MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 09 Mei 2017 12:15
Kasus Pedofilia di Kembang Janggut
Rita : Kalau Perlu Dipotong Itunya....

Garap Anak Kandung dan Keponakan, Disiarkan Live ke Beberapa Negara

Rita Widyasari

PROKAL.CO,  TENGGARONG- Kasus pedofilia di Kembang Janggut langsung direspon oleh Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari. Ia pun meminta agar pelaku bisa diberikan sanksi berat. "Saya paling terluka mendengar kabar seperti ini. Saya pikir di zaman modern ini tidak ada manusia yang berperilaku seperti binatang. Saya meminta mereka dihukum berat. Kalau perlu potong itunya (alat kelamin tersangka)," ujar Rita.

Terpisah, Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak Provinsi Kaltim Adji Suwigno mengatakan, sudah berkoordinasi dengan tim dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pusat. Kasus ini, menurutnya tidak hanya menjadi perhatian nasional tetapi juga internasional. Maka penanganannya juga harus cepat dan tepat. Sehingga jangan sampai tidak ada proses pendampingan atau sampai salah penanganan.

Korban, kata dia, akan segera direhabilitasi serta diberi pendampingan khusus. Saat ini, pihaknya masih berupaya melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan tempat tersangka bekerja untuk dilakukan pendampingan. "Kita juga mengantisipasi adanya sejumlah dampak yang dialami oleh para korban, baik secara medis maupun psikis. Sebab, ini juga telah menjadi perhatian dunia. Nanti akan ada metode khusus untuk melakukan rehabilitasi korban," ujar Adji.

Diberitakan, jaringan pedofilia internasional merambah hingga pelosok perkampungan. DA alias AG (41), warga Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar), sudah bertahun-tahun melancarkan aksi asusila. Pria yang menjabat sebagai asisten kepala di sebuah perusahaan kelapa sawit di Kembang Janggut itu tak hanya menyetubuhi anak kandung dan keponakannya, dia juga merekam adegan mesum tersebut lalu dipertontonkan secara live streaming ke sejumlah negara!

Sejak akhir pekan lalu, Kaltim Post mendapat informasi secara eksklusif dari jajaran kepolisian terkait kedatangan tim Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya (PMJ) Jakarta. Atas permintaan kepolisian, kabar itu awalnya diminta untuk tidak diekspos hingga target operasi (TO) berhasil diringkus. Kedatangan tim dari PMJ, bahkan ditengarai hanya diketahui terbatas di lingkungan Polres Kukar. Hingga ditetapkan TO di Kembang Janggut, pihak Opsnal Polres Kukar beserta anggota Polsek Kembang Janggut yang dipimpin Ipda Aksarudin Adam, dilarang menyentuh AG, kecuali hanya melakukan pengintaian sejak Jumat (6/5). Ini untuk memastikan AG tak membuang barang bukti maupun berupaya kabur dari buruan.

Perjalanan tim PMJ yang dipimpin Kanit I Subdit IV Cyber Crime Polda Metro Jaya Kompol Joko Handono pun cukup panjang menuju lokasi penangkapan. Dari Balikpapan menuju Samarinda, tim beranggotakan lima orang itu harus menempuh jalur darat hingga lebih dari 115 kilometer. Dari Kota Tepian menuju Kembang Janggut, jarak yang ditempuh mencapai 116 kilometer. Dalam perjalanannya, mobil yang ditumpangi harus mengalami ambles di jalur bubur. Polisi juga sempat menumpangi kapal penyeberangan di Kembang Janggut untuk menuju lokasi.

Sabtu (6/5), sekitar pukul 16.00 Wita, anggota Polres Kukar yang lebih dulu berada di Kembang Janggut memantau keberadaan tersangka AG yang saat itu berboncengan dengan anak sulungnya, DA (17). Setelah saling berkoordinasi, polisi akhirnya meringkus AG di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Kembang Janggut. Dia langsung dibawa dengan mobil preman milik Unit Opsnal Polres Kukar. Dengan menggunakan mobil terpisah, DA juga turut diamankan lalu dibawa ke Mapolsek Kembang Janggut.

Dari hasil interogasi, AG akhirnya mengakui perbuatannya. Dia sudah lama menggauli DA yang merupakan anak kandungnya. Bahkan pencabulan dilakukan sejak DA berusia dua tahun. Selanjutnya, saat usia DA beranjak 11 tahun, AG mulai melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Hubungan keduanya tanpa diketahui oleh ibu korban. Sementara perlakuan asusila tersebut kerap dilakukan saat ibunya sedang tidak di rumah atau tidur.

Tak hanya DA, polisi juga mengendus korban lain. Berinisial DL yang merupakan keponakan tersangka. DL diketahui sudah tinggal bersama tersangka sejak kedua orangtuanya di Lampung meninggal dunia. DL saat ini juga diketahui sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK). Sama halnya dengan DA, hubungan badan dengan DL juga kerap disiarkan melalui live streaming ke sejumlah akun terbatas sesama pedofilia di penjuru dunia. Tak hanya itu, tersangka juga tak segan mengirim hasil rekamannya tersebut ke sejumlah akun sosial media sesama pedofilia lainnya di berbagai negara.

"Jadi, aktivitas tersangka ini terendus setelah anggota kami melakukan patroli cyber crime. Dari sebuah akun, kami mencurigai aktivitas seseorang asal Kaltim yang ditengarai aktif mengirimkan video berkonten porno. Saat kita cek, ternyata memang benar, pemilik akun tersebut berada di Kembang Janggut, Kukar," terang Joko Handono.

Berdasarkan hasil penelusuran tim Cyber Crime Polda Metro Jaya, selama ini tersangka merekam adegan mesum bersama para korban menggunakan sebuah ponsel merek OPPO. Hasil rekaman tersebut disimpan di sebuah laptop merek Acer Aspire yang di dalamnya terdapat 12.640 file. Sebanyak 7.011 di antaranya merupakan file video pornografi anak. Sementara itu, aplikasi sosial media yang digunakan live streaming oleh tersangka adalah Skype. Dia menggunakan akun dengan nama samaran.

"Untuk live streaming menggunakan Skype ini baru pertama kali kami temukan di Indonesia. Biasanya, pelaku menggunakan Facebook atau WhatsApp (WA), dan sebagainya. Jadi, dari live streaming ini, dia mempertontonkan adegan mesum tersebut ke komunitas pedofilia di sejumlah neara secara bersamaan. Mereka juga saling chat di sana," tambah Joko.

Tak hanya menggunakan Skype, tersangka juga masuk dalam komunitas Telegram sebanyak enam group berbeda. Dari akun di Telegram, lebih dari seribu pengguna akun lainnya berada di penjuru belahan dunia. Pada komunitas grup ini, tersangka juga mengirimkan adegan mesum dirinya dengan para korban. Sebagai imbalannya, tersangka mendapat kiriman video serupa dari berbagai pedofilia dari banyak negara.

Sedangkan untuk grup WA, tersangka juga masuk dalam 25 akun yang diisi oleh ratusan pedofilia dari puluhan negara, di antaranya Brazil, Afganistan, Meksiko, Peru, Kostarika, Argentina, Bolivia, Yaman, Amerika Serikat hingga Chili. Rekaman adegan mesum yang dilakukan dengan para bocah tersebut juga dikirim ke puluhan grup WA tersebut. "Jadi, tersangka ini mencari kepuasan fantasi saat berhubungan badan. Setelah mengirimkan videonya, dia juga menerima video yang sama dari berbagai negara. Aktivitas inilah yang terendus oleh tim cyber crime yang melakukan patroli," terang perwira berpangkat satu melati tersebut.

Dari hasil pengembangan kepolisian, tersangka melakukan persetubuhan tersebut di sekitaran lokasi ia bekerja. Di sana, tersangka disediakan sebuah rumah oleh perusahaan. Di rumah tersebutlah, tersangka diduga kerap melakukan aksi tidak senonoh tersebut. "Jadi, korban yang dipaksa melakukan hal tersebut dengan orangtuanya, tidak lagi menolak. Kita juga harapkan agar korban ini dilakukan pemulihan secara psikologi secara khusus. Kita harap pemerintah bisa ikut terlibat dalam kasus ini," ujar Joko.

Saat ini, kata Joko, pihaknya juga masih berupaya melakukan pengembangan atas kasus ini. Terutama terkait asal mula perkenalan tersangka dengan sejumlah akun sosial media komunitas pedofilia internasional tersebut. Rencananya, tersangka akan diterbangkan ke Jakarta hari ini, Selasa (9/5), untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut. Hal ini juga untuk mencari tahu kemungkinan keterlibatan tersangka lainnya.

"Sampai saat ini, belum bisa kami pastikan dari mana perkenalan tersangka dengan anggota di medsos-medsos (media sosial) tersebut. Masih terus kita lakukan pengembangan. Karena keterlibatan tersangka lain tidak menutup kemungkinan akan terjadi," katanya.

Kejahatan cyber crime ini memang menjadi salah satu atensi Polri. Terutama aktivitas yang berkaitan dengan konten pornografi. Tersangka  bisa dikenakan pasal berlapis, yaitu Undang-Undang 44/2008 tentang Pornografi, Undang-Undang 19/2016 tentang Perubahan Undang-Undang 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain itu, tersangka bisa dijerat dengan Undang-Undang 36/2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara.

Sementara itu, Wakapolres Kukar Kompol Andre Annas mengatakan, pihaknya berterima kasih dengan pihak Polda Metro Jaya (PMJ) dalam bekerja sama meringkus tersangka sindikat pedofilia. Penanganan korban, pihaknya juga berharap adanya peran dari pemerintah untuk melakukan pendampingan. Terutama untuk pemulihan kejiwaan serta mental para korban. "Nanti korban juga akan dilakukan pendampingan. Kita harapkan kasus semacam ini tidak lagi terjadi di Kukar. Jika ada informasi yang mencurigakan, masyarakat juga diminta jangan segan menyampaikan laporan ke kantor polisi terdekat," ujar Waka Polres.(qi/far/k11)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 08:48

Adang Masjid, Daftarkan Cagar Budaya

SAMARINDA – Gelombang penolakan pembangunan Masjid Al Faruq di Lapangan Kinibalu terus berlanjut.…

Minggu, 10 Desember 2017 08:42

Lima Kandidat, Manuver Jaang

SAMARINDA – Saat suhu politik yang mendingin jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018, Syaharie…

Minggu, 10 Desember 2017 08:41

Keputusan Trump Pengaruhi Dunia Pariwisata

GUNUNG KIDUL – Suara Mahmoud Abbas di ujung telepon Jumat (8/12) malam langsung membuat Presiden…

Minggu, 10 Desember 2017 08:37

Berebut Jadi Istri Pertama demi Warisan Saudagar

GERIMIS yang malu-malu bukan penghalang bagi Karin–nama samaran– untuk mantap melangkahkan…

Minggu, 10 Desember 2017 08:35

Seirama dengan Optimalisasi PAD

STRUKVAGANZA yang digagas Kaltim Post disebut seirama dengan rencana optimalisasi pendapatan asli daerah…

Minggu, 10 Desember 2017 08:34

Tahlilan Tiap Malam Jumat, Susun Kamus Bahasa Daerah

Orang-orang Bawean mewarnai sejarah Malaysia. Mereka merantau, beranak pinak, mempertahankan tradisi,…

Sabtu, 09 Desember 2017 20:50

Pemprov Tak Tahu Tanah Eks Hotel Lamin Indah Jadi RTH

SAMARINDA – Pembangunan Transmart di Samarinda masih “dipeluk” masalah. Belum selesai…

Sabtu, 09 Desember 2017 20:47

Megah di Tengah yang Susah

SAMARINDA– Sudah kelewat banyak argumentasi yang membangun kesimpulan bahwa pembangunan Masjid…

Jumat, 08 Desember 2017 09:40

Mengubur Lokasi Bersejarah

Lapangan Kinibalu yang menjadi lokasi pembangunan Masjid Al Faruq adalah saksi bisu peristiwa penting…

Jumat, 08 Desember 2017 09:32

Dewan Sebut Tak Kuasa Membendung

GUBERNUR Kaltim Awang Faroek Ishak bergeming dengan gelombang penolakan masyarakat terhadap alih fungsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .