sebelum masuk SD, Ahza juga sempat bersekolah di Sekolah Alam. Kurang lebih setahun. Sekolah ini memang didesain bagi anak kinestetik. Bak berada di taman. Bangunan yang menjadi tempat mereka belajar adalah gazebo dan rumah panggung. Terhubung langsung dengan alam. Bebas mengeksplore yang ada di sekitar mereka.  Pastinya para pengajar merupakan orang dengan toleransi tinggi. Kudu legawa. Sebab yang diajar merupakan puluhan anak dengan pola serupa.         

Anak-anak kinestetik lebih suka pendekatan persuasif. Antarpersonal. Maka perlu dibangun jembatan pertemanan bila ingin mengenal mereka. Bagi anak kinestetik, olahraga maupun kegiatan fisik merupakan perantara penting. Yang bisa dimanfaatkan dalam metode mengajar.  

Dan kini cobalah tengok sajak Kahlil Gibran, “Anakmu Bukanlah Anakmu.” Mereka memang lahir melalui kita, tetapi mereka bukan milik kita. Mereka bersama kita, tetapi mereka bukanlah milik kita. Sebab, jiwa-jiwa mereka adalah milik masa depan. Sebab, kehidupan itu menuju ke depan, bukan tenggelam di masa lampau.

Semoga tak ada lagi yang tercederai. Sebab citra siswa juga dilahirkan dari sosok sang guru. Jika anak-anak sekarang terlahir di masa Anda, pasti akan mengerti. Gaya mendidik itu berbeda. Karena guru pun juga manusia. (**/rsh/k18)  


BACA JUGA

Jumat, 10 November 2017 09:54

Kenapa Takut Degradasi?

CATATAN: RIZAL JURAID HARI ini “bersejarah”. Persiba Balikpapan akan menjamu Mitra Kukar.…

Rabu, 08 November 2017 09:16

Triliunan Disia-siakan, Belukar di Gedung Ratusan Miliar

CATATAN: SB SILABAN* BERUBAH memang tak mudah. Presiden Joko Widodo mengkritik tingkah birokrasi yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .