MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Minggu, 06 Agustus 2017 07:01
Mencumbu Puncak Dewi Anjani

15 Jam Pendakian Menguras Tenaga

PUNCAK UTAMA: Setelah 6 jam berjalan tibalah rombongan di puncak tertinggi ketiga di Indonesia.

PROKAL.CO, Tak ada habisnya menceritakan keindahan Indonesia, khususnya gunung di Tanah Lombok. Edisi pendakian kali ini, saya bersama dari pengurus Mapala Stiepan berserta dosen mencoba mendaki Puncak Rinjani yang konon memiliki jalur sulit. Berikut cerita perjalanan saya.

OLEH: EKO EDY SUSANTO

PANORAMA indah pasti terbingkai pada pandangan siapa pun yang melihat langsung Gunung Rinjani. Hamparan sabana beradu cahaya dari langit di lereng gunung setinggi 3.726 meter dari permukaan laut (MDPL) ini, memang memanjakan mata. Namun, siapa pun yang pernah meraih atau mencoba membawa diri ke puncak dari Dewi Gunung ini, pasti tahu, ladang sabana itu juga yang paling menguras tenaga, emosi dan pikiran.

Tadinya, saya pikir tiga botol air mineral kemasan 1,5 liter sudah lebih dari cukup untuk menebus dahaga selama perjalanan. Ternyata perkiraan itu salah. Panas sang surya yang tumpah ke ladang sabana kala itu, membuat haus lebih sering memanggil. Belum lagi sapuan angin dan debu menerpa sepanjang perjalanan, yang jelas menambah kesan gersang perjalanan ini. Fase gersang ini memang harus dilewati, sebelum pendaki menginjak lereng terdekat Rinjani. Tepatnya di antara pos pertama dan kedua. Sebelumnya, perjalanan empat jam harus ditempuh dari Gerbang Sembalun menuju pos pertama. Kami ditemani kawasan dari Abdu Volcalo bernama Anas Akbar. Beliau adalah teman kami di Lombok yang memang berprofesi sebagai gaet pendakian Rinjani. Pria hitam manis ini, berasal dari Bima, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kembali ke cerita pendakian, seperti diceritakan pada para pendaki biasanya, tiga pos harus dilalui sebelum mencapai puncak Rinjani. Pos dua kami manfaatkan untuk beristirahat sekaligus makan. Begitu tiba di pos dua terlihat satu pendaki asal Kanada digendong porter karena kakinya terkilir. Pemandangan ini sempat membuat nyali menciut, dan seketika terbayang beratnya mendaki Rinjani. Setelah makan, perjalanan berlanjut ke pos ketiga, dengan karakter medan yang baru.

Berbeda dengan sabana luas di pos pertama dan kedua, untuk mencapai pos ketiga, kami harus melalui tanjakan terjal berpasir. Menguras tenaga memang. Beruntung, suhu di titik ini tak lagi panas.

Tapi, tantangan baru pun kami dapat saat beristirahat di pos ini. Cuaca dingin seperti mencabik tulang kami, yang beberapa jam sebelumnya diselimuti hawa gersang. Sampai di pos tiga kami tiba pukul 17.30 waktu setempat, beristirahat sejenak sambil mengatur napas.

Pos tiga biasa digunakan sebagai tempat beristirahat kebanyakan pendaki yang kelelahan atau mereka yang kemalaman di  jalur. Tapi saya bersama tim memutuskan untuk menanjak sampai Plawangan Sembalun. Plawangan Sembalun adalah dataran terakhir sebelum track menuju summit ke puncak Rinjani. 

Tapi tunggu dulu, melanjutkan ke Plawangan Sembalun saya memutuskan untuk jalan terakhir karena saya harus menunggu teman yang membawa rombongan kami, yakni Anas Akbar yang jalan paling berlakang.

Memang sejak di pos dua, Anas jalan paling terakhir. Sekitar sejam lebih saya bersama tiga rekan lainnya, akhir Anas muncul dengan muka lemas. Saya tak tau, apakah karena keletihan karena bawannya carier 100 liter yang ia pikul atau sebaliknya. Ternyata dia membawa kabar duka, ketika di jalur dia bertemu mayat seorang porter yang meninggal dunia. “Maaf saya agak telat. Mental saya jatuh. Saya baru saja bertemu mayat di jalur dekat tebing tadi,” begitu kata Anas.

Meskipun kami dan teman-teman dapat kabar tersebut, kami sepakat tidak begitu memikirkan itu, meskipun pendakian ini berat. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan medan yang begitu berat dari pendakian ini yakni melintasi tujuh bukit penyesalan.

Butuh 5 jam untuk saya bersama rombongan untuk bisa melewati barisan bukit tersebut. Empasan dinginnya angin malam jadi tantangan utama di fase ini.

Setibanya tak membuang waktu lama tiba kami pun siapkan diri beristirahat untuk menuju Puncak Rinjani. Durasi enam jam kami siapkan untuk fase klimaks berada di puncak.

Dari puncak gunung berapi aktif ini, beratnya perjalanan terbayarkan. Selain barisan gunung di sekitar Rinjani, sajian laut cantik khas Lombok juga tak ketinggalan pamer keelokan. Sampai di puncak, saya mulai menyadari. Rentetan tantangan yang kami lalui dari pos pertama Plawangan Sembalun, sepertinya memang sengaja diciptakan Tuhan. Tak lain untuk mengawal keindahan Puncak Rinjani, sehingga hanya mereka yang berhati teguhlah yang mampu mencapainya.

 Sesi potret tak habis di puncak. Berbeda dengan jalur pulang, kami menuruni Gunung Rinjani melewati trek lain, yakni melewati Desa Senaru, yang juga terbagi atas tiga pos. Berbeda dengan Desa Sembalun Lawang yang didominasi hamparan sabana, jalur pulang ini lebih banyak diisi hutan khas lereng gunung. (**/lil/)


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 07:19

Sensasi Mini Perancis di Negeri Jiran

Mengeksplorasi negeri tetangga rasanya kurang lengkap jika tak mengunjungi lokasi unik dan iconic. Kali…

Minggu, 06 Agustus 2017 07:01

Mencumbu Puncak Dewi Anjani

Tak ada habisnya menceritakan keindahan Indonesia, khususnya gunung di Tanah Lombok. Edisi pendakian…

Minggu, 30 Juli 2017 07:07

Terpikat Pesona Air Terjun Niagara

Gedung-gedung pencakar langit mengimpit. Lalu-lalang kendaraan disertai kesibukan warga yang sebagian…

Minggu, 23 Juli 2017 07:33

Menggigil di Ketinggian 300 Meter

Tiongkok meresmikan jembatan kaca terpanjang di dunia, akhir tahun lalu. Sensasi berdiri di atas jembatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .