MANAGED BY:
SELASA
17 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 08 Agustus 2017 09:08
Kerepotan karena Tidak Semua Pengrajin dari Kalangan Bangsawan

Jatuh-Bangun Melestarikan Anyaman Khas Dayak (2-Habis)

CAPING KHAS: Penulis memegang saung seling khas Dayak Kenyah yang konon motifnya seperti caping pemberian Jalung Bali Jelau. Foto kiri, Theodora Hangin Bang Donggo mengajarkan cara cepat menganyam gelang.(ist)

PROKAL.CO, Setelah menembus pasar industri kreatif di Jogjakarta, anyaman khas Dayak dalam waktu dekat akan masuk ke Bali.

DEVI ALAMSYAH, Balikpapan

DI KRAYAN, Kalimantan Utara, konon, ada seorang warga yang memiliki anak gadis. Namun, si gadis ini terlihat enggan untuk menikah, hingga orangtuanya kesal. “Nanti, kamu menikahnya sama Jalung Bali Jelau”. Itu peribahasa setempat yang menunjukkan ketidakmungkinan. Jalung Bali Jelau sendiri bagi masyarakat setempat memiliki arti dewa air.

Mungkin padanan peribahasanya seperti "Bagai pungguk merindukan bulan" yang memiliki makna sama. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Suatu hari, kejadian betulan. Si gadis ternyata hamil. Orangtuanya kelimpungan karena anaknya tidak mau cerita soal kehamilannya itu. Pada malam hari, bapak si gadis sengaja menunggui anaknya. Terlihat ada bayangan masuk. Dan ternyata benar bahwa bayangan tadi itu adalah sosok Jalung Bali Jelau.

Karena tepergok, maka Jalung Bali Jelau berjanji tidak akan mendatangi perempuan tersebut. Namun, ia berpesan, jika nanti anaknya lahir usia tiga bulan, maka dibawa ke danau yang ia sebutkan. Saat waktunya tiba, perempuan tersebut ke danau yang dimaksud dan muncullah caping, lengkap dengan selendang atau gendongan bayi. Caping yang muncul itu bermotif Saung Seling, milik warga Dayak Kenyah.

Motif itulah yang sekarang coba dilestarikan sebagai identitas Dayak Kenyah. Menurut Paulus Kadok dari Yayasan Total Indonesie, setiap motif ada historisnya, itu juga yang membuat anyaman ini bernilai. Dan hampir setiap suku punya motifnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan di Jawa, biasanya caping hanya polos saja, tidak bermotif, caping Dayak ini bervariasi dan penuh warna.

Ini menunjukkan strata sosial, kebangsawanan. Namanya pun beda-beda tiap suku. Ada Cahung Kallung (Dayak Aoheng), Saung Seling (Dayak Kenyah), Silaung Mawatik (Dayak Tahol) atau Raung Basung (Dayak Lundayeh). Semua nama-nama itu untuk caping. Menurut tradisi warga, caping digunakan sehari-hari. Tapi, tidak setiap orang boleh menggunakan motif tertentu. Misalnya yang Saung Seling, itu hanya digunakan oleh keturunan bangsawan suku Kenyah.

Kalau bukan bangsawan dilarang pakai, bahkan untuk membuat anyaman dengan motif tersebut pun tidak diperbolehkan. Kadok awalnya kerepotan, karena pengrajin tidak semuanya dari kalangan bangsawan. Jika ada larangan tersebut, bagaimana bisa memproduksi caping dan melestarikan budaya leluhur. Tim dari Yayasan Total Indonesie mencoba menegosiasikan dengan para tetua suku atas larangan membuat itu. Akhirnya disepakati, pengrajin boleh membuat tetapi tidak boleh memakainya.

LIRIK PASAR BALI

Sejak menggulirkan Dayak's Craft Conservation Program (CCP), tim Yayasan Total Indonesie berkomitmen untuk membeli setiap produk kerajinan anyaman yang dihasilkan warga. Syaratnya, produknya harus bagus. Yayasan akan mencarikan pasar bagi produk etnik tersebut. Setiap tahun, alokasi anggaran untuk program tersebut berkisar Rp 450 juta hingga Rp 500 juta.

Lama-kelamaan, produk hasil anyaman yang dibeli kian banyak. Sementara permintaan produknya tidak meningkat. Maklum mayoritas pembelinya ekspatriat. Nah, sekarang jumlah ekspatriat di Balikpapan menurun dan banyak yang pulang ke negaranya, otomatis hal itu juga mengurangi angka penjualan. “Setiap produk yang kami beli, 50 persennya saja yang bisa kami jual kembali,” kata Agus, pengurus Yayasan Total Indonesie yang kini berganti nama jadi Yayasan Mahakam Lestari.

 Barang-barang yang belum terjual disimpan di gudang galeri di Balikpapan dan ada beberapa yang kondisinya rusak. Di sisi lain, yayasan tidak bisa menghentikan produk anyaman yang dibuat warga, karena itu yang menjadi misi utamanya. Yayasan pun tidak boleh mengambil keuntungan dari itu, karena bukan lembaga profit. Dari angka pembelian hanya boleh menambahkan uang transportasi. Karena itu, strategi pengereman suplai melalui pengecekan kualitas.

“Kalau kualitasnya kurang, produknya cacat, kita kembalikan. Tapi kalau bagus, tidak ada alasan, harus kita beli,” ucap Paulus Kadok, menimpali. Yayasan membeli anyaman dari warga dengan harga bervariasi. Misalnya, kata Kadok, Silaung Mawatik dari Dayak Tahol, Malinau, pengrajin hanya menjual Rp 8 – Rp 100 ribu. Tapi, dibeli yayasan Rp 400 ribu. Tapi yang Saung Seling, pengrajin menawarkan harga Rp 1 – 1,5 juta, tapi yayasan membelinya seharga Rp 500 ribu.

“Mereka tidak rugi, itu kan harga emosional. Kalau biaya produksinya ya jauh dari itu. Kita menghargai proses pembuatannya,” ujar Kadok. Untuk melebarkan pasar anyaman khas Dayak, yayasan berencana akan masuk Bali. Selama ini, produk anyaman Dayak sudah masuk Jogjakarta, hanya saja tidak bisa mendongkrak penjualan. Kalah bersaing dengan produk Jawa yang harganya jauh lebih murah. “Biasanya kita kalah di harga dan bersaing sama produk lokal,” imbuhnya.

Pengenalan produk juga dilakukan dengan mengikuti pameran di berbagai daerah. Dalam setahun, paling tidak ada 40 pameran yang diikuti, termasuk festival budaya Erau di Tenggarong, Kukar yang baru saja usai. (riz/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 14 Juli 2018 07:27

Diyakini Bertahan Hidup karena Ajaran Biksu Ekkapol

Saat 12 anak Moo Pa terjebak di gua, banyak orang menyalahkan Ekkapol Chantawong, asisten pelatih tim…

Sabtu, 14 Juli 2018 06:29

Berkat Keisengan, Raih Omzet Puluhan Juta Rupiah

Aziz sebelumnya menghasilkan uang dari membawakan sebuah acara. Namun kini, selain bercuap-cuap dia…

Rabu, 04 Juli 2018 07:27

Kondisi Kejiwaan Membaik, Pernah Dirawat di Panti Welas Asih

Warga Sukabumi mendadak gempar dengan kembalinya Nining Sunarsih. Hal itu, lantaran janda beranak dua…

Sabtu, 30 Juni 2018 01:33

Praktik Berhitung dengan Roket, Melayang di Simulator Astronaut

Mata pelajaran sains dan matematika kerap menjadi momok. Bagi kebanyakan siswa di Indonesia. Tapi kalau…

Sabtu, 30 Juni 2018 01:21

Pemkab Serius, Satu Pulau Butuh Rp 20 Miliar

Tak hanya Pulau Balikukup dan Derawan yang terancam gerusan abrasi. Pulau Sambit, justru lebih dulu…

Sabtu, 30 Juni 2018 00:59

Tempat Asyik untuk Merayakan Kenangan

Ibu Kota Rusia, Moskow, adalah kota yang amat hidup. Dia menggabungkan memori, sejarah, dan arsitektur…

Minggu, 24 Juni 2018 11:51

Lagi Asyik Nyelam, Tiba-Tiba Buaya Berenang Melintas di Atas Kepala

Nana Nayla, seorang pencinta olahraga menyelam atau diving, mengabadikan langsung lewat kameranya buaya…

Sabtu, 23 Juni 2018 06:58

Olah Bahan Bakar dari Limbah Plastik, Hadapi Amerika dan Prancis di Final

Mahasiswa Indonesia berhasil menembus lima besar kompetisi internasional bertajuk Shell Ideas360. Bertanding…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .