MANAGED BY:
SABTU
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 09 Mei 2017 09:29
Putar Otak demi Sebuah Ijazah

Cermat Mengatur Keuangan Jelang Tahun Ajaran Baru dan Idulfitri

SUBSIDI SILANG: Agar bisa kuliah di Institut Teknologi Kalimantan, mahasiswa harus melampirkan beberapa syarat keterangan tidak mampu. Sementara di STT Migas, biaya kuliah ditentukan gelombang masuk. (anggi praditha/kp)

PROKAL.CO, Meningkatnya kebutuhan jelang tahun ajaran baru patut diwaspadai para orangtua. Belum lagi, ditambah momen Ramadan dan Idulfitri, hingga mudik Lebaran, membuat pengeluaran makin menguras dompet.

KONDISI ini, sebut Aji Sofyan Effendi, harus diantisipasi. Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman (Unmul), itu mengatakan, para orangtua sebaiknya dimulai dengan membuat daftar prioritas.

“Bila ada anak yang masuk tahun ajaran baru. Sebaiknya persiapkan biaya pendidikannya lebih dulu," ucap Sofyan kepada Kaltim Post, Ahad (7/5). Dia mengatakan, untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, biaya kemungkinan tidak terlampau tinggi. Sebab, untuk sekolah negeri masih mendapatkan bantuan lewat dana bantuan operasional sekolah (BOS).

Akan tetapi, lanjut Sofyan, biaya tambahan lain seperti seragam hingga alat tulis butuh alokasi dana khusus. Terlebih saat memasuki jenjang perguruan tinggi. “Saat ini beberapa universitas menerapkan uang kuliah tunggal (UKT), termasuk di Unmul," kata dia. Dia menjelaskan, sistem UKT seperti subsidi silang. Bagi mahasiswa dari keluarga tak mampu, maka biaya pendidikan akan lebih murah. Bagi si mampu, maka biaya akan disesuaikan. Tujuannya agar siapa saja mendapatkan kesempatan duduk di bangku kuliah.

Kalkulasi biaya, kata dia, harus dilakukan mulai bulan ini. Meski pengeluaran tersebut akan dibayarkan sekitar Juli atau Agustus, saat kegiatan belajar dan perkuliahan dimulai. “Terutama untuk pegawai negeri dengan golongan rendah. Pemasukan mereka tetap, tapi pas-pasan. Jangan sampai nanti berutang dan menimbulkan masalah baru bila tidak diatur. Simpan uang mulai sekarang," paparnya. Dia mengatakan, di pengujung Ramadan biasanya para pekerja akan mendapatkan tunjangan hari raya (THR).

Namun, hal ini bukan berarti menjadi lampu hijau bagi masyarakat untuk menghamburkan uang. Sofyan menyebutkan, sebaiknya sisihkan 40 persen dari total THR yang didapat. Anggaran itu bisa digunakan untuk biaya pendidikan atau pos keuangan lain yang penting. Dia mengingatkan agar masyarakat tidak terlampau konsumtif jelang Idulfitri. Tetap membeli barang sesuai kebutuhan, hanya saja, bila telah merencanakan pulang kampung, kata dia, pastikan telah menghitung dengan cermat segala kebutuhan.

Di sisi lain, pengeluaran masyarakat pada momen ini justru bisa mendorong gerak perekonomian daerah. Hal ini dikatakan Analis Tim Pengembangan Ekonomi KPw-BI Kaltim Dirwanta Firsta. Dirwan mengungkapkan, peningkatan daya beli masyarakat juga berpengaruh pada kebutuhan uang. Secara nasional, pada periode Desember 2016 kebutuhan uang meningkat 3-10 persen. Sebab, pertumbuhan outflow-nya yang sebesar Rp 88 triliun sampai Rp 94 triliun, terhadap realisasi outflow pada 2015 sebesar Rp 85,6 triliun.

“Proyeksi outflow tersebut didominasi oleh uang pecahan besar Rp 20 ribu ke atas, sebesar plus minus 98 persen. Sisanya, uang pecahan kecil, Rp 10 ribu ke bawah,” ulas dia. Adapun outflow se-Kalimantan, lanjut Dirwan, sebesar Rp 8,5 triliun, dari total kebutuhan uang nasional (outflow tertinggi di Jabodetabek Rp 23,9 triliun). “BI memandang persediaan uang secara nasional sangat mencukupi memenuhi kebutuhan uang. Tergambar pada momen perayaan tahun baru 2017, baik dari sisi total jumlah maupun pecahan uang,” ujar lelaki yang besar di Jakarta itu.

Diketahui, sepanjang 2016, outflow-inflow tertinggi terjadi saat musim Lebaran Idulfitri. Jumlah setoran mencapai Rp 485 miliar, oleh bank umum pada kas KPw-BI Kaltim, sampai hari raya usai. Rata-rata uang tunai yang ditarik perbankan selama Ramadan di KPw-BI Kaltim mencapai Rp 200 miliar, bahkan sempat menyentuh Rp 400 miliar dalam sehari. Padahal, penarikan uang tunai pada hari biasa rata-rata hanya sampai Rp 20 miliar. (*/roe/riz/k15)


BACA JUGA

Selasa, 23 Mei 2017 08:53

Hipertensi pada Perempuan Lebih Berbahaya

SAMARINDA – Pada usia 30-50 tahun, hipertensi lebih banyak terjadi pada pria. Karena pada usia…

Selasa, 23 Mei 2017 08:46

Jaga Asupan Garam dengan Diet DASH

DASH atau Dietary Approaches to Stop Hypertension, sebenarnya tidak diciptakan untuk menurunkan berat…

Senin, 22 Mei 2017 08:10

Mufakat Jahat Lembaran Proposal

Bantuan sosial (bansos) atau hibah hadir agar kesenjangan sosial di tengah masyarakat terpangkas. Terkadang,…

Senin, 22 Mei 2017 08:04

Akui Ada Kecurangan tapi Menolak Dihapus

BANTUAN pendanaan pemerintah untuk warga dalam bentuk bansos dan hibah bukanlah pos baru yang menggeliat…

Senin, 15 Mei 2017 08:24

Ramai-Ramai Umrah Sambut Ramadan

  Kondisi ekonomi yang lesu tak serta-merta mematikan pertumbuhan bisnis perjalanan wisata. Termasuk…

Senin, 15 Mei 2017 08:19

Biaya Lebih Mahal

ANIMO tinggi menunaikan ibadah umrah saat Ramadan membuat biro perjalanan semringah. Pasalnya, perlambatan …

Senin, 15 Mei 2017 08:13

Demi Umrah Setara Haji

RAMADAN jadi bulan favorit masyarakat menunaikan ibadah umrah. Sebab sebagian masyarakat percaya, menunaikan…

Selasa, 09 Mei 2017 09:16

Belum Gunakan UKT

DARI Kutai Kartanegara (Kukar), Rektor Universitas Kartanegara (Unikarta), Sabran, mengatakan, saat…

Selasa, 09 Mei 2017 09:13

Klaim Murah dengan Syarat Berlipat

BAYANG – bayang pengeluaran tinggi jelang tahun ajaran baru membuat sebagian besar orangtua waswas.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .