MANAGED BY:
KAMIS
14 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Senin, 07 Agustus 2017 09:18
Seminggu Terkatung-katung di Krayan meski Tiket di Tangan

Jatuh-Bangun Melestarikan Anyaman Khas Dayak (1)

LESTARIKAN KERAJINAN: Paulus Kadok (kiri) dan Theodora Hangin Bang Donggo menunjukkan hasil anyaman pengrajin di Yayasan Mahakam Lestari, Balikpapan. (FOTO DEVI ALAMSYAH/KP)

PROKAL.CO, Kesadaran melestarikan budaya leluhur terkadang datangnya dari luar, kendati hasilnya hanya berbentuk aksesori dan suvenir bernilai tinggi.

DEVI ALAMSYAH, Balikpapan

AGUS Djamhur dan Paulus Kadok dari Yayasan Total Indonesie merasakan betul sulitnya menuju Krayan, sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan. Daerah yang berbatasan dengan Malaysia tersebut terisolasi. Saat itu, sekitar tahun 2011 tidak ada akses mudah melalui darat maupun air.

Satu-satunya jalan hanya melalui udara. Pilihannya, saat itu, pesawat misionaris atau Susi Air. Pesawat misionaris ada dua jenis, yang berkapasitas empat dan sembilan orang. Sementara yang Susi Air bisa sampai dua belas orang. Krayan memiliki daerah luas dengan pengunjung yang lumayan banyak, sehingga untuk mendapatkan tiket pesawat harus antre.

Terkadang Kadok harus bermalam dulu di Malinau. Dan antrenya bisa sampai seminggu. Naik Susi Air juga sama, waiting list-nya panjang. "Itu pun kalau ada orang meninggal atau sakit, terpaksa harus batal jadwal penerbangan, padahal sudah booking. Tunggu besoknya lagi," ujar Agus dan Kadok saling bersahutan. Keduanya bersemangat menceritakan kesulitan yang dihadapi saat sharing session di Galeri Yayasan Total Indonesie, Jalan Wiluyo Puspoyudo, Balikpapan, pekan lalu.

Kadok pernah mencarter pesawat misionaris dari Malinau. Kebetulan Kadok membawa timnya untuk ke Krayan. Biaya carternya saat itu masih terjangkau. Yang berkapasitas empat orang Rp 4,3 juta dan yang sembilan orang hanya Rp 7 juta. Kadok memilih yang kapasitas sembilan orang. Namun, akhirnya batal berangkat karena ada orang sakit. Pihak manajemen pesawat misionaris itu berjanji akan mengganti dengan pesawat yang lebih kecil dengan catatan dua kali penerbangan.

Tim pertama sudah berangkat ke Krayan yang berjarak sekitar 30 menit dari Malinau. Setelah sampai, pesawat balik lagi ke Malinau dengan membawa orang sakit. Di tengah jalan, orang tersebut meninggal dan akhirnya pesawat putar balik ke Krayan. Kemudian saat penjemputan tim kedua, ternyata keluarga orang yang meninggal tadi dari Nunukan juga mau menuju Krayan dan harus diangkut.

Akhirnya, Kadok bersama tim kedua menunggu hingga sepekan. Itulah risiko jika naik kapal misionaris, karena sisi kemanusiaan ditempatkan di atas segala-galanya. Tapi persoalan itu, kata Agus, tidak menurunkan tekad untuk meneruskan misi yayasan yang konsen terhadap pelestarian budaya Dayak. Salah satu konsen programnya melestarikan kerajinan Dayak, Dayak's Craft Conservation Program (CCP). Menurut penelusurannya, ada sekitar 460 suku dayak, tersebar di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Itu sudah termasuk subetnik, karena aslinya suku Dayak tidak sebanyak itu.

KEMBALIKAN TRADISI

Dalam perkembangan penduduk dan wilayah, muncullah subetnik yang banyak itu. Dari jumlah tersebut, baru enam suku yang sudah dibina. Yaitu Dayak Aoheng di Mahulu, Paser, Tahol di Malinau, Tenggalan di Nunukan, Kenyah Lappo di Malinau dan Lundayeh, Krayan, Nunukan. Yayasan sudah membina 250 pengrajin. Proses pembinaan cukup sulit, selain pada dasarnya warga setempat memiliki kegiatan utama sebagai pedagang dan petani, juga sebagian etnis sudah tidak lagi memiliki tradisi dan kemampuan menganyam.

Kalau sudah musim tanam, para istri ikut suaminya ke ladang. Karena para perempuanlah yang biasanya menganyam, sementara sang suami mencari bahan baku di hutan. "Aneh memang, kita orang luar yang mengajari menganyam motif daerah mereka," ujar Agus yang juga chairman Yayasan Total Indonesie. Tahun ini, yayasan yang dipimpin Agus berganti nama jadi Yayasan Mahakam Lestari.

Agus pun akhirnya mendatangkan ahli anyaman Theodora Hangin Bang Donggo, dari suku Dayak Aoheng, Mahulu, dekat perbatasan Malaysia.

Hangin kini berdomisili di Samarinda, ia dari kecil sudah belajar menganyam dan memahami pola serta kunci-kunci dalam membuat kerajinan anyaman. Dengan metode yang diajarkan Hangin, pengerjaan anyaman yang biasanya satu caping memakan waktu dua bulan bisa rampung dalam waktu dua minggu. “Yang penting ada gambar, saya bisa buat dan lebih cepat,” ujar Hangin, yang saat itu juga hadir di galeri Yayasan Total.

Persoalan lain karena bahan baku anyaman sudah mulai sulit ditemukan. Harus lebih jauh masuk ke dalam hutan. Ini yang coba disadarkan oleh Paulus Kadok, agar warga mulai menanam bahan baku. Karena semuanya dari alam, termasuk pewarna motif anyaman. Untuk bahan baku anyaman, biasa menggunakan bambu, rotan atau daun pandan. (riz/k15/bersambung)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 11:21

Kinigalau Kampung Sebelah

Oji hanya bisa bengong. Dia tak mengira, Lapangan Kinigalau di Kampung Sebelah yang jadi tempat bermainnya…

Selasa, 05 Desember 2017 11:02

Dari Ingin Eksistensi hingga Kurang Perhatian Orangtua

Aksi remaja usia SMA yang mengunggah aksinya berciuman di Mahakam Lampion Garden mendapat tanggapan…

Sabtu, 02 Desember 2017 07:27

Tinggal Bersama Keluarga Ateis, Aktivitas Agama Justru Didukung

An-Nahl Aulia Hakim merupakan satu dari empat siswa SMA 1 Balikpapan yang diterbangkan ke luar negeri…

Sabtu, 02 Desember 2017 06:59

Meneteskan Air Mata Kala Dengar Curhat PSK

Menjadi petugas trantib (ketenteraman dan ketertiban) pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten…

Jumat, 01 Desember 2017 07:38

Asuh 40 Anak Yatim Piatu, Suami Meninggal karena Depresi

Perempuan ini telah menghabiskan waktu 11 tahun hidup bersama human immunodeficiency virus (HIV). Bukan…

Kamis, 30 November 2017 08:34

Bawa Rempah Sendiri, Sanggup Menampung 20 Orang

Sauna ini baru pertama di TPA yang ada di Indonesia. Terobosan ini dulunya sempat dianggap gila. GUNUNGAN…

Rabu, 29 November 2017 08:35

Pengajuan Anggaran Molor, Hasil Musrenbang Belum Diakomodasi

  Masalah utang pihak ketiga yang tak kunjung tuntas menghantui Pemkot Samarinda. Solusi sejatinya…

Selasa, 28 November 2017 08:38

Harus Cerdas Ekspos Temuan agar Tak Ditunggangi Kepentingan Politik

Investigasi Kaltim Post pada Desember 2016 di wilayah Muara Jawa, Kutai Kartanegara, berdampak signifikan.…

Sabtu, 25 November 2017 07:44

Sebagian Besar Makanan yang Dikonsumsi Diolah Sendiri

Pada usia yang memasuki angka 80 tahun, artis Titiek Puspa seolah tak kalah dengan penuaan. Wajahnya…

Sabtu, 25 November 2017 07:23

Tak Membatasi Diri dalam Ber-MC, Idolakan Choki Sitohang

Terjun ke dunia entertainment tak pernah terlintas di benak Willybrodus Angelbertus Suhaili sebelumnya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .