MANAGED BY:
JUMAT
21 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 06 Juni 2017 08:33
Mengancam Organ Vital Anak
-Ilustrasi.

PROKAL.CO, LUPUS pada usia balita tergolong unik dan langka. Jumlah kasusnya jauh lebih sedikit dibandingkan dewasa. Menurut spesialis penyakit dalam dan reumatologi Natsir Akil, selama tujuh tahun terakhir berkarier di Kaltim, jumlah pasien lupus anak bisa terhitung jari. Tidak sampai menyentuh 10 orang. Di mana, kasus Arrahman terhitung yang paling muda. Dia mengidap lupus ketika berusia 2 tahun.

Biasanya, ucap Natsir, pasien lupus anak berkisar usia 8-12 tahun. Pria asal Soppeng, Sulawesi Selatan itu menyebutkan, gambaran secara klinis antara kasus dewasa dan anak tidak jauh berbeda. Hanya saja, ancaman lupus menyerang organ vital lebih tinggi pada kasus anak. Misalnya menyerang ginjal, darah, jantung, otak, sampai paru. “Kalau orang dewasa biasanya menyerang kulit dan sendi. Soal pengobatan tidak begitu berbeda, tinggal ukuran dosis sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Namun sesungguhnya pengobatan lupus anak memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dari pasien dewasa,” tuturnya.

Sejauh ini, lupus memang tidak memiliki gejala khusus dan spesifik. Itu yang membuatnya sulit terdeteksi. Natsir menuturkan, setiap orang memiliki gejala yang berbeda. Bergantung dari bagian organ mana yang terserang penyakit autoimun ini. Contohnya pada kasus Arrahman yang menyerang sel darah merah. Maka terlihat gejala yang muncul, seperti lemas, pucat, dan nafsu makan berkurang. Masalahnya, penyebab dan pengobatan lupus yang belum dapat ditemukan membuat tujuan pengobatan antara lupus dewasa dan anak masih sama.

Yakni sebatas upaya mengontrol gejala yang timbul dapat seminimal mungkin. Dengan harapan utama adalah menjaga kualitas hidup pasien tersebut. Dokter berusia 52 tahun itu menjelaskan, lupus anak membutuhkan perhatian lebih intens dan agresif. Kemudian, pengobatan harus berhati-hati karena potensi menyerang organ vital lebih besar. Menurutnya, pengobatan terasa jauh lebih rumit dan tingkat kesulitannya tinggi. Sebab dalam usia anak-anak, mereka masih terus mengalami masa pertumbuhan.

“Artinya sebagian organ vital belum pada keadaan sempurna. Ini yang harus jadi perhatian, apakah obat yang mereka konsumsi mengganggu pertumbuhan tulang, otot, dan organ lain. Sehingga pengobatan harus lebih ketat dan kontrol teratur,” ucapnya. Selain itu, penting pula untuk memikirkan kondisi psikologi anak. Mereka yang terhitung belum memiliki pemikiran matang akan sulit patuh pada rutinitas konsumsi obat.

Sebagai dokter, ucap dia, saat harus memotivasi anak untuk teratur minum obat merupakan tantangan. Bagaimanapun, anak-anak mudah merasa bosan alias jenuh dan susah mengendalikannya. Namun untuk kasus Arrahman, dia mengaku sangat optimistis mengingat respons pengobatan Arrahman yang terbilang bagus. Kondisinya terus membaik, tampak dari minimnya gejala dan hasil parameter laboratorium. “Aktivitas penyakit bisa dilihat dari gejala dan catatan laboratorium. Respons dia terhadap obat sangat baik karena sekarang anak ini bisa aktif bermain berlari, makan lancar, tidak demam,” kata alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin Makassar, itu.

Padahal, Arrahman hanya mengonsumsi obat yang sederhana. Putra dari Adit dan Puji tersebut cukup mengonsumsi obat oral sebanyak satu kali dalam sehari. Rata-rata obat lupus yang tersedia dalam bentuk tablet membuat orangtua Arrahman harus rajin mengubah obat dalam bentuk puyer. “Sekarang cukup dengan dua obat itu saja sudah bisa tertangani dan kondisinya sangat baik. Dia bisa stabil terkontrol. Dosis obat juga rendah sekitar 2 miligram. Sehingga masa kontrol ikut berkurang cukup dilakukan setiap bulan saja,” urainya. 

Selain obat, sambung dia, pasien lupus sebaiknya dapat menghindari stres. Sebab, stres merupakan faktor pemicu utama masa kambuh atau flare. Dokter yang bertugas di RSUD Kanujoso Djatiwibowo ini mengungkapkan, pasien lupus perlu rileks dan berpikir positif yang dapat membuat dirinya semakin kuat. Dengan begitu gejala yang timbul akan semakin ringan.

Sebaliknya, jika tingkat stres meningkat, tentu seketika langsung berpengaruh pada gejala yang timbul. “Keluarga dan lingkungan berperan penting dalam kesembuhan. Sebab untuk kasus lupus anak, mereka hanya dapat menerima, tanpa paham apa yang dia derita. Tentu kontrol besar terletak pada orang sekitarnya,” bebernya.

Natsir menyarankan, orangtua tak lelah memberikan perhatian agar anak merasa mendapatkan dukungan. Misalnya turut mendampingi saat kontrol. Nantinya semua itu berpengaruh pada kondisi psikologi dan tingkat stres anak yang jauh berkurang. “Harapan kami untuk kasus lupus anak, paling tidak bisa terkontrol dan berada dalam kondisi stabil untuk waktu jangka panjang. Kuncinya tinggal kontrol teratur, rutin minum obat, hindari stress, dan terus konsumsi makanan bergizi,” ucapnya. Ia berpesan agar pasien lupus anak lebih banyak mengonsumsi susu. Kandungan protein, zat besi, dan kalsium sekaligus bisa menjadi pertahanan dari efek obat. (*/gel/riz/k15)


BACA JUGA

Kamis, 29 Juni 2017 13:00
Mengungkap Praktik Kotor Pengusaha Hitam di Kaltim

Batu Baranya Ilegal, Tenang...Ada Penadah Emas Hitam

Tambang batu bara ilegal di Kaltim ternyata jadi salah satu penyumbang pendapatan ke kas negara. Duit…

Kamis, 29 Juni 2017 12:55

Konsesi KCI Banyak yang Incar

KONSESI tambang milik PT BHP KCI di Desa Lolo dan Desa Lempesu di Paser bak gula. Banyak pengusaha yang…

Kamis, 29 Juni 2017 12:54

Jalan Umum Jadi Korban

MARAKNYA penambangan ilegal memicu perusakan aset daerah. Di antaranya, jalan umum. Bahkan, pengangkutan…

Kamis, 29 Juni 2017 12:54

Aparat Buru Penambang Ilegal

MARAKNYA dugaan penambangan batu bara ilegal di Kutai Kartanegara (Kukar) tak membuat nyali kepolisian…

Kamis, 29 Juni 2017 08:55

Pengawasan Belum Optimal

PENAMBANGAN batu bara wajib melewati sejumlah tahapan. Satu saja yang dilanggar, berarti aktivitas tersebut…

Kamis, 29 Juni 2017 08:51

Stop Jelang Ramadan

AKTIVITAS penambangan ilegal di konsesi milik PT BHP KCI di Paser telah stop sejak bulan lalu atau dua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .