MANAGED BY:
SABTU
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 13 Mei 2017 02:06
Ingin Kuliah, Fokuskan ke Pendidikan

Jalani Visum, Psikologi Korban Pedofilia Terus Dipantau

PERLU EDUKASI: Orangtua harus menjadi pelindung bagi anak untuk mencegah kekerasan.

PROKAL.CO, Menghilangkan trauma dalam kasus kekerasan anak dianggap tak mudah. Namun, berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan masa depan korbannya.

 FACHRIZAL MULIAWAN, Samarinda

 MOBIL jenis multi purpose vehicle (MPV) menerobos hujan yang mengguyur Samarinda, Jumat (12/5). Mobil melaju dengan tujuan RSUD AW Sjahranie. Kendaraan roda empat itu membawa DA (17) dan DL (9). Keduanya adalah korban pedofilia yang dilakukan AG. Pria 41 tahun itu adalah ayah DA sekaligus paman DL.

Kemarin (12/5), DA dan DL menjalani visum di rumah sakit pelat merah itu. Dua korban ditemani tiga polisi wanita (polwan) berpakaian sipil dari Polres Kutai Kartanegara (Kukar). Ibu DA turut mendampingi. Sampai di rumah sakit mereka disambut dua anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Anak, Dinas Sosial (Dissos) Kaltim. Kemudian menuju instalasi gawat darurat (IGD).

Petugas jaga rumah sakit berbaju biru muda mengarahkan rombongan kecil ini ke Tipiker (Ruang khusus penanganan kekerasan pada wanita dan anak). Klinik Tipiker biasa difungsikan sebagai ruang visum.

Pagi itu, DA mengenakan jilbab hitam dipadu dengan kaus lengan panjang warna kelabu, senada dengan warna langit Kota Tepian kala itu. Remaja berperawakan langsing itu menutup wajahnya dengan masker. Matanya waspada dengan orang di sekitarnya. 

Menurut seorang polwan, DA memang begitu dengan orang baru. Dia belum bisa sepenuhnya percaya dengan orang lain. Di sampingnya, sang bunda selalu menemani ke mana pun remaja yang baru lulus SMA tersebut melangkah. Sementara itu, sepupunya, DL, tampak bermain-main di dalam ruangan.

Akan dilakukan dua pemeriksaan terhadap kedua korban. Pertama visum di organ kewanitaan. Kedua pemeriksaan psikologi. Rencananya, kedua tes dilaksanakan kemarin, namun karena keterbatasan waktu hanya bisa dilaksanakan visum. Bahkan tes tersebut memakan waktu hingga pukul 15.00 Wita.

Sementara itu, tes psikologi akan dilakukan Senin (15/5) mendatang. Setelah pemeriksaan, DA dan DL diantar ke UPTD Panti Anak Darma, Dissos Kaltim.

Seorang anggota TRC Perlindungan Anak, Dissos Kaltim, Adji Suwignyo, menuturkan bahwa kedua korban sementara akan dititipkan di panti. DL akan dititip di sana hingga usia 18 tahun. DA yang sudah 17 tahun diberi pilihan, ingin tinggal di panti atau di tempat lain.

Dari pengamatannya terhadap kedua korban, secara psikologi mulai stabil. “Mereka sudah bisa diajak bicara,” ujarnya. Berbeda saat setelah sang ayah diciduk polisi, pada Sabtu (6/5) lalu. Adji mengatakan, saat itu DA shocked berat. “Tak bisa diajak bicara, makan pun tidak mau,” ujarnya.

“Sekarang (trauma korban DA) lebih ke psikologi. Apalagi saat penangkapan dilakukan, para tetangga mengetahui. Pasti dia malu,” ujarnya. Karena itu, DA bersikap waspada terhadap orang yang baru dikenalnya.

Sekarang, dia fokus ke pendidikan para korban kebejatan AG. Rencananya, dia akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim untuk beasiswa DA. “Dia (DA) ingin sekali melanjutkan ke universitas,” terangnya. Dia akan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri (PTN). Selain itu, DA akan didorong menjadi volunteer di Dissos Kaltim. Agar dia bisa membantu korban-korban kekerasan seksual seperti dirinya.

Diketahui, AG, warga Kecamatan Kembang Janggut, Kukar, sudah bertahun-tahun melancarkan aksi asusila terhadap anaknya. Petualangan fantasi nyeleneh itu berakhir pada 6 Mei lalu, setelah ditangkap polisi.

AG mulai mencabuli DA sejak usia dua tahun. Dia memaksa berhubungan badan saat DA usia 11 tahun. Hingga kini, 15 tahun sudah DA menjadi korban nafsu ayah kandungnya.

Mirisnya, pria yang menjabat asisten kepala di sebuah perusahaan kelapa sawit di Kembang Janggut itu tak hanya menyetubuhi anak kandung dan keponakannya yang merupakan anak berkebutuhan khusus, dia juga merekam adegan mesum tersebut lalu dipertontonkan secara live streaming ke sejumlah negara. Kasusnya terungkap saat Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya, Jakarta, melakukan patroli dunia maya.

Berdasar hasil penelusuran tim Cyber Crime Polda Metro Jaya, selama ini, tersangka merekam adegan mesum bersama para korban menggunakan ponsel pintar. Hasil rekaman tersebut disimpan di sebuah laptop. Di dalamnya ada 12.640 file. Sebanyak 7.011 di antaranya merupakan file video pornografi anak. Sementara itu, aplikasi sosial media yang digunakan live streaming oleh tersangka adalah Skype dengan menggunakan nama akun berbeda dari nama asli.

Kasus asusila dengan live streaming menggunakan Skype ini baru pertama kali ditemukan di Indonesia. Biasanya, pelaku menggunakan Facebook atau WhatsApp Messenger, dan sebagainya. Dari live streaming ini, pelaku mempertontonkan adegan mesum tersebut ke komunitas pedofilia di sejumlah negara secara bersamaan. Mereka juga saling chat di sana.

Tak hanya menggunakan Skype, tersangka juga masuk dalam komunitas telegram sebanyak enam grup akun yang berbeda. Dari akun telegram ini, setidaknya terdapat lebih dari seribu pengguna akun lainnya dari penjuru dunia. Pada komunitas grup ini, tersangka juga mengirimkan adegan mesum dirinya dengan para korban. Sebagai imbalannya, tersangka juga mendapat kiriman video serupa dari pelaku pedofilia di berbagai negara.

AG sudah diterbangkan ke Jakarta untuk pengembangan kasus. Kasus pertama kali di Tanah Air ini ditangani Cyber Crime Polda Metro Jaya. (far/k8)

 


BACA JUGA

Jumat, 22 September 2017 08:32

Tanpa Kertas, Hasil Keluar dalam 15 Menit

Para dokter spesialis saraf kerap kesulitan meluangkan waktu untuk screening pikun dini. Tes yang begitu…

Kamis, 21 September 2017 08:23

Perbanyak Publisitas e-Book hingga Bangun Kampung Literasi

Bagas terlihat asyik memainkan gawai (gadget) pemberian ayahnya. Jangankan tumpukan buku di meja belajar.…

Rabu, 20 September 2017 09:10

Hujan Interupsi, Gebrak Meja, tapi Lebih Suka Jadi Dubes

Sekelompok wakil rakyat berkumpul. Kali ini tak mengenakan setelan formal berdasi. Melainkan seragam…

Selasa, 19 September 2017 08:20

Berangkat Modal Iuran, Sabet Tiga Juara, Bersiap Rebut Piala Presiden

Tak ingin mengalah dengan keterbatasan. Ini dibuktikan sekelompok siswa dari SD 18 Samarinda Ulu. Berkat…

Senin, 18 September 2017 08:31

Rangsang Sensitivitas tapi Berisiko Tersedak hingga Diare

Sebagian masyarakat bukan hanya kurang paham tentang nutrisi yang baik bagi buah hati. Tetapi juga belum…

Sabtu, 16 September 2017 08:15

Kembali ke Daerah, Siap Tugas di Daerah Terpencil

Mengenakan jas putih, khas para dokter, lalu menolong seseorang yang sedang sakit, menjadi mimpi Rizka…

Sabtu, 16 September 2017 08:03

Banjir Penjenguk, Didiagnosis Terkena Epilepsi Akut

Setelah viral ,Riska akhirnya dirujuk ke RSUD Gunung Malang. Pembesuk tak henti datang. Pagi hingga…

Sabtu, 16 September 2017 06:37

Buka Jalur Peminat Investasi di Lahan Bekas Tambang

Berjaya sebagai penghasil emas hitam yang melimpah, Kaltim kini menyisakan banyak lubang tambang. Tak…

Jumat, 15 September 2017 08:39

Dorong Legalisasi Ganja sebagai Pengobatan

Tanaman ganja punya dua sisi yang saling berlawanan. Selain jadi barang terlarang, ganja juga diyakini…

Kamis, 14 September 2017 08:38

Rekrut Kader Lanjut Usia, Kawal Gizi Anak dengan Genting

Wajib bagi seorang ibu menjaga asupan gizi sang buah hati. Mengingat salah satu ancamannya adalah stunting.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .