MANAGED BY:
SABTU
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 29 Mei 2017 08:15
Kerja Keras Penjangkau, Memutus Mata Rantai Penyebaran HIV
RELAWAN: Koordinator Lapangan PKBI Balikpapan Mandala (ketiga kiri) bersama relawan penjangkau, di Sekretariat PKBI Balikpapan, dua hari lalu.(dina/kp)

PROKAL.CO, DI BALIK tingginya keberhasilan menyentuh penderita HIV, ada kerja keras sekelompok orang yang berperan sebagai penjangkau. Tugas mereka menjemput bola dan membantu pemerintah agar merangkul kaum berisiko tinggi HIV. Para pahlawan kemanusiaan ini tergabung dalam Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Balikpapan.

Koordinator lapangan PKBI Balikpapan Mandala mengungkapkan, sejak 2013, lembaga sosial tersebut fokus menangani masalah HIV/AIDS. Terutama mengincar sasaran populasi risiko tinggi yang terdiri dari waria, lelaki suka lelaki (LSL), dan pengguna narkoba suntik (penasun). Program tersebut memang terarah dan tepat sasaran pada mereka yang terdapat dalam populasi kunci.

Namun, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luar yang ingin membutuhkan pelayanan dalam hal tes HIV/AIDS. “Intinya kami ingin membantu mereka yang membutuhkan pertolongan dari sisi kesehatan. Selama ini mereka bersembunyi. Dan kami para penjangkau bertugas untuk mampu merangkul. Maka dari itu angka kasus atau yang telah menyentuh layanan tes terus meningkat karena mereka mulai terdeteksi,” ungkapnya.

Sejauh ini, penjangkau bertugas memberikan edukasi, pemahaman tentang tingginya potensi mereka terserang HIV. Kemudian, memberitahu bagaimana fasilitas layanan hingga mendampingi saat proses tes. Hasil tes pun tentu terjamin, hanya petugas kesehatan layanan dan peserta tes sendiri yang tahu hasil tersebut.

“Kami bagikan kondom, pelicin, dan sebagainya. Tujuannya agar tidak membuat mereka yang positif HIV menyebarkan virus ini ke orang lain. Kami bagikan barang-barang itu tepat sasaran bagi mereka yang berisiko tinggi HIV,” katanya. Sementara itu, anggota PKBI lainnya, Besse menyebutkan, terkadang sikap dan kerja keras mereka masih saja menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Namun, jika melihat kembali niat dan keikhlasan untuk membantu sesama manusia, mereka akhirnya tak pantang menyerah. “Tujuan kegiatan kami untuk melakukan pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran HIV. Kami hanya memantau untuk menjaga kesehatan mereka. Kami tidak terkait dengan aktivitas seks kaum itu karena itu pilihan mereka. Kami hanya menyampaikan kalau melakukan perilaku berisiko maka agar tidak tertular perlu proses pencegahan ini,” ucapnya.

Mandala mengatakan, sejauh ini kendala terbesar, yakni kurangnya pemahaman dari masyarakat. Banyak salah paham dan menganggap PKBI melegalkan perzinahan dan prostitusi di komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Sehingga sulit sekali rasanya membuat masyarakat luar paham dan mendukung program tersebut.

Dia menyebut, ada yang berpikir negatif pada orang-orang yang terserang HIV. Padahal, sambung dia, tidak selamanya para penderita HIV adalah orang yang memiliki perilaku seks menyimpang. Faktanya semua orang bisa saja mengidap HIV. Misalnya tertular melalui proses transfusi darah dan sebagainya.

“Kami harap masyarakat paham dulu tentang ini agar dapat mengerti aktivitas kami. Kalau di Balikpapan, komunitas LGBT itu hitungannya masih sangat tertutup. Kami harus kerja ekstra agar dia mau rutin tes HIV. Masalahnya diskriminasi yang kuat membuat mereka tertutup, padahal jaringan mereka tetap jalan dan bergerilya,” tuturnya.

Besse menambahkan, apabila diskriminasi bisa berkurang, kelompok risiko tinggi itu dapat lebih terbuka. Sehingga proses persuasif dan edukasi pun terasa mudah. Bagaimanapun mereka adalah golongan yang membutuhkan bantuan. Sehingga untuk menciptakan rasa nyaman, layanan fasilitas kesehatan dibuat senyaman mungkin.

“Saya harap banyak orang bisa kerja sama, mulai dari masyarakat sampai tokoh agama agar hasil program ini dapat lebih cepat terlihat. Kami butuh beragam elemen masyarakat untuk mau bersama-sama membantu,” imbuhnya. Ia menambahkan, semua fasilitas yang dibagikan, misalnya kondom dan pelicin berasal dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Selain itu, program tes kesehatan HIV ini juga didukung oleh Dinas Kesehatan Balikpapan. Artinya, PKBI tidak berjalan sendiri dan butuh beragam pihak agar mampu menjalankan program tersebut. Sejauh ini, PKBI Balikpapan memiliki 15 orang penjangkau yang bertugas di lapangan. Mereka terbagi dalam tiga kelompok, yakni penjangkau LSL, waria, dan penasun. Di mana setiap penjangkau memiliki pendekatan yang berbeda.

Contohnya seperti Jon, bukan nama sebenarnya, yang lebih banyak mengajak kelompok risiko tinggi melalui media sosial. Menurutnya, susah-susah gampang untuk merangkul kaum risiko tinggi. Apalagi kebanyakan dari mereka tertutup. Belum lagi adanya diskriminasi tinggi membuat para petugas lapangan harus sabar dan pelan-pelan dalam proses pendekatan.

Dia bisa melakukan pendekatan berkali-kali hingga calon targetnya bersedia melakukan tes. Berbeda lagi bagi Zumar dan Dwiky Kolim yang lebih banyak bergerak turun ke hotspot tempat komunitas berkumpul. Misalnya datang saat ada kegiatan mereka seperti malam Minggu. “Hitungannya cari pahala dan bantu masyarakat. Mungkin bisa menjadi bagian dari pahlawan kemanusiaan. Banyak teman-teman yang tidak paham tentang HIV, nah kami ingin membuka mata mereka tentang informasi ini. Kadang mereka malas ikut tes karena merasa masih sehat,” bebernya.

Tentu ada dorongan hati dan jiwa kemanusiaan tinggi hingga anggota PKBI mau tergerak hatinya merangkul para risiko tinggi HIV. “Kalau ada yang positif, setidaknya mereka dapat memotiviasi teman untuk tidak seperti mereka. Mereka seharusnya tidak mendapatkan diskriminasi. Harapan kami, ODHA bisa memiliki hidup lebih bermutu,” ucapnya.

Lalu, ODHA dapat menolong sesamanya, bukan menjerumuskan. Bagaimana mereka  bisa berbagi kisah agar jadi pelajaran untuk orang lain. “Saya pikir kalau berhasil ajak orang tes kemungkinan saya bisa membantu menyelamatkan nyawa dia. Saya berharap bisa banyak membantu orang lain yang membutuhkan,” pungkas Mandala. (*/gel/riz/k15)


BACA JUGA

Selasa, 10 Oktober 2017 09:06
Plus dan Minus Penggunaan Bahan Bakar Gas

Murah dari Premium, Ramah bagi Mesin

Gas mulai ramai dilirik pengendara di Balikpapan sebagai bahan bakar mobil. Sebagian besar adalah angkutan…

Selasa, 10 Oktober 2017 09:01

Pakai BBG, Lingkungan Diuntungkan

ADA 500 kendaraan di Balikpapan yang sudah mengonsumsi BBG. Baik mobil dinas maupun angkutan umum. Tahun…

Sabtu, 30 September 2017 07:57

Amunisi Pencitraan

HAMPIR  seperempat Mei 2015 adalah bulan yang tak biasa bagi Muhammad Sulaiman. Dia berada ratusan…

Sabtu, 30 September 2017 07:46

Lagi, Empat OPD Digeledah

PENGGELEDAHAN  tim KPK di Tenggarong berlanjut. Kemarin (29/9) penggeledahan dilakukan di empat…

Jumat, 29 September 2017 08:20

Pembunuh yang Tak Pandang Bulu

Pada 2012, pelatih Persiba Balikpapan, Junaidi (47) meninggal dunia usai bermain bola pada laga eksibisi…

Jumat, 29 September 2017 08:17

Olahraga Tiga Kali Seminggu

OTOT jantung tak seperti otot tubuh yang bisa dibentuk dan semakin kuat dengan berbagai olahraga. Meski…

Jumat, 29 September 2017 08:15

Kuasai Cpr Selamatkan Pasien

PASIEN jantung kini bisa menggunakan jalur jaminan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Penyakit…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .