MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 29 Juli 2017 07:39
Langsung Daftarkan Empat Anak Naik Haji

Para Petambak di Pangkep yang Mendadak Kaya karena Kelangkaan Garam

MASA PANEN: Muhtar (kiri), petambak asal Bori Masunggu yang kini merasakan manisnya harga garam.

PROKAL.CO, Dulu para petambak di Pangkep bisa menyimpan garam di gudang sampai tujuh tahun, menunggu harga bagus. Kini mereka sampai kekurangan stok saking banyaknya pembeli. Berhaji cara mereka mensyukuri ”mukjizat” itu. 

 SAKINAH FITRIANTI, Pangkep

TAUFIQURRAHMAN, Jakarta

 BAGI  Jala, hanya ada satu cara untuk mengungkapkan syukur atas drastisnya kenaikan harga garam belakangan. Pergi ke bank dan mendaftarkan empat anaknya naik haji. “Baru ada lebihnya saya simpan. Karena tiap hari juga saya pakai untuk membayar upah pekerja yang mengangkat garam dari gudang ke kontainer,” ujar Jala yang sudah pernah menunaikan haji itu kepada Fajar (Jawa Pos Group).

Jala dan para petambak lain di sentra garam di kawasan Bori Masunggu, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, memang benar-benar tak menduga harga garam bakal ”segila” seperti sekarang ini. Dari dahulu hanya bisa mengantongi keuntungan Rp 20 juta sampai Rp 30 juta dalam satu musim garap, tapi kini bisa mengantongi sampai Rp 300 juta dalam sebulan. Itu untuk penjualan 3 ribu sak (karung) garam.

Jadilah muncul banyak orang kaya mendadak di kawasan yang masuk Kecamatan Labakkang itu. Dan, semuanya pun mengungkapkan rasa syukur mereka dengan cara serupa seperti Jala: mendaftar haji.

”Doa dikabulkan. Makanya, kita pakai untuk daftar haji. Daripada membeli mobil, lebih baik digunakan untuk ibadah supaya lebih berkah lagi keuntungan garam,” jelas Wale, petambak lain dari kelurahan yang sama.

Hari-hari ini kelangkaan garam di tanah air memang merata di penjuru tanah air. Buntutnya, harganya di pasaran pun melonjak berlipat-lipat. Karena itu, dalam waktu dekat, pemerintah segera mendatangkan 75 ribu ton garam bahan baku untuk mengatasi kelangkaan garam di Tanah Air. Jika sesuai rencana, garam impor tersebut akan tiba di Tanah Air pada 10 Agustus.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengungkapkan, kebutuhan garam konsumsi di dalam negeri saat ini sangat mendesak. Setelah melalui berbagai pertimbangan, keputusan impor diambil. ”Pemerintah menugaskan PT Garam untuk melakukan importasi,” katanya kepada media, termasuk Jawa Pos, di Jakarta kemarin (28/7).

Bertambak garam sangat bergantung cuaca panas. Karena itu, musim garap hanya berlangsung pada musim kemarau. Di Bori Masunggu, di luar kemarau, para petambak biasanya bekerja sebagai petambak ikan.  

Jika kemaraunya benar-benar kering, setengah bulan sekali garam bisa dipanen. Bahkan kadang cukup sepekan. Jadi, kalau kemarau berlangsung normal selama enam bulan, petambak bisa panen belasan sampai puluhan kali dalam sekali musim garap.

Untuk sekali panen di lahan tambak seluas 1 hektare, petambak bisa memanen 100 sak garam. Rata-rata luas lahan para petambak di Bori Masunggu memang 1 hektare. Biasanya petambak tak langsung menjual hasil panen. Melainkan menyimpannya dulu di gudang yang bisa sampai tujuh tahun. Demi menunggu harga jual yang bagus.

Nah, harga jual yang bagus itulah yang selama ini sangat sulit didapat. Menurut Muhtar, petambak di Bori Masunggu lainnya, sebelum melonjak belakangan, dulu per sak garam rata-rata hanya bisa dijual Rp 20 ribu. ”Mencari pembeli susah sekali dulu. Kami sudah sangat bersyukur kalau ada yang beli garam satu karung itu Rp 40 ribu,” katanya.

Jala juga tampak berkaca-kaca ketika menceritakan betapa berdarah-darahnya selama puluhan tahun menjadi petambak garam. Sebab, membudidayakan garam tidak semudah yang dilihat. Jika tiba-tiba hujan, dipastikan hasilnya berkurang ataupun tidak ada sama sekali.

Misalnya, terlihat pada Kamis (27/7) di gudang Jala yang berukuran 5 x 5 meter. Pengemasan saja harus begitu hati-hati. Jangan sampai terkena tanah atau kotoran lain. Muhtar menambahkan, dirinya kerap harus bekerja sebulan menggarap lahan garam. Tetapi, tidak membuahkan hasil apa-apa.

Kadang juga dia terpaksa meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. ”Pernah juga ada yang mau beli garam. Karena belum ada, dia bayar di depan karena sudah kasihan sama petambak garam,” ujarnya.

Namun, semuanya berubah sekarang. Muhtar bahkan menyebutnya sebagai ”mukjizat”. Satu sak garam berbobot 50 kg yang dulu susah payah dijual Rp 40 ribu sekarang bisa berharga Rp 150 ribu–Rp 175 ribu. Itu pun stok sangat terbatas.

Wale mengaku sampai kewalahan melayani permintaan. Di gudangnya, pembeli mengalir deras tiap hari. Padahal, cuaca belakangan juga tidak mendukung untuk produksi. Di Juli yang semestinya masuk kemarau ini, hujan bisa tiba-tiba mengguyur. ”Di sekitar sini puluhan gudang garam yang dibuat petambak. Tetapi, hanya tersisa satu atau dua yang terisi,” jelasnya.

Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut. Brahmantya Satyamurti Poerwadi, produksi garam nasional saat ini memang lesu. Faktor utamanya memang cuaca yang tidak bisa diprediksi.

Stok dari musim kemarau awal tahun lalu juga belum banyak membantu. Namun, dia berharap, setelah Agustus 2017, produksi garam di tingkat petani akan berangsur-angsur pulih. Pria yang akrab disapa Tio tersebut mengungkapkan, dua indikator menjadi acuan perhitungan kebutuhan garam nasional. Yakni, industri pergaraman rakyat plus ketersediaan di PT Garam.

Normalnya, dua sektor produsen garam tersebut mampu menghasilkan 2 sampai 2,5 juta ton garam setiap tahun atau 166 ribu ton setiap bulan. Pada Mei hingga Juli 2017, stok nasional drop ke angka 63 ribu ton. ”Ini kan sudah jauh sekali selisihnya, kita mesti segera ambil tindakan,” kata Tio.  

Kalau kemudian para petambak di Singkep masih bisa memanen garam dan meraup keuntungan yang berlipat-lipat, menurut Muhtar, itu juga tak lepas dari ikut turun tangannya pemerintah kabupaten. Petambak mendapat bantuan terpal.

Terpal tersebut digunakan sebagai pelapis agar air laut tidak bercampur dengan tanah atau lumpur. ”Sejak ada bantuan terpal plastik dari pemerintah, hasil garam juga jadi lebih banyak dan bagus-bagus hasilnya. Putih bersih sekali hasilnya,” kata Muhtar yang mendapat bantuan 50 meter terpal.

Bupati Pangkep Syamsuddin Hamid mengakui, memang sudah ada program yang dijalankan dinas terkait untuk melakukan pembinaan dalam pengelolaan garam. ”Selain pembinaan dan bantuan terpal, kami sudah siapkan bantuan modal untuk petambak yang kekurangan anggaran dalam modal awal,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya berencana memboyong petambak garam dan pelaku usaha garam di Pangkep untuk melakukan studi banding di luar Sulawesi. Tujuannya, mereka juga bisa menambah wawasan dalam pengelolaan garam.

Jala, Muhtar, Wale, dan para petambak lain menyambut baik niat pemerintah setempat itu. Tapi, bantuan dan berkah harga garam yang mereka rasakan sekarang tak sampai membuat mereka terlena.

Bekerja keras, berdarah-darah membudidayakan garam, sudah ada dalam DNA mereka. Mereka hanya menunggu cuaca yang bagus. ”Begitu cuaca sudah mendukung, kami langsung garap garam lagi,” ungkap Jala. (*/c10/ttg/jpnn/rom)


BACA JUGA

Rabu, 16 Agustus 2017 09:16

Terkesima Toleransi, Terobsesi Slogan Work Hard, Play Hard

Tertarik mempelajari lingkungan hidup lebih intim, Mira Anantha Yosilia melangkahkan kakinya hingga…

Selasa, 15 Agustus 2017 09:01

Nasi dan Roti Tak Pas di Lidah, Kepincut Lanjut S-2

Tiap hari, purna pasikbra Indonesia ini mengasah kemampuan berbahasanya dengan menonton serial-serial…

Senin, 14 Agustus 2017 08:29

Liput Konser Klasik, Telur Rebus Jadi Menu Andalan

Bersama 76 pelajar dari seluruh Indonesia, dua siswa SMA 3 Samarinda mengenyam pendidikan bahasa Jerman…

Sabtu, 12 Agustus 2017 08:03

Tagihan Hotel Belum Dibayar, Jamaah Ngotot Umrah

Masih ingat kasus Timur Sarana (Tisa) Tour and Travel yang gagal memberangkatkan ribuan calon jamaah…

Sabtu, 12 Agustus 2017 06:58

Lamar Jadi PRT, Berhasil Gondol Barang Elektronik

Memiliki tubuh yang ramping, kulit putih, serta suara yang lembut menjadi modal bagi Su, warga Kelurahan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 06:49

Kian Modern, Kini Siapkan Perluasan Daya Tampung, Koridor, hingga Wisata Kuliner

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Pelabuhan Semayang tak lagi kumuh, kuno, dan kusam. Penumpang…

Jumat, 11 Agustus 2017 08:40

Ibu Terhindar Kanker Payudara, Anak Luput Diabetes

Paras cantiknya tentu sudah tak asing lagi. Meski berstatus sebagai dokter, Lula Kamal sempat malang…

Kamis, 10 Agustus 2017 09:02

Dehidrasi, Tetap Antusiasi ke Masjid Khandaq

SELAGI menjalankan rutinitas ibadah salat Arbain selama 40 waktu atau 8 hari di Madinah, jamaah calon…

Kamis, 10 Agustus 2017 08:58

Kini, Hilda Lebih Sehat, Tidur Nyenyak dan Tidak Pelupa Lagi

Coiling endovascular merupakan metode pengobatan aneurisma untuk mencegah stroke. Sebelumnya, metode…

Rabu, 09 Agustus 2017 08:38

Sisihkan 300 Kompetitor dalam Tujuh Menit

Satu lagi pemuda berprestasi dari Kota Minyak, Muchtar Nashir namanya. Hampir setiap tahun, pria berusia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .