MANAGED BY:
SELASA
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 11 Agustus 2017 19:03
Sekolah 5 Hari, Siswa Madrasah Anjlok

PROKAL.CO, PROKAL.CO, JAKARTA- Pemerintah diminta memutuskan secara bijak  kebijakan sekolah lima hari atau yang popular dengan sebutan full day school. Sebab fakta yang ada, jumlah siswa madrasah yang bersekolah pada sore hari setelah paginya bersekolah reguler langsung anjlok. Fakta itu terungkap saat para ulama bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka kemarin. Tapi Presiden Jokowi meminta masyarakat agar tidak salah paham dengan kebijakan tersebut.

’’Perlu saya tegaskan, bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah atau full day school,’’ ujar Jokowi.

Sebab, dalam kondisi saat ini tidak semua sekolah bisa langsung menerapkan kebijakan tersebut. Ada sejumlah sekolah yang memang menyatakan siap, namun sebagian yang lain memang belum siap untuk menjalankan sekolah lima hari. Harus benar-benar dilihat bagaimana kondisi di lapangan.

Di sisi lain, Presiden juga mendukung bila ada sekolah sekolah yang siap menjalankan.

’’Jika ada sekolah yang memang sudah lama melakukan sekolah lima hari dan didukung masyarakat, ulama, maupun orang tua murid, ya silakan diteruskan,’’ lanjutnya. Peraturan hanya akan memperkuat saja apa yang sudah dilakukan.

Mengenai progres pembentukan aturannya, Presiden menyatakan belum bsia berbicara banyak. ’’Ya permendikbud ini nanti diganti dengan Perpres,’’ tambahnya. Sementara, untuk detail progresnya, dia mempersilakan publik bertanya kepada menteri terkait.

Dampak lima hari sekolah (LHS) atau sekolah delapan jam sehari bukan omong kosong. Di sejumlah daerah, banyak madrasah diniyah (madin) kehilangan siswa. Pemerintah dituntut untuk segera mencarikan solusinya.

Mualimin, pengelola Ponpes Al-Hikmah, Lampung, yang juga menyelenggarakan TPA mengatakan selama ini siswanya ada 20 orang.

"Sepekan ini tidak ada satupun yang datang ke musala," katanya saat ada pertemuan pengelola Madin di Bogor kemarin (10/8).

Ternyata setelah ditelusuri, SDN tempat anak itu sekolah, menerapkan sekolah lima hari. Menurut dia anak-anak pulang jam 15.00 dan tidak memungkinkan untuk bisa ikut TPA lagi.

Padahal pendidikan TPA di tempatnya tidak hanya baca Alquran saja. Tetapi juga ada materi tajwid dan fiqih. Dia berharap TPA yang sudah jalan selama tiga tahun itu bisa aktif kembali melayani masyarakat.

Kondisi serupa juga terjadi di Indramayu. Pengurus Yayasan Assafi'iyah, Patrol, Indramayu Muhammad Hafifi mengatakan sebagian SDN di daerahnya sudah menerapkan sekolah lima hari.

Akibatnya banyak Madin yang kehilangan siswa. "Kami sampai buka posko pengaduan FDS (Full Day School, red)," jelasnya. Posko itu diharapkan bisa menampung keluhan pengelola Madin.

Hafifi sendiri mengelola Madin Takmiliyah Ma'arif dengan jumlah siswa 250-an anak. Untung di kecamatannya seluruh SDN masih memakai enam hari sekolah.

Jadi seluruh siswa madin di tempatnya masih utuh. "Tetapi di kecamatan tetangga seperti Loh Sarang dan Anjatan sudah lima hari sekolah," jelasnya.

Ketua Rabhitah Ma'ahid Islamiyah (RMI), Abdul Ghofar Rozin menyebut laporan dan keluh kesah pengelola madrasah diniyah (madin) dan pondok pesantren masuk masuk ke meja RMI semenjak Permendikbud nomor 27 tahun 2017 diberlakukan pada Juni lalu.

Rozin, sapaan akrabnya, menyebut beberapa contoh. Di Madin Nurul Huda, Soka, Poncowarno, Kebumen Jateng. Sejak kebijakan sekolah 5 hari dikeluarkan, para siswanya sudah tidak pernah terlihat di madin lagi.

Dari laporan didapati bahwa para santrinya terlalu lelah karena pulang dari sekolah jam 17.00

Di Madin Miftahul Ulum, desa Kedungjati, Kecamatan Sempor, masih di Kebumen, para santri yang berstatus siswa SLTA tidak bisa lagi hadir karena pulang ke rumah puku 16.30. "Pengajiannya dimulai pukul 16.00, mereka sudah lelah," katanya.

Di Pondok Pesantren Darussalam Bandar Jaya Lampung, jumlah siswa menurun drastis sejak Juni. "Satu kelas habis tinggal 2 orang," katanya. Selain itu masih ada beberapa laporan dari Semarang dan Banyumas.

Rozin menjelaskan bahwa para santri yang mundur rata-rata adalah mereka yang menempuh pendidikan formal sembari menempuh pendidikan di pesantren.

Karena ada beban tambahan di sekolah, mereka memilih meninggalkan pesantren. "Ada yang pamit sendiri, ada yang dipamitkan oleh orang tuanya," katanya.

Menurut Rozin, meskipun pemerintah menetapkan bahwa permendikbud hanya akan berlaku sebagian, tapi kenyataannya, di daerah-daerah, para kepala Dinas Pendidikan maupun Kepala-Kepala sekolah sangat bersemangat untuk mewujudkannya tanpa memikirkan dampak terhadap madrasah diniyah. (jpnn)


BACA JUGA

Senin, 16 Oktober 2017 19:22

Cegah Kegaduhan, Polisi Seleksi Laporan soal KPK

Mencegah ada kegaduhan antarlembaga penegak hukum, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan,…

Senin, 16 Oktober 2017 19:17

Pelantikan Anies-Sandi, Prabowo Ditarik-tarik

Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di…

Senin, 16 Oktober 2017 19:14

WADOH..Jaksa di Neraka, KPK di Surga

Ada kejadian menarik saat rapat gabungan antara Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),…

Senin, 16 Oktober 2017 19:06

Jangan Buka Celah Korupsi di TNI

Agar tak terjadi kebocoran dan kerugian keuangan negara, Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus berkomitmen…

Senin, 16 Oktober 2017 19:01

Rhoma Irama Daftarkan Partai Ikut Pemilu

Hari terakhir masa pendaftaran Senin (16/10), pengurus sejumlah partai terlihat mendaftarkan partai…

Minggu, 15 Oktober 2017 07:46

Tarik Semua Polisi di KPK

JAKARTA – Pembentukan Detasemen Khusus (Densus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) menjadi momentum…

Minggu, 15 Oktober 2017 07:45

Tanggap Darurat Gunung Agung Diperpanjang

JAKARTA – Belum ada tanda-tanda Gunung Agung menghentikan aktivitas vulkanisnya hingga kemarin…

Minggu, 15 Oktober 2017 07:45

Penjualan Listrik PLN Naik 3,1 Persen

JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) kembali membukukan pertumbuhan penjualan listrik…

Minggu, 15 Oktober 2017 07:44

Dua WNI Lolos dari Hukum Pancung

JAKARTA - Dua WNI asal Kalimantan Selatan berinisial DT dan AHB dipulangkan dari Saudi Arabia setelah…

Minggu, 15 Oktober 2017 07:20

Tes CPNS Dibayangi Listrik Padam

JAKARTA – Dana tambahan yang disiapkan untuk tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) mencapai Rp…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .