MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 07 Agustus 2017 10:42
Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

DI
antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama, seorang perjaka. Umur 25 tahun. Kerja sebagai operator turbin. Di PLTU Kendari, Sulawesi Tenggara. Gaji Rp 5 juta sebulan. Ia lagi pulang ke Surabaya memanfaatkan cuti sebulan. Untuk menengok ibunya yang menjanda. Dan mengawini pacarnya yang akan dia ajak merantau ke Kendari.

Kedua, sepasang suami istri yang kelihatan kompak. Mereka kaya. Mapan sekali. Jabatannya tinggi sekali. Di perusahaan swasta raksasa. Di luar itu, dia masih punya usaha. Yang juga sangat majunya. Dia pun punya anak. Tunggal. Perempuan.

Putri tunggalnya itu luar biasa hebatnya. Problem tamu yang pertama adalah pacarnya. Yang selama empat tahun terakhir dia tinggal cari kerja. Mencari penghidupan di luar pulau. Ternyata sang pacar menolak kawin. Apalagi, akan dibawa ke Kendari. Padahal, si pemuda sudah telanjur beli rumah di sana.

Sang pacar yang tinggal di Caruban, dekat Madiun, rupanya berubah sikap. Tidak mau lagi kawin dengannya. Alasan resminya: tidak mau dibawa ke Kendari. Putri seorang buruh tani miskin itu kirim SMS agar mencari saja gadis selain dirinya.

Jejaka tadi bingung dengan penolakan itu. Waktu belum punya pekerjaan dulu dia tidak berani melamar. Setelah dapat pekerjaan mapan lamaran ditolak. Dia sempat berpikir untuk berhenti bekerja. Demi calon istrinya. Dia ingin mencari pekerjaan baru di Jawa. Dia sudah janji pada ibunya untuk menikah di masa cuti ini. Agar ibunya bisa segera punya pendamping baru. Calonnya sudah ada. Hanya, sang ibu baru mau menikah lagi kalau anak bujangnya itu sudah menikah.

Dia minta keputusan saya. Apapun yang saya putuskan dia akan ikuti. Saya minta dia saja yang memutuskan. Ini menyangkut kehidupannya. Dia yang paling tahu. Tapi, dia terlalu bingung. Karena menyangkut ibu yang sangat dihormatinya.

Maka saya putuskan: Lupakan pacarnya. Kembali bekerja. Rayulah ibunya. Agar segera menikah lagi. Tidak usah tunggu anaknya. Saya jelaskan alasan-alasan saya. Juga cara-cara meyakinkan ibunya.

Saat pamit dia merasa lega. Masa cutinya tinggal lima hari saja. Yang tidak kalah rumit adalah tamu kedua. Sebetulnya juga tidak rumit. Bahkan mestinya menyenangkan. Rumah tangganya rukun. Sang suami insinyur mesin. Istrinya insinyur kimia. Bekerjanya di perusahaan raksasa. Jabatannya tinggi luar biasa. Masih pula punya usaha. Bahkan beberapa.

Anaknya satu. Putri. Cantik. Jenius. Lho, kan tidak ada masalah. Saya kaget. Ternyata ada masalah besar. Punya anak terlalu pandai ternyata tidak mudah. Tidak seperti yang kita bayangkan. Atau impikan. Ayah-ibunya itu ternyata luar biasa susahnya. Dan ternyata yang lebih menderita lagi adalah anaknya.

Mempunyai anak super pandai ternyata tidak mudah. Padahal, saat ini banyak orangtua yang sampai memaksa agar anaknya juara. Ternyata memerlukan kriteria khusus menjadi orangtua bagi anak yang istimewa.

Saya akan menuliskan soal penderitaan anak jenius ini pekan depan. Terutama bagaimana si anak ternyata merasa tidak pernah bisa dipahami oleh lingkungannya. Bahkan oleh keluarga sendiri.

Suatu saat, tumben, nilai si anak tidak 100. Orangtuanya menegur. Si anak mendongkol. Dalam hati. Dia simpan kedongkolannya itu. Dia tidak pernah mau menjelaskan bahwa hari itu dia sengaja menjawab salah. Untuk sekadar ingin merasakan bagaimana rasanya sesekali tidak mendapat nilai 100.

Sebetulnya masih ada beberapa tamu lagi hari itu. Tamu ketiga ini juga membawa masalah keluarga. Tapi tidak perlu saya uraikan di sini. Terlalu biasa. Hanya problem sepele. Bagaimana pemuda ini terlalu dicintai istrinya. Sampai-sampai dia terlibat utang macet di beberapa bank. Dengan jaminan milik istrinya.

Kali ini dia tidak berani bicara pada sang istri. Sayalah yang diminta bicara. Bagi saya ini mudah. Saya tidak punya problem psikologi dengan suami-istri yang belum punya anak ini. Toh, saya baru kenal dia hari itu juga. Dan baru akan kenal istrinya keesokan harinya.

Alhamdulillah. Keputusan saya pun dituruti keduanya. Ini karena mereka sudah mengenal saya bertahun-tahun. Menurut perasaan mereka. Alhamdulillah. Istrinya juga bisa menerima. Toh, saya tidak memutuskan untuk memisahkannya. (rom/k11)


BACA JUGA

Senin, 14 Agustus 2017 09:31

Sulitnya (Punya) Anak Superpandai

CATATAN: DAHLAN ISKAN UMUR Audrey baru empat tahun. Saat itu. Tapi, pertanyaannya setinggi filsuf: Ke…

Senin, 07 Agustus 2017 10:42

Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

CATATAN: DAHLAN ISKANDI antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama,…

Senin, 24 Juli 2017 12:35

Anomali Bisnis Tanpa Keterangan

Saya ajukan pertanyaan ini kepada beberapa ahli ekonomi: mengapa harga saham di pasar modal naik terus?…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .