MANAGED BY:
SABTU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 06 Juni 2017 08:33
Mengancam Organ Vital Anak
-Ilustrasi.

PROKAL.CO, LUPUS pada usia balita tergolong unik dan langka. Jumlah kasusnya jauh lebih sedikit dibandingkan dewasa. Menurut spesialis penyakit dalam dan reumatologi Natsir Akil, selama tujuh tahun terakhir berkarier di Kaltim, jumlah pasien lupus anak bisa terhitung jari. Tidak sampai menyentuh 10 orang. Di mana, kasus Arrahman terhitung yang paling muda. Dia mengidap lupus ketika berusia 2 tahun.

Biasanya, ucap Natsir, pasien lupus anak berkisar usia 8-12 tahun. Pria asal Soppeng, Sulawesi Selatan itu menyebutkan, gambaran secara klinis antara kasus dewasa dan anak tidak jauh berbeda. Hanya saja, ancaman lupus menyerang organ vital lebih tinggi pada kasus anak. Misalnya menyerang ginjal, darah, jantung, otak, sampai paru. “Kalau orang dewasa biasanya menyerang kulit dan sendi. Soal pengobatan tidak begitu berbeda, tinggal ukuran dosis sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Namun sesungguhnya pengobatan lupus anak memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dari pasien dewasa,” tuturnya.

Sejauh ini, lupus memang tidak memiliki gejala khusus dan spesifik. Itu yang membuatnya sulit terdeteksi. Natsir menuturkan, setiap orang memiliki gejala yang berbeda. Bergantung dari bagian organ mana yang terserang penyakit autoimun ini. Contohnya pada kasus Arrahman yang menyerang sel darah merah. Maka terlihat gejala yang muncul, seperti lemas, pucat, dan nafsu makan berkurang. Masalahnya, penyebab dan pengobatan lupus yang belum dapat ditemukan membuat tujuan pengobatan antara lupus dewasa dan anak masih sama.

Yakni sebatas upaya mengontrol gejala yang timbul dapat seminimal mungkin. Dengan harapan utama adalah menjaga kualitas hidup pasien tersebut. Dokter berusia 52 tahun itu menjelaskan, lupus anak membutuhkan perhatian lebih intens dan agresif. Kemudian, pengobatan harus berhati-hati karena potensi menyerang organ vital lebih besar. Menurutnya, pengobatan terasa jauh lebih rumit dan tingkat kesulitannya tinggi. Sebab dalam usia anak-anak, mereka masih terus mengalami masa pertumbuhan.

“Artinya sebagian organ vital belum pada keadaan sempurna. Ini yang harus jadi perhatian, apakah obat yang mereka konsumsi mengganggu pertumbuhan tulang, otot, dan organ lain. Sehingga pengobatan harus lebih ketat dan kontrol teratur,” ucapnya. Selain itu, penting pula untuk memikirkan kondisi psikologi anak. Mereka yang terhitung belum memiliki pemikiran matang akan sulit patuh pada rutinitas konsumsi obat.

Sebagai dokter, ucap dia, saat harus memotivasi anak untuk teratur minum obat merupakan tantangan. Bagaimanapun, anak-anak mudah merasa bosan alias jenuh dan susah mengendalikannya. Namun untuk kasus Arrahman, dia mengaku sangat optimistis mengingat respons pengobatan Arrahman yang terbilang bagus. Kondisinya terus membaik, tampak dari minimnya gejala dan hasil parameter laboratorium. “Aktivitas penyakit bisa dilihat dari gejala dan catatan laboratorium. Respons dia terhadap obat sangat baik karena sekarang anak ini bisa aktif bermain berlari, makan lancar, tidak demam,” kata alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin Makassar, itu.

Padahal, Arrahman hanya mengonsumsi obat yang sederhana. Putra dari Adit dan Puji tersebut cukup mengonsumsi obat oral sebanyak satu kali dalam sehari. Rata-rata obat lupus yang tersedia dalam bentuk tablet membuat orangtua Arrahman harus rajin mengubah obat dalam bentuk puyer. “Sekarang cukup dengan dua obat itu saja sudah bisa tertangani dan kondisinya sangat baik. Dia bisa stabil terkontrol. Dosis obat juga rendah sekitar 2 miligram. Sehingga masa kontrol ikut berkurang cukup dilakukan setiap bulan saja,” urainya. 

Selain obat, sambung dia, pasien lupus sebaiknya dapat menghindari stres. Sebab, stres merupakan faktor pemicu utama masa kambuh atau flare. Dokter yang bertugas di RSUD Kanujoso Djatiwibowo ini mengungkapkan, pasien lupus perlu rileks dan berpikir positif yang dapat membuat dirinya semakin kuat. Dengan begitu gejala yang timbul akan semakin ringan.

Sebaliknya, jika tingkat stres meningkat, tentu seketika langsung berpengaruh pada gejala yang timbul. “Keluarga dan lingkungan berperan penting dalam kesembuhan. Sebab untuk kasus lupus anak, mereka hanya dapat menerima, tanpa paham apa yang dia derita. Tentu kontrol besar terletak pada orang sekitarnya,” bebernya.

Natsir menyarankan, orangtua tak lelah memberikan perhatian agar anak merasa mendapatkan dukungan. Misalnya turut mendampingi saat kontrol. Nantinya semua itu berpengaruh pada kondisi psikologi dan tingkat stres anak yang jauh berkurang. “Harapan kami untuk kasus lupus anak, paling tidak bisa terkontrol dan berada dalam kondisi stabil untuk waktu jangka panjang. Kuncinya tinggal kontrol teratur, rutin minum obat, hindari stress, dan terus konsumsi makanan bergizi,” ucapnya. Ia berpesan agar pasien lupus anak lebih banyak mengonsumsi susu. Kandungan protein, zat besi, dan kalsium sekaligus bisa menjadi pertahanan dari efek obat. (*/gel/riz/k15)


BACA JUGA

Senin, 19 Februari 2018 09:29

Inovasi Adalah Kunci

SAMARINDA – Kelesuan ekonomi akibat harga batu bara yang anjlok dalam empat tahun belakangan berdampak…

Senin, 19 Februari 2018 09:26

Keniscayaan Sebuah Transformasi

APBD defisit, mal-mal semakin sepi, dan migrasi penduduk keluar Kaltim? Begitulah pertanyaan yang sering…

Senin, 19 Februari 2018 09:21

"Jangan Sekadar Janji dan Omongan"

BERBAGAI cara ditempuh Pemprov Kaltim demi mendorong investasi sepanjang kelesuan ekonomi. Belum lama…

Jumat, 16 Februari 2018 07:10

Darah Utusan Dinasti Yuan

MASUKNYA etnis Tionghoa ke Samarinda diperkirakan turut terjadi pada masa Dinasti Yuan (1279-1294).…

Jumat, 16 Februari 2018 07:07

Nyaris Diruntuhkan Jepang

KELENTENG Thian Gie Kiong mengalami banyak renovasi sejak selesai dibangun pada 1905. Namun, bangunan…

Jumat, 16 Februari 2018 07:05

Jejak Tangan Kanan Sultan dan 100 Tahun Guang Dong

BANYAK cerita soal riwayat Lo Apu sebagai tokoh Tionghoa pada masa dulu. Dia disebut-sebut memiliki…

Jumat, 16 Februari 2018 06:59

Imlek dan Saya: It's Who I am

Oleh: Lola Devung (Maria Teodora Ping) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman,…

Jumat, 16 Februari 2018 06:56

"Kita Satu DNA"

TAHUN Baru Imlek yang jatuh hari ini membawa sejuta harap. Pandita Hendri Suwito dari Buddhist Center…

Rabu, 14 Februari 2018 09:18

Program Bagus, Eksekusi Tak Mulus

TARGET dua juta sapi sulit tercapai hingga ujung periode kedua Gubernur Awang Faroek Ishak. Program…

Senin, 12 Februari 2018 09:00

Selamatkan Ratusan Ribu Suara, Bergantung Kerja Keras KPU

ANCAMAN tenggelamnya ratusan ribu suara warga Kaltim yang berdomisili di luar daerah bakal jadi nyata.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .