MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 10 Agustus 2017 10:11
Internetnya Ngebut, Orang Jepang Tetap Lebih Percaya Koran

Menikmati Liburan Musim Panas di Tokyo (3-Habis)

TAMPIL BEDA: Membaca koran Kalteng Pos di Shibuya Cross, persimpangan yang disebut tersibuk di dunia. (foto: erwin d. nugroho)

PROKAL.CO, Soal teknologi, Jepang terkenal selalu lebih maju dibandingkan negara lain. Industri elektronik dan otomotifnya telah menguasai dunia. Bagaimana dengan digital? Apakah internet mengubah Negeri Sakura?

ERWIN D NUGROHO, Tokyo

SALAH satu kekhawatiran banyak orangtua di Indonesia dewasa ini adalah dampak buruk internet bagi kehidupan. Anak muda yang malas bergerak dan sibuk dengan gadget mereka, tidak produktif, kecanduan games online dan lebih parah lagi otak jadi kacau karena keseringan terpapar konten pornografi. Infrastruktur internet yang semakin baik dan telah menjangkau hingga ke pelosok-pelosok negeri dituduh sebagai penyebabnya.

Orang-orang dengan smartphone seharga ratusan ribu rupiah saja sekarang bisa beli paket data internet murah dan langsung terhubung ke alam global. Dunia maya membawa kesenangan-kesenangan artifisial, salah satunya interaksi di media sosial (medsos). Segalanya tampak seperti begitu mudah di internet. Baru tersadar beratnya hidup saat berhadapan dengan tantangan dunia nyata.

Lalu bagaimana Jepang, negeri dengan infrastruktur digital jauh lebih maju dari Indonesia, dengan penetrasi pengguna internet sudah lebih dari 80 persen populasi? Di negeri itu, internet dimanfaatkan untuk urusan-urusan yang lebih produktif.  

Jurnalis dan analis Dolores M Bernal dalam sebuah artikel menyebut masyarakat Jepang sebenarnya tidak terlalu menyukai medsos. Selain karena faktor bahasa, juga budaya; orang Jepang tidak suka tampil (narsis) sehingga kalaupun bermain media sosial, lebih banyak yang anonymous alias memakai identitas samaran. Rasio penduduk Jepang yang menjadi pengguna medsos aktif juga tidak setinggi negara lain. Facebook dan Twitter, misalnya, bukanlah platform favorit di Negeri Matahari Terbit.

Hasil riset Nielsen NetRatings Japan pada 2016 menunjukkan, aplikasi paling populer di Jepang  adalah Line, dengan rata-rata 43,5 juta pengguna unik setiap bulan, disusul YouTube di peringkat kedua dan Google Maps di peringkat ketiga. Adapun Twitter dan Facebook, dua app medsos paling banyak digunakan di Indonesia, jauh berada di peringkat tujuh dan delapan.

Saat berada di Tokyo, saya secara acak “mengintip” aktivitas apa yang dilakukan orang Jepang pengguna smartphone yang saya jumpai di tempat umum. Di kereta, kebanyakan mereka asyik menonton video (movie) dengan earphone menempel di telinga. Tak hirau orang sekitar. Ini berbeda dengan Singapura, misalnya, di mana banyak pengguna smartphone suka main games kalau sedang berada di dalam kereta. Atau di Jakarta, pengguna smartphone asyik chatting dan ngerumpi melalui video call bahkan saat sedang jalan-jalan di mal.

Di kamar hotel tempat kami menginap di Tokyo, saya iseng memeriksa kecepatan akses internet yang tersambung melalui fasilitas wifi gratis. Surprised: beberapa kali tes menggunakan aplikasi SpeedTest, hasilnya selalu di atas 50Mbps baik untuk download maupun upload. Bandingkan dengan internet yang biasa saya pakai di Jakarta menggunakan teknologi 4G, yang belum tentu bisa mendapat kecepatan seperempatnya. Dengan kualitas akses internet sekencang itu di Jepang, nonton video streaming YouTube maupun mengunduh file-nya untuk ditonton offline akan sangat menyenangkan. Mungkin bisa secepat transfer file dari komputer ke flashdisk.

Internet mobile pun tak kalah mumpuni. Paket internet roaming internasional yang saya aktifkan selama di Jepang sukses mendapat kecepatan rata-rata di atas 20 Mbps dan terus terhubung sepanjang waktu, termasuk dalam perjalanan menuju dataran tinggi Gunung Fuji melewati hutan dan lembah. Internet juga tetap terhubung meskipun sedang berada di lantai basement gedung stasiun maupun di dalam kereta yang sedang melaju di bawah tanah (subway). Tidak ada pengalaman internet mati karena berada di blankspot area.

Infrastruktur internet yang telah mapan itu tidak lantas membuat orang Jepang mabuk gadget. Di kereta, misalnya, lebih banyak yang memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur sekejap, daripada main gadget. “Orang Jepang sangat menghargai waktu. Terbiasa disiplin dengan jadwal harian yang ketat. Jadi tidak terlalu banyak waktu untuk main-main sama gadget. Sejak kecil sudah diajarkan seperti itu,” kata Yoko Kadomaru, warga Jepang yang mendampingi kami keliling Tokyo.

Di Akihabara, pusat elektronik Tokyo yang dikenal juga sebagai Akihabara Electric Town, ponsel-ponsel pintar merek lokal dijual sangat murah di kisaran JPY 15.000 sampai 20.000. Bila dirupiahkan, tak lebih dari Rp 250 ribu per unit baru. Sayangnya ponsel beraksara Jepang tersebut hanya dijual untuk penduduk lokal, dengan pendaftaran identitas dan hanya bisa dipasangi simcard nomor lokal pula. “Not work outside Japan,” kata penjaganya. Tak akan berfungsi di luar Jepang.

Berbeda dengan di Indonesia, smartphone juga sudah menjadi alat untuk propaganda politik, bullying kelompok berbeda maupun saling serang antargolongan, di Jepang smartphone masih lebih banyak menjalankan fungsinya yang lama; alat komunikasi (call and texting). Sedangkan untuk kebutuhan informasi yang valid dan tepercaya, orang Jepang tetap membaca koran cetak.

Sebagai contoh, hari pertama kami di Tokyo, berita yang sedang ramai adalah PM Jepang Shinzo Abe melakukan perombakan kabinet. Dia mengganti sejumlah menteri. Koran Asahi Shimbun yang kami kunjungi pada hari kedua di Tokyo memuat berita reshuffle tersebut sebagai headline. “Berita pergantian menteri ini membuat jumlah cetak koran kami hari ini juga naik sekitar 20 persen dibandingkan hari sebelumnya,” kata Uono, kepala percetakan Asahi Shimbun yang menerima rombongan Harian Kalteng Pos (Kaltim Post Group).

Alih-alih menghabiskan waktu membicarakan perombakan kabinet itu di medsos, orang Jepang memilih membaca ulasan para pakar di media. Analisisnya lebih dapat dipercaya. Sumber-sumbernya resmi dan diperoleh dari tangan pertama. Melalui proses kurasi dan editing redaksi. Orang Jepang percaya informasi harus didapat dari saluran resmi; media. Berbeda jauh dengan kondisi kekinian di Indonesia di mana orang mudah termakan informasi palsu dari sumber tak jelas.

Apa yang terlihat di Tokyo mengajarkan satu hal; teknologi betapapun hanyalah alat. Penopang. Jangan sampai dibikin mabuk oleh alat. (windede@prokal.co/far/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 19 Agustus 2017 08:20

365 Hari Menuju Asian Games

JAKARTA  –  Presiden Joko Widodo ‎melakukan cara yang tidak biasa ketika membuka…

Sabtu, 19 Agustus 2017 08:18

Masuknya Investasi Dorong Ekonomi

SAMARINDA  –  Angin segar mulai berembus pada kondisi perekonomian Kaltim. Meski tumbuh…

Sabtu, 19 Agustus 2017 08:14

Siapkan Sanksi Kader yang Membelot

SAMARINDA  –  Partai Golkar menyimpan sederet nama kader potensial sebagai bakal calon…

Sabtu, 19 Agustus 2017 08:13

Berlangganan Kaltim Post, Dapat Diskon 20 Persen

BALIKPAPAN  –  Kabar baik menghampiri pelanggan setia Kaltim Post. Harian terbesar di…

Sabtu, 19 Agustus 2017 08:12

Alasan Menyusui, Baru Dieksekusi

SAMARINDA  –  Rumah dua lantai Blok ES di Kompleks Citra Garden City bercat abu-abu…

Sabtu, 19 Agustus 2017 08:10

Keluhkan Jual-Beli Buku di Sekolah

Salam hormat admin Kaltim Post. Disdikbud Samarinda mengeluarkan surat edaran tentang larangan menjual…

Jumat, 18 Agustus 2017 10:17

Kaltim Terus Membaik

SAMARINDA – Tak seperti tahun sebelumnya, saat ini, ekonomi Kaltim menunjukkan perbaikan. Badan…

Jumat, 18 Agustus 2017 10:14

Kado Merdeka Garuda Muda

BALIKPAPAN – Timnas U-22 membuka jalan lolos dari babak penyisihan Grup B SEA Games 2017. Bermain…

Jumat, 18 Agustus 2017 10:07

Rekor Dunia hingga Sebuah Pengorbanan

BALIKPAPAN dan Samarinda sama-sama diguyur hujan kemarin (17/8). Upacara HUT Ke-72 RI di kedua kota…

Jumat, 18 Agustus 2017 09:51

Tiap 1 Jam, 15 Orang Melanggar

Memiliki lingkungan yang bersih tentu menjadi dambaan. Keinginan saja tak cukup bila tak dibarengi tindakan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .