MANAGED BY:
JUMAT
21 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 01 Mei 2017 07:34
MENGENAL PENYAKIT GAGAL GINJAL
Standar Cuci Darah 15 Jam dalam Seminggu
Shelly Laksmisari

PROKAL.CO, APABILA terjadi serangan gagal ginjal akut, proses penyembuhan dapat dilakukan dengan cuci darah secara rutin. Bahkan setiap hari hingga ginjal dapat berfungsi dengan normal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Hospital Siloam Balikpapan Shelly Laksmisari mengungkapkan, dokter perlu memberikan pertolongan tersebut agar seluruh racun yang berada di dalam tubuh dapat terkuras.

“Baru-baru ini ada kasus gagal ginjal akut akibat sengatan lebah. Racun dari sengatan itu membuat ginjal shut down. Akhirnya setelah melakukan cuci darah rutin setiap hari hingga 8 kali, baru ginjal dapat kembali normal,” ungkap perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu. Lain lagi dengan ginjal kronik, kasusnya begitu kompleks karena terjadi secara perlahan.

Dokter sendiri dapat mengukur kondisi pasien gagal ginjal dengan berbagai tahap. Ibu dari tiga anak itu mengatakan, tahapan ini untuk mengukur tingginya angka racun, berat badan, dan usia. Tahap 1, 2, dan 3 masuk dalam tahap predialisis, pasien belum perlu untuk melakukan cuci darah. Namun tetap saja sudah level warning. Dalam kondisi ini, hal yang utama adalah pasien menjalani pengobatan faktor risiko utama gagal ginjal.

Misalnya mengontrol hipertensi atau diabetes. Sisanya mungkin ada obatan tambahan berupa suplemen untuk mengendalikan asam protein yang menumpuk dalam tubuh. “Kalau masuk tahap empat, pasien sudah disarankan untuk memulai cuci darah atau inisiasi hemodialisis. Namun tidak begitu sering, hanya seminggu sekali. Tetap perlu dilakukan untuk mengeluarkan banyaknya racun yang tersebar,” tuturnya.

Namun jika sudah masuk dalam tahap lima, kondisi ini merupakan tahap terakhir dan persentase ginjal hanya berfungsi kurang dari 15 persen. Maka perlu terapi pengganti ginjal berupa cangkok atau cuci darah terus menerus. Shelly menyebutkan, selama ini cangkok pun bukan hal yang mudah dan tidak bisa sembarangan.

Selain biaya yang besar, perlu melihat tingkat komplikasi dan kecocokan antara pasien dengan pendonor. “Dalam perjalanan cangkok bisa terjadi komplikasi rejection dan infection. Kalau kondisi begitu tim bisa menghadapi kegagalan cangkok. Ini tidak bisa ditentukan sejak awal, dokter hanya berusaha meminimalisasi komplikasi,” bebernya.

Perempuan yang gemar dalam bidang musik itu mengungkapkan, proses cangkok atau transplantasi merupakan pekerjaan besar dalam bidang medis. Sebab melibatkan tim dari berbagai dokter spesialis, maka dari itu perlu tingkat kehati-hatian yang besar. Mulai dari persiapan harus matang dan pelaksanaan sesuai prosedur. Tim juga masih harus bertanggung jawab memonitor komplikasi atau efek samping dari proses cangkok.

Namun hingga saat ini, pasien lebih banyak menjalani jalur pengobatan dengan cuci darah. Anak kedua dari tiga bersaudara itu menjelaskan, proses cuci darah terbagi lagi dalam dua jenis. Pertama, cuci darah mandiri yang pelaksanaannya dapat dilakukan di rumah oleh pasien. Proses cuci darah ini menggunakan cairan perut (CAPD). “Pasien akan dipasangi selang secara permanen yang menghubungkan cairan dari dalam perut keluar perut. Nanti selang yang diluar menghubungkan dengan cairan cuci,” ujarnya.

Sementara itu, ada pula cuci darah dengan mesin yang tren dengan nama hemodialisis. Pasien harus rutin datang ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah sebanyak 2-3 kali dalam seminggu. Shelly menyebutkan, proses cuci darah seperti infus umumnya saja. Terdapat selang yang masuk ke dalam tubuh untuk membawa cairan yang mengandung racun itu keluar dari tubuh.

“Lalu selang membawa cairan masuk ke dalam mesin penyaring. Hasilnya ada darah bersih yang siap kembali masuk ke dalam tubuh. Berdasarkan standar internasional, dosis cuci darah sebaiknya dilakukan 15 jam dalam satu minggu. Namun kenyataannya yang bisa terlayani di Indonesia hanya sekitar 2 x 4 jam atau 8 jam,” imbuhnya.

Padahal idealnya cuci darah selama 15 jam bertujuan untuk meraih quality of life pasien. Selama ini, dia mengaku menyarankan pasien melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu. Setiap kali cuci darah akan membutuhkan waktu selama 5 jam. “Kami berusaha mendekati angka standar 15 jam itu, tapi kadang pasien sendiri yang tidak setuju. Padahal frekuensi cuci darah sebanyak itu untuk menghindari terjadinya penumpukan sampah metabolisme yang berlebihan. Semua untuk melindungi kondisi pasien juga,” ucapnya.

“Banyak pasien yang membutuhkan cuci darah membuat fasilitas cukup terbatas. kebutuhan pun terus meningkat, setiap pasien memiliki jadwal cuci darah agar fasilitas dapat digunakan bergantian. Apalagi, kini semua biaya ditanggung BPJS Kesehatan. Pasien sangat terbantu dengan adanya program tersebut,” pungkasnya. (*/gel/riz/k18)


BACA JUGA

Kamis, 29 Juni 2017 13:00
Mengungkap Praktik Kotor Pengusaha Hitam di Kaltim

Batu Baranya Ilegal, Tenang...Ada Penadah Emas Hitam

Tambang batu bara ilegal di Kaltim ternyata jadi salah satu penyumbang pendapatan ke kas negara. Duit…

Kamis, 29 Juni 2017 12:55

Konsesi KCI Banyak yang Incar

KONSESI tambang milik PT BHP KCI di Desa Lolo dan Desa Lempesu di Paser bak gula. Banyak pengusaha yang…

Kamis, 29 Juni 2017 12:54

Jalan Umum Jadi Korban

MARAKNYA penambangan ilegal memicu perusakan aset daerah. Di antaranya, jalan umum. Bahkan, pengangkutan…

Kamis, 29 Juni 2017 12:54

Aparat Buru Penambang Ilegal

MARAKNYA dugaan penambangan batu bara ilegal di Kutai Kartanegara (Kukar) tak membuat nyali kepolisian…

Kamis, 29 Juni 2017 08:55

Pengawasan Belum Optimal

PENAMBANGAN batu bara wajib melewati sejumlah tahapan. Satu saja yang dilanggar, berarti aktivitas tersebut…

Kamis, 29 Juni 2017 08:51

Stop Jelang Ramadan

AKTIVITAS penambangan ilegal di konsesi milik PT BHP KCI di Paser telah stop sejak bulan lalu atau dua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .