MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 12 Juli 2017 08:10
Terpaksa Pakai Bahasa Isyarat agar Tak Dilempar Batu

Kisah Serda Mila, Bertahan di Wilayah Gersang El Geneina, Sudan

BERBAUR: Serda (K) Noor Mila Sari bersama anggota kowad berbaur dengan penduduk El Geneina di Darfur, Sudan, Afrika, belum lama ini. (DOK.PRIBADI)

PROKAL.CO,  

Para perempuan di Sudan banyak yang tidak tahu alasan kenapa mereka bisa di penjara. Meski begitu, banyak pula anak-anak di El Geneina yang menjadi tahfiz.

ULIL MUAWANAH, Balikpapan

WAJAH-wajah memelas dengan pakaian begitu lusuh berlarian. Mereka mengejar tiap mobil yang melintas. Pemandangan tersebut kerap disaksikan Serda (K) Noor Mila Sari, anggota Kowad Kodam VI/ Mulawarman kala bergabung dengan Kontingen Garuda UNAMID (United Nations Mission In Darfur), Sudan, Afrika.

Dia berangkat sesuai mandat pemeliharaan perdamaian berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 1769 Tahun 2007. Mila, begitu dia disapa, terpilih agar bergabung dalam misi tahunan UNAMID. Penugasan itu menghabiskan waktu selama setahun sejak April 2016 lalu. Selama bertugas, dia akrab dengan lingkungan di tengah gurun pasir yang menghadirkan banyak kisah.

Kepada Kaltim Post, perempuan berusia 25 tahun tersebut berbagi cerita di sela rutinitasnya yang kian padat setelah diangkat menjadi pelatih olahraga bela diri militer yongmoodo. Kepulangannya setelah menempuh penerbangan selama 16 jam pada 21 April 2017 lalu disambut haru oleh keluarga. Ia pun masih ingat akan suasana di El Geneina atau Al-Junaynah, sebuah daerah tandus nan gersang di Darfur Barat, Sudan.

Melukiskan senyum hingga cerita menyayat hati. Dilihat dari segi geografis, setiap negara bagian di Darfur memiliki karakteristik sama. Hamparan padang pasir luas dengan bukit batu mengelilingi. Darfur sendiri dibagi menjadi tiga negara bagian, yaitu El Geneina, Nyala yang terletak di Darfur Selatan dan Darfur Utara berpusat di El Fasher.

Tiap tahun Indonesia mengirim 800 prajurit. Pada tahun ini, ada 11 anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang bergabung, dan Mila merupakan salah satunya. Dia mengatakan, semua daerah misi perdamaian PBB rawan akan konflik. Sekalipun telah ada Darfur Peace Agreement (DPA) antara pemerintah dengan kelompok bersenjata, ternyata masih saja ia mendengar kasus penembakan, penculikan, hingga pembunuhan.

Itu merupakan konflik yang terjadi antarsuku, dari pihak pertanian serta peternakan. ”Mereka kerap menggunakan senjata api. Pertikaian yang berujung kematian ditambah lagi aksi penculikan yang dilakukan para pemberontak yang disebut sebagai janjaweed,” tutur dara berambut pendek itu. Kata janjaweed dalam bahasa lokal Sudan berarti orang yang mengendarai kuda dan bersenjata. Selama bertahun-tahun, janjaweed dikenal sebagai bandit yang pada awalnya kerap mencuri para ternak dari penduduk lokal.

Hingga 2003, ketika dua kelompok pemberontak non-Arab yaitu Sudan Liberation Army (SLA) dan Justice and Equality Movement (JEM), mengangkat senjata untuk menentang pemerintah, janjaweed berubah agresif. Mereka mulai melakukan penyerangan dan pembunuhan serta pemerkosaan. Pemberontak pun kerap melakukan penculik kepada anak-anak warga di malam hari. Akibat serangan milisi tersebut ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan orang mengungsi. 

”Dulu memang cukup sering, tetapi saya dengar beberapa tahun terakhir tidak begitu marak. Hanya sebagian saja yang mengaku-ngaku sebagai janjaweed,” ucapnya sembari mengingat perjalannnya.

PEREKONOMIAN RENDAH

Kerusuhan yang terjadi berakibat pada krisis kemanusian, kelaparan dan pengungsian. Bekerja sebagai staf keuangan, Mila jarang mengikuti patroli. Ia menyamakan kondisi kehidupan El Geneina hampir menyerupai di Papua. Tidak ada bangunan tinggi yang menjulang apalagi kendaraan roda empat. Warga menggunakan keledai sebagai transportasi utama.

Bangunan rumah warga dibangun dari rerumputan serta gaya hidup sederhana. Perekonomian rendah yang membuat warganya hidup jauh dari kata layak. Berbeda dengan kehidupan di Kalimantan. Maka tak heran ada saja warga yang kerap mencuri. Kala berinteraksi dengan masyarakat ia terkendala penggunaan bahasa. Karena warga hanya mampu menggunakan bahasa Arab.

Alhasil ia kerap menggunakan bahasa tubuh. Sesuai ketentuan UN (United Nations) yang tidak memperkenankan pasukan memberikan bantuan saat melakukan patroli. Sebab, insiden lempar batu bisa saja terjadi bila pasukan tidak memberi kepada mereka. Tapi, pada waktu tertentu pasukan bisa memberikan bantuan secara langsung. Baik berupa makanan, pakaian, hingga pembangunan masjid.

“Warga terlihat begitu senang bila pasukan Indonesia lewat dan datang, karena pasukan kita kerap melakukan kunjungan untuk membantu warga,” ungkap Mila.Pasukan Indonesia pun juga secara sukarela mengumpulkan donasi untuk mendirikan masjid di perkampungan warga. Kerap bersikap disiplin dan rapi saat mengerjakan tugas, pasukan Indonesia sering diperbantukan dalam berbagai tugas dari pasukan negara lain.

Selama di berada di sana, ia juga mengunjungi sekolah. Hatinya lagi-lagi terasa ngilu, tak menggunakan lembaran buku, anak-anak belajar menggunakan sebuah papan kapur. Tanpa seragam ataupun bangunan sekolah yang nyaman. Tak semua anak bisa menikmati bangku sekolah tersebut. Hal sama ketika melihat penjara perempuan. Ia bertemu puluhan anak-anak hingga orangtua yang tak berdaya terkurung dalam satu bangunan yang sangat usang.         

“Para perempuan tersebut banyak yang tidak tahu alasan kenapa mereka bisa dipenjara. Meski begitu, banyak pula anak-anak di El Geneina yang menjadi tahfiz,” ujarnya.

PERJUANGAN HIDUP

Badai pasir disertai angin kencang sering sekali terjadi di Sudan. Daerah lapang hamparan pasir yang begitu luas memang rentan dengan badai pasir. Datangnya sangat tiba tiba yang dimulai dengan gemuruh angin. Suasana menjadi gelap seketika karena pasir beterbangan. Dari kejahuan pasir yang bergulung bersama angin berlarian kian dekat pernah ia saksikan sendiri. 

Cuaca memang menjadi masalah berarti. Sebagai gambaran, ungkap dia, sekalipun jarum jam menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat, tetapi matahari terasa panas menyengat hingga 45 derajat. Itu membuat sumur-sumu kering kerontang. Padahal ketersediaan air layak pakai sangat mutlak.

Setiap hari, para ibu bersama buah hatinya mengantre untuk mencari air. Mereka membawa jeriken dan memompa dari sumur buatan yang hanya menghasilkan sedikit air. Untuk makanan, anak-anak sejak dini diajarkan memasak, membelah kayu bakar yang dikumpulkan ibu-ibu mereka dari hutan, mereka menumbuk sorgum atau millet, sejenis jagung makanan pokok mereka.

Makanan itu dihidangkan ke semua anggota keluarga. Terkadang mereka juga mendapatkan bantuan bahan makanan dari World Food Program (WFP). “Sangat berat kehidupan di sana (Sudan). Tetapi warga terus bertahan. Mereka seakan tidak kenal lelah. Itu yang membuat saya semakin bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang,” tuturnya.

Jauh dari Tanah Air, Mila kerap merasa rindu akan rumah. Jika begitu, dia memilih bermain game, bermain layang-layang, bermain voli, atau sekadar mengikuti lari sore. “Yang pasti enggak ada mal di sana, dan puasa sampai 14 jam, wuih uyuh banar (capek sekali),” kelakarnya. (riz/k15)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 11:21

Kinigalau Kampung Sebelah

Oji hanya bisa bengong. Dia tak mengira, Lapangan Kinigalau di Kampung Sebelah yang jadi tempat bermainnya…

Selasa, 05 Desember 2017 11:02

Dari Ingin Eksistensi hingga Kurang Perhatian Orangtua

Aksi remaja usia SMA yang mengunggah aksinya berciuman di Mahakam Lampion Garden mendapat tanggapan…

Jumat, 01 Desember 2017 07:38

Asuh 40 Anak Yatim Piatu, Suami Meninggal karena Depresi

Perempuan ini telah menghabiskan waktu 11 tahun hidup bersama human immunodeficiency virus (HIV). Bukan…

Kamis, 30 November 2017 08:34

Bawa Rempah Sendiri, Sanggup Menampung 20 Orang

Sauna ini baru pertama di TPA yang ada di Indonesia. Terobosan ini dulunya sempat dianggap gila. GUNUNGAN…

Rabu, 29 November 2017 08:35

Pengajuan Anggaran Molor, Hasil Musrenbang Belum Diakomodasi

  Masalah utang pihak ketiga yang tak kunjung tuntas menghantui Pemkot Samarinda. Solusi sejatinya…

Selasa, 28 November 2017 08:38

Harus Cerdas Ekspos Temuan agar Tak Ditunggangi Kepentingan Politik

Investigasi Kaltim Post pada Desember 2016 di wilayah Muara Jawa, Kutai Kartanegara, berdampak signifikan.…

Sabtu, 25 November 2017 07:44

Sebagian Besar Makanan yang Dikonsumsi Diolah Sendiri

Pada usia yang memasuki angka 80 tahun, artis Titiek Puspa seolah tak kalah dengan penuaan. Wajahnya…

Sabtu, 25 November 2017 07:23

Tak Membatasi Diri dalam Ber-MC, Idolakan Choki Sitohang

Terjun ke dunia entertainment tak pernah terlintas di benak Willybrodus Angelbertus Suhaili sebelumnya.…

Sabtu, 25 November 2017 07:18

Belajar Bertoleransi melalui Film Ahu Parmalim

Memperingati Hari Toleransi Internasional, tiga yayasan yakni –  Yayasan Kampung Halaman,…

Sabtu, 25 November 2017 06:45

Jual Diri untuk Biaya Pulang Kampung

Lies (nama samaran, Red), seorang janda dan ibu dari satu anak ini tidak menyangka tertangkap dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .