MANAGED BY:
SABTU
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 16 Mei 2017 08:46
Kalau Sudah Tahu Tekniknya Bakal Ketagihan

Keliru Pakai Gendongan, Ganggu Tumbuh Kembang Anak

GENDONGAN KEKINIAN: Anggota Indonesian Baby Wearers (IBW) saat meet up Samarinda Baby Wearers di Kompleks Islamic Center, Ahad (14/5). Tren menggendong dengan model sling atau wrap makin booming di Kaltim. (chairil anwar/kp)

PROKAL.CO, Menggendong bayi terlihat sepele. Namun, ada baiknya Anda mengetahui posisi menggendong yang tepat, aman, dan nyaman untuk buah hati.

CHAIRIL ANWAR, Samarinda

SEJAK ribuan tahun silam, menggendong dengan model sling atau wrap sudah menjadi tren. Dimulai dari masyarakat di belahan dunia bagian timur hingga ke barat. Sampai detik ini, muncul berbagai macam model gendongan yang digunakan orangtua menggendong anaknya. Di Tiongkok misalnya, gendongan bernama Meh Dai lebih dikenal dan umum digunakan. Meh Dai merupakan sebuah kain berbentuk persegi dengan tali di masing-masing sudutnya.

Sementara di Korea lebih dikenal dengan nama Podaegi. Gendongan berupa sebuah kain berbentuk persegi panjang dan tali panjang untuk melilit tubuh ibu secara berlapis. Itu berfungsi membuat hangat bayi saat digendong. Bagaimana di Indonesia? Penggiat Indonesian Baby Wearers (IBW) Samarinda dr Budiasih Dyah Rahmadaniyati menuturkan, di Indonesia tidak ada data pasti waktu pertama kali gendongan ergonomis diperkenalkan.

 Namun, mulai tahun lalu, kampanye gendongan ergonomis ini sudah mulai terdengar. Di Kaltim, khususnya Samarinda, booming di awal 2017. Saat ini, anggota yang aktif yang tergabung dalam grup pesan instan WhatsApp IBW Samarinda mencapai 30 orang.

 “Semakin booming lagi ketika ada salah satu artis Indonesia juga menggendong foto bayinya di media sosial," ucapnya kepada Kaltim Post, usai meet up Samarinda Baby Wearers di Kompleks Islamic Center, Ahad (14/5) siang.

Perempuan yang akrab disapa dokter Dhanie ini menuturkan, menggendong anak dengan gendongan ergonomis bisa dimulai sejak bayi baru lahir atau berusia nol bulan. Saat menggendong, penting sekali menggunakan gendongan yang tetap memerhatikan bentuk tulang belakang bayi. Atau dalam posisi melengkung mirip seperti huruf C.

Posisi yang lebih dikenal c-shape ini sama seperti bentuk natural punggung bayi. Model posisi itu sangat direkomendasikan untuk bayi baru lahir. "Kain gendongan harus menutupi seluruh punggung bayi agar bayi tidak terjungkal ke belakang. Tetap perhatikan posisi tulang belakang bayi agar tetap melengkung,” tutur ibu dua anak tersebut.

Di samping perkembangan tulang belakang yang belum sempurna, tulang panggul bayi juga masih tersusun dari tulang rawan. Posisi sendi panggul ini akan menentukan perkembangan tulang bayi. “Jadi, posisi menggendong yang benar adalah posisi membuka kedua paha bayi. Paha disangga body panel gendongan. Lutut lebih tinggi dari bokong dan sendi panggul tidak ekstensi," jelasnya.

Posisi tersebut, lanjut Dhanie lebih dikenal dengan istilah menggendong m-shape. Saat digendong, kaki bayi menyerupai huruf M. Atau istilah bahasa Jawa lebih dikenal dengan sebutan dipekeh. Adapun, kaki dalam posisi mengangkang. Posisi ini merupakan posisi ideal. Kedua sendi panggul tak terganggu perkembangannya. Sekaligus tetap menjaga agar bentuk tulang belakang tetap dalam posisi melengkung. Itu sesuai posisi anatomis bayi menurut umur. Posisi M-shape juga bisa mendukung perkembangan tulang belakang bayi. Dalam posisi begitu, bayi digendong mengikuti posisi naturalnya.

“Digendong dengan posisi kaki terbuka akan memosisikan pangkal tulang paha terletak masuk sempurna pada soket sendi pinggul. Bayi juga akan merasa nyaman saat digendong M-shape,” ujar perempuan berjilbab ini. Dhanie mengatakan, selain menggendong M-shape dan C-shape, orangtua tentunya harus tetap memerhatikan prinsip TICKS.

Prinsip tersebut merupakan singkatan dari tight (ketat atau bayi serasa dipeluk penggendong), in view all the time (selalu terlihat, bukan tenggelam dalam kain gendongan), close enough to kiss (mudah dicium), keep chin off the chest (cegah dagu menempel ke dada), dan supported back (penyangga punggung). “Kalau cara menggendong sudah aman, pasti bayi akan nyaman,” tuturnya.

Gendongan ergonomis terdiri berbagai macam bentuk. Seperti ring sling, woven wrap, meh dai, soft structured carrier (SSC), dan dengan jarik. Tapi, mesti tetap memerhatikan usia dan berat badan bayi. Dalam meet up dua hari lalu, Samarinda Baby Wearers mengangkat tema Menggendong dengan Jarik.

Mengingat semua orang pasti memiliki jarik. Biasanya turun-temurun dari orangtua atau kado sehabis melahirkan. Tapi, kebanyakan orangtua baru banyak yang belum tahu teknik menggendong yang tepat. Tak heran sering mengalami nyeri di bahu atau gampang melorot. “Kalau sudah tahu tekniknya bakalan ketagihan menggendong. Anak senang, ibu juga senang. Jadi, siapa bilang pakai gendongan jarik itu kuno, ribet, dan enggak praktis," ujarnya.

Teknik menggendong dengan kain jarik bisa menggunakan ikatan jangkar. Jika ingin lebih praktis lagi, bisa dengan bantuan ring aluminium. Selain kain jarik, menggendong juga dapat menggunakan kain dengan panjang minimal tiga meter. Tekniknya juga bermacam-macam, namun sedikit ribet. Paling umum dipakai dengan teknik front wrap cross carry (FWCC).

Selain itu, bisa juga gendong belakang dengan cara rucksack carry. “Jadi, apapun jenis gendongan yang dipilih, keamanan merupakan hal utama yang mesti dipenuhi,” terangnya.

Bisa Mengurangi Depresi Selepas Melahirkan

Awalnya, babywearing atau menggendong hanyalah sebuah cara menggendong dengan aman. Namun mulai banyak penelitian menerangkan bahwa manfaat menggendong lebih dari sekadar menggendong yang aman. “Manfaatnya banyak. Tujuan utamanya, menciptakan ikatan batin orangtua dan anak," ujarnya. Hasil penelitian lainnya, babywearing juga memiliki efek terhadap oksitoksin ibu. Dapat membantu meningkatkan air susu ibu.

Di samping itu, juga dapat mengurangi depresi selepas melahirkan. Seorang pakar bahkan menjelaskan, 40 persen bayi akan kurang menangis apabila digendong. Manfaat lainnya, menggendong anak digunakan sebagai cara cepat merespons semua kebutuhan asas anak.

Mulai memberi kehangatan, makanan, keamanan, dan kenyamanan. "Saat digendong anak akan dapat mendengar suara dan degupan jantung penggendong. Hal inilah yang akan membuat anak merasa nyaman seperti ketika di dalam kandungan," tuturnya.

Kendati menggendong bayi secara upright dengan posisi M-shape dan C-shape merupakan posisi yang paling optimal, tapi ada beberapa kasus kesehatan bayi yang tidak menyarankan posisi tersebut. Sebagai contoh, bayi yang lahir dengan kelainan jantung. Bila digendong dengan posisi upright justru akan memberikan tekanan pada dada anak. Sebab itu, perlu mengetahui riwayat kesehatan bayi sebelum menentukan gendongan yang tepat. “Jika dalam kasus seperti ini, posisi yang terbaik adalah cradle carry (posisi berbaring),” jelasnya.

Selama mengampanyekan gendongan ergonomis, banyak kendala yang dialami Dhanie dan kawan-kawan penggiat gendongan. Seperti pengalaman pribadi rekannya yang dipandang aneh dengan teknik menggendong seperti ini. Meski begitu, Dhanie dan kawan-kawan tetap menyosialisasikan secara perlahan. “Biasa kami sosialisasi di media sosial Instagram dengan akun @ibw.samarinda.

“Juga sosialisasi lewat tempat ramai seperti ini (masjid). Meet up ke depan bisa di taman atau di mal" terang dia. Dhanie berharap akan semakin banyak lagi masyarakat Kota Tepian yang membiasakan menggendong anak dengan posisi ini. Dengan begitu, para orangtua mendapatkan bayangan cara menggendong yang tepat, aman, dan nyaman untuk buah hati.

"Jika ada yang ingin mengetahui lebih dalam lagi seputar gendongan bisa bergabung. Anda dapat menghubungi kami melalui Instagram atau mengikuti meet up kami selanjutnya," pungkas perempuan berlesung pipi tersebut. (riz/k15)


BACA JUGA

Jumat, 26 Mei 2017 08:00

Wakili Indonesia dalam BIKY, Fokus Tema Soal Kearifan Lokal

Usianya belum genap 17, namun dia sudah mantap meniti karier di dunia perfilman. Dialah Muhammad Abdillah…

Kamis, 25 Mei 2017 08:20

Kualitas Demokrasi Lahir dari Etos Politik Masyarakat

Media massa memegang peran penting dalam kehidupan politik terutama ketika pemilihan kepala daerah (pilkada).…

Rabu, 24 Mei 2017 08:35

Senyawa Semakin Sederhana, Indeks Glikemik Meningkat

Pemanasan makanan secara terus-menerus ternyata dapat memengaruhi indeks glikemik. Terutama bagi makanan…

Senin, 22 Mei 2017 07:39

Satu dari Tiga Orang Dibayangi si Silent Killer

Hari Hipertensi Sedunia diperingati setiap 17 Mei. Indonesian Society of Hypertension, International…

Sabtu, 20 Mei 2017 01:12

Jangan Bertele-tele, Paparkan Kapabilitas Diri

Bagi mereka yang pernah mengajukan aplikasi beasiswa, tentu tahu persis rumitnya menyusun seabrek persyaratan.…

Sabtu, 20 Mei 2017 00:28

Menuju Adiwiyata, Unggul di Bidang Inovasi dan Keagamaan

Membentuk siswa dengan karakter berbasis keagamaan, patut dimulai sejak anak usia dini. Jadi, tak salah…

Jumat, 19 Mei 2017 12:00
Menilik Manuver Dua Bakal Calon Gubernur

Jaang-Rizal Makin Lengket, Rita Dapat Bisikan dari KPK

Manuver dua kandidat kuat calon gubernur (Cagub) Kaltim periode 2018-2022 kian kencang. Rita Widyasari…

Kamis, 18 Mei 2017 09:08

Bahas Anatomi Tubuh Selalu Bikin Asyik

Gadis berusia 17 tahun ini sudah sedari kecil mendambakan profesi dokter. Hambatan biaya tak melemahkan…

Rabu, 17 Mei 2017 09:47

Dekapan Hangat Senjata hingga Mimisan

Mengemban tugas negara di daerah konflik tidaklah mudah. Butuh mental wira agar mampu mengatasinya.…

Senin, 15 Mei 2017 08:10

Kurangi Konsumsi Seafood, Minum Air Putih Minimal 2,5 Liter per Hari

Penyakit yang menyerang saluran pencernaan ini bukan lagi hal baru di telinga masyarakat. Namun faktanya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .