MANAGED BY:
JUMAT
21 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 18 Juni 2017 12:23
Menikmati Ramadan di Tanah Rantau; Saint Petersburg (13)
Malam Tak Benar-Benar Gelap, Tahan Puasa 21 Jam
TAHAN LAMA: Penulis (kanan) bersama teman sekelas. Ramadan di Rusia bertepatan dengan momen ujian akhir semester. (DOK PRIBADI)

PROKAL.CO, Matahari tidak benar-benar tenggelam di Saint Petersburg, Rusia. Jarak buka puasa dan sahur hanya 3 jam. Hendra Reimon Pangemanan, mahasiswa asal Bontang yang kuliah di Petersburg State Transport University, menceritakan pengalamannya yang sudah tiga tahun puasa di sana.

MUSLIM di Saint Petersburg patut berterima kasih kepada Presiden Soekarno. Lawatan presiden pertama Indonesia menjadi langkah awal difungsikan kembali Saint Petersburg Cathedral Mosque.

Saat bertandang ke kota yang pernah menjadi pusat Kekaisaran Rusia tersebut, Soekarno meminta kepada pimpinan Uni Soviet kala itu, Nikita Khrushchev, agar masjid dibuka kembali. Ketika komunis berkuasa, tempat ibadah itu dijadikan gudang medis dan penuh barang rongsokan.

Tak butuh lama, sepuluh hari setelah kunjungan Soekarno, Nikita mengembalikan fungsi masjid. Selain dikenal sebagai Masjid Biru, sebagian orang juga menyebut Saint Petersburg Cathedral Mosque sebagai Masjid Soekarno.

Peninggalan Indonesia lainnya juga masih terdapat di sana. Ada kaligrafi pemberian Megawati, presiden ke-5 RI, yang ketika kunjungan Soekarno turut diajak. Juga kaligrafi pemberian Wapres Jusuf Kalla terpampang di masjid itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah menginjakkan kaki di masjid terbesar di Saint Petersburg tersebut. Masjid ini berdiri pada 1910. Sang arsitek Nikolai Vasilyev mengadopsi Makam Amir Timur di Samarkand, Uzbekistan. Pembangunannya memakan waktu tiga tahun. Dari luar masjid terlihat sederhana. Berupa batu granit. Sedangkan bagian depan, berbentuk seperti motif sarang lebah berwarna biru dengan hiasan marmer.

Tempat wudu, rumah imam, dan kediaman penjagaan terpisah dengan bangunan utama. Letaknya di bagian belakang. Saat Ramadan, masjid itu menjadi pusat kegiatan. Saya beruntung karena jarak masjid dengan asrama hanya sekitar 1 kilometer. Saya biasa buka puasa di sana. Hidangan yang disajikan sama dengan masjid lain di Rusia, yakni plov. Rasanya seperti nasi goreng dengan potongan daging domba. 

Buka puasa di Saint Petersburg sama dengan sahur. Banyak yang hanya makan sekali. Jarak Magrib dan Subuh hanya terpaut 3 jam. Puasa dimulai pada pukul 01.30 dan buka pukul 22.30. Tarawih baru rampung sekitar pukul 00.30.

Meski puasa sampai 21 jam, saya tidak makan banyak. Sebaliknya, justru memperbanyak minum air putih. Tidak ada vitamin khusus ataupun persiapan lain. Saya menjalankan sama seperti saat di Indonesia. Latihan bulu tangkis juga saya kurangi. Yang berbeda, Ramadan kali ini masih tanpa orangtua. Saya belum bisa kembali ke Indonesia karena melaksanakan ujian akhir semester.

Malam di Saint Petersburg tidak benar-benar gelap. Seperti senja. Musim panas membuat matahari tidak sepenuhnya tenggelam. Meski waktu menunjukkan pukul 00.00 sinarnya masih terpancar. Fenomena ini dikenal sebagai malam putih. Bili Nochi, kata orang Rusia. Terjadi mulai Mei sampai Juli. Puncaknya pada 22 Juni. Saat itu langit Saint Petersburg tetap terang. Kondisi tersebut terjadi karena kota yang dijuluki Venesia Timur itu berada di bagian utara. Suhu di sini pun sekitar 15 derajat.

Saat malam putih, bermacam-macam festival dan lomba digelar. Pertunjukan musik, tarian, dan opera meramaikan festival. Siang hari, tepian Sungai Neva menjadi lokasi asyik untuk ngabuburit. Melihat kapal-kapal wisata, berbincang dengan teman ataupun melihat kegiatan lain yang dilakukan warga setempat. (edw/far/k9)


BACA JUGA

Jumat, 21 Juli 2017 13:01

809 Izin Usaha Pertambangan Distop, Baru 6 SK Terbit

SAMARINDA – Janji mengakhiri 809 izin usaha pertambangan (IUP) di Kaltim belum sepenuhnya dilakukan…

Jumat, 21 Juli 2017 13:00

100 Hari Penyerangan, Begini Kondisi Terakhir Novel Baswedan

KASUS penyerangan Novel Baswedan genap masuk hari ke-100, kemarin (20/7). Namun, sampai sekarang, kepolisian…

Jumat, 21 Juli 2017 13:00

Ini Alasan PLN Tak Sanggup Beri Setrum Sloklai

BALIKPAPAN – Perhatian terhadap Kampung Sloklai Lamaru yang 23 tahun tanpa aspal jalan dan listrik…

Jumat, 21 Juli 2017 12:56

NESTAPA..!! Kebakaran Bikin Duit untuk Kurban Ikut Hangus

LISTRIK tiba-tiba padam. Warga berhamburan berlari keluar rumah. “Kebakaran,” suara teriakan.…

Jumat, 21 Juli 2017 09:41

Foto Editan untuk Provokasi

PEMBUAT hoax yang satu ini mungkin punya nyali setara Mad Dog. Bagaimana tidak, dia berani membuat dan…

Jumat, 21 Juli 2017 09:35
Bertandang ke Desa Bengkala, Kampungnya Warga Bisu-Tuli

Kembangkan Bahasa Sendiri, Bikin Penasaran Peneliti

Pulau Bali tidak hanya menyimpan panorama nan indah dan budaya yang kental. Salah satu desa di Kabupaten…

Jumat, 21 Juli 2017 09:28

Demi Bayi Laki-Laki, Aborsi Empat Kali

HABIS manis sepah dibuang. Seperti itulah nasib Yueyue. Perempuan asal Shengang, kota Wuhu, Provinsi…

Kamis, 20 Juli 2017 10:26
Bertandang ke Sloklai, 23 Tahun Tak Mengenal Aspal dan Listrik

Terisolasi di Kota yang Paling Dicintai

Sloklai, sebuah kampung di timur Balikpapan yang seakan tak merasakan remah dari kemajuan kota. JARAK…

Kamis, 20 Juli 2017 10:21

Tak Merasa Ada Bantuan dari Pemkot

TAK hanya akses jalan yang babak belur dan belum pernah mengenal aspal yang jadi tantangan warga Sloklai.…

Kamis, 20 Juli 2017 10:16
Vaksin Terbukti Bisa Mengeliminasi Beberapa Penyakit

Guyur Rp 740 M demi Cegah Komplikasi dan Kecacatan

JAKARTA – Sejak awal tahun ini, Kementerian Kesehatan telah mengumumkan adanya tiga tambahan vaksin…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .