MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 18 Juni 2017 12:23
Menikmati Ramadan di Tanah Rantau; Saint Petersburg (13)
Malam Tak Benar-Benar Gelap, Tahan Puasa 21 Jam
TAHAN LAMA: Penulis (kanan) bersama teman sekelas. Ramadan di Rusia bertepatan dengan momen ujian akhir semester. (DOK PRIBADI)

PROKAL.CO, Matahari tidak benar-benar tenggelam di Saint Petersburg, Rusia. Jarak buka puasa dan sahur hanya 3 jam. Hendra Reimon Pangemanan, mahasiswa asal Bontang yang kuliah di Petersburg State Transport University, menceritakan pengalamannya yang sudah tiga tahun puasa di sana.

MUSLIM di Saint Petersburg patut berterima kasih kepada Presiden Soekarno. Lawatan presiden pertama Indonesia menjadi langkah awal difungsikan kembali Saint Petersburg Cathedral Mosque.

Saat bertandang ke kota yang pernah menjadi pusat Kekaisaran Rusia tersebut, Soekarno meminta kepada pimpinan Uni Soviet kala itu, Nikita Khrushchev, agar masjid dibuka kembali. Ketika komunis berkuasa, tempat ibadah itu dijadikan gudang medis dan penuh barang rongsokan.

Tak butuh lama, sepuluh hari setelah kunjungan Soekarno, Nikita mengembalikan fungsi masjid. Selain dikenal sebagai Masjid Biru, sebagian orang juga menyebut Saint Petersburg Cathedral Mosque sebagai Masjid Soekarno.

Peninggalan Indonesia lainnya juga masih terdapat di sana. Ada kaligrafi pemberian Megawati, presiden ke-5 RI, yang ketika kunjungan Soekarno turut diajak. Juga kaligrafi pemberian Wapres Jusuf Kalla terpampang di masjid itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah menginjakkan kaki di masjid terbesar di Saint Petersburg tersebut. Masjid ini berdiri pada 1910. Sang arsitek Nikolai Vasilyev mengadopsi Makam Amir Timur di Samarkand, Uzbekistan. Pembangunannya memakan waktu tiga tahun. Dari luar masjid terlihat sederhana. Berupa batu granit. Sedangkan bagian depan, berbentuk seperti motif sarang lebah berwarna biru dengan hiasan marmer.

Tempat wudu, rumah imam, dan kediaman penjagaan terpisah dengan bangunan utama. Letaknya di bagian belakang. Saat Ramadan, masjid itu menjadi pusat kegiatan. Saya beruntung karena jarak masjid dengan asrama hanya sekitar 1 kilometer. Saya biasa buka puasa di sana. Hidangan yang disajikan sama dengan masjid lain di Rusia, yakni plov. Rasanya seperti nasi goreng dengan potongan daging domba. 

Buka puasa di Saint Petersburg sama dengan sahur. Banyak yang hanya makan sekali. Jarak Magrib dan Subuh hanya terpaut 3 jam. Puasa dimulai pada pukul 01.30 dan buka pukul 22.30. Tarawih baru rampung sekitar pukul 00.30.

Meski puasa sampai 21 jam, saya tidak makan banyak. Sebaliknya, justru memperbanyak minum air putih. Tidak ada vitamin khusus ataupun persiapan lain. Saya menjalankan sama seperti saat di Indonesia. Latihan bulu tangkis juga saya kurangi. Yang berbeda, Ramadan kali ini masih tanpa orangtua. Saya belum bisa kembali ke Indonesia karena melaksanakan ujian akhir semester.

Malam di Saint Petersburg tidak benar-benar gelap. Seperti senja. Musim panas membuat matahari tidak sepenuhnya tenggelam. Meski waktu menunjukkan pukul 00.00 sinarnya masih terpancar. Fenomena ini dikenal sebagai malam putih. Bili Nochi, kata orang Rusia. Terjadi mulai Mei sampai Juli. Puncaknya pada 22 Juni. Saat itu langit Saint Petersburg tetap terang. Kondisi tersebut terjadi karena kota yang dijuluki Venesia Timur itu berada di bagian utara. Suhu di sini pun sekitar 15 derajat.

Saat malam putih, bermacam-macam festival dan lomba digelar. Pertunjukan musik, tarian, dan opera meramaikan festival. Siang hari, tepian Sungai Neva menjadi lokasi asyik untuk ngabuburit. Melihat kapal-kapal wisata, berbincang dengan teman ataupun melihat kegiatan lain yang dilakukan warga setempat. (edw/far/k9)


BACA JUGA

Kamis, 23 November 2017 09:05

Korban Tuntut Ganti Rugi Ditebus

BALIKPAPAN – Dua tahun sudah korban gagal umrah dari PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa)…

Kamis, 23 November 2017 09:02

Presiden Selalu dari Satu Kelompok

SAMARINDA – Kericuhan dalam Pemilihan Raya (Pemira) Presiden BEM Universitas Mulawarman yang membuat…

Kamis, 23 November 2017 09:01

Kaltim Post Peduli Pajak

BALIKPAPAN – Kaltim Post ikut berperan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kemarin…

Kamis, 23 November 2017 08:58

Lindungi Kesehatan Seluruh Masyarakat

PEMKAB Mahakam Ulu (Mahulu) membuktikan komitmen memberi kepastian perlindungan atas hak jaminan sosial…

Kamis, 23 November 2017 08:55

Khusus Penyetelan dan Finishing Tak Dikerjakan Karyawan

Tidak banyak perajin gitar di Balikpapan. Dari 776.632 warga Balikpapan tahun ini, fakta yang diperoleh…

Kamis, 23 November 2017 08:52

Dukung Kadrie Oening Jadi Nama GOR Sempaja

WACANA penamaan Kompleks GOR Madya Sempaja menjadi Kompleks GOR Kadrie Oening terus menuai dukungan.…

Rabu, 22 November 2017 10:10

Politik Minus Etika Kaum Intelek

SAMARINDA – Teriakan penuh amarah menggelegar di langit Universitas Mulawarman ketika ratusan…

Rabu, 22 November 2017 10:06

Golongan Putih di Kampus Hijau

BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman memang hanya sebuah organisasi. Namun, untuk…

Rabu, 22 November 2017 10:00

Nusyirwan: APBD Perubahan Molor

SAMARINDA – Belasan proyek penanganan banjir menumpuk pada akhir tahun. Fenomena itu diklaim bukan…

Rabu, 22 November 2017 09:56

Golkar Kaltim Masih Menimbang

SAMARINDA – Rumor Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) DPP Golkar setelah penahanan sang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .