MANAGED BY:
SENIN
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 29 Juni 2017 13:00
Mengungkap Praktik Kotor Pengusaha Hitam di Kaltim
Batu Baranya Ilegal, Tenang...Ada Penadah Emas Hitam

PROKAL.CO, Tambang batu bara ilegal di Kaltim ternyata jadi salah satu penyumbang pendapatan ke kas negara. Duit haram itu mengalir ke APBN dan APBD. Pemainnya justru banyak dari provinsi tetangga.

RUMAH berukuran sekitar 12 x 15 meter persegi itu masih berdiri kokoh di atas bukit di Kelurahan Sangasanga Dalam, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar), Rabu (1/3) sekitar pukul 11.30 Wita. Namun, hampir separuh bangunan sudah mulai hancur. Penambang batu bara ilegal dituding sebagai biang. Bangunan yang dulunya ditempati karyawan Pertamina itu adalah yang tersisa, dari total enam rumah di kawasan itu.

Pertamina EP Asset 5 Field Sangasanga mampu membendung upaya penambang menghancurkan rumah terakhir. Sementara lima rumah lainnya sudah rata dengan tanah. Bahkan, bukit yang menjadi tempat rumah tersebut, kini berubah menjadi jurang membentuk “kuali”. Lubang besar selebar enam kali lapangan sepak bola menganga di belakang rumah karyawan Pertamina yang tersisa.

Rumah karyawan yang sudah hampir hancur itu terlihat rusak di bagian atap. Dinding bangunan juga hancur. Pertamina menyebut alat berat pemilik perusahaan tambang sempat hendak merobohkan rumah. “Kami lapor polisi, baru perusahaan tambang berhenti menghancurkan rumah terakhir,” kata Assistant Manager Legal & Relation, PT Pertamina EP Asset 5 Field Sangasanga, Dika Agus Sarjono.

Wilayah kerja Pertamina Sangasanga memang berdampingan dengan konsesi pertambangan. Salah satunya CV BP. Karena, kandungan batu bara di bawah objek vital nasional (obvitnas) itu disebut-sebut punya kualitas bagus, izin usaha pertambangan (IUP) itu nekat menambang di sana. Tak hanya merusak rumah karyawan, penambangan ilegal di area itu juga mengancam sumur minyak Pertamina. Lokasi penambangan hanya berjarak sekitar 500 meter dari sumur minyak.

Dika mengatakan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim, Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Samarinda, camat Sangasanga, dan lurah Sangasanga Dalam sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada 11 Januari 2017 lalu.

Setelah sidak itu, kata dia, penambangan ilegal di areal obvitnas sudah tak ada. Namun, dia meyakini aktivitas tersebut masih akan terus mengancam. Mengingat, penambang ilegal itu seperti penyakit kambuhan. Beroperasi ketika aparat mulai kendur menertibkan. “Dulu malah karyawan kami yang tinggal di rumah dinas kerap mendapat ancaman. Sehingga mereka tak tenang dan meninggalkan rumah. Di situ penambang beraksi,” bebernya.

Sementara batu bara yang berhasil dikeluarkan dari tanah dibawa ke sebuah penumpukan batu bara di Kelurahan Sangasanga Muara. Di sana terdapat dermaga. Pemiliknya adalah CV GHP, perusahaan lokal di Sangsanga. Stockpile ini diyakini menampung batu bara ilegal. Sebab, CV GHP masih mengantongi IUP. Izinnya yang masih hidup, membuat perusahaan ini bisa menjual batu bara dan membayar royalti ke pemerintah.

Dikonfirmasi media ini, Goenoeng Djoko Hadi, kabid Penambangan Umum, Dinas ESDM Kaltim turut membenarkan stockpile milik CV GHP diduga sebagai penadah emas hitam ilegal di Sangasanga. Dinas ESDM Kaltim, kata dia, sudah menelusuri permainan kotor tersebut. “Kami sudah kunjungi. Ada dua stockpile di sepanjang tepi Sungai Muara Sangasanga disebut milik CV GHP semua. Asal batu baranya juga tidak jelas,” bebernya.

Kaltim Post kemudian menelusuri dari mana saja batu bara ilegal yang ditampung CV GHP itu berasal. Berkat informasi sumber di Sangasanga, media ini mendatangi Jalan Mada RT 14 dan RT 17, pada Rabu (1/3) lalu di Kelurahan Sangasanga Dalam. Di lokasi ini, disebut ada penambangan ilegal. Benar saja, untuk menemukannya tak begitu sulit. Tumpukan batu bara terlihat dari jalan.

Untuk masuk ke lokasi tambang ini juga tanpa pengawasan ketat. Sebab, areal tersebut tidak jauh dari permukiman warga. Sehingga sangat mudah dijangkau. Bahkan, lokasinya hanya berjarak sekitar 50 meter dari Kantor Camat Sangasanga di tepi Jalan Mada. Di lokasi itu, ditemukan aktivitas penambangan.

Emas hitam tampak menggunung. Di areal itu juga terdapat kolam penampungan air berukuran sekitar 10 x 5 meter persegi. Kolam itu tepat di atas lereng yang di bawahnya terdapat permukiman warga. Tanggul penahan kolam tersebut rawan jebol. Kolam itu terbentuk karena bekas ditambang.

Saat itu, sejumlah ekskavator terlihat mengeruk batu bara dan sebagian lain memasukkannya ke truk. Media ini kemudian mengikuti tujuan truk tersebut. Emas hitam dibawa ke stockpile milik CV GHP. Jaraknya sekitar 9 kilometer dari lokasi tambang ke dermaga. Mirisnya, sepanjang jalan yang digunakan sebagai lintasan hauling itu adalah berstatus jalan kabupaten. 

Padahal, Pemprov Kaltim telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Kegiatan Pengangkutan Batu Bara dan Sawit. Dalam regulasi ini, angkutan batu bara dan sawit tak boleh melintas di jalan umum, kecuali angkutan sawit dari usaha perkebunan rakyat.

Dari pantauan media ini, asal truk yang mengirim batu bara ke CV GHP lebih dari satu lokasi. Dari petunjuk sumber koran ini di Sangasanga, pada hari yang sama, media ini ke lokasi tambang di seberang dermaga milik CV GHP. Namun, tak ada aktivitas alat berat di sini. Hanya ada empat tumpukan batu bara setinggi 7 meter. Jaraknya juga tak jauh, sekitar 500 meter dari dermaga. Sumber menyebut, pengapalan batu bara dilakukan di dermaga milik CV GHP.

Setelah itu, Kaltim Post ke RT 4 Kelurahan Jawa, Sangasanga. Di lokasi ini merupakan konsesi milik CV MJ dan CV DE yang lahannya berdampingan. Kedua IUP yang berstatus operasi produksi itu telah berakhir masa berlakunya alias telah mati masing-masing sejak 29 November 2013 dan 7 Oktober 2013. Di lokasi ini, terlihat tumpukan batu bara dan alat berat. Namun, siang itu mereka tak beraktivitas. Batu bara dibawa ke dermaga pada malam hari.

Informasi yang dihimpun Kaltim Post, penambangan tersebut sudah dilaksanakan sejak tahun lalu. Mereka memanfaatkan Jalan Habibah dan jalan utama Sangasanga sebagai akses pengangkutan.

Setelah dari Kelurahan Jawa, media ini langsung ke RT 11, Kelurahan Sarijaya. Di lokasi ini terdapat penambangan batu bara. Lokasinya juga tidak jauh dari rumah warga. Tidak lebih dari 500 meter jarak tambang dengan permukiman.

Di lokasi ini, didapati dua ekskavator yang sedang beroperasi. Sama seperti Sangasanga Dalam, tumpukan emas hitam menggunung. Sejumlah alat berat memasukkan batu bara ke truk. Media ini kemudian mengikuti truk tersebut. Batu bara ditumpuk di stockpile milik CV GHP. Jaraknya sekitar 8 kilometer. Lintasan hauling yang digunakan juga memakai jalan umum.

Dari penambangan batu bara yang ditemui Kaltim Post, Goenoeng sangsi dengan legalitas perusahaan. Sebab, sebagian besar izin pemilik konsesi yang sesungguhnya telah habis. Seperti CV MJ dan CV DE, izin keduanya telah mati masing-masing 29 November 2013 dan 7 Oktober 2013.

Namun, ada oknum di dua perusahaan tersebut yang bekerja sama dengan warga. Sehingga ketika disupervisi, perusahaan membantah melakukan penambangan. Mereka menyebut, pihak lain yang menambang di konsesi perusahaan.

Goenoeng mengungkapkan, masih banyak titik-titik penambangan batu bara ilegal di Sangasanga. Mengenai kerugian negara yang ditanggung karena aktivitas tersebut, dia memberikan gambaran. Yakni kerugian dari pembayaran royalti dan iuran tetap yang harus ditunaikan pemilik IUP, juga dampak kerusakan lingkungan. Jika ilegal, seluruhnya diabaikan.

Khusus penambangan ilegal di bekas konsesi CV MJ dan CV DE, total luas keduanya mencapai 200 hektare. Namun, memang, yang ditambang tak seluruhnya. Dia menaksir sekitar puluhan hektare. Di Sangasanga, kata dia, batu bara tergolong berkalori 4.900.

Dari data yang diperoleh media ini dari Dinas ESDM Kaltim disebutkan, terdapat 1.170 IUP di Kaltim yang izinnya masih hidup. Dengan rincian, berstatus eksplorasi sebanyak 682 izin dan 488 izin berstatus operasi produksi. Sedangkan sebanyak 531 IUP dinyatakan mati. Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi yang terbanyak terdapat IUP mati, yakni sebanyak 247 izin. Sedangkan Kutai Barat berada di bawahnya sebanyak 185 izin.

MENADAH EMAS HITAM

Kaltim Post menghubungi pemilik CV GHP. Dia pun memberikan alamat rumahnya di kawasan Gunung Lingai, Samarinda. Setelah mengatur janji, media ini menemuinya Senin (3/4) lalu. Rumah mewah bercat putih dengan halaman luas yang bisa diparkir 5-7 mobil itu terlihat sepi. Pagar besi setinggi 1,5 meter tertutup rapat. Dari jarak tak begitu jauh, pengusaha itu memanggil koran ini. Dia mengajak wawancara di warung makan, samping rumahnya.

“Kamu wartawan yang cari saya ya,” tanya dia. Setelah dijelaskan, dia langsung melanjutkan perbincangan dengan koran ini. Namun, dia meminta untuk menginisialkan namanya.

Pengusaha berinisial ZL itu menjelaskan, sebenarnya kepemilikan dermaga CV GHP itu sedang bersengketa. Antara dirinya dengan sepupunya sendiri. Bahkan kasus yang sudah berlangsung sejak 2010 itu bersengketa hingga Mahkamah Agung (MA). “Saya sudah memenangi perkara ini di tingkat kasasi,” klaimnya.

Ia mengungkapkan, dermaga miliknya sempat digunakan oleh kelompok sepupunya untuk menerima batu bara ilegal. Kemudian, dijual menggunakan bendera CV GHP yang masih berizin. “Tapi, tanpa seizin saya. Saya tak tahu-menahu awalnya. Setelah saya tahu, saya pastikan itu semua ilegal,” terangnya.

Karena dia tak tahu, maka ZL mengklaim tak menerima sepeser pun rupiah dari pendapatan atas digunakannya dermaga CV GHP. Perusahaan lain yang tak memiliki dermaga disebut juga turut menumpang di CV GHP. “Saya merugi hingga puluhan miliar rupiah,” aku pria yang rambutnya dipenuhi uban itu.

Meski ilegal, pengusaha berbadan subur itu memastikan batu bara yang masuk di CV GHP itu tetap membayar royalti. Untuk selanjutnya, dijual ke pasar ekspor. “Jadi, tidak serta-merta ilegal. Saya rasa hal semacam ini banyak terjadi di Kaltim. Batu baranya ilegal, tapi cara menjualnya dengan menitip di perusahaan yang masih berizin,” jelas dia.

Pengusaha yang besar di Sangasanga itu mengaku, akan melaporkan segala aktivitas ilegal di dermaga miliknya ke polisi. Aparat dimintanya bertindak. Senin (19/6) lalu, Kaltim Post menyambangi stockpile milik CV GHP. Dua ekskavator tampak beroperasi merapikan batu bara.

Dari pantauan Kaltim Post, sekitar pukul 16.00 Wita, dalam satu jam ada sekitar 10 dump truck yang mengangkut batu bara masuk ke dermaga milik CV GHP. Meski sempat 24 jam, belakangan rata-rata operasional dimulai pukul 15.00 Wita hingga 05.00 Wita. Bila satu truk bermuatan 8 ton, dalam satu jam ada 80 ton masuk ke stockpile tersebut. Sedangkan per hari diestimasikan 1.120 ton. Sedangkan sebulan sekitar 33.600 ton. Seluruh batu bara yang diduga ilegal itu diyakini membayar royalti.

Goenoeng juga masih sangsi dengan kepemilikan batu bara di stockpile milik CV GHP. “Kuat dugaan stockpile CV GHP ini yang menerima batu bara ilegal di area Sangasanga. Lalu, batu bara dijual oleh CV GHP,” beber Goenoeng. Saat kembali dikonfirmasi, ZL memastikan batu bara itu miliknya. Dia mengklaim tak menerima batu bara ilegal untuk dijual. “Sekarang tak menerima batu bara ilegal. Mungkin dulu ada (batu bara ilegal),” ketusnya.  (far/k15)


BACA JUGA

Senin, 14 Agustus 2017 08:47

KEMBANG KEMPIS DI TANGAN PROVINSI

Kendala anggaran membelit peralihan kewenangan kelola SMA/SMK dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah…

Senin, 14 Agustus 2017 08:41

Sudah Diusulkan, Gubernur Belum Setuju Ada SPP

SAMARINDA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim diminta sigap merespons masalah…

Senin, 14 Agustus 2017 08:40

Daerah Terlibat, Sekprov: Mahulu Sudah Siap

HINGGA kemarin (13/8), Pemprov Kaltim belum final membahas upaya diperbolehkannya SPP di SMA/SMK. Meski…

Selasa, 08 Agustus 2017 09:29

Mag Akut Intai Generasi Instan

Polamakan menentukan kondisi tubuh. Kematian dokter sekaligus pembawa acara kesehatan Ryan Thamrin beberapa…

Selasa, 08 Agustus 2017 09:26

Usia Produktif Paling Rentan

RASA nyeri di sekitar ulu hati disertai mual, biasanya mulai menjangkiti ketika makan siang terlambat,…

Senin, 07 Agustus 2017 09:45

Kaum Milenial Melawan Takdir

Kebutuhan hunian menjadi persoalan yang cukup serius dihadapi oleh generasi milenial Kaltim. Tiap waktu,…

Senin, 07 Agustus 2017 09:39

“Belanja Pun Tunggu Diskon. Jangan Hedon"

MESKI terlihat susah untuk memiliki sebuah rumah idaman. Generasi milenial yang ada dalam rentang usia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .