MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 21 April 2017 10:05
Merasakan Mondok di Tiongkok (3)
Minim Transaksi Cash, Sewa Sepeda Pun Pakai Barcode
DI TEMPAT YANG TINGGI: Suasana di puncak makam Dr Sun Yat-Sen di kaki Gunung Zijin di Kota Nanjing ini sangat indah. (lucman/kp)

PROKAL.CO, Selama “mondok” di Tiongkok, 38 peserta Internasional Youth Spring Camp 2017 dibuat betah. Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) sudah menyusun jadwal dengan tepat. Belajar, lalu jalan-jalan. Sesuatu yang disukai kebanyakan remaja sekarang.   

LUCMAN, Tiongkok

TIGA hari rombongan “berkawan” suhu di bawah 10 derajat. Sejak menginjakkan kaki di Negeri Panda itu, Minggu (9/4) malam, baru pada hari ketiga ini merasakan cahaya matahari. Meski suhu di kampus Jiangsu Institute of Commerce di Kota Nanjing, masih 15 derajat, rasanya ini lebih hangat. Cerah berawan, Rabu (12/4) pagi, itu membuat senyum peserta terukir. Saatnya memulai “kuliah”. Selepas makan pagi bersama, tepat pukul 08.30–waktu Tiongkok sama dengan waktu Indonesia tengah (WIT)–peserta melanjutkan rutinitas dari asrama ke kantin, lanjut ngampus.

Jarak kantin dengan ruang belajar sekitar 15 menit jalan kaki. Di kampus ini tak ada mobil lalu lalang. Apalagi sepeda motor. Mobil hanya terparkir di halaman sebelah kanan kampus dekat pintu masuk. Itu pun hanya kendaraan dosen dan staf kampus. Sementara itu, mahasiswa mayoritas jalan kaki dan bersepeda. Kali ini, peserta diajak mengenal e-commerce. Changyi Ho dan Irene didapuk menjadi pemateri. Mereka adalah dosen muda di Fakultas Informasi dan Teknologi Jiangsu Institute. Dalam kelas ini, kami dikenalkan apa itu e-commerce atau lazim disebut perdagangan elektronik.

“Kami tidak menyarankan mahasiswa menjadi konsumtif. Namun, lebih sebagai produsen aktif, lewat aplikasi elektronik,” kata Changyi Ho. Pria asli Nanjing itu mewajibkan semua mahasiswa tak jadi konsumen aktif, namun bisa menghasilkan pendapatan. Lewat aplikasi buatan sendiri atau web sendiri. “Namun untuk sampai di tingkat itu, harus banyak praktik,” katanya.

Di Tiongkok, dalam lima tahun terakhir sudah terbiasa berbelanja di swalayan menggunakan scan barcode of android. Tinggal memiliki tabungan, transaksi akan selesai jika pemilik men-scan barcode di meja kasir. “Juga semua transaksi jual-beli makanan siap saji juga lewat aplikasi. Tidak ada transaksi cash antara pembeli dan penjual. Sangat praktis,” akunya.

Dua jam setengah belajar, kami pulang. Di pertengahan jalan, mata saya tertuju pada belasan sepeda yang tersusun rapi tanpa kunci di salah sudut kampus. “Enggak takut dicuri ya sepedanya,” celetuk Kevin, peserta asal SMA Kristen Barana Toraja. Rupanya, kondisi ini sudah dipikirkan warga Tiongkok.

“Semua sepeda ada barcode-nya. Jadi, kalau mau menggunakan harus pakai scan barcode. Meski tidak dikunci, enggak bakal diambil. Karena sepeda sudah ada GPS. Tarif sewanya 5 yuan untuk 1 jam pemakaian,” terang Odic, mahasiswa asal NTT yang jadi pemandu kami selama di Jiangsu Institute, lantas mempraktikkan cara menyewa sepeda.  

399 ANAK TANGGA

Nasional, demokrasi, kehidupan. Tiga kata dalam bahasa Tiongkok yang dieja dari kanan ke kiri, terpampang jelas di depan gapura yang menyerupai lonceng. Gapura tersebut menaungi makam Dr Sun Yat-Sen. Presiden pertama Tiongkok itu masih dicintai warganya. Untuk mencapai makam, harus “berjuang” menapaki 399 anak tangga yang terbagi menjadi 13 tingkat. Jalan menanjak hingga 80 meter. Dengan total jelajah sekitar 3 kilometer dari depan gerbang masuk awal hingga puncak bukit. Niat pengunjung hanya satu, mendoakan pria yang berjuluk Bapak Revolusi Tiongkok itu.  

Kompleks pemakaman Dr Sun tersebut terkenal di Kota Nanjing dengan sebutan Sun Yat-Sen Mausoleum. Jarak dari kampus Jiangsu Institute ke sini sekitar 30 menit menggunakan bus. Lokasinya di kaki Gunung Zijin (Gunung Ungu), membuat kawasan ini sangat sejuk. Kami menginjakkan kaki ke sini sehabis melahap kuliah e-commerce pagi hari.

Menurut Che-Che, pemandu wisata rombongan, makam ini dibangun pada 1926 hingga selesai 1929. Atau dibangun setahun setelah wafatnya Sun Yat-Sen pada 1925 tepat usia 58 tahun. Kompleks ini diarsiteki Lu Yanzhi yang terkenal pada waktu itu. Dibuka untuk umum sejak 1978.

“Dr Sun Yat-Sen tidak meninggal di Nanjing. Tapi, di Beijing. Setelah rapat keluarga, barulah disepakati peti jenazahnya dipindahkan ke Nanjing pada 1 Juni 1929. Karena Nanjing pernah menjadi ibu kota Cina pada zaman Dinasti Ming tahun 1368 sampai 1644,” jelas perempuan 31 tahun itu.

Selain sejuk, kawasan tersebut modern dan rapi. Sesampainya di gerbang masuk, perjalanan kami mulai dan melewati pintu penjagaan petugas. Akses keluar-masuk areal makam hanya jalan kayu selebar 10 meter. Di kanan dan kiri jalan, terdapat puluhan outlet yang menjual cendera mata atau makanan siap saji. Selepas menapaki 100 anak tangga yang terbagi dalam empat tingkat, barulah sampai di gerbang utama menuju makam Sun Yat-Sen.

Perjalanan dilanjutkan kembali dengan melewati gerbang gapura utama. Lagi-lagi, di sini juga semua pengunjung diperiksa petugas seperti masuk bandara. Lantas menapaki 299 anak tangga yang terbagi menjadi sembilan tingkat. Di sini, jalan memiliki lebar sekitar 20 meter dan dibagi menjadi tiga ruas jalur. Jalur tengah, kanan, dan kiri.

Perincian, anak tangga yakni tingkat pertama sepuluh anak tangga. Lalu, tingkat kedua–keenam total 180 anak tangga. Kemudian, tingkat tujuh ada 45 anak tangga. Dan tingkat kedelapan ada 55 anak tangga, serta tingkat kesembilan dengan 9 anak tangga. Barulah sampai di puncak makam Sun Yat-Sen. Di dalam gapura, bernaung makam dan patung Sun Yat-Sen.

“Tadi beberapa kali naik tingkat tangga. Tapi dari atas, enggak kelihatan anak tangganya,” terang Arum, siswi SMA Nahdlatul Ulama (NU) 1 Gersik, lantas mengusap keringat di dahinya.  

Sesampainya di puncak, selain berdoa, mengabadikan momen lewat kamera juga jadi pemadangan tersendiri. Ya, jika sampai di sini, sangat sayang jika tidak berfoto. Sebab, dari sini, sebagian Kota Nanjing terlihat cantik. “Kalau sore di sini sangat bagus pemandangannya. Soalnya cahaya matahari menembus awan. Jadi, sangat indah,” kata Che-Che.   

Lagi-lagi, untuk ke sini, pengunjung tidak dikenakan biaya alias gratis. Padahal, dalam sehari, ada ribuan orang yang bertandang. (far/k8)


BACA JUGA

Minggu, 19 November 2017 08:11

Sepinggan Perkuat Rute Internasional, Maskapai Mulai Berhitung

SAMARINDA – Memperkuat rute internasional dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan…

Minggu, 19 November 2017 08:07

Jangan Munculkan Diskriminasi Baru

JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) diminta hati-hati dalam eksekusi putusan Mahkamah…

Minggu, 19 November 2017 07:59

Daripada Setnov, Lebih Baik Jenguk Tiang

JAKARTA – Hingga kemarin (11/18), lokasi kecelakaan yang melibatkan Ketua DPR Setyo Novanto (Setnov)…

Minggu, 19 November 2017 07:55

Dari Hobi, Bisa Berbuat Jahat

BERPERILAKU jahat harus dicegah sejak usia dini. Sebab, mengatasi overkapasitas rumah tahanan (rutan)…

Minggu, 19 November 2017 07:54

Pernah Harus Pinjam Celana Kain Penjaga Istana

Tiap kali potong rambut, Jokowi tak pernah neko-neko. Lalu, berapa ongkos yang diterima si tukang cukur?…

Minggu, 19 November 2017 07:50

Nonton Sinetron, Anak Ditelantarkan

HOBI terkadang membuat seseorang lupa akan tanggung jawabnya. Hal itu menimpa keluarga Bedu–nama…

Sabtu, 18 November 2017 07:43

Over Kapasitas, Tambah Lapas Bukan Solusi

SAMARINDA  –  Overkapasitas rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas)…

Sabtu, 18 November 2017 07:41

Ngaku Sakit biar Dikirimi Duit

DERING telepon pada siang hari membuat Toto, nama samaran, terkejut. Nomor yang tertera tidak diketahui.…

Sabtu, 18 November 2017 07:38

Biaya Umrah Lebih Murah

BALIKPAPAN  –   Angkasa Pura (AP) I tak ingin terlalu jauh terlibat dalam polemik…

Sabtu, 18 November 2017 07:34

Dipindah ke RSCM, Wajah Setnov Mulus

JAKARTA  –  Tersangka kasus kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) Setya Novanto tidak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .