MANAGED BY:
MINGGU
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 06 Juni 2017 08:36
Enggan Salahkan Keadaan, Orangtua Jadi Pelecut Semangat

Mereka Berjuang Melawan Penyakit Lupus

SALING MENGUATKAN: Anisa Rizky Ameilia (kanan) bersama ibunda Nur Mastianah saat ditemui di kediamannya, pekan lalu. (anggi praditha/kp)

PROKAL.CO,  

Di usia yang tergolong masih dini, Anisa Rizky Ameilia dan Arrahman harus berjibaku sebagai penderita lupus. Mental keduanya sempat jatuh, tapi kini bisa berdampingan dengan lupus.

DINA ANGGELINA, Balikpapan

KALI pertama gejala penyakit seribu wajah ini menyerang Nisa, demikian sapaan akrab Anisa Rizky Ameilia, saat di bangku SMA. Tepatnya di SMA 4 Balikpapan. Ketika itu, Nisa sibuk dengan ekstrakurikuler paskibraka. Entah mengapa, aktivitas tersebut membuat perempuan berzodiak Gemini ini kerap merasa lelah dan nyeri dada.

Gejala lain seperti demam tinggi, lemas, sampai nyeri punggung. Wajahnya pun terlihat pucat dan kaki bagian kanan mengalami pembengkakan. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter curiga keluhan ini berhubungan dengan penyakit paru.

“Akhirnya saya melakukanrontgen, katanya ada cairan dalam paru. Dokter mengira ini tuberkulosis, saya coba jalani saja perawatan dan hasilnya terlihat baik,” katanya kepada Kaltim Post, pekan lalu. Namun, sekitar setahun berikutnya dari kejadian itu, Nisa kembali mengalami gejala yang sama. Bahkan lebih jelas dengan kemunculan butterfly rash atau ruam di wajah.

Salah satu tanda dari penderita lupus. Nisa yang saat itu duduk di bangku kelas XI, kaget bukan kepalang. Dia hanya berpikir gejala lalu hanya berhubungan dengan masalah paru. Bahkan sempat ada penolakan dalam dirinya, rasa jenuh dan stres membuatnya memilih lepas dari konsumsi obat selama seminggu. Akhirnya, dia sempat mengalami masa flare atau kambuh.

“Kalau kambuh rasanya cepat lelah, kaki bengkak, dan terlihat vena yang keluar, hingga rambut yang mulai rontok. Bisa juga muncul bintik merah ruam di wajah dan badan kurus karena tidak ada nafsu makan,” ucap perempuan kelahiran 24 Mei 1999, itu. Semua gejala lupus mau tidak mau cukup mengganggu aktivitasnya.

Contoh seperti jika harus melewati pelajaran olahraga, gadis dengan tinggi badan 161 sentimeter ini tidak mampu bergerak bebas. Sebab, dia harus terhindar dari paparan sinar matahari. Kalau sudah begitu, tubuhnya bisa mengalami demam tinggi dan nyeri sendi. “Ke mana-mana kalau keluar siang hari, harus pakai payung dan pakaian yang bisa menutupi seluruh bagian badan. Jadi, saya lebih menghindari keluar rumah di siang hari. Kalau tidak begitu bisa muncul lagi gejala ruam di wajah,” tutur peraih Juara II Lomba Baris-berbaris Tingkat Kota Balikpapan 2016.

Kini, gadis berusia 18 tahun ini sudah mampu menerima kenyataan itu. Dengan begitu, dia mampu mengontrol diri dan berada dalam masa stabil. Ia lebih memilih untuk mengisi waktu dengan mencari informasi seputar lupus dan mendengarkan pengalaman dari sesama penderita lupus lain. Tujuannya, agar terus berpikir positif dan terhindar dari stres.

Nisa mengungkapkan, kasih sayang yang berlimpah dari keluarga dan orang terdekat menjadi alasan terbesarnya untuk tegar. Motivasi juga bisa datang dari teman sekitar hingga sesama penderita lupus. “Semangat karena lihat perjuangan orangtua. Dukungan mereka luar biasa, katanya saya harus kuat menjalani. Mereka yang tidak lelah menemani, rasanya memberikan dukungan untuk saya terus positive thinking,” beber peraih Juara II Nasional Jingle Dancer Dancow 2009.

Kemudian, dengan ikut aktif bersama komunitas membuatnya kaya akan wawasan lupus dan merasa tak perlu patah semangat. “Jadi, tidak usah dipikirin berlebihan karena malah bisa stres. Sekarang bagaimana bisa membawa diri bahagia dan hidup yang berkualitas. Bagian yang penting untuk saya ingat hanya rajin minum obat dan lupus bisa terkontrol,” kata pengagum musisi Adam Levine tersebut.

Kini, perempuan yang hobi membaca buku ini cukup menegakkan kewajibannya mengonsumsi obat dan rutin kontrol. Setiap hari, Nisa menelan tiga jenis obat untuk mendukung daya imunnya. Yakni methylprednisolone 4 miligram, cavit D3, vitamin D dan cellcept mycophenolate 500 miligram. Semua itu dikonsumsi sebanyak dua kali dalam sehari. Sedangkan kontrol dengan dokter cukup dilakukan setiap bulan.

Alhamdulillah tidak ada pantangan makanan. Tapi, akan lebih bagus kalau banyak makan sayur, buah, dan susu. Susu untuk mencegah efek dari tulang yang keropos akibat konsumsi obat,” sebutnya. Pengalaman lainnya diutarakan keluarga Arrahman.

 Sekilas, Arrahman terlihat seperti balita umumnya. Padahal, mungkin tak ada yang menyangka bila dia telah berhasil melewati masa sulit dalam hidupnya. Putra pertama dari pasangan Adit dan Puji tersebut sudah akrab dengan jarum suntik dan obat. Akibat terserang penyakit lupus sejak dirinya berusia 4 bulan. Kondisi ini begitu langka, jarang sekali ada anak seusia bayi harus mengidap penyakit lupus. Sang ayah bercerita, saat itu tidak pernah berpikir bahwa putranya mengidap penyakit seribu wajah.

Selain karena mereka berdua selaku orangtua masih awam dengan lupus, putra tercintanya pun tidak menunjukkan gejala lupus. Adit masih ingat sekali awal kronologi kondisi tubuh buah hatinya menurun berawal dari seringnya muntah darah. Ketika itu, dia tidak berpikir keadaan akan begitu buruk. Sehingga hanya membawa Arrahman kontrol ke dokter umum. Hasilnya, diagnosis awal dokter mengatakan terjadi pecahnya pembuluh darah yang berada di sekitar hidung sampai tenggorokan.

Sayangnya keadaan itu terus terjadi, darah dari pembuluh darah yang pecah justru memenuhi lambungnya. Walhasil, Adit dan istri harus rela meluangkan waktu kontrol ke berbagai dokter. Mencari tahu penyebab dan solusi dari kondisi putranya. Mulai dari berobat lokal hingga keluar Kalimantan kali pertama, ia datang ke RSUD Balikpapan untuk melakukan pemeriksaan darah. Walau saat itu, hasil tes masih menunjukkan angka normal dan tidak ada masalah.

Tetapi tidak dengan kondisi Arrahman yang tak kunjung membaik.

Maka dari itu, dia memilih untuk melakukan tes darah kedua kalinya. Dokter berkata perlu melakukan pemeriksaan yang lebih rinci dan merujuknya ke rumah sakit lain. Diagnosis saat itu mengarah pada anemia hemolitik autoimun (AIHA). Sembari itu, kondisi bayi itu semakin kritis akibat hemoglobin (Hb) rendah . Hanya sekitar 4 gram/dL dan kekurangan darah.

Masalahnya, tidak mudah menemukan darah yang cocok sebagai pemberi transfusi darah. Ternyata darah Arrahman cukup langka yakni A+, bahkan kedua orangtuanya pun tidak memiliki darah yang sama dengan bayi mungil ini. Kejadian Februari tahun lalu tersebut membuat Arrahman harus berangkat ke Kota Tepian. Dirinya mendengar jika ditemukan darah yang cocok dan bisa melakukan transfusi darah di Samarinda.

“Jujur saya sempat ragu, apa benar sama atau hanya dicocokin saja. Tapi kami tetap pergi untuk mencoba. Di sana dapat transfusi darah satu kantong. Tapi saat sampai kembali di Balikpapan, kondisi anak saya malah langsung drop. Angka Hb turun drastis setelah dari transfusi Hb masih sekitar 12 gram/dL. Akibat darah yang diterima ternyata tidak cocok,” bebernya.

Beberapa hari kemudian, Adit membawa putranya terbang ke Makassar berdasarkan rujukan dokter. Tepatnya bertemu dengan Profesor Dasril Daud, seorang dokter spesialis anak ternama di Kota Daeng. Di sana, Arrahman menjalani pemeriksaan secara rinci. Termasuk tes anti double stranded DNA (ds-DNA). Hingga akhirnya hasil tes memperjelas bahwa Arrahman positif lupus. Saat itu usianya masih 1 tahun.

“Kami tidak menyangka sama sekali, ternyata lupus. Karena berpikirnya ini hanya sakit anak-anak biasa seperti alergi. Kemudian parah hanya karena pembuluh darah yang pecah itu saja. Jadi rasanya langsung kaget, sebelumnya tidak ada anggota keluarga terserang lupus. Saya pun tahunya lupus adalah penyakit berbahaya dan mematikan,” tuturnya.

Rasa bak petir menyambar tubuh, Adit sedih tak karuan. Seperti linglung dan gundah. Bukan hanya karena tidak tahu penyebab anaknya mengidap lupus. Pikirannya terus menalar dan tidak mampu membayangkan bagaimana masa depan buah hati. “Tapi seiring berjalan waktu, saya mulai paham dan bayak mencari pengetahuan tentang lupus. Ternyata kenyataannya tidak semua lupus menyebabkan kematian asalkan penanganannya tepat. Bahkan mereka bisa masuk dalam kondisi remisi alias tidak kambuhan,” ungkapnya.

Hal itu yang membuat perasaan mereka sebagai orangtua sedikit lega. Apalagi setelah melihat keadaan Arrahman mulai membaik sedikit demi sedikit. Kini, Arrahman telah kembali ke Balikpapan, tepatnya sudah sekitar empat bulan berada dalam pengawasan dokter. “Sekarang tidak pernah menunjukkan gejala, istilahnya kondisi sudah stabil. Pucat paling kalau terlalu lelah, tapi tidak lagi ada muntah darah atau lemas. Jadi, kami bisa kontrol dari tingkah lakunya saja. Bagaimana kuatnya dia beraktivitas bisa menunjukkan kondisi Hb,” ucapnya. (riz/k15)


BACA JUGA

Selasa, 10 Oktober 2017 09:06
Plus dan Minus Penggunaan Bahan Bakar Gas

Murah dari Premium, Ramah bagi Mesin

Gas mulai ramai dilirik pengendara di Balikpapan sebagai bahan bakar mobil. Sebagian besar adalah angkutan…

Selasa, 10 Oktober 2017 09:01

Pakai BBG, Lingkungan Diuntungkan

ADA 500 kendaraan di Balikpapan yang sudah mengonsumsi BBG. Baik mobil dinas maupun angkutan umum. Tahun…

Sabtu, 30 September 2017 07:57

Amunisi Pencitraan

HAMPIR  seperempat Mei 2015 adalah bulan yang tak biasa bagi Muhammad Sulaiman. Dia berada ratusan…

Sabtu, 30 September 2017 07:46

Lagi, Empat OPD Digeledah

PENGGELEDAHAN  tim KPK di Tenggarong berlanjut. Kemarin (29/9) penggeledahan dilakukan di empat…

Jumat, 29 September 2017 08:20

Pembunuh yang Tak Pandang Bulu

Pada 2012, pelatih Persiba Balikpapan, Junaidi (47) meninggal dunia usai bermain bola pada laga eksibisi…

Jumat, 29 September 2017 08:17

Olahraga Tiga Kali Seminggu

OTOT jantung tak seperti otot tubuh yang bisa dibentuk dan semakin kuat dengan berbagai olahraga. Meski…

Jumat, 29 September 2017 08:15

Kuasai Cpr Selamatkan Pasien

PASIEN jantung kini bisa menggunakan jalur jaminan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Penyakit…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .