MANAGED BY:
RABU
16 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 17 Juni 2017 00:10
Rambah Bawang Putih, Faktor Geografis Jadi Tantangan Utama

Belajar Budi Daya Bawang Merah di Brebes (5)

SULIT DIADOPSI: Petani Binaan KPw-BI Tegal Ahmad Maufur (topi petani), saat menjelaskan kiat budi daya bawang kepada salah satu petani binaan KPw-BI Balikpapan (kanan).

PROKAL.CO, Selain mandiri dengan bawang merah, Brebes juga mampu mencukupi kebutuhan bawang putihnya dari daerah tetangga, Tegal. Meski selama ini sulit tumbuh, tak ada salahnya coba merintis produksi tanaman tersebut di Kaltim, dengan metode khusus.

PENAJAM  Paser Utara (PPU) yang sudah dianggap sebagai sentra bawang merah di wilayah selatan Kaltim, sampai saat ini pun belum mampu memproduksi bawang putih. Bahkan secara nasional, pemenuhan kebutuhan untuk tanaman bumbu ini pun masih didominasi impor.

Sarwani, salah satu petani PPU dalam rombongan studi banding budi daya bawang merah di Brebes mengakui, dari sisi geografis, tanaman tersebut memang tak cocok hidup di Kaltim. Bawang putih, kata dia, harus tumbuh di lahan dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut.

“Iklim di tempat kami juga tidak cocok,” ucapnya saat sesi kunjungan budi daya bawang putih di Desa Tuwel, Kabupaten Tegal.

Dia mengaku, bawang putih pernah coba dijajal petani di PPU. Bibit didapat dari rekan petani di Pulau Jawa. Setelah mencoba, tumbuh, hasilnya sangat kecil. Diameternya hanya 2,5 sentimeter.

“Mungkin akibat saya masih awam tentang teknik budi daya bawang putih, sehingga hasilnya tidak bagus. Kami dulu beranggapan serupa pada bawang merah. Tetapi, setelah dicoba dan paham metodenya, ternyata bisa,” tutur Sarwani.

Karenanya, dari bibit yang dia peroleh dari Tegal pekan lalu, akan coba dikembangkan di PPU. Saat ini, dia menyebut, para petani yang ikut dalam rombongan ini sudah memahami teknik dan pemilihan waktu menanam. Tinggal menularkannya saja kepada para petani lain di daerah.

Kepala Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Kota Balikpapan Yosmianto mengungkapkan, selama ini memang belum pernah ada petani yang spesifik menggarap bawang putih, apalagi sebagai komoditas utama.

Namun dia menjelaskan, teknik dan proses budi daya bawang putih tak jauh beda dengan bawang merah. Hanya memang, faktor iklim membuat Kaltim sulit menghasilkan bawang putih berkualitas bagus.

Diketahui, dari kebutuhan sekitar 500 ribu ton bawang putih per tahun, setidaknya 95 persen masih bergantung pada dari luar negeri. Dan untuk sekitar 5 persen produksi lokal, Tegal memang menjadi salah satu pemasok utama untuk kebutuhan di Tanah Air.

Di Desa Tuwel, Tegal ini, produksi bawang putih sempat jaya pada era 1980-an. Bahkan menjadi salah satu sentra produksi bawang putih di Jawa Tengah.

Kejayaan ini meredup seiring dengan mulai masuknya bawang putih impor ke Indonesia. Produksi bawang lokal tersaingi, baik dalam harga maupun bentuk umbi. Akibatnya, banyak petani yang akhirnya meninggalkan budi daya tanaman ini.

“Baru dua tahun ini, setelah KPw-BI Tegal turun tangan, budi daya bawang putih kembali bergairah. Petani muda seperti saya, ikut berkecimpung. Bahkan, kami diajarkan bagaimana monitoring lahan tanam menggunakan aplikasi di smartphone,” ucap salah satu petani bawang putih binaan KPw-BI Tegal Ahmad Maufur saat menyambut petani binaan BI Balikpapan.

Dijelaskannya, 2015 lalu, petani yang di bina BI Tegal mulai menanam di atas lahan 3.000 meter persegi dalam bentuk demplot. Periode panen bawang merah ini lebih lama dari bawang merah, yakni 140 hari. “Panen kami kala itu, maksimal sekitar 22 ton,” bebernya.

Sekarang, dia dan petani bawang putih lain menanam tanaman tersebut di atas lahan 600 meter persegi. Sudah mulai rutin. Produksi berkala mencapai 11-14 ton.

Manajer Unit Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Tegal, Bursya menjelaskan, pihaknya akan memberikan bantuan untuk pengembangan bawang putih bekerja sama dengan petani yang mempunyai semangat untuk membangkitkan lagi usaha budi daya bawang putih di daerah.

“Kami telah mengembangkan demplot tersebut. Dan panennya di luar dugaan. Kami pun terus mengembangkannya, hingga pada tahun selanjutnya, lahan diperluas hingga 20 hektare. Produksinya mencapai 86 ton. Itu di luar dari target, karena tahun lalu terjadi anomali cuaca yang cukup mengganggu produksi,” jelasnya.

Keberhasilan demplot ini, didukung teknologi budi daya yang dikembangkan Pusat Kajian Hortikultura dan Tropikal Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Petugas Penyuluh Lapangan, OISCA Karanganyar, BPTP Ungaran dan BPSB Jawa Tengah. “Keberhasilan inisiasi pengembangan bawang putih ini diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam pengendalian inflasi yang disebabkan oleh komoditas bawang putih dan mengurangi ketergantungan impor,” ujarnya.

Ada dua kelompok tadi yang mengembangkan budi daya bawang putih ini di Desa Tuwel, Tegal. Tahun lalu, pihaknya memberikan bantuan sekitar 9 ton bibit bawang putih. Tahun ini, bantuan masih sekitar 1,5 ton.

“Kami akan terus kawal budi daya ini. Perlahan ternyata bisa mengurangi ketergantungan impor,” beber dia.

Kendati demikian, dia mengakui, mungkin akan butuh proses sedikit lama untuk dapat menekan jumlah bawang putih impor. Tidak seperti bawang merah, budi daya bawang putih memang termasuk sulit. Selain standar ketinggian geografis tadi, juga dibutuhkan ketelitian. (aji/man/k15)

 


BACA JUGA

Selasa, 08 Agustus 2017 09:08

Kerepotan karena Tidak Semua Pengrajin dari Kalangan Bangsawan

Setelah menembus pasar industri kreatif di Jogjakarta, anyaman khas Dayak dalam waktu dekat akan masuk…

Senin, 07 Agustus 2017 09:18

Seminggu Terkatung-katung di Krayan meski Tiket di Tangan

Kesadaran melestarikan budaya leluhur terkadang datangnya dari luar, kendati hasilnya hanya berbentuk…

Sabtu, 29 Juli 2017 07:39

Langsung Daftarkan Empat Anak Naik Haji

Dulu para petambak di Pangkep bisa menyimpan garam di gudang sampai tujuh tahun, menunggu harga bagus.…

Jumat, 28 Juli 2017 08:56

Pemasangan Cat Antigores Tiga Kali Gagal

Lukisan tiga dimensi (3D) pertama di bandara ini akhirnya terpampang nyata. Cadio Tarompo, seniman asal…

Kamis, 27 Juli 2017 08:44

“Tahun Lalu Saya Kalah tetapi Saya Masih Tetap Semangat”

Lahir dengan keterbatasan fisik, tak membuat semangat Denisa Putriana Marie luntur. Dia berhasil menorehkan…

Rabu, 26 Juli 2017 08:52

Senandika, Candu Bahagia Seorang Erfan

Meski aliran musik ini tergolong anti-mainstream, folk mulai memiliki ruang dan tempat tersendiri di…

Selasa, 25 Juli 2017 08:54

Habiskan Waktu Lima Bulan, Setahun Dua Rekor Pecah

Siapa sangka di usianya yang baru lima tahun, Kiyoshi sudah mengantongi tiga penghargaan bergengsi.…

Sabtu, 22 Juli 2017 07:52

Laptop Rp 2,91 M Bikin Heran, 11 Tersangka di Beras Basah

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim tengah gencar memberangus korupsi di Bumi Etam. Tak ingin dicap pepesan…

Jumat, 21 Juli 2017 08:34

Terinspirasi Ayah, Singkirkan 60 Kandidat

Gadis yang baru menginjak usia 15 tahun ini sudah berhasil menjajal kompetisi modeling hingga level…

Kamis, 20 Juli 2017 08:38

85 Persen Risiko Stroke Dapat Dicegah

Sekitar 15-22 persen kematian pasien stroke disebabkan perdarahan intraserebral spontan (PIS). Sementara,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .