MANAGED BY:
SELASA
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Senin, 07 Agustus 2017 09:18
Seminggu Terkatung-katung di Krayan meski Tiket di Tangan

Jatuh-Bangun Melestarikan Anyaman Khas Dayak (1)

LESTARIKAN KERAJINAN: Paulus Kadok (kiri) dan Theodora Hangin Bang Donggo menunjukkan hasil anyaman pengrajin di Yayasan Mahakam Lestari, Balikpapan. (FOTO DEVI ALAMSYAH/KP)

PROKAL.CO, Kesadaran melestarikan budaya leluhur terkadang datangnya dari luar, kendati hasilnya hanya berbentuk aksesori dan suvenir bernilai tinggi.

DEVI ALAMSYAH, Balikpapan

AGUS Djamhur dan Paulus Kadok dari Yayasan Total Indonesie merasakan betul sulitnya menuju Krayan, sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan. Daerah yang berbatasan dengan Malaysia tersebut terisolasi. Saat itu, sekitar tahun 2011 tidak ada akses mudah melalui darat maupun air.

Satu-satunya jalan hanya melalui udara. Pilihannya, saat itu, pesawat misionaris atau Susi Air. Pesawat misionaris ada dua jenis, yang berkapasitas empat dan sembilan orang. Sementara yang Susi Air bisa sampai dua belas orang. Krayan memiliki daerah luas dengan pengunjung yang lumayan banyak, sehingga untuk mendapatkan tiket pesawat harus antre.

Terkadang Kadok harus bermalam dulu di Malinau. Dan antrenya bisa sampai seminggu. Naik Susi Air juga sama, waiting list-nya panjang. "Itu pun kalau ada orang meninggal atau sakit, terpaksa harus batal jadwal penerbangan, padahal sudah booking. Tunggu besoknya lagi," ujar Agus dan Kadok saling bersahutan. Keduanya bersemangat menceritakan kesulitan yang dihadapi saat sharing session di Galeri Yayasan Total Indonesie, Jalan Wiluyo Puspoyudo, Balikpapan, pekan lalu.

Kadok pernah mencarter pesawat misionaris dari Malinau. Kebetulan Kadok membawa timnya untuk ke Krayan. Biaya carternya saat itu masih terjangkau. Yang berkapasitas empat orang Rp 4,3 juta dan yang sembilan orang hanya Rp 7 juta. Kadok memilih yang kapasitas sembilan orang. Namun, akhirnya batal berangkat karena ada orang sakit. Pihak manajemen pesawat misionaris itu berjanji akan mengganti dengan pesawat yang lebih kecil dengan catatan dua kali penerbangan.

Tim pertama sudah berangkat ke Krayan yang berjarak sekitar 30 menit dari Malinau. Setelah sampai, pesawat balik lagi ke Malinau dengan membawa orang sakit. Di tengah jalan, orang tersebut meninggal dan akhirnya pesawat putar balik ke Krayan. Kemudian saat penjemputan tim kedua, ternyata keluarga orang yang meninggal tadi dari Nunukan juga mau menuju Krayan dan harus diangkut.

Akhirnya, Kadok bersama tim kedua menunggu hingga sepekan. Itulah risiko jika naik kapal misionaris, karena sisi kemanusiaan ditempatkan di atas segala-galanya. Tapi persoalan itu, kata Agus, tidak menurunkan tekad untuk meneruskan misi yayasan yang konsen terhadap pelestarian budaya Dayak. Salah satu konsen programnya melestarikan kerajinan Dayak, Dayak's Craft Conservation Program (CCP). Menurut penelusurannya, ada sekitar 460 suku dayak, tersebar di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Itu sudah termasuk subetnik, karena aslinya suku Dayak tidak sebanyak itu.

KEMBALIKAN TRADISI

Dalam perkembangan penduduk dan wilayah, muncullah subetnik yang banyak itu. Dari jumlah tersebut, baru enam suku yang sudah dibina. Yaitu Dayak Aoheng di Mahulu, Paser, Tahol di Malinau, Tenggalan di Nunukan, Kenyah Lappo di Malinau dan Lundayeh, Krayan, Nunukan. Yayasan sudah membina 250 pengrajin. Proses pembinaan cukup sulit, selain pada dasarnya warga setempat memiliki kegiatan utama sebagai pedagang dan petani, juga sebagian etnis sudah tidak lagi memiliki tradisi dan kemampuan menganyam.

Kalau sudah musim tanam, para istri ikut suaminya ke ladang. Karena para perempuanlah yang biasanya menganyam, sementara sang suami mencari bahan baku di hutan. "Aneh memang, kita orang luar yang mengajari menganyam motif daerah mereka," ujar Agus yang juga chairman Yayasan Total Indonesie. Tahun ini, yayasan yang dipimpin Agus berganti nama jadi Yayasan Mahakam Lestari.

Agus pun akhirnya mendatangkan ahli anyaman Theodora Hangin Bang Donggo, dari suku Dayak Aoheng, Mahulu, dekat perbatasan Malaysia.

Hangin kini berdomisili di Samarinda, ia dari kecil sudah belajar menganyam dan memahami pola serta kunci-kunci dalam membuat kerajinan anyaman. Dengan metode yang diajarkan Hangin, pengerjaan anyaman yang biasanya satu caping memakan waktu dua bulan bisa rampung dalam waktu dua minggu. “Yang penting ada gambar, saya bisa buat dan lebih cepat,” ujar Hangin, yang saat itu juga hadir di galeri Yayasan Total.

Persoalan lain karena bahan baku anyaman sudah mulai sulit ditemukan. Harus lebih jauh masuk ke dalam hutan. Ini yang coba disadarkan oleh Paulus Kadok, agar warga mulai menanam bahan baku. Karena semuanya dari alam, termasuk pewarna motif anyaman. Untuk bahan baku anyaman, biasa menggunakan bambu, rotan atau daun pandan. (riz/k15/bersambung)


BACA JUGA

Selasa, 10 Oktober 2017 08:16

Pesona Itu Bernama Lettu Burai Enggang

Dalam HUT ke-40 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 2017, busana khas Dayak menyihir pengunjung. BUSANA…

Sabtu, 07 Oktober 2017 02:04

FM2S Sigap Informasikan Kebakaran

Menggunakan Fire Man Monitoring System (FM2S), petugas maupun masyarakat dapat mengirimkan informasi…

Sabtu, 07 Oktober 2017 00:08

Susun Skema Kembangkan UMKM di Balikpapan

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Minyak bisa dibilang hanya segelintir saja yang…

Jumat, 06 Oktober 2017 07:52

Tak Sedikit Korban Perundungan Akhirnya Bunuh Diri

Bicara soal kekerasan, sering kali perempuan dan anak menjadi korban. Baik verbal maupun nonverbal.…

Kamis, 05 Oktober 2017 08:34

Tanpa Sadar Perundungan kepada Anak Bisa Dilakukan Orangtua

Belakangan, kasus bullying atau perundungan ramai dibicarakan. Kebanyakan terjadi di sekolah. Namun,…

Rabu, 04 Oktober 2017 08:27

Cegah Salah Pergaulan, Wajib Jadi “Google” untuk Buah Hati

Anak selalu ingin tahu dan mencoba hal baru. Namun, tak sedikit orangtua bersikap abai. Malah menganggap…

Selasa, 03 Oktober 2017 08:31
Kisah Psikolog Kota Tepian tentang Gangguan Psikologis: Meyritha Trifina Sari (5)

Awalnya Mau Jadi Ekonom

Banyak masalah psikologis berawal dari hal-hal kecil. Dianggap remeh dan sepele. Namun akhirnya semakin…

Senin, 02 Oktober 2017 08:34

Tiap Anak Unik, Orangtua Tak Boleh Mengingkari

Harta paling berharga bagi orangtua adalah buah hati. Meski demikian, sebagian dari mereka menerapkan…

Sabtu, 30 September 2017 07:45

Pembakaran Berlangsung Sejam, Abu Dilarungkan ke Laut

Maut bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tanpa peduli apakah manusia itu siap atau tidak menghadapinya.…

Sabtu, 30 September 2017 06:32

Menantang Badai dan Jalur Bubur demi Memancar Sinyal

Komunikasi digital tak hanya jadi kebutuhan masyarakat perkotaan. Di titik batas antarprovinsi pun,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .