MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 24 Juli 2017 08:13
Belajar dari Bennington Kecil

PROKAL.CO, CATATAN: RAYMOND CHOUDA
(Jurnalis Kaltim Post)

Lima hari sudah Chester Bennington meninggalkan dunia ini, sekaligus Linkin Park-nya. Namun, suasana duka belum berakhir. Tak hanya di kalangan musisi, seorang ibu rumah tangga yang tak mempunyai wajah rock sekalipun, tertangkap di telinga saya, ikut membicarakan kisah bunuh diri vokalis legendaris itu.

BENNINGTON sukses mencapai puncak tertinggi dalam bermusik; menjadi icon vokalis rock alternatif dan berbicara pada dunia melalui musiknya. Banyak orang berlomba-lomba untuk mencapai level ini, tapi tidak sedikit yang gagal.

Namun, yang diherankan banyak orang, mengapa lelaki sesukses itu bunuh diri sedangkan jutaan orang di dunia menginginkan menjadi dirinya?

Diketahui, vokalis berusia 41 tahun itu ditemukan tewas bunuh diri di kediamannya di Palos Verdes, Los Angeles, Kamis (20/7) sekira pukul 09.00 waktu setempat.

Biasanya dalam dunia musik, selalu ada rock star asli, rock star KW super, rock star KW 1, 2 ,3, dan seterusnya, sama seperti pakaian. Tetapi, khusus vokalis tiga zaman ini, sangat banyak kasus kegagalan.

Para pecandu Linkin Park kerap gagal total menjadi Bennington KW super maupun 1, 2, 3, saking sulitnya meniru karakternya yang serak khas itu. Tidak seperti Charlie ST 12 atau Ariel Noah, yang sudah semakin banyak produk tiruannya.

Linkin Park berhasil hidup di segala zaman tanpa tergerus oleh musisi pendatang baru. Dari era 90-an awal kepunahan “rock batu” menuju modern rock, lalu pada 2000-an, masa rock alternatif mulai memegang pasar. Sampai saat ini, di mana musik semakin maju dan melahirkan berbagai genre, Bennington tetap diandalkan.

Sebagian lirik lagu-lagu Linkin Park banyak berputar pada tema perjuangan menghadapi perceraian maupun penggunaan obat terlarang. Itu disebut-sebut penyebab suksesnya Linkin Park sehingga mencatat penjualan 70 juta lebih albumnya di seluruh dunia, dan menjadi band dengan album debut terlaris pada abad 21.

Padahal, jika ditelusuri, makna lagu-lagu berjiwa minor tersebut diduga kuat berangkat dari kehidupan Bennington yang kelam. Bennington kecil dulunya pernah mengalami pelecehan seksual dari teman-temannya, perceraian orangtua, bully, hingga kecanduan obat terlarang. Linkin Park tak hanya kehilangan vokalis, tapi juga terancam kehilangan popularitas dan karier. Sebab, Bennington adalah Linkin Park, dan Linkin Park adalah Bennington.

Sebelum Bennington, pada tanggal yang sama pada 2006 silam, sahabatnya, Chris Cornell yang merupakan penyanyi, pemain gitar, dan pencipta lagu dari band Soundgarden dan Audioslave, juga meninggal bunuh diri. Lainnya, ada Tommy Page, yang tewas karena depresi juga dipicu karier musiknya pada Februari 2017. Dia sosok di balik kesuksesan banyak musisi terkenal seperti Michael Bubble, Alanis Morissette, Josh Groban, David Foster, dan Green Day.

Begitu juga artis dunia lainnya, Amy Winehouse, Whitney Houston, Kurt Cobain, hingga Jimmy Hendrix, semuanya tewas dengan obat terlarang, yang dipicu rasa depresi. Di Indonesia, Ahmad Albar vokalis God Bless, Ari Lasso, Sammy Simorangkir, Fariz RM, tidak bunuh diri, tapi terjerat narkoba sehingga mendekam di balik jeruji di puncak sukses. Bukan sok suci, saya selaku penulis pun pernah merasa pahitnya hidup karena lupa diri.

Dapat ditarik kesimpulan, Bennington bunuh diri diduga kuat karena kurangnya siraman rohani. Sama seperti musisi lain yang mengakhiri hidup di puncak sukses itu. Tidak diragukan lagi, kehidupan glamor memicu lupa untuk melihat ke bawah. Apalagi dunia musik sering dituduh sebagai tempatnya narkoba.

Ustaz panutan saya, Muflihun, pernah berkata, saat ini Indonesia belum maksimal memerhatikan anak-anak. Banyak sekolah justru menempatkan seorang guru yang masih baru untuk mengajar di taman kanak-kanak, maupun di tingkatan SD kelas 1, 2, dan tingkatan permulaan lainnya. Mereka berpikir bahwa anak yang baru masuk sekolah lebih cocok diajarkan seorang guru yang juga baru. Jadi, baru bertemu baru. Sama-sama tidak memiliki pengalaman.

Harusnya, ujar Muflihun, anak TK maupun siswa kelas 1 atau 2 SD, diajarkan langsung oleh ahlinya. Ibarat kertas yang masih putih, dicoret oleh orang yang baru jadi pelukis, tentu hasilnya berbeda dengan kertas yang dilukis oleh seorang seniman ahli.

Jika Bennington di masa kecil mendapat pengalaman baik, tidak di-bully, tidak mendapat pelecehan seksual, tidak kecanduan obat terlarang, tentu hasilnya berbeda. Kalau Bennington kecil mendapat pendidikan oleh orang-orang hebat, siraman rohani yang cukup, tentu tidak perlu kita mendengar kabar dia bunuh diri.(*/ica/k16)


BACA JUGA

Selasa, 15 Agustus 2017 10:04

Parpol Berburu Calon

CATATAN: SYAFRIL TEHA NOER (*) SATU masa nanti tak ada lagi yang mendatangi partai politik (parpol).…

Kamis, 10 Agustus 2017 09:14

Calon Ketua PBSI Kaltim

CATATAN: SOFYAN MASYKUR MUSYAWARAH Provinsi (Musprov) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI)…

Senin, 24 Juli 2017 08:13

Belajar dari Bennington Kecil

CATATAN: RAYMOND CHOUDA(Jurnalis Kaltim Post) Lima hari sudah Chester Bennington meninggalkan dunia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .