MANAGED BY:
RABU
16 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 06 Juni 2017 08:39
Seribu Wajah sang Perusak Organ

PROKAL.CO,  

Lupus memang bukan penyakit baru di Indonesia. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang tidak paham dengan baik penyakit autoimun tersebut.

SEDARI tren kemunculannya era 50-an di Indonesia, hingga

kini ilmu kedokteran belum dapat menemukan akar penyebab seseorang menderita penyakit lupus. Dugaan sementara, berhubungan dengan faktor genetik, infeksi, pengaruh bahan kimia, obat, hingga faktor hormonal. Begitu pula dengan metode penyembuhan, tidak ada obat pasti yang diklaim sebagai solusi ampuh pembasmi lupus.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Natsir Akil menjelaskan, secara medis kondisi penderita lupus harus berjibaku dengan serangan imun. Sebab, imunyang seharusnya menjadi pelindung tubuh dari kuman dan bakteri, justru kembali menyerang tubuh. Masalahnya, tak ada gejala khusus atau khas untuk mengenali tanda-tanda lupus.

Begitu ragam dari yang bersifat ringan sampai dengan berat yang dapat menyebabkan kematian. “Biasanya gejala awal yang timbul seperti pembengkakan sendi. Kebanyakan pasien datang dengan keluhan itu. Kemudian disertai dengan demam, mual, sakit kepala, sampai wajah yang ruam. Padahal dalam satu individu bisa terdapat dua penyakit imun sekaligus. Sulit untuk mengenali mana yang termasuk kriteria lupus,” ujarnya.

Natsir mengatakan, lupus akan berbahaya jika menyerang organ vital. Seperti otak, ginjal, dan sel darah. Angka kematian penderita lupus sangat tinggi disebabkan dari tiga hal tersebut. Namun nyatanya, lupus mampu menyerang berbagai organ. Mulai dari jantung, paru-paru, mata, tulang, dan lainnya. Sebagai contoh jika terjadi kelainan jantung, maka gejala yang muncul seperti sakit dada, sesak napas, dan mudah lelah.

Lalu bisa pula menyerang sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit). Ia menyebutkan, jumlah penderita lupus rata-rata berada di atas usia 20-40 tahun. Terutama mereka yang berjenis kelamin perempuan. Meski tidak ada alasan pasti, tuduhan sementara pengaruh dari faktor hormonal. Hanya saja, ada pula pasien anak-anak dengan usia balita 2 tahun hingga remaja. 

“Perkembangan lupus terus membaik dari tahun ke tahun. Karena angka kematian yang semakin menurun. Artinya angka harapan hidup tinggi. Tetapi, memang jumlah pasiennya terus meningkat. Alasannya karena banyak yang sudah terdeteksi,” ujarnya. Hal utama yang perlu Anda tahu, penderita lupus tidak bisa dikatakan sembuh. Selama ini yang dikenal hanyalah istilah remisi alias tidak kambuh.

Meski begitu, jangan berpikir lupus sebagai penyakit yang selalu mematikan. Sebab kenyataannya, lupus dapat terkontrol asal dengan penanganan yang tepat. Konsultan Reumatologi Universitas Indonesia Jakarta itu menuturkan, penderita lupus hanya mengenal dua masa, yakni masa kambuh (flare) dan masa remisi (sembuh sementara). Begitu pula dengan pemberian obat-obatan, sebatas mencegah gejala yang timbul semakin parah.

Kondisi itu membuat seorang penderita lupus (odapus) harus rela menjalani pengobatan dalam waktu jangka panjang atau mungkin seumur hidup. “Rangkaian pengobatan berfungsi untuk menghindari kekambuhan, mencegah kerusakan organ, dan memperbaiki kualitas hidup. Capaian terbaik bagi penderita lupus, yakni masa remisi," sebutnya. Natsir menerangkan, ada banyak ragam faktor pemicu lupus untuk kambuh.

Seperti sengatan sinar matahari langsung, kelelahan, stres, cemas, trauma dari kecelakaan atau operasi, dan obat tertentu yang bisa menambah lupus bertambah berat. Terutama hindari kelelahan dengan istirahat minimal selama enam jam dan sering tidur ringan. Ia menambahkan, agar terhindar dari sengatan matahari, pilihlah sunscreen dengan sun protection factor (SPF) yang tinggi. Yaitu di atas 30 untuk menangkis sinar ultraviolet B.

Kemudian kadar protection grade of UV A (PA) minimal 2 untuk menangkis sinar ultraviolet A. “Sebaiknya menggunakan masker dan payung ketika bepergian. Jangan lupa gunakan sunscreen 30 menit sebelum keluar rumah,” ungkapnya. Terakhir, ada dua hal yang tidak boleh terlupa bagi pasien lupus, yaitu teratur dalam kontrol dan minum obat. Komunikasi yang rutin memberikan kemudahan dokter untuk mengontrol kondisi pasiennya.

“Kontrol dilakukan cukup setiap bulan untuk mengetahui gejala klinis. Sedangkan pemeriksaan laboratorium bisa secara berkala seperti tiga atau enam bulan sekali saja,” tutupnya. (*/gel/riz/k15)


BACA JUGA

Selasa, 08 Agustus 2017 09:29

Mag Akut Intai Generasi Instan

Polamakan menentukan kondisi tubuh. Kematian dokter sekaligus pembawa acara kesehatan Ryan Thamrin beberapa…

Selasa, 08 Agustus 2017 09:26

Usia Produktif Paling Rentan

RASA nyeri di sekitar ulu hati disertai mual, biasanya mulai menjangkiti ketika makan siang terlambat,…

Senin, 07 Agustus 2017 09:45

Kaum Milenial Melawan Takdir

Kebutuhan hunian menjadi persoalan yang cukup serius dihadapi oleh generasi milenial Kaltim. Tiap waktu,…

Senin, 07 Agustus 2017 09:39

“Belanja Pun Tunggu Diskon. Jangan Hedon"

MESKI terlihat susah untuk memiliki sebuah rumah idaman. Generasi milenial yang ada dalam rentang usia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .