MANAGED BY:
MINGGU
23 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 12 Juli 2017 08:10
Terpaksa Pakai Bahasa Isyarat agar Tak Dilempar Batu

Kisah Serda Mila, Bertahan di Wilayah Gersang El Geneina, Sudan

BERBAUR: Serda (K) Noor Mila Sari bersama anggota kowad berbaur dengan penduduk El Geneina di Darfur, Sudan, Afrika, belum lama ini. (DOK.PRIBADI)

PROKAL.CO,  

Para perempuan di Sudan banyak yang tidak tahu alasan kenapa mereka bisa di penjara. Meski begitu, banyak pula anak-anak di El Geneina yang menjadi tahfiz.

ULIL MUAWANAH, Balikpapan

WAJAH-wajah memelas dengan pakaian begitu lusuh berlarian. Mereka mengejar tiap mobil yang melintas. Pemandangan tersebut kerap disaksikan Serda (K) Noor Mila Sari, anggota Kowad Kodam VI/ Mulawarman kala bergabung dengan Kontingen Garuda UNAMID (United Nations Mission In Darfur), Sudan, Afrika.

Dia berangkat sesuai mandat pemeliharaan perdamaian berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 1769 Tahun 2007. Mila, begitu dia disapa, terpilih agar bergabung dalam misi tahunan UNAMID. Penugasan itu menghabiskan waktu selama setahun sejak April 2016 lalu. Selama bertugas, dia akrab dengan lingkungan di tengah gurun pasir yang menghadirkan banyak kisah.

Kepada Kaltim Post, perempuan berusia 25 tahun tersebut berbagi cerita di sela rutinitasnya yang kian padat setelah diangkat menjadi pelatih olahraga bela diri militer yongmoodo. Kepulangannya setelah menempuh penerbangan selama 16 jam pada 21 April 2017 lalu disambut haru oleh keluarga. Ia pun masih ingat akan suasana di El Geneina atau Al-Junaynah, sebuah daerah tandus nan gersang di Darfur Barat, Sudan.

Melukiskan senyum hingga cerita menyayat hati. Dilihat dari segi geografis, setiap negara bagian di Darfur memiliki karakteristik sama. Hamparan padang pasir luas dengan bukit batu mengelilingi. Darfur sendiri dibagi menjadi tiga negara bagian, yaitu El Geneina, Nyala yang terletak di Darfur Selatan dan Darfur Utara berpusat di El Fasher.

Tiap tahun Indonesia mengirim 800 prajurit. Pada tahun ini, ada 11 anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang bergabung, dan Mila merupakan salah satunya. Dia mengatakan, semua daerah misi perdamaian PBB rawan akan konflik. Sekalipun telah ada Darfur Peace Agreement (DPA) antara pemerintah dengan kelompok bersenjata, ternyata masih saja ia mendengar kasus penembakan, penculikan, hingga pembunuhan.

Itu merupakan konflik yang terjadi antarsuku, dari pihak pertanian serta peternakan. ”Mereka kerap menggunakan senjata api. Pertikaian yang berujung kematian ditambah lagi aksi penculikan yang dilakukan para pemberontak yang disebut sebagai janjaweed,” tutur dara berambut pendek itu. Kata janjaweed dalam bahasa lokal Sudan berarti orang yang mengendarai kuda dan bersenjata. Selama bertahun-tahun, janjaweed dikenal sebagai bandit yang pada awalnya kerap mencuri para ternak dari penduduk lokal.

Hingga 2003, ketika dua kelompok pemberontak non-Arab yaitu Sudan Liberation Army (SLA) dan Justice and Equality Movement (JEM), mengangkat senjata untuk menentang pemerintah, janjaweed berubah agresif. Mereka mulai melakukan penyerangan dan pembunuhan serta pemerkosaan. Pemberontak pun kerap melakukan penculik kepada anak-anak warga di malam hari. Akibat serangan milisi tersebut ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan orang mengungsi. 

”Dulu memang cukup sering, tetapi saya dengar beberapa tahun terakhir tidak begitu marak. Hanya sebagian saja yang mengaku-ngaku sebagai janjaweed,” ucapnya sembari mengingat perjalannnya.

PEREKONOMIAN RENDAH

Kerusuhan yang terjadi berakibat pada krisis kemanusian, kelaparan dan pengungsian. Bekerja sebagai staf keuangan, Mila jarang mengikuti patroli. Ia menyamakan kondisi kehidupan El Geneina hampir menyerupai di Papua. Tidak ada bangunan tinggi yang menjulang apalagi kendaraan roda empat. Warga menggunakan keledai sebagai transportasi utama.

Bangunan rumah warga dibangun dari rerumputan serta gaya hidup sederhana. Perekonomian rendah yang membuat warganya hidup jauh dari kata layak. Berbeda dengan kehidupan di Kalimantan. Maka tak heran ada saja warga yang kerap mencuri. Kala berinteraksi dengan masyarakat ia terkendala penggunaan bahasa. Karena warga hanya mampu menggunakan bahasa Arab.

Alhasil ia kerap menggunakan bahasa tubuh. Sesuai ketentuan UN (United Nations) yang tidak memperkenankan pasukan memberikan bantuan saat melakukan patroli. Sebab, insiden lempar batu bisa saja terjadi bila pasukan tidak memberi kepada mereka. Tapi, pada waktu tertentu pasukan bisa memberikan bantuan secara langsung. Baik berupa makanan, pakaian, hingga pembangunan masjid.

“Warga terlihat begitu senang bila pasukan Indonesia lewat dan datang, karena pasukan kita kerap melakukan kunjungan untuk membantu warga,” ungkap Mila.Pasukan Indonesia pun juga secara sukarela mengumpulkan donasi untuk mendirikan masjid di perkampungan warga. Kerap bersikap disiplin dan rapi saat mengerjakan tugas, pasukan Indonesia sering diperbantukan dalam berbagai tugas dari pasukan negara lain.

Selama di berada di sana, ia juga mengunjungi sekolah. Hatinya lagi-lagi terasa ngilu, tak menggunakan lembaran buku, anak-anak belajar menggunakan sebuah papan kapur. Tanpa seragam ataupun bangunan sekolah yang nyaman. Tak semua anak bisa menikmati bangku sekolah tersebut. Hal sama ketika melihat penjara perempuan. Ia bertemu puluhan anak-anak hingga orangtua yang tak berdaya terkurung dalam satu bangunan yang sangat usang.         

“Para perempuan tersebut banyak yang tidak tahu alasan kenapa mereka bisa dipenjara. Meski begitu, banyak pula anak-anak di El Geneina yang menjadi tahfiz,” ujarnya.

PERJUANGAN HIDUP

Badai pasir disertai angin kencang sering sekali terjadi di Sudan. Daerah lapang hamparan pasir yang begitu luas memang rentan dengan badai pasir. Datangnya sangat tiba tiba yang dimulai dengan gemuruh angin. Suasana menjadi gelap seketika karena pasir beterbangan. Dari kejahuan pasir yang bergulung bersama angin berlarian kian dekat pernah ia saksikan sendiri. 

Cuaca memang menjadi masalah berarti. Sebagai gambaran, ungkap dia, sekalipun jarum jam menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat, tetapi matahari terasa panas menyengat hingga 45 derajat. Itu membuat sumur-sumu kering kerontang. Padahal ketersediaan air layak pakai sangat mutlak.

Setiap hari, para ibu bersama buah hatinya mengantre untuk mencari air. Mereka membawa jeriken dan memompa dari sumur buatan yang hanya menghasilkan sedikit air. Untuk makanan, anak-anak sejak dini diajarkan memasak, membelah kayu bakar yang dikumpulkan ibu-ibu mereka dari hutan, mereka menumbuk sorgum atau millet, sejenis jagung makanan pokok mereka.

Makanan itu dihidangkan ke semua anggota keluarga. Terkadang mereka juga mendapatkan bantuan bahan makanan dari World Food Program (WFP). “Sangat berat kehidupan di sana (Sudan). Tetapi warga terus bertahan. Mereka seakan tidak kenal lelah. Itu yang membuat saya semakin bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang,” tuturnya.

Jauh dari Tanah Air, Mila kerap merasa rindu akan rumah. Jika begitu, dia memilih bermain game, bermain layang-layang, bermain voli, atau sekadar mengikuti lari sore. “Yang pasti enggak ada mal di sana, dan puasa sampai 14 jam, wuih uyuh banar (capek sekali),” kelakarnya. (riz/k15)


BACA JUGA

Jumat, 21 Juli 2017 08:34

Terinspirasi Ayah, Singkirkan 60 Kandidat

Gadis yang baru menginjak usia 15 tahun ini sudah berhasil menjajal kompetisi modeling hingga level…

Kamis, 20 Juli 2017 08:38

85 Persen Risiko Stroke Dapat Dicegah

Sekitar 15-22 persen kematian pasien stroke disebabkan perdarahan intraserebral spontan (PIS). Sementara,…

Kamis, 20 Juli 2017 07:58

Mantan Sekuriti, Jadi Atlet dan Prajurit Berprestasi

Pada awal 2012, dia meninggalkan Purwodadi dan hijrah ke Samarinda untuk menjadi atlet karate. Siapa…

Rabu, 19 Juli 2017 09:16
Pesan Pangdam Majyen Sonhadji di HUT Ke-59 Kodam VI/Mulawarwan

Tindak Tegas Oknum Penyebar Paham Anti-Pancasila

Keberadaan TNI tidak bisa disembunyikan, karena turut dipantau masyarakat. Prestasi prajurit bisa saja…

Selasa, 18 Juli 2017 08:41
Dari Pelantikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji 2017 Embarkasi Balikpapan

Sepuluh Asrama Tuntas Dirombak, Pelayanan Siap 24 Jam

Sebanyak 5.792 jamaah yang terbagi ke dalam 13 kelompok terbang (kloter) secara bergantian akan memasuki…

Senin, 17 Juli 2017 08:31

Bangun Kesadaran Menyusui sejak Pra Nikah

Kesadaran ibu menyusui yang masih terhitung rendah di Balikpapan menjadi landasan berdirinya komunitas…

Sabtu, 15 Juli 2017 07:37

Bakal Serasa di Luar Angkasa Sungguhan

Belum juga dibuka resmi, D23 Expo sudah memberikan kejutan besar. Untuk kali pertama Disney membuka…

Sabtu, 15 Juli 2017 06:51

Langsung Bebas setelah Lunasi Tagihan Rp 2,37 Miliar

Ini peringatan tegas. Jangan main-main soal pajak. Terlebih jika tunggakannya besar. Ditambah lagi kini…

Jumat, 14 Juli 2017 06:46

Didukung Seluruh BPC, H Sirajuddin Terpilih Aklamasi

Untuk pertama kalinya, Badan Pimpinan Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kaltim…

Kamis, 13 Juli 2017 07:57

Sekali Latihan Langsung Ketagihan

Dunia akuntansi yang melekat dengan hitung-hitungan menarik perhatiannya. Walau tetap saja menyusun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .