MANAGED BY:
JUMAT
22 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 17 Mei 2017 10:44
Panik GPS Mati, Nyaris Ditahan karena Tak Bisa Bayar Bensin

Jeruji, Band Hardcore Punk yang Tur 20 Kota di Eropa dengan Van

TUR PLUS BERTUALANG: Personel Jeruji Band yang baru menjalani tur di 20 kota di Eropa.

PROKAL.CO, Band hardcore punk asal Bandung, Jawa Barat, Jeruji, baru saja menyelesaikan tur Eropa mereka. Jangan bayangkan tur mereka seperti band-band besar. Pesawat kelas bisnis, hotel berbintang, transportasi nyaman. Tur yang mereka lakoni jauh dari kemewahan. Tapi, justru itu yang membuat Jeruji makin solid.

ANDRA NUR OKTAVIANI, Jakarta

BERBEKAL koper berisi keperluan seadanya dan kenekatan Ginan (vokal), Andre (gitar), Icad (gitar), Pengex (bass), Sani (drum), dan Vincent (manajer) terbang ke Benua Biru untuk menjalani tur Eropa mereka yang pertama. Bukan hanya ke empat atau lima kota. Mereka tur sekaligus di 20 kota di Eropa dalam 25 hari. Paris, Mons, Nantes, Budapest, Esztergom, Veszprem, Ostrava, Brno, Chojonice, Gdynia, Karlovy Vary, Jirkov, Dresden, Prague, Vienna, Plzen, Liberec, Leper, dan Bailleul telah jadi saksi aksi panggung Jeruji.

Perjalanan berkeliling Eropa dalam 25 hari bukanlah perjalanan singkat. Terlebih karena mereka menjalani tur dengan road trip. Untuk transportasi keliling Eropa, mereka tidak menggunakan pesawat, kereta, atau bus. Tetapi, van sewaan yang dikendarai sendiri. Van yang disewa pun adalah yang paling murah se-Eropa. Itu pun harganya sudah EUR 60 per harinya atau sekitar Rp 875 ribu. Mereka mendapatkannya dari Slovakia.

Setidaknya 8.900 kilometer telah dilalui Jeruji untuk konser dari satu kota ke kota lain. Dari satu negara ke negara lain. Persiapannya pun harusnya matang sejak jauh-jauh sehingga tur bisa berjalan dengan lancar. Sayangnya, para personel Jeruji tidak punya cukup waktu untuk melakukan persiapan itu.

Memang, kata Ginan, mereka sempat browsing mengenai lokasi-lokasi manggung mereka. Namun, belum detail. ”Kita tahu akan berangkat itu 12 jam sebelum berangkat. Ah, sudah enggak tahu itu mau ngapain. Packing saja asal yang terlihat. Enggak mikirin yang lain,” kata Ginan kepada Jawa Pos saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta, Senin (16/5).

Ginan bercerita, kepastian untuk tur Eropa memang baru mereka dapatkan secara mendadak. Sebelumnya, mereka malah sempat ragu apakah jadi berangkat atau tidak. Menurut Ginan, saat mendapat kabar akan berangkat, mereka sedang nongkrong menikmati makan malam sambil bertanya-tanya apakah mereka jadi berangkat atau tidak.

”Pas pukul sembilan malam, dikabarin besok berangkat. Pesawat jam sembilan pagi. Sebelum kita sadar betul, tahu-tahu kita sudah di Eropa saja. Kita mulai tur dari Paris,” ungkapnya.

Untungnya, dokumen yang dibutuhkan sudah mereka siapkan jauh-jauh hari. Seperti visa Schengen dan SIM internasional. Selain visa, SIM internasional jadi penting karena Jeruji mengendarai kendaraan selama menjalani tur. Ginan mengatakan, tur yang mereka jalani bisa dibilang tur penuh perjuangan. Perjuangan untuk bertahan hidup di negeri yang sangat asing bagi mereka.

Ginan menuturkan, promotor yang mengundang Jeruji untuk manggung di Eropa memang memberikan fasilitas. Namun terbatas. ”Kami dikasih tempat untuk manggung, fee manggung dari tiket, tempat untuk tidur di rumah promotor atau hostel, dan makan. Selebihnya, kita yang mengadakan sendiri. Termasuk transportasi,” ungkap Ginan dalam logat Sunda yang begitu kental.

Van memang sengaja dipilih karena paling murah. Dibandingkan dengan menggunakan pesawat, kereta, atau bus. Untuk moving pun lebih praktis. Hanya, Jeruji harus extra effort untuk mengendarai van tersebut melintasi Benua Biru karena mereka tidak sanggup menyewa sopir. Jika ditotal, perjalanan mereka dengan van telah mencapai angka 8.900 kilometer.

Vincent menjelaskan, untuk mencapai jarak sejauh itu, para personel Jeruji harus bergantian menyetir. ”Paling sering sih Sani dan Ginan yang memang kuat menyetir lama. Pengex spesialis nyetir malam. Dan Icad khusus dalam kota karena tidak tahan nyetir lama,” jelas Vincent.

Menyetir jauh, kata Ginan, bukan tanpa tantangan. Di Eropa, jalanan lurus dan panjang adalah hal biasa. Bisa 30–40 kilometer sendirian di jalan. Dan itu menjadi tantangan bagi para personel Jeruji. Jika tidak teruji, rasa kantuk sudah pasti menghampiri. ”Ada satu rute dari yang kita harus nyetir selama 24 jam sejauh 1.800 kilometer. Dari Nantes ke Budapest. Kita melewati Belgia, Jerman, Austria. Edan teuing (gila banget),” kata Ginan.

Tantangan lain adalah rute perjalanan yang harus dilalui. Karena sama sekali tidak tahu jalan, GPS menjadi satu-satunya andalan. Pernah sekali waktu, GPS itu mati di tengah jalan karena kehabisan baterai.

”Kita panik banget itu. Sama sekali enggak tahu jalan. Jadi, selama GPS di-charge biar nyala lagi, kami memilih untuk berhenti. Daripada nyasar dan malah makin bingung,” ungkap Ginan.

Kepanikan karena GPS mati bukan satu-satunya pengalaman kurang mengenakan sepanjang perjalanan Jeruji. Masih banyak kejadian yang membuat jantung para personel dan manager Jeruji hampir copot. Salah satunya, ketika mereka hampir ditahan polisi Polandia karena tidak bisa bayar bensin.

Ginan mengatakan, kala itu, mereka harus mengisi bensin untuk melanjutkan perjalanan. Sesampainya di POM bensin, mereka dengan santai mengisi bensin. Namun, mereka dibuat kaget karena saat membayar, Euro yang mereka gunakan tidak diterima. Walhasil, Ginan dan Sani harus berkendara keliling kota untuk mencari tempat penukaran uang. Sementara itu, personel lainnya ditinggal di POM bensin.

“Sesampainya ke POM bensin setelah menukarkan uang, teman-teman sudah ’ditemani’ polisi. Tidak mengherankan memang. Mengingat mereka cukup mencurigakan.  Kita bawa mobil Slovakia, berada di Polandia, dan isinya orang Asia. Kalau bukan karena faktor luck (keberuntungan) sih, belum tentu kita selamat. Ini sih kejadian yang paling berkesan,” kata Ginan, tertawa.

Bisa manggung di Eropa sudah pasti jadi kebanggaan tersendiri bagi Jeruji. Tapi, ternyata ada hal lain yang membuat Jeruji lebih bangga. Ginan mengatakan, jika penyanyi pop Indonesia manggung di luar negeri, penontonnya tidak lain dan tidak bukan adalah WNI yang bermukim di negara tersebut. Nah, Jeruji ini berbeda. Penonton mereka bukan WNI yang bermukim di sana. Melainkan orang asli sana yang memang menggemari musik hardcore.

Menurut Ginan, sambutan penggemar musik hardcore Eropa begitu meriah. Mereka tidak singkat untuk ikut bernyanyi, berteriak, dan bahkan bergoyang bersama Jeruji. ”Padahal, kebanyakan lagu kita berbahasa Indonesia. Beberapa memang bahasa Inggris. Tapi mereka juga tidak mengerti liriknya,” cerita Ginan yang mengaku masih terheran-heran dengan sambutan yang luar biasa itu.

Ginan menambahkan, bahasa sama sekali bukan kendala dalam bermusik. Musik punya bahasanya sendiri. Jadi, siapa pun yang mendengar akan mengerti dengan sendirinya. Menurut Ginan, apresiasi penggemar musik di sana patut diacungi jempol. Bukan hanya datang untuk menikmati musik, mereka juga datang untuk mendapatkan merchandise dari Jeruji.

Andre, sang gitaris, mengakui hal tersebut. Menurut dia, itu bukan sesuatu yang terbayangkan sebelumnya. Dari 100 keping CD, 100 t-shirt, dan 20 topi, semua ludes di kota keempat. Yang tersisa hanya stiker yang memang sengaja mereka bagikan gratis.

”Mereka itu kalau sudah suka dengan performance satu band, mereka harus mendapatkan merchandise dari band tersebut. Bahkan, ketika merchandise kami habis, song list kami saja sampai diambil,” jelas Andre. (far/k8)


BACA JUGA

Rabu, 20 September 2017 10:35

SANGAT TAK DISIPLIN..!! 640 Menit, 6.931 Pelanggar di Jalan

BERKENDARA di jalan raya tak boleh sembarangan. Keselamatan wajib diutamakan. Di Kaltim, kesadaran berlalu…

Rabu, 20 September 2017 10:26

Pemprov-DPRD Berkonspirasi, Akhirnya Masjid Itu Dibangun Juga

SAMARINDA – Rencana pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu, Samarinda, tak terbendung. DPRD Kaltim…

Rabu, 20 September 2017 10:23

Bersama Wakil Rakyat dan Bupati, Minta Dukungan DPD RI

Tak hanya berjuang untuk investasi daerah, Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie memperjuangkan…

Rabu, 20 September 2017 08:55

Biaya Logistik Melambung, Perlu Ada Tol Sungai

BALIKPAPAN – Kaltim harus mampu menekan biaya logistik yang terlalu tinggi. Terutama di daerah…

Selasa, 19 September 2017 09:31
3,5 Jam Jaang Bersaksi

Kontroversi Pungli TPK Palaran, Wali Kota Enggan Disalahkan

SAMARINDA – Lagi, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menghindari tampil sendiri dalam kasus pungutan…

Selasa, 19 September 2017 09:26

Pelajar Jadi Alat Bandar

SAMARINDA – Anak yang terjerembab sebagai penyalahguna narkoba bukan berarti masa depannya jadi…

Selasa, 19 September 2017 09:25

Lebih Dekat dengan Idola

BALIKPAPAN – Balikpapan Masters Cup 2017 benar-benar sayang untuk dilewatkan. Tak hanya memanjakan…

Selasa, 19 September 2017 09:23

Sempat Menurun, Kesehatan Wagub Mulai Membaik

JAKARTA – Ponsel milik Musmin Narta Dinata terus berdering sejak Senin (18/9) pagi. Penelepon…

Selasa, 19 September 2017 09:19

MEMBANGGAKAN! Berkat Karyanya, Mahasiswa STT Migas Balikpapan Ini Bisa sampai ke Prancis

Mahasiswa STT Migas Balikpapan kembali membuat prestasi membanggakan. Yoga Pratama membuat terang daerah…

Selasa, 19 September 2017 09:16

Ambil Uang di ATM dengan Pengenal Wajah

SEJUMLAH bank di Tiongkok baru saja meluncurkan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dengan teknologi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .