MANAGED BY:
SELASA
17 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 10 Agustus 2017 08:58
Kini, Hilda Lebih Sehat, Tidur Nyenyak dan Tidak Pelupa Lagi

Intip Pengobatan Stroke Pertama Kali di Luar Pulau Jawa

PASIEN PERTAMA: Hilda Handayani (tengah) setelah menjalani coilingendovascular di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Selama masa pemulihan, dia dalam pengawasan dr Arie Ibrahim (kanan). (NOVITA//KP)

PROKAL.CO, Coiling endovascular merupakan metode pengobatan aneurisma untuk mencegah stroke. Sebelumnya, metode terfamilier di Pulau Jawa. Tapi kini, sudah bisa ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.

NOVITA INDRIANI, Samarinda

KEKUATAN Hilda Handayani melemah saat kepalanya didera sakit luar biasa. Tak kuat menahan sakit, perempuan 46 tahun itu pun pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan, diketahui, dia mengalami aneurisma. Jika aneurisma terjadi di otak dan pecah, bisa menyebabkan stroke.

Menurut dr Arie Ibrahim SpBS (K), aneurisma disebabkan dinding pembuluh darah yang melemah. Membuat pembuluh darah membengkak, seperti bentuk balon. Jika dibiarkan, pembuluh darah bisa pecah dan menyebabkan stroke. Gejala yang dirasakan pasien salah satunya adalah sakit kepala hebat, yang tidak pernah dirasakan seumur hidup.

“Untuk mencegah pecahnya pembuluh darah atau mengobati aneurisma bisa dengan dua cara. Yaitu dengan open method atau operasi dengan cara membuka bagian tengkorak kepala, kemudian kelainan pembuluh darahnya di-cliping untuk menghentikan aliran darah yang masuk ke area benjolan atau balon,” ucapnya.

Sedangkan yang kedua bisa dengan endovascular coiling. Cara kedua ini masih terbilang baru di Indonesia, dan hanya dilakukan di Pulau Jawa. “Tapi sekarang sudah bisa dikerjakan di RSUD AWS untuk pertama kalinya,” imbuhnya. Arie menjelaskan, coiling endovascular merupakan prosedur memblok aliran darah ke dalam aneurisma. Dengan cara memasukkan coil (kawat) yang terbuat dari bare platinum.

Bahan tersebut lebih lembut, mudah dibentuk, dan dapat menyatu dengan trombus atau darah. Untuk melakukan coiling endovascular, pasien dalam keadaan setengah sadar supaya pasien tenang. Kemudian, menggunakan alat cath lab, dokter memasukkan kateter ke dalam arteri femoralis di daerah pangkal paha, hingga mencapai daerah aneurisma.

“Setelah itu dimasukkan lagi kateter yang lebih kecil melalui kateter sebelumnya untuk memasukkan coil ke daerah aneurisma. Kedua metode pengobatan aneurisma ini memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kalau dengan open method, karena buka otak pasti ada risiko operasi,” jelasnya. Sedangkan dengan coiling, walaupun tanpa buka otak, tetap ada risiko membuat pembuluh darah pecah saat kawat dimasukkan. “Kalau pecah pasti terjadi perdarahan dan harus segera dioperasi, makanya pasien perlu dibius,” tutur Arie.

Untuk melakukan coiling endovascular tersebut, tim bedah saraf RSUD AWS disupervisi tim endovascular dari Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya, yaitu dr Nur Setiawan Suroto SpBS. Namun ke depannya, mandiri dengan tim bedah saraf di Samarinda. Yaitu dr Arie Ibrahim SpBS (K) dan dr Grace Sianturi SpBS. Arie mengatakan, setelah menjalani coiling endovascular, saat ini kondisi pasien sudah lebih baik. Hilda pun mengaku merasa lebih sehat, tidur lebih nyenyak, dan tidak pelupa lagi.

“Tapi setelah di-coiling pasien tetap perlu mengontrol kesehatannya ke dokter. Menjaga makanan yang dikonsumsi, tidak boleh beraktivitas berat, olahraga ringan, tidak dianjurkan mengejan terlalu keras saat buang air besar. Pokoknya semua harus dijaga dengan benar,” pungkasnya. Metode coiling endovascular memang baru pertama kali dilakukan di RSUD AWS. Arie mengatakan, sama seperti pengobatan jantung, coiling endovascular pastinya juga akan di-cover Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Ditambahkan oleh direktur RSUD AWS dr Rachim Dinata Marsidi, untuk coiling endovascular menggunakan alat cath lab. Saat ini, RSUD AWS memiliki dua cath lab yang tak hanya digunakan untuk jantung, tapi juga bedah saraf dan bedah toraks kardiovaskular. (riz/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 14 Juli 2018 06:29

Berkat Keisengan, Raih Omzet Puluhan Juta Rupiah

Aziz sebelumnya menghasilkan uang dari membawakan sebuah acara. Namun kini, selain bercuap-cuap dia…

Rabu, 04 Juli 2018 07:27

Kondisi Kejiwaan Membaik, Pernah Dirawat di Panti Welas Asih

Warga Sukabumi mendadak gempar dengan kembalinya Nining Sunarsih. Hal itu, lantaran janda beranak dua…

Sabtu, 30 Juni 2018 01:33

Praktik Berhitung dengan Roket, Melayang di Simulator Astronaut

Mata pelajaran sains dan matematika kerap menjadi momok. Bagi kebanyakan siswa di Indonesia. Tapi kalau…

Sabtu, 30 Juni 2018 01:21

Pemkab Serius, Satu Pulau Butuh Rp 20 Miliar

Tak hanya Pulau Balikukup dan Derawan yang terancam gerusan abrasi. Pulau Sambit, justru lebih dulu…

Sabtu, 30 Juni 2018 00:59

Tempat Asyik untuk Merayakan Kenangan

Ibu Kota Rusia, Moskow, adalah kota yang amat hidup. Dia menggabungkan memori, sejarah, dan arsitektur…

Minggu, 24 Juni 2018 11:51

Lagi Asyik Nyelam, Tiba-Tiba Buaya Berenang Melintas di Atas Kepala

Nana Nayla, seorang pencinta olahraga menyelam atau diving, mengabadikan langsung lewat kameranya buaya…

Sabtu, 23 Juni 2018 06:58

Olah Bahan Bakar dari Limbah Plastik, Hadapi Amerika dan Prancis di Final

Mahasiswa Indonesia berhasil menembus lima besar kompetisi internasional bertajuk Shell Ideas360. Bertanding…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .