MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Jumat, 11 Agustus 2017 08:40
Ibu Terhindar Kanker Payudara, Anak Luput Diabetes

Lula Kamal Berbagi Pentingnya ASI Eksklusif

JANGAN RAGU MENYUSUI: Lula Kamal berbagi kisah ispirasi menyusui di Panin Tower Jalan Jendral Sudirman Balikpapan, belum lama ini. (FOTO MARIA IRHAM/KP)

PROKAL.CO, Paras cantiknya tentu sudah tak asing lagi. Meski berstatus sebagai dokter, Lula Kamal sempat malang melintang di dunia hiburan. Beberapa tahun terakhir, dia fokus mengampanyekan pentingnya pemberian air susu ibu (ASI). Membeberkan segudang manfaat ASI untuk ibu dan anak.

DINA ANGELINA, Balikpapan

TREN konsumsi susu formula pernah melanda Tanah Air. Faktanya, dahulu banyak ibu yang tidak mengetahui bahwa ASI jauh lebih baik daripada susu formula. Mereka teperdaya dan justru menjejalkan buah hati dengan susu formula yang dinilai kaya akan protein tersebut.

Syukurnya, ilmu tidak pernah berbatas. Penelitian selalu berkembang, begitupun ASI. Kenyataannya, di balik tingginya kepercayaan pada susu formula, penelitian berhasil membuktikan jika ASI memiliki manfaat yang jauh lebih besar. Kini, banyak ibu rumah tangga yang kembali mengampanyekan pentingnya ASI.

Hal itu juga yang dilakukan oleh dr Lula Kamal. Dalam berbagai kesempatan dan kunjungannya ke daerah, Lula dengan semangat menyala berusaha menyebarkan informasi tersebut. Termasuk kedatangannya ke Kota Minyak beberapa hari lalu, Lula memacu agar ibu kembali ke kodratnya, yakni menyusui. Lula mengatakan, hal yang utama perlu dilakukan ibu adalah memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya selama enam bulan pertama masa kelahiran.

Kemudian, ASI bisa terus berlanjut hingga batas maksimal dua tahun. Itu pun juga dibantu dengan pemberian makanan pendukung ASI (MPASI).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 30 tahun menunjukkan, ada banyak manfaat setelah ibu menerapkan ASI. Efeknya bisa terlihat baik dari sisi jangka pendek maupun jangka panjang. Di antaranya IQ anak akan lebih tinggi sekitar 6 poin, ketahanan tubuh lebih baik, sampai tingkat alergi menurun.

Contohnya saat terserang diare dan influenza, bayi yang mengonsumsi ASI dapat menangkal dua serangan itu lebih mudah. “Efek jangka panjangnya bisa terlihat saat anak nanti dewasa. Sebab, potensi diabetes hingga obesitas di masa mendatang akan lebih rendah. Jadi, manfaatnya pun panjang, bukan hanya bicara sewaktu mereka bayi,” ungkapnya.

Bayi dengan ASI juga dapat merespons vaksinasi lebih baik. Meski vaksinasi sendiri tidak menjamin bayi terlindung 100 persen. Semua bergantung dari reaksi anak masing-masing. Kemudian, ucap Lula, ASI dapat mengurangi faktor alergi. Salah satunya seperti potensi alergi protein susu sapi.

"Sebisa mungkin bayi tidak boleh dikasih dot, lebih baik pakai sendok karena bisa berdampak pada rahangnya yang tidak terbentuk sempurna. Anak dengan ASI akan punya rahang yang lebih baik karena aktivitas dia menyusunya," tuturnya.

Tidak hanya anak, sesungguhnya manfaat ASI juga bermanfaat bagi sang ibu. Lula mengungkapkan, potensi mengidap kanker payudara dan kanker ovarium akan menurun drastis untuk ibu yang menyusui. Kemudian yang paling utama, dengan menyusui tercipta sebuah hubungan chemistry antara ibu dan anak. Hal ini disebut dengan bonding.

"Saat menyusui kita dekat dan berinteraksi dengan anak. Bisa memahami karena saling berpandangan. Dengan kedekatan itu, kita bisa mendeteksi jika tumbuh kembang anak terasa berbeda. Contohnya jika mengidap autisme, kita bisa deteksi sedini mungkin sejak menyusui mereka," ucapnya.

Selain menciptakan bonding, menyusui dapat membuat ibu memerhatikan jika pertumbuhan bayinya sangat baik. Sebab, pertumbuhan saraf paling pesat terjadi saat bayi berusia 0 – 2 tahun. Bersamaan dengan masa-masa pemberian ASI. Sementara itu, ibu pun masih mendapatkan segudang manfaat. Seperti terhindar dari risiko osteoporosis hingga obesitas.

Mengapa? Aktivitas menyusui ternyata dapat membakar 500 kalori dalam tubuh. Menurut penelitian, ucap dia, menyusui sambil berbaring akan lebih bagus. Sebab, ibu tidak terlalu capek dan santai. Sehingga produksi ASI menjadi banyak. "Kalau ibu tidak sayang sama anak, paling tidak sayang sama diri sendiri. Makanya harus mau menyusui, apalagi yang utama bisa menurunkan potensi kanker payudara. Kenyataannya, jumlah penderita kanker payudara dan ovarium semakin lama semakin tinggi," sebutnya.

Lula menuturkan, ASI sangat menguntungkan karena terasa lebih murah, mudah, dan efisien. Semua tinggal hanya kemauan masing-masing ibu. Ia bersyukur, semakin hari banyak ibu yang sadar pentingnya menyusui karena edukasi sudah tersebar.

Menurutnya, tak ada alasan untuk tidak menyusui. Apalagi perempuan pekerja pun sekarang bisa pompa ASI. Ada yang mengatakan kewalahan pompa karena tidak ada waktu. Padahal pompa harus dilakukan setiap dua jam sekalinya. Kalau tidak begitu, produksi ASI bisa berkurang terus. "Solusinya mudah, ibu bisa bergantian dengan pekerja lainnya. Jadi, saling kerja sama. Ketika kita akan pompa ada yang menggantikan pekerjaan kita sementara, begitu pula sebaliknya," urainya.

"Saya dulu pompa di mana saja ke manapun saya beraktivitas. Itu justru menyenangkan dan sekarang saya rindukan," sambung dia. Ia menjelaskan, terdapat tiga elemen dalam menyusui. Yaitu baby, braze, dan brain. Salah satu yang penting adalah brain. Misalnya ibu harus tenang tidak boleh stres.

Sehingga anak juga dapat merasa senang ketika ingin menyusui. Saat ibu stres, maka anak bisa merasakan hal yang sama. "Menyusui itu harus menyenangkan, bukan hanya merasa kewajiban. Saya sendiri kadang kangen dengan momen menyusui karena saya itu saya bisa merasa begitu dekat dengan anak. Kita bisa kontak antarkulit, mengobrol, bercerita, pandang-pandangan seperti quality time," bebernya.

Dia menambahkan, kemungkinan dulu banyak yang lalai karena tidak tahu manfaat ASI begitu besar. Ibaratnya, ASI adalah pegangan. "Kalau mau punya anak, dalam pikiran perempuan harus tertempel mau menyusui," pungkasnya. (riz/k15)


BACA JUGA

Rabu, 16 Agustus 2017 09:16

Terkesima Toleransi, Terobsesi Slogan Work Hard, Play Hard

Tertarik mempelajari lingkungan hidup lebih intim, Mira Anantha Yosilia melangkahkan kakinya hingga…

Selasa, 15 Agustus 2017 09:01

Nasi dan Roti Tak Pas di Lidah, Kepincut Lanjut S-2

Tiap hari, purna pasikbra Indonesia ini mengasah kemampuan berbahasanya dengan menonton serial-serial…

Senin, 14 Agustus 2017 08:29

Liput Konser Klasik, Telur Rebus Jadi Menu Andalan

Bersama 76 pelajar dari seluruh Indonesia, dua siswa SMA 3 Samarinda mengenyam pendidikan bahasa Jerman…

Sabtu, 12 Agustus 2017 08:03

Tagihan Hotel Belum Dibayar, Jamaah Ngotot Umrah

Masih ingat kasus Timur Sarana (Tisa) Tour and Travel yang gagal memberangkatkan ribuan calon jamaah…

Sabtu, 12 Agustus 2017 06:58

Lamar Jadi PRT, Berhasil Gondol Barang Elektronik

Memiliki tubuh yang ramping, kulit putih, serta suara yang lembut menjadi modal bagi Su, warga Kelurahan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 06:49

Kian Modern, Kini Siapkan Perluasan Daya Tampung, Koridor, hingga Wisata Kuliner

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Pelabuhan Semayang tak lagi kumuh, kuno, dan kusam. Penumpang…

Jumat, 11 Agustus 2017 08:40

Ibu Terhindar Kanker Payudara, Anak Luput Diabetes

Paras cantiknya tentu sudah tak asing lagi. Meski berstatus sebagai dokter, Lula Kamal sempat malang…

Kamis, 10 Agustus 2017 09:02

Dehidrasi, Tetap Antusiasi ke Masjid Khandaq

SELAGI menjalankan rutinitas ibadah salat Arbain selama 40 waktu atau 8 hari di Madinah, jamaah calon…

Kamis, 10 Agustus 2017 08:58

Kini, Hilda Lebih Sehat, Tidur Nyenyak dan Tidak Pelupa Lagi

Coiling endovascular merupakan metode pengobatan aneurisma untuk mencegah stroke. Sebelumnya, metode…

Rabu, 09 Agustus 2017 08:38

Sisihkan 300 Kompetitor dalam Tujuh Menit

Satu lagi pemuda berprestasi dari Kota Minyak, Muchtar Nashir namanya. Hampir setiap tahun, pria berusia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .