MANAGED BY:
MINGGU
18 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 06 Juni 2017 08:39
Seribu Wajah sang Perusak Organ

PROKAL.CO,  

Lupus memang bukan penyakit baru di Indonesia. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang tidak paham dengan baik penyakit autoimun tersebut.

SEDARI tren kemunculannya era 50-an di Indonesia, hingga

kini ilmu kedokteran belum dapat menemukan akar penyebab seseorang menderita penyakit lupus. Dugaan sementara, berhubungan dengan faktor genetik, infeksi, pengaruh bahan kimia, obat, hingga faktor hormonal. Begitu pula dengan metode penyembuhan, tidak ada obat pasti yang diklaim sebagai solusi ampuh pembasmi lupus.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Natsir Akil menjelaskan, secara medis kondisi penderita lupus harus berjibaku dengan serangan imun. Sebab, imunyang seharusnya menjadi pelindung tubuh dari kuman dan bakteri, justru kembali menyerang tubuh. Masalahnya, tak ada gejala khusus atau khas untuk mengenali tanda-tanda lupus.

Begitu ragam dari yang bersifat ringan sampai dengan berat yang dapat menyebabkan kematian. “Biasanya gejala awal yang timbul seperti pembengkakan sendi. Kebanyakan pasien datang dengan keluhan itu. Kemudian disertai dengan demam, mual, sakit kepala, sampai wajah yang ruam. Padahal dalam satu individu bisa terdapat dua penyakit imun sekaligus. Sulit untuk mengenali mana yang termasuk kriteria lupus,” ujarnya.

Natsir mengatakan, lupus akan berbahaya jika menyerang organ vital. Seperti otak, ginjal, dan sel darah. Angka kematian penderita lupus sangat tinggi disebabkan dari tiga hal tersebut. Namun nyatanya, lupus mampu menyerang berbagai organ. Mulai dari jantung, paru-paru, mata, tulang, dan lainnya. Sebagai contoh jika terjadi kelainan jantung, maka gejala yang muncul seperti sakit dada, sesak napas, dan mudah lelah.

Lalu bisa pula menyerang sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit). Ia menyebutkan, jumlah penderita lupus rata-rata berada di atas usia 20-40 tahun. Terutama mereka yang berjenis kelamin perempuan. Meski tidak ada alasan pasti, tuduhan sementara pengaruh dari faktor hormonal. Hanya saja, ada pula pasien anak-anak dengan usia balita 2 tahun hingga remaja. 

“Perkembangan lupus terus membaik dari tahun ke tahun. Karena angka kematian yang semakin menurun. Artinya angka harapan hidup tinggi. Tetapi, memang jumlah pasiennya terus meningkat. Alasannya karena banyak yang sudah terdeteksi,” ujarnya. Hal utama yang perlu Anda tahu, penderita lupus tidak bisa dikatakan sembuh. Selama ini yang dikenal hanyalah istilah remisi alias tidak kambuh.

Meski begitu, jangan berpikir lupus sebagai penyakit yang selalu mematikan. Sebab kenyataannya, lupus dapat terkontrol asal dengan penanganan yang tepat. Konsultan Reumatologi Universitas Indonesia Jakarta itu menuturkan, penderita lupus hanya mengenal dua masa, yakni masa kambuh (flare) dan masa remisi (sembuh sementara). Begitu pula dengan pemberian obat-obatan, sebatas mencegah gejala yang timbul semakin parah.

Kondisi itu membuat seorang penderita lupus (odapus) harus rela menjalani pengobatan dalam waktu jangka panjang atau mungkin seumur hidup. “Rangkaian pengobatan berfungsi untuk menghindari kekambuhan, mencegah kerusakan organ, dan memperbaiki kualitas hidup. Capaian terbaik bagi penderita lupus, yakni masa remisi," sebutnya. Natsir menerangkan, ada banyak ragam faktor pemicu lupus untuk kambuh.

Seperti sengatan sinar matahari langsung, kelelahan, stres, cemas, trauma dari kecelakaan atau operasi, dan obat tertentu yang bisa menambah lupus bertambah berat. Terutama hindari kelelahan dengan istirahat minimal selama enam jam dan sering tidur ringan. Ia menambahkan, agar terhindar dari sengatan matahari, pilihlah sunscreen dengan sun protection factor (SPF) yang tinggi. Yaitu di atas 30 untuk menangkis sinar ultraviolet B.

Kemudian kadar protection grade of UV A (PA) minimal 2 untuk menangkis sinar ultraviolet A. “Sebaiknya menggunakan masker dan payung ketika bepergian. Jangan lupa gunakan sunscreen 30 menit sebelum keluar rumah,” ungkapnya. Terakhir, ada dua hal yang tidak boleh terlupa bagi pasien lupus, yaitu teratur dalam kontrol dan minum obat. Komunikasi yang rutin memberikan kemudahan dokter untuk mengontrol kondisi pasiennya.

“Kontrol dilakukan cukup setiap bulan untuk mengetahui gejala klinis. Sedangkan pemeriksaan laboratorium bisa secara berkala seperti tiga atau enam bulan sekali saja,” tutupnya. (*/gel/riz/k15)


BACA JUGA

Rabu, 14 Februari 2018 09:18

Program Bagus, Eksekusi Tak Mulus

TARGET dua juta sapi sulit tercapai hingga ujung periode kedua Gubernur Awang Faroek Ishak. Program…

Senin, 12 Februari 2018 09:00

Selamatkan Ratusan Ribu Suara, Bergantung Kerja Keras KPU

ANCAMAN tenggelamnya ratusan ribu suara warga Kaltim yang berdomisili di luar daerah bakal jadi nyata.…

Sabtu, 10 Februari 2018 09:30

Banyak Mimpi Belum Terealisasi

Hari ini, 121 tahun lalu Balikpapan dilahirkan. Masih banyak pekerjaan rumah yang belum dituntaskan.…

Sabtu, 10 Februari 2018 09:17

Gedung DPRD Batal, Fokus Penanganan Banjir

DPRD Balikpapan enggan pesimistis. Asa membangun Kota Minyak masih terbuka lebar. Meski dibayangi berbagai…

Jumat, 09 Februari 2018 09:24

Pesut Tak Tersenyum Lagi

Populasi pesut di Sungai Mahakam terus menyusut. Habitat dan nyawa The Smiling Dolphin terancam bahaya…

Jumat, 09 Februari 2018 09:20

Diteror Ponton Batu Bara

SELAMA 20 tahun belakangan, populasi pesut terkonsentrasi di perairan Muara Kaman, Kutai Kartanegara.…

Jumat, 09 Februari 2018 09:08

Elegi Pesut

OLEH: RADEN RORO MIRA BUDIASIH DILIHAT dari Jalan Gajah Mada, depan Kegubernuran Kaltim di Samarinda,…

Rabu, 07 Februari 2018 09:36

Perut Mengandung, Badan Terkurung

Perempuan-perempuan ini mengandung, melahirkan, dan menyusui di dalam tahanan. Perjuangan berat merawat…

Rabu, 07 Februari 2018 09:34

Bersalin dengan Biaya Sendiri

PEREMPUAN yang melahirkan ketika menjalani hukuman diizinkan untuk merawat bayi hingga berumur 2 tahun.…

Rabu, 07 Februari 2018 09:22

Bukan Tempat Menyambut Bayi

NEGARA memperbolehkan anak narapidana mengikuti ibunya di lembaga permasyarakatan hingga berusia dua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .