MANAGED BY:
KAMIS
21 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 17 Mei 2017 09:47
Dekapan Hangat Senjata hingga Mimisan

Kisah Brigpol Wahyu, Polisi Kaltim Penjaga Perdamaian di Sudan

WASPADA: Senjata harus digenggam erat, sebab konflik datang seperti pencuri. Nyawa jadi taruhan. Brigpol Wahyu saat berjaga di wilayah Sudan. (IST)

PROKAL.CO, Mengemban tugas negara di daerah konflik tidaklah mudah. Butuh mental wira agar mampu mengatasinya.

YUDHA ALMERIO, Samarinda

MATANYA mendelik mengamati cahaya peluru mendesing di antara dua kelompok yang bertikai. Sementara tangannya sigap memegang senjata. Sedikitpun dia tak bersuara, hanya memandang dari jauh dan berusaha tetap tenang.

Jika salah satu dari dua grup itu ataupun keduanya berusaha menyakiti pengungsi, hanya ada satu jawaban, menyerang untuk bertahan.

“Posisi kami netral, tak boleh memihak kedua kubu berseteru," kenang Komandan Detasemen (Kaden) B Pelopor Polda Kaltim AKBP Muhammad Fachry, Selasa (16/5).

Peristiwa lima tahun lalu itu masih saja membekas di ingatannya. Kata dia, sejak satu dekade lalu, Kepolisian Negara Republik Indonesia selalu mengirim personel terbaiknya ke Sudan, Afrika. Salah satu misi utamanya untuk menjaga perdamaian di kawasan itu.

Maklum salah satu negara di Benua Afrika itu mengalami konflik berkepanjangan sejak 2003 silam. “Waktu itu saya menjabat sebagai wasatgas Garuda Bhayangkara (Garbha) II Formed Police Unit (FPU) Indonesia kontingen kelima," ucap pria kelahiran Ujung Pandang, 11 April 1975 itu.

Sebagai wakil pimpinan yang membawahi 138 personel, lanjutnya, dia paham benar tak mudah mengemban tugas sebagai pasukan perdamaian.

Selain bermental baja, kemampuan berbahasa Inggris juga harus baik. Nah, untuk tergabung dalam tim tersebut juga sukar. Ada sejumlah tahapan seleksi yang harus ditunaikan. Mulai dari penjaringan di tingkat daerah hingga pusat. “Seleksi tersebut di antaranya jasmani, psikologis, administrasi, kemampuan menggunakan senjata, hingga wawancara," urainya.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1997 tidak memungkiri, jika potensi kontak senjata dengan kelompok separatis sangat besar. Itu sebabnya dia juga menyampaikan pesan kepada para anggota yang bertugas di area konflik agar selalu waspada. “Zaman saya dulu, setidaknya ada dua kali konflik senjata yang cukup hebat. Intinya kita tidak akan menyerang, terkecuali diserang," tuturnya.

Bulan berbilang tahun, empat polisi terbaik Bumi Etam yang berasal dari Detasemen B Pelopor Brimob Kaltim, Samarinda Seberang,turut dalam pasukan perdamaian tersebut. Mereka adalah Brigadir Polisi (Brigpol) Markus Pauta, Brigpol Hendri Surahman, Brigpol Didik Radiyanto dan Brigpol Wahyu Hartanto. Keempatnya merupakan kontingen ke-9 dan berada di bawah komando Kasatgas AKBP Ahmad Arif Sopiyan dengan Wasatgas Kompol Arthur Sameaputi.

“Kami ditempatkan di Darfur (salah satu wilayah di bagian barat Republik Sudan),” kata Wahyu melalui pesan singkat aplikasi WhatsApp kemarin. Salah satu tugas yang mereka emban, kata Wahyu, adalah memelihara perdamaian pasca penandatanganan perjanjian perdamaian Konflik Darfur 2011 lalu. Tak hanya kontingen dari Indonesia. Ratusan personel dari negara lain juga melakukan hal yang sama.

Seteru Darfur terjadi pada 2003 lalu, akibatnya jutaan manusia terpaksa hijrah ke internally displaced persons (IDP) camp. Yang jelas, kata Wahyu, tugas-tugas yang diemban Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 di Sudan ialah memberikan dukungan kepada Individual Police Officer PBB. Yakni memberikan perlindungan kepada personel PBB, termasuk fasilitas, instansi, perlengkapan, serta memberikan keamanan untuk pergerakan staf PBB dan pekerja kemanusiaan Internasional.

“Kami juga mengemban misi untuk memberikan perlindungan kepada komunitas sipil yang rentan terhadap ancaman kekerasan dengan melakukan patroli dan pengawalan,” jelasnya. Lazimnya di daerah konflik, kata Wahyu, masyarakat sipil membawa senjata. Jadi potensi kontak senjata sewaktu-waktu memang cukup besar. “Beruntung kami belum alami. Intinya senyum, sapa dan waspada," akunya kemudian menyambung, tugas rutin yang sementara ini menjadi tanggung jawab FPU Indonesia adalah pengawalan individual UNAMID untuk melaksanakan Community Policing di tiga IDP camps besar di El Fasher.

 Yaitu Al Salaam, Abu Shouk dan Zam Zam. Walau demikian serangan mendadak dari kelompok separatis menurutnya harus selalu diwaspadai. “Jadi harus tetap siaga dengan senjata didekap di dada," paparnya.

Meskipun tugas yang diembannya sangat berbahaya, Wahyu mengaku beruntung bisa tergabung dalam misi perdamaian dunia secara langsung.

Selain mendapatkan pengalaman baru di dunia militer, dia juga mengaku bangga karena yang dikirim merupakan anggota pilihan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. “Saya beruntung berperan langsung mewujudkan perdamaian dunia,” ujarnya.

Selain serangan fisik dari kelompok separatis, Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 juga dihadapkan dengan cuaca ekstrem. Wahyu menyebut, jika siang hari suhu udara di kawasan itu mencapai 50 derajat celsius dan pada malam hari, suhu udara hanya 3 derajat celsius. Adaptasi dengan kondisi alam menjadi tantang berat bagi mereka di hari-hari pertama menjalankan tugas di sana.

“Ada beberapa anggota (dari Indonesia) yang mimisan akibat cuaca ekstrem. Syukur fasilitas kesehatan juga sudah disediakan," pungkasnya (riz/k18)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 10:19

JOSSS..!! Agnes Jadi Cover Majalah Rogue

Kerja keras Agnez Mo untuk go international semakin membuahkan hasil nyata. Setelah majalah fesyen dunia,…

Minggu, 17 Juni 2018 00:49

Lolos 6 Besar, Belajar Tampil Live di TV

Lima remaja ini sudah eksis dengan kelompok nasyid sekolah selama dua tahun terakhir. Siapa sangka,…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:18

Tak Lagi di Rumah Dinas, Serasa Lebaran Bersama Keluarga

Ada yang berbeda open house yang dilakukan Rizal Effendi kali ini. Masa cutinya kali ini membuat perayaan…

Kamis, 14 Juni 2018 19:59
Mengunjungi Lorong Buangkok, Kampung Terakhir di Singapura

Kalau Ada Apa-Apa, Kentongan Ditabuh, Warga Pasti ke Sini

Kontras dengan Singapura yang gemerlap, di Lorong Buangkok, jalanan masih berupa tanah, ayam berkeliaran,…

Sabtu, 09 Juni 2018 11:00
Bernostalgia di Sisa-Sisa Kejayaan si Doel Anak Sekolahan

Kamar Mandi dan Sumur Tak Diubah buat Kenang-kenangan

Warung dan opelet memang tak ada lagi. Tapi, di bagian belakang rumah Babeh Sabeni di Jakarta masih…

Sabtu, 02 Juni 2018 01:56

Warga Amankan Diri karena Letusan Diikuti Getaran

                                                      …

Sabtu, 26 Mei 2018 02:26

“Darah Madura Saya Tidak Memungkinkan untuk Menjadi Takut”

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .