MANAGED BY:
RABU
12 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Senin, 26 Juni 2017 01:53
Polda Sumut Diteror, Satu Polisi Tewas
-

PROKAL.CO, MEDAN – Polisi kembali menjadi sasaran teror. Usai ledakan bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta di mana polisi menjadi salah satu korbannya, kemarin giliran Mapolda Sumut yang disasar. Seorang polisi tewas, sementara satu dari dua pelaku ikut tewas setelah diterjang tembakan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian Menuding Jamaah Anshorut Daulah (JAD) sebagai dalang dari aksi teror tersebut. Kelompok tersebut memiliki intel dan berniat menyerang Mapolda Sumut. ’’Dua minggu lalu tiga orang ditangkap, yang sekarang ini sisa selnya,’’ ujar Tito di sela open house Presiden di Istana Negara kemarin (25/6).

Polisi, lanjut Tito, masih menjadi sasaran utama jaringan tersebut. Dalam keyakinan kelompok itu, polisi termasuk institusinya adalah kafir harbi, yang bagi mereka berarti harus diperangi. Sebab, polisi terus memerangi jaringan kelompok tersebut. Bahkan, polisi menjadi prioritas dibandingkan sasaran lainnya. Karena itulah, Polda Sumut menjadi sasaran.

Saat ini, satu pelaku yang selamat sedang menjalani perawatan yang bakal dilanjutkan dengan pemeriksaan. Tito menolak memerinci informasi yang didapat dari tiga pelaku yang tertangkap lebih dahulu maupun yang baru saja ditangkap. Alasannya, itu sama saja dengan memberitahu strategi polisi terhadap jaringan mereka.

Yang jelas, tambahnya, pengamanan jajaran Polri secara keseluruhan kini diperketat. ’’Saya sampaikan ke jajaran Polda, kepolisian sudah memperkuat pengamanan masing-masing satuan, kantor, maupun pribadi masing-masing,’’ tutup mantan Kapolda Metro Jaya itu.              

Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan, aksi teror di Mapolda Sumut terjadi Sabtu dini hari (25/6). ”Tadi jam 03.00 WIB ada serangan,” kata dia kepada wartawan. Dua terduga teroris masuk melalui gerbang pintu tiga yang biasa digunakan sebagai jalan keluar. Mereka nekat memanjat gerbang tersebut untuk menyerang petugas yang berjaga.

Menurut pria yang akrab dipanggil Setyo itu, tidak kurang empat personel bertugas di pos pintu tiga. Namun hanya Aiptu Martua Sigalinging yang berada di dalam pos. Tiga petugas lain sedang melakukan kontrol dan patroli. Karena itu, hanya Aiptu Martua yang menjadi sasaran. ”Yang diserang itu yang di dalam sedang istirahat,” ucap perwira tinggi Polri dengan dua bintang di pundak itu.

Kedua terduga teroris menyerang Aiptu Martua menggunakan sejata tajam. Mereka menikam leher, dada, dan tangan anggota  Pelayanan Markas (Yanma) Polda Sumut itu sambil memekikan takbir. ”Saat diserang, Aiptu Martua gugur,” sesal Setyo. Luka akibat tikaman senjata tajam tidak kuasa ditahan oleh Aiptu Martua hingga dia menghembuskan nafas terakhir.

Menyadari serangan tersebut, Brigadir Ginting yang berada di luar pos tiga berteriak untuk meminta bantuan kepada anggota Brigade Mobil (Brimob) yang tengah berjaga di pos pintu satu. ”Anggota Brimob itu ambil tindakan,” jelas Setyo. Tindakan pertama yang dilakukan adalah tembakan peringatan. Namun tidak diindahkan oleh kedua terduga teroris.

Karena itu, angota Brimob tersebut memutuskan untuk melumpuhkan kedua terduga teroris. ”Satu tewas, satu kritis,” ujar Setyo. Anggota Brimob yang melumpuhkan kedua terduga teroris adalah Brigadir Novendri Sinaga, Bharatu Lomo Simanjuntak, dan Brigadir Karo. Sampai berita ini dibuat, kedua terduga teroris itu masih dalam penanganan Polda Sumut.

Namun demikian, Setyo belum bisa mengungkap identitas kedua terduga teroris itu secara detail. ”Keduanya masih diidentifikasi,” terang dia. Demikian pula senjata tajam yang dipakai untuk menikam Aiptu Martua. ”Sedang didalami Densus 88 Antiteror,” imbuhnya. Mereka juga menggeledah tempat tinggal kedua terduga teroris tersebut.

Setyo mengungkapkan, Bahrun Naim sudah mengimbau agar anggota kelompok atau jaringan teroris terafiliasi ISIS di Indonesia melakukan amaliah sebelum serangan di Mapolda Sumut terjadi. Tidak harus menggunakan bom, amaliah boleh dilakukan dengan cara apapun. ”Kalau nggak punya bom pakai senjata apa saja  untuk menyerang. Itu yang dilakukan di Medan (Mapolda Sumut),” terangnya.

Selain identitas kedua terduga teroris yang belum dapat diungkap secara rinci, Polri juga belum bisa memastikan kedua terduga teroris itu berasal dari jaringan mana. Namun, besar kemungkinan mereka masih satu jaringan dengan tiga teroris yang  ditangkap Selasa (6/6). Yakni Kelompok Anshorut Daulah Medan. ”Kelihatannya masih satu kelompok,” jelas Setyo.

Tentu mantan wakabaintelkam Polri itu tidak sembarangan berujar. Pasca penangkapan tiga teroris tersebut, serangan dilakukan ke Mapolda Sumut. Sebelumnya, tiga terors ditangkap lantaran terdeteksi hendak melakukan aksi teror dengan menyurvei Mako Brimob Sumut. Namun serangan malah dilakukan ke Mapolda Sumut. ”Terbukti ada dua orang langsung serang,” kata Setyo.

Guna mengantisipasi serangan susulan, Polri meningkatkan keamanan. Baik mapolsek, mapolres, mapolda, maupun Mabes Polri. ”Kami tetap waspada. Kemungkinan serangan terhadap Polri masih tetap ada,” jelasnya. Imbauan amaliah Bahrun Naim dan insiden di Mapolda Sumut sudah diprediksi oleh pengamat terorisme Al Chaidar.

Kepada Jawa Pos, Al Chaidar menyampaikan, anggota kelompok teroris berafiliasi ISIS bakal melakukan segala cara untuk melakukan amaliah. ”Mereka bisa gunakan kendaraan, senjata api, dan senjata tajam kalau tidak punya bom,” ungkap dia kemarin. Pernyataan serupa pernah disampaikan  Al Chaidar beberapa pekan lalu.

Meski Polri belum memastikan asal kelompok kedua terduga teroris yang menyerang Mapolda Sumut, Al Chaidar yakin betul mereka anggota Kelompok Anshorut Daulah Medan.  ”Gagal menyerang Mako Brimob Sumut kemudian memindahkan sasaran ke Mapolda Sumut,” jelasnya. Itu dilakukan lantaran mereka sudah mendapat perintah dari Bahrun Naim.

Serupa dengan keterangan Setyo, Al Chaidar menyebutkan bahwa aksi teror dengan sasaran anggota Polri masih akan terjadi. Bahkan, bukan tidak mungkin intensitasnya semakin tinggi. ”Bisa setiap bulan ada serangan,” kata dia. Karena itu, dia meminta Polri ekstra waspada. Khususnya ketika konsentrasi mereka terkuras pada agenda tertentu. Misalnya hari besar keagamaan. (byu/syn/tom)


BACA JUGA

Selasa, 11 Desember 2018 12:47

Soal HAM, Prabowo dan Jokowi 11-12

JAKARTA - Partai Demokrat menyatakan Prabowo Subianto belum tentu lebih…

Selasa, 11 Desember 2018 12:22

Awas Kasus e-KTP DANGER!

JAKARTA-Komisi Pemilihan Umum (KPU) menilai kasus-kasus yang terkait dengan KTP…

Minggu, 09 Desember 2018 11:09

Banyuwangi Dinilai Paling Inovatif

BANYUWANGI - Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur meraih penghargaan sebagai…

Minggu, 09 Desember 2018 11:08

Rencana Menikah Tinggal Kenangan

Tak pernah terbersit di benak keluarga, Muhammad Agus alias Aso…

Minggu, 09 Desember 2018 11:01

Bantuan Parpol Bisa Tembus Rp 9 Triliun

JAKARTA – Wacana agar negara berkontribusi lebih besar dalam pendanaan…

Minggu, 09 Desember 2018 11:01

Hujan dan Angin Kencang sampai Besok

JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur sejumlah daerah di Jawa…

Minggu, 09 Desember 2018 10:59

Video Call sebelum Tidur

Kesibukan menjadi kepala negara, ditambah anak-anaknya yang tengah fokus membangun…

Minggu, 09 Desember 2018 10:57

Setahun Lebih Tersangka, Eks Kabid Ditahan KPK

JAKARTA – Setelah setahun lebih berstatus tersangka, mantan Kepala Bidang…

Sabtu, 08 Desember 2018 13:59

Elektabilitas Jokowi Stagnan, Ma'ruf Amin yang Disalahkan

JAKARTA- Diberitakan JawaPos.com, menjelang hari pemilihan pada Pilpres 2019, dua…

Jumat, 07 Desember 2018 08:36

NGERI..!! Kelompok Begal "Ero-Ero" Rekrut Pelajar

MAKASSAR- Kecanduan narkoba dan tergabung dalam kelompok begal sadis. Rieynandi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .