MANAGED BY:
RABU
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 08 Agustus 2017 09:08
Kerepotan karena Tidak Semua Pengrajin dari Kalangan Bangsawan

Jatuh-Bangun Melestarikan Anyaman Khas Dayak (2-Habis)

CAPING KHAS: Penulis memegang saung seling khas Dayak Kenyah yang konon motifnya seperti caping pemberian Jalung Bali Jelau. Foto kiri, Theodora Hangin Bang Donggo mengajarkan cara cepat menganyam gelang.(ist)

PROKAL.CO, Setelah menembus pasar industri kreatif di Jogjakarta, anyaman khas Dayak dalam waktu dekat akan masuk ke Bali.

DEVI ALAMSYAH, Balikpapan

DI KRAYAN, Kalimantan Utara, konon, ada seorang warga yang memiliki anak gadis. Namun, si gadis ini terlihat enggan untuk menikah, hingga orangtuanya kesal. “Nanti, kamu menikahnya sama Jalung Bali Jelau”. Itu peribahasa setempat yang menunjukkan ketidakmungkinan. Jalung Bali Jelau sendiri bagi masyarakat setempat memiliki arti dewa air.

Mungkin padanan peribahasanya seperti "Bagai pungguk merindukan bulan" yang memiliki makna sama. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Suatu hari, kejadian betulan. Si gadis ternyata hamil. Orangtuanya kelimpungan karena anaknya tidak mau cerita soal kehamilannya itu. Pada malam hari, bapak si gadis sengaja menunggui anaknya. Terlihat ada bayangan masuk. Dan ternyata benar bahwa bayangan tadi itu adalah sosok Jalung Bali Jelau.

Karena tepergok, maka Jalung Bali Jelau berjanji tidak akan mendatangi perempuan tersebut. Namun, ia berpesan, jika nanti anaknya lahir usia tiga bulan, maka dibawa ke danau yang ia sebutkan. Saat waktunya tiba, perempuan tersebut ke danau yang dimaksud dan muncullah caping, lengkap dengan selendang atau gendongan bayi. Caping yang muncul itu bermotif Saung Seling, milik warga Dayak Kenyah.

Motif itulah yang sekarang coba dilestarikan sebagai identitas Dayak Kenyah. Menurut Paulus Kadok dari Yayasan Total Indonesie, setiap motif ada historisnya, itu juga yang membuat anyaman ini bernilai. Dan hampir setiap suku punya motifnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan di Jawa, biasanya caping hanya polos saja, tidak bermotif, caping Dayak ini bervariasi dan penuh warna.

Ini menunjukkan strata sosial, kebangsawanan. Namanya pun beda-beda tiap suku. Ada Cahung Kallung (Dayak Aoheng), Saung Seling (Dayak Kenyah), Silaung Mawatik (Dayak Tahol) atau Raung Basung (Dayak Lundayeh). Semua nama-nama itu untuk caping. Menurut tradisi warga, caping digunakan sehari-hari. Tapi, tidak setiap orang boleh menggunakan motif tertentu. Misalnya yang Saung Seling, itu hanya digunakan oleh keturunan bangsawan suku Kenyah.

Kalau bukan bangsawan dilarang pakai, bahkan untuk membuat anyaman dengan motif tersebut pun tidak diperbolehkan. Kadok awalnya kerepotan, karena pengrajin tidak semuanya dari kalangan bangsawan. Jika ada larangan tersebut, bagaimana bisa memproduksi caping dan melestarikan budaya leluhur. Tim dari Yayasan Total Indonesie mencoba menegosiasikan dengan para tetua suku atas larangan membuat itu. Akhirnya disepakati, pengrajin boleh membuat tetapi tidak boleh memakainya.

LIRIK PASAR BALI

Sejak menggulirkan Dayak's Craft Conservation Program (CCP), tim Yayasan Total Indonesie berkomitmen untuk membeli setiap produk kerajinan anyaman yang dihasilkan warga. Syaratnya, produknya harus bagus. Yayasan akan mencarikan pasar bagi produk etnik tersebut. Setiap tahun, alokasi anggaran untuk program tersebut berkisar Rp 450 juta hingga Rp 500 juta.

Lama-kelamaan, produk hasil anyaman yang dibeli kian banyak. Sementara permintaan produknya tidak meningkat. Maklum mayoritas pembelinya ekspatriat. Nah, sekarang jumlah ekspatriat di Balikpapan menurun dan banyak yang pulang ke negaranya, otomatis hal itu juga mengurangi angka penjualan. “Setiap produk yang kami beli, 50 persennya saja yang bisa kami jual kembali,” kata Agus, pengurus Yayasan Total Indonesie yang kini berganti nama jadi Yayasan Mahakam Lestari.

 Barang-barang yang belum terjual disimpan di gudang galeri di Balikpapan dan ada beberapa yang kondisinya rusak. Di sisi lain, yayasan tidak bisa menghentikan produk anyaman yang dibuat warga, karena itu yang menjadi misi utamanya. Yayasan pun tidak boleh mengambil keuntungan dari itu, karena bukan lembaga profit. Dari angka pembelian hanya boleh menambahkan uang transportasi. Karena itu, strategi pengereman suplai melalui pengecekan kualitas.

“Kalau kualitasnya kurang, produknya cacat, kita kembalikan. Tapi kalau bagus, tidak ada alasan, harus kita beli,” ucap Paulus Kadok, menimpali. Yayasan membeli anyaman dari warga dengan harga bervariasi. Misalnya, kata Kadok, Silaung Mawatik dari Dayak Tahol, Malinau, pengrajin hanya menjual Rp 8 – Rp 100 ribu. Tapi, dibeli yayasan Rp 400 ribu. Tapi yang Saung Seling, pengrajin menawarkan harga Rp 1 – 1,5 juta, tapi yayasan membelinya seharga Rp 500 ribu.

“Mereka tidak rugi, itu kan harga emosional. Kalau biaya produksinya ya jauh dari itu. Kita menghargai proses pembuatannya,” ujar Kadok. Untuk melebarkan pasar anyaman khas Dayak, yayasan berencana akan masuk Bali. Selama ini, produk anyaman Dayak sudah masuk Jogjakarta, hanya saja tidak bisa mendongkrak penjualan. Kalah bersaing dengan produk Jawa yang harganya jauh lebih murah. “Biasanya kita kalah di harga dan bersaing sama produk lokal,” imbuhnya.

Pengenalan produk juga dilakukan dengan mengikuti pameran di berbagai daerah. Dalam setahun, paling tidak ada 40 pameran yang diikuti, termasuk festival budaya Erau di Tenggarong, Kukar yang baru saja usai. (riz/k15)


BACA JUGA

Senin, 16 Oktober 2017 08:08

Sentuhan Klasik Modern dari Produk Lokal

Blue Sky Pandurata Boutique Hotel adalah salah satu aset berharga Pemprov Kaltim di Jakarta. Berpotensi…

Sabtu, 14 Oktober 2017 07:07

Semringah Disapa sang Raja saat Makan Malam

Tak hanya masuk deretan nama 50 guru terbaik dunia, Dayang Suriani diundang Raja Abu Dhabi Syaikh Khalifah…

Sabtu, 14 Oktober 2017 06:58

Buat Miniatur dari Stik Kayu, Dijual di Etalase RnB

Tak hanya menjalani masa tahanan, warga binaan Rutan Kelas IIB Balikpapan juga diberi kesempatan berkreativitas.…

Jumat, 13 Oktober 2017 08:06

Kalau Sudah Jatuh Cinta, Mau Bagaimana Lagi

Di tengah gempuran musik digital, lahir komunitas pelestari. Fokus mereka agar sape dikenal dan semakin…

Kamis, 12 Oktober 2017 08:26

Ketika Air Laut Kelewat Dipercaya Memupus Haus

Kekuasaan itu seperti air laut. Makin diminum, makin bikin haus. Haus dan air laut yang luput kendali…

Rabu, 11 Oktober 2017 08:23

Perokok Makin Muda, Berhenti Cukup dengan Teknik Pernapasan

Lebih dari sepertiga atau 36,3 persen penduduk Indonesia saat ini menjadi perokok. Bahkan, 20 persen…

Selasa, 10 Oktober 2017 08:16

Pesona Itu Bernama Lettu Burai Enggang

Dalam HUT ke-40 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 2017, busana khas Dayak menyihir pengunjung. BUSANA…

Senin, 09 Oktober 2017 08:23

Baru Empat Bulan, Tak Punya Pembina, Bersiap Penghijauan Massal

Sudah saatnya yang muda menularkan semangat menjaga keasrian lingkungan. Seperti yang dilakukan sekelompok…

Sabtu, 07 Oktober 2017 02:20

Kaltim Lakukan 2.000 Aksi dari 1.300 Zetizen

Ada ribuan zetizen di Kaltim yang mengunggah aksi positif ke www.zetizen.com. Dari ribuan orang itu,…

Sabtu, 07 Oktober 2017 02:10

Terkesan Kota yang Dinamis dengan Warganya yang Sadar Hukum

BALIKPAPAN  –  AKBP Jeffri Dian Juniarta yang kurang lebih dua tahun menjabat kapolres…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .