MANAGED BY:
JUMAT
21 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Rabu, 17 Mei 2017 09:40
Tsunami Ekonomi Kaltim

PROKAL.CO, CATATAN: M DUDI HARI SAPUTRA

KALIMANTAN Timur tercatat sebagai daerah yang aman dari gempa. Tapi bukan berarti Kaltim tidak bisa tertimpa bencana alam yang lain. Peneliti gempa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko menjelaskan, wilayah Kaltim dan Kaltara yang berpeluang tsunami adalah Kutai Timur, Berau, Nunukan, dan Bulungan.

Walaupun fakta sampai sekarang Kaltim belum mengalami bencana alam tsunami. Tapi di 2016 “tsunami” terjadi dalam bentuk yang lain menimpa Kaltim, yaitu defisit perekonomian yang terendah secara nasional. Angkanya negatif 0,36 persen.

Catatan negatif ini bagai tsunami ekonomi. Bagaimana tidak, di saat hampir seluruh provinsi lain mengalami pertumbuhan positif, Kaltim satu-satunya di urutan paling buncit dengan angka negatif. Selain itu, Kaltim adalah provinsi dengan angka pengangguran terbuka terbesar ketiga secara nasional, dan tertinggi di luar Pulau Jawa. Angkanya sebesar 7,95 persen.

Pertumbuhan Kaltim yang defisit disertai tingginya tingkat pengangguran disebabkan rendahnya pertumbuhan sektor pertambangan nasional. Yakni sebesar 1,06 persen. Parahnya, sektor ini menyerap tenaga kerja yang sangat rendah. Di mana pertambangan adalah sektor terbawah dalam memberikan sumbangsih angka lapangan kerja, yakni di angka 1,83 persen atau 1,83 juta orang berdasarkan data BPS 2017.

Tingkat ketergantungan Kaltim yang besar terhadap sektor migas dan tambang hampir menyentuh 86 persen. Sehingga sangat mudah dipahami, ketika pasar ekstraktif dunia turun drastis, di mana harga terendah minyak menyentuh USD 40 dari sebelumnya di atas USD 120 pada tahun 2012.

Sementara harga batu bara terendah di harga USD 50 dari sebelum nya pernah mencapai rekor USD 190 pada tahun 2008. Maka dapat dipastikan, postur perekonomian Kaltim akan langsung runtuh. Namun, harga komoditi ekstraktif yang sangat dipengaruhi oleh pasar dunia tidak boleh menjadi alasan bagi pengambil kebijakan di Kaltim untuk pasrah begitu saja.

Kesadaran kita bergabung di pasar global sudah muncul di Indonesia pada dekade 90-an. Dengan kesadaran hampir dua dasawarsa, seharusnya alarm antisipasi gejolak pasar global sudah bisa diprediksi. Belum lagi penurunan kinerja ekonomi di Kaltim bukan hal baru. Karena sudah terjadi kurang lebih dua tahun. Provinsi Aceh yang sebelumnya juga minus di 2015 tapi kemudian cepat bangkit menjadi tumbuh positif 3,31 persen di 2016.

Pertumbuhan ekonomi Kaltim yang stagnan selama dua tahun terakhir (2015-2016), tidak bisa dilepaskan dari orientasi belanja daerah yang masih menganut teori lama. Yaitu pendapatan yang bergantung pada dana bagi hasil migas serta pendapatan pajak di sektor tambang. Sedangkan dari sisi belanja daerah masih berorientasi pada consumption driven (digerakkan oleh sektor konsumsi) belanja pegawai sebesar Rp 1,94 triliun.

Sementara berdasarkan Pergub APBD 2017, belanja modal hanya Rp 925 miliar. Maka dapat disimpulkan bahwa cita-cita transformasi ekonomi Kaltim masih mimpi di siang bolong. Karena struktur perekonomian Kaltim tidak beranjak dari ketergantungan pada sektor ekstraktif .

Tidak juga beralih fokus pada production driven (ekonomi yang digerakkan oleh produksi)  yang berorientasi pada peningkatan ekspor. Karena faktanya, angka ekspor Kaltim terus menurun dari 75 persen di tahun 2011 jadi 12,84 persen di tahun 2016.

Belum lagi ketidakselarasan harapan untuk menjadikan Kaltim sebagai kawasan industri pertanian dan energi baru terbarukan. Misalnya di sektor pertanian. Menurut ekonom Unmul Chairil Anwar, jika benar program itu masuk bagian transformasi ekonomi, kenapa alokasi APBD untuk pertanian sangat kecil.

Hanya 2-3 persen. Padahal provinsi lain, seperti Sulawesi Selatan yang dirilis BPS tahun ini, mampu tumbuh di atas 7 persen. Karena ditopang pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 23,29 persen.

Dalam dokumen Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, industri Kalimantan Timur secara nasional masih dipusatkan pada batu bara. Ini menunjukkan belum ada keseriusan perubahan paradigma ekonomi Kaltim secara nasional.

Karena itu, besar harapan kelak agar diversifikasi produk unggulan betul-betul diintensifkan. Dengan mengoordinasikan kebijakan di pusat dan di provinsi, serta komitmen politik anggaran yang berorientasi pada belanja modal dan menumbuhkan sektor-sektor ekonomi alternatif. (riz/k15)

(*) Staf ahli Kementerian Perindustrian RI. Dikirim untuk Kaltim Post


BACA JUGA

Jumat, 14 Juli 2017 19:51
0

0
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .