MANAGED BY:
MINGGU
25 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 08 Agustus 2017 09:08
Kerepotan karena Tidak Semua Pengrajin dari Kalangan Bangsawan

Jatuh-Bangun Melestarikan Anyaman Khas Dayak (2-Habis)

CAPING KHAS: Penulis memegang saung seling khas Dayak Kenyah yang konon motifnya seperti caping pemberian Jalung Bali Jelau. Foto kiri, Theodora Hangin Bang Donggo mengajarkan cara cepat menganyam gelang.(ist)

PROKAL.CO, Setelah menembus pasar industri kreatif di Jogjakarta, anyaman khas Dayak dalam waktu dekat akan masuk ke Bali.

DEVI ALAMSYAH, Balikpapan

DI KRAYAN, Kalimantan Utara, konon, ada seorang warga yang memiliki anak gadis. Namun, si gadis ini terlihat enggan untuk menikah, hingga orangtuanya kesal. “Nanti, kamu menikahnya sama Jalung Bali Jelau”. Itu peribahasa setempat yang menunjukkan ketidakmungkinan. Jalung Bali Jelau sendiri bagi masyarakat setempat memiliki arti dewa air.

Mungkin padanan peribahasanya seperti "Bagai pungguk merindukan bulan" yang memiliki makna sama. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Suatu hari, kejadian betulan. Si gadis ternyata hamil. Orangtuanya kelimpungan karena anaknya tidak mau cerita soal kehamilannya itu. Pada malam hari, bapak si gadis sengaja menunggui anaknya. Terlihat ada bayangan masuk. Dan ternyata benar bahwa bayangan tadi itu adalah sosok Jalung Bali Jelau.

Karena tepergok, maka Jalung Bali Jelau berjanji tidak akan mendatangi perempuan tersebut. Namun, ia berpesan, jika nanti anaknya lahir usia tiga bulan, maka dibawa ke danau yang ia sebutkan. Saat waktunya tiba, perempuan tersebut ke danau yang dimaksud dan muncullah caping, lengkap dengan selendang atau gendongan bayi. Caping yang muncul itu bermotif Saung Seling, milik warga Dayak Kenyah.

Motif itulah yang sekarang coba dilestarikan sebagai identitas Dayak Kenyah. Menurut Paulus Kadok dari Yayasan Total Indonesie, setiap motif ada historisnya, itu juga yang membuat anyaman ini bernilai. Dan hampir setiap suku punya motifnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan di Jawa, biasanya caping hanya polos saja, tidak bermotif, caping Dayak ini bervariasi dan penuh warna.

Ini menunjukkan strata sosial, kebangsawanan. Namanya pun beda-beda tiap suku. Ada Cahung Kallung (Dayak Aoheng), Saung Seling (Dayak Kenyah), Silaung Mawatik (Dayak Tahol) atau Raung Basung (Dayak Lundayeh). Semua nama-nama itu untuk caping. Menurut tradisi warga, caping digunakan sehari-hari. Tapi, tidak setiap orang boleh menggunakan motif tertentu. Misalnya yang Saung Seling, itu hanya digunakan oleh keturunan bangsawan suku Kenyah.

Kalau bukan bangsawan dilarang pakai, bahkan untuk membuat anyaman dengan motif tersebut pun tidak diperbolehkan. Kadok awalnya kerepotan, karena pengrajin tidak semuanya dari kalangan bangsawan. Jika ada larangan tersebut, bagaimana bisa memproduksi caping dan melestarikan budaya leluhur. Tim dari Yayasan Total Indonesie mencoba menegosiasikan dengan para tetua suku atas larangan membuat itu. Akhirnya disepakati, pengrajin boleh membuat tetapi tidak boleh memakainya.

LIRIK PASAR BALI

Sejak menggulirkan Dayak's Craft Conservation Program (CCP), tim Yayasan Total Indonesie berkomitmen untuk membeli setiap produk kerajinan anyaman yang dihasilkan warga. Syaratnya, produknya harus bagus. Yayasan akan mencarikan pasar bagi produk etnik tersebut. Setiap tahun, alokasi anggaran untuk program tersebut berkisar Rp 450 juta hingga Rp 500 juta.

Lama-kelamaan, produk hasil anyaman yang dibeli kian banyak. Sementara permintaan produknya tidak meningkat. Maklum mayoritas pembelinya ekspatriat. Nah, sekarang jumlah ekspatriat di Balikpapan menurun dan banyak yang pulang ke negaranya, otomatis hal itu juga mengurangi angka penjualan. “Setiap produk yang kami beli, 50 persennya saja yang bisa kami jual kembali,” kata Agus, pengurus Yayasan Total Indonesie yang kini berganti nama jadi Yayasan Mahakam Lestari.

 Barang-barang yang belum terjual disimpan di gudang galeri di Balikpapan dan ada beberapa yang kondisinya rusak. Di sisi lain, yayasan tidak bisa menghentikan produk anyaman yang dibuat warga, karena itu yang menjadi misi utamanya. Yayasan pun tidak boleh mengambil keuntungan dari itu, karena bukan lembaga profit. Dari angka pembelian hanya boleh menambahkan uang transportasi. Karena itu, strategi pengereman suplai melalui pengecekan kualitas.

“Kalau kualitasnya kurang, produknya cacat, kita kembalikan. Tapi kalau bagus, tidak ada alasan, harus kita beli,” ucap Paulus Kadok, menimpali. Yayasan membeli anyaman dari warga dengan harga bervariasi. Misalnya, kata Kadok, Silaung Mawatik dari Dayak Tahol, Malinau, pengrajin hanya menjual Rp 8 – Rp 100 ribu. Tapi, dibeli yayasan Rp 400 ribu. Tapi yang Saung Seling, pengrajin menawarkan harga Rp 1 – 1,5 juta, tapi yayasan membelinya seharga Rp 500 ribu.

“Mereka tidak rugi, itu kan harga emosional. Kalau biaya produksinya ya jauh dari itu. Kita menghargai proses pembuatannya,” ujar Kadok. Untuk melebarkan pasar anyaman khas Dayak, yayasan berencana akan masuk Bali. Selama ini, produk anyaman Dayak sudah masuk Jogjakarta, hanya saja tidak bisa mendongkrak penjualan. Kalah bersaing dengan produk Jawa yang harganya jauh lebih murah. “Biasanya kita kalah di harga dan bersaing sama produk lokal,” imbuhnya.

Pengenalan produk juga dilakukan dengan mengikuti pameran di berbagai daerah. Dalam setahun, paling tidak ada 40 pameran yang diikuti, termasuk festival budaya Erau di Tenggarong, Kukar yang baru saja usai. (riz/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Februari 2018 11:05
Subuh Perdana Novel Baswedan di Masjid Al Ihsan setelah Teror Air Keras

Tidak Trauma, Hanya Pandangan Mata Kabur

Setelah lebih dari sepuluh bulan, Novel Baswedan kembali berjalan kaki melewati jalan tempat dia disiram…

Sabtu, 24 Februari 2018 07:36

Mesti Observasi Dua Hari, Disarankan Istirahat Total

Foto Nusyirwan Ismail terbaring sakit membuat heboh jagat maya kemarin (23/2). “Tumbangnya”…

Sabtu, 24 Februari 2018 07:24

Renaldi Kembali Tampil 5 Maret Mendatang

PRESTASI  gemilang kembali ditorehkan putra asal Benua Etam, tepatnya Penajam Paser Utara (PPU)…

Sabtu, 17 Februari 2018 08:09

Motivasi Warga Binaan Rutan, sampai Resmikan Musala di Pelosok

Di luar ingar-bingar aksi panggungnya, Wali Band memiliki sejumlah kegiatan sosial. Dengan bendera Wali…

Sabtu, 17 Februari 2018 06:34

Ubah Metode Tanam, Produksi Naik Dua Kali Lipat

Padi menjadi salah satu komoditas terpenting dalam struktur pangan nasional. Tak terkecuali di Kaltim.…

Sabtu, 03 Februari 2018 01:47

Cepat Haus dan Sering Buang Air Kecil, Tanda Harus Waspada

Penyakit diabetes mellitus (DM) mengincar seluruh kalangan. Tak kenal muda, tua sampai anak-anak, semua…

Senin, 29 Januari 2018 08:26

Bertahun-tahun Tersesat, Lupa Nama dan Alamat

Hampir semua orang ingin berumur panjang. Tapi, tak selamanya anugerah itu membuat orang bahagia. Di…

Minggu, 28 Januari 2018 07:44

Ada Timses Tak Bisa Bikin Surat Elektronik

Sistem baru pelaporan harta kekayaan peserta pemilihan kepala daerah (pilkada) yang berbasis online…

Sabtu, 27 Januari 2018 07:02

Merasakan Serunya Memacu Ski-doo

Setelah kunjungan ke pabrik alat-alat berat, saatnya menjajal lokasi wisata. Menikmati keseruan ski-doo…

Sabtu, 27 Januari 2018 06:53

Tumbuh Subur, Suplai Hasil Panen ke Hotel dan Perusahaan

Tak banyak yang tahu kegiatan narapidana di dalam lapas. Selama ini, mereka hanya diidentikkan terisolasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .