MANAGED BY:
MINGGU
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 15 Juni 2017 10:10
Kisah Sukses Pendiri BDS Snack, Sri Astuty
Tangan Kanan Pegang Stoples, Tangan Kiri Gendong Anak
TAK SEKADAR BERWIRAUSAHA: Sri Astuty saat ditemui di outlet BDS Snack belum lama ini. Usaha yang digeluti menginspirasi banyak perempuan di Indonesia. (dina angelina/kp)

PROKAL.CO, Usaha yang dia bangun di Jakarta pernah terbakar dan dijarah. Belum lagi, modal habis tak bersisa akibat krisis moneter 1998.

DINA ANGELINA, Balikpapan

SRI Astuty mampu mengembangkan beragam camilan olahan dari ikan dengan keuntungan puluhan juta rupiah. Berada di bawah bendera BDS Snack, kegigihannya mengantarkan perempuan ini meraih banyak penghargaan. Teranyar, dia dinobatkan sebagai perempuan inspiratif. Apresiasi ini diberikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Mengadunasib ke Kota Minyak setelah kerusuhan di Jakarta tahun 1998, bukanlah perkara mudah. Outlet oleh-oleh dan kue yang dia miliki di salah satu mal di Ibu Kota harus terjarah dan terbakar. Belum lagi, modal habis tak bersisa akibat terjadinya krisis moneter saat itu. Salah satu momen terberat yang tak pernah terlupakan dalam hidupnya.

Kepada Kaltim Post, Tuty, begitu dia disapa, berbagi kisah dalam merintis usaha yang sempat ambruk. Semua bermula dari keputusannya untuk kembali ke Balikpapan medio 2001. Mengikuti jejak sang suami, Gustaf Tangkilisan yang memang asli warga Benua Etam. Lagi-lagi, perempuan berdarah Palembang ini tidak kapok untuk berdagang.

Dengan skill yang telah dimiliki sebelumnya, Tuty memilih membuat produk kue kering. Apalagi ketika itu, momennya bertepatan dengan suasana Lebaran. Namun usai perayaan Idulfitri, otomatis pesanan kue kering menurun drastis. Dia bahkan bingung harus menjual dagangan.

Lalu, seorang teman menawarkannya untuk masuk dalam usaha kerupuk ikan. Dia turut membantu dari sisi pemasaran produk. Namun, tidak paham sama sekali bagaimana proses produksi kerupuk. “Sementara hari-hari, saya masih produksi kue, seperti donat, roti, muffin, pempek, dan lainnya. Ada juga pesanan kue kering untuk Lebaran. Saya masih belum tahu arah bisnis ini ke mana. Saat itu yang penting ada produk terjual untuk bertahan hidup, ini berjalan sekitar empat tahun,” ungkapnya.

Suatu saat, ibu dari dua orang putra itu berhasil membuat kerupuk ikan tanpa sengaja. Bermula iseng-iseng karena ada adonan sisa dari pempek. Semua dia lakukan secara autodidak. Bahkan saat meracik adonan itu, dia tak punya catatan dan berdasarkan insting saja. Walhasil, Tuty harus mencari lagi hingga mendapatkan resep yang tepat.

Padahal dia tak belajar dengan orang lain sebelumnya. Melainkan hanya tahu bahan baku dan mencampur sendiri saja. Mantap dengan produknya, anak kelima dari tujuh bersaudara ini berani untuk memasarkan kerupuk ikan tersebut. Momen itu sekaligus mengenalkan usahanya dengan merek BDS Snack.

“Awal jualan saya pasarkan sendiri ke toko-toko dengan jalan kaki. Tangan kanan pegang stoples, tangan kiri saya sambil gendong anak. Kami tinggal di BDS dengan tipe rumah 36. Kecil sekali untuk tempat produksi, tidak ada dapur dan teras, hanya ada dua kamar. Kamar belakang saya buat dapur, seluruh proses produksi di sana,” kata perempuan kelahiran 24 Agustus 1969.

Keseriusan dalam usaha membuat sang suami turut meninggalkan statusnya sebagai karyawan. Keduanya ingin fokus dalam mengembangkan BDS Snack. Setiap hari, ucap dia, Tuty dan Gustaf berbagi dapur dan tugas. Waktu pagi sampai sore, Tuty berada di dapur untuk produksi kue. Sedangkan, malam harinya, suami mengambil alih dapur untuk produksi kerupuk.

Ternyata berbagi tugas itu tak mudah, beragam produk membuat konsentrasi mereka terpecah. Perempuan yang hobi memasak itu berpikir untuk memutuskan produk mana yang mereka akan jalani serius. Pada 2010, pasangan ini mantap memilih produk olahan ikan sebagai usaha utama mereka.

“Ambil keputusan mana yang harus fokus tidak mudah. Padahal godaan dan pesanan lain banyak, tapi saya coba konsisten dengan hanya membuat kerupuk ikan, pempek, dan tekwan, pokoknya semua olahan ikan,” tutur wakil ketua II DPD Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (IPEMI) itu.

Perempuan berusia 48 tahun tersebut mengungkapkan, titik balik usahanya terjadi saat kerupuk pantik BDS Snack meraih Juara III Kategori Makanan Ringan Kering Festival Penganan Khas Balikpapan 2011. Acara yang digelar Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) membuat BDS Snack mulai dikenal oleh kalangan pemerintahan.

Kerja keras itu membuahkan hasil. BDS Snack terus berkembang dengan bantuan empat orang karyawan. Tuty mulai tertarik untuk mencoba membuat amplang. Lagi-lagi secara autodidak, dia mencari racikan adonan untuk camilan khas Kaltim tersebut. Lalu, coba memasarkan amplang sedikit demi sedikit.

“Saya tidak pernah belajar buat amplang dari tempat lain. Hanya tahu komposisi saja dan eksperimen sendiri. Naiknya produksi amplang ini juga tidak sengaja, saya berhasil memberikan sampel produk ke pemilik outlet Sibayak. Ternyata setelah itu permintaan amplang justru besar. Saat ini, hampir 70 persen produksi lari ke sana,” ucapnya.

Setelah usahanya terus berkembang, Tuty pun butuh tempat produksi yang lebih besar. Dinas Perikanan menawarkan bangsal di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar sebagai tempat produksi BDS Snack. Ia bersyukur, akhir 2013 bisa melakukan produksi di Balikpapan Timur tersebut. Sembari dia memperkuat produk dengan urusan ISO hingga SNI.

“Omzet dari outlet Sibayak minimal Rp 70 juta per bulan. Mendekati Lebaran bisa Rp 100 juta dari sana. Mayoritas penjualan amplang dan kerupuk pantik. Sekarang produk amplang menjadi pionir dan produksi utama,” beber ketua Koperasi UMKM Semayang tersebut.

Bahkan, amplang mengantarkannya ke berbagai penghargaan. Dia bercerita, tidak pernah menyangka bisa meraih beragam apresiasi. Sebab, rata-rata penghargaan itu atas rekomendasi. Seperti penghargaan UKM WOW, Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Nasional 2016, Warga Berprestasi Bidang UMKM 2017, hingga Perempuan Inspirasi 2017 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Mayoritas penghargaan mungkin karena saya perempuan sekaligus penggerak usaha. Kalau dulu BDS itu singkatan dari nama perumahan tempat produksi. Sekarang sudah berubah singkatan menjadi Berdayakan Daerah Sekitar. Karena mulai dari bahan baku sampai SDM semua dari lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Selain amplang, di bawah bendera BDS Snack Tuty juga mengelola beragam olahan ikan dan seafood. Seperti aneka stik seafood, amplang cumi, stik cumi, abon, kerupuk dari yang mentah sampai bakar. Ia menjalankan usahanya bersama dengan 18 karyawan. Di mana 16 dari mereka adalah perempuan yang berasal dari daerah sekitar TPI Manggar.

Tercatat, produk BDS Snack sudah masuk beberapa pusat oleh-oleh dan pasar modern di Kota Beriman. Toko oleh-oleh Sibayak, Semayang Berjaya, UMKM Center DAM dan Stal Kuda, hingga outlet oleh-oleh di bandara. Kemudian, hampir berada di seluruh pasar modern. Hebatnya lagi, BDS Snack juga telah merangkul pasar nasional melalui penjualan di seluruh Transmart Carrefour.

Setidaknya tersebar di 30 lokasi Transmart di seluruh Indonesia. Dalam satu hari, BDS Snack memproduksi minimal 57 kilogram amplang per hari. Sisanya untuk produk lain bergantung dari tingkat penjualan. “Omzet yang dulu masih produksi di rumah sekitar Rp 20 juta per bulan. Sekarang, omzet di atas Rp 100 juta, kalau di bawah dari itu tidak mungkin. Karena bisa-bisa tidak cukup untuk membayar karyawan,” imbuh penerima penghargaan motor penggerak UMKM terbaik tingkat Provinsi Kaltim.

Ke depan, Tuty akan membangun tempat produksi baru di kawasan Teritip. Tanah berukuran 5 kavling direncanakan dijadikan sebagai base camp produksi. “Saya tidak bisa terus pakai tempat ini (TPI Manggar), saya ingin UMKM lain bisa bergantian memanfaatkannya,” terangnya. Selain itu, target besar lainnya, Tuty ingin memperluas area produksi dan pemasaran. Dalam tiga tahun mendatang, dia ingin mendirikan BDS Snack di Serang, Banten.

Selain pernah bermukim di sana, Tuty mengatakan lokasi kota dekat dengan Ibu Kota. Sehingga akan lebih mudah menjangkau dan merangkul pasar di Pulau Jawa. (riz/k15)


BACA JUGA

Jumat, 20 Oktober 2017 08:22

Dibentak Pasien Genit, Tersenyum Lihat Ada yang Pura-Pura Lemas

Selain menguras energi, bekerja di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam juga menguras…

Kamis, 19 Oktober 2017 08:17

Dikecoh Pakai Baju Tukang hingga Disangka Dokter

Dulu, Suwito Wiyono sigap mengamankan lembaran uang di bank. Kini tugasnya berganti. Tetap menjaga keamanan.…

Rabu, 18 Oktober 2017 08:38

Pasien Gagal Kabur setelah Pintu Terbuka Lebar

Banyak kisah dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam. Kaltim Post menurunkannya dalam…

Selasa, 17 Oktober 2017 08:22

Kerja Sama Akan Berakhir, Hotel Siap Diperluas

Hotel yang diresmikan sejak 2009 ini, pengelolaannya diserahkan kepada perusahaan pelat merah milik…

Senin, 16 Oktober 2017 08:08

Sentuhan Klasik Modern dari Produk Lokal

Blue Sky Pandurata Boutique Hotel adalah salah satu aset berharga Pemprov Kaltim di Jakarta. Berpotensi…

Sabtu, 14 Oktober 2017 07:07

Semringah Disapa sang Raja saat Makan Malam

Tak hanya masuk deretan nama 50 guru terbaik dunia, Dayang Suriani diundang Raja Abu Dhabi Syaikh Khalifah…

Sabtu, 14 Oktober 2017 06:58

Buat Miniatur dari Stik Kayu, Dijual di Etalase RnB

Tak hanya menjalani masa tahanan, warga binaan Rutan Kelas IIB Balikpapan juga diberi kesempatan berkreativitas.…

Jumat, 13 Oktober 2017 08:06

Kalau Sudah Jatuh Cinta, Mau Bagaimana Lagi

Di tengah gempuran musik digital, lahir komunitas pelestari. Fokus mereka agar sape dikenal dan semakin…

Kamis, 12 Oktober 2017 08:26

Ketika Air Laut Kelewat Dipercaya Memupus Haus

Kekuasaan itu seperti air laut. Makin diminum, makin bikin haus. Haus dan air laut yang luput kendali…

Rabu, 11 Oktober 2017 08:23

Perokok Makin Muda, Berhenti Cukup dengan Teknik Pernapasan

Lebih dari sepertiga atau 36,3 persen penduduk Indonesia saat ini menjadi perokok. Bahkan, 20 persen…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .