MANAGED BY:
JUMAT
27 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 21 April 2017 09:54
Dahlan dan “Musuh Besarnya”

PROKAL.CO, CATATAN: RHENALD KASALI (*)

DI media ini, saya pernah menulis kolom tentang para pemimpin yang “gila”. Misalnya, ada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang saya sebut “gila taman”. Apa jadinya Surabaya yang panas tanpa taman-taman kota yang tertata apik? Membosankan!

Lalu, ada Jusuf SK, mantan wali kota Tarakan–saat masih gabung Kaltim– yang saya sebut “gila lampu dan trotoar”. Selama memimpin Tarakan, Jusuf banyak membangun trotoar yang dilengkapi dengan lampu-lampu penerangan jalan. Walhasil, malam hari Tarakan pun menjadi terang benderang. Jusuf ingin Tarakan menjadi seperti Singapura.

Ada Fadel Muhammad, mantan Gubernur Gorontalo yang saya sebut “gila jagung”. Fadel, dengan visinya, menjadikan Provinsi Gorontalo sebagai lumbung dan sekaligus eksportir jagung terbesar di Indonesia.

Semasa masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo suka sekali blusukan. Maka, saya menyebutnya “gila blusukan”. Setelah menjadi Presiden Ketujuh RI pun Jokowi belum sepenuhnya meninggalkan kebiasaannya untuk blusukan–meski tak sesering dulu semasa dia masih menjadi gubernur.

Negara kita memerlukan pemimpin yang “gila” seperti mereka. Bukan hanya pada level wali kota/bupati atau gubernur, tetapi bahkan lebih ke atas lagi. Misalnya, setingkat menteri.

Bicara soal ini, saya terkenang dengan seorang menteri. Namanya Dahlan Iskan. Dia menjabat menteri BUMN dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Semasa menjabat, saya menyebut Dahlan sebagai menteri yang “gila kerja”.

Sebutan itu bukan semata-mata karena Dahlan memang suka sekali bekerja. Memang Dahlan kerap sampai lupa waktu kalau sudah bekerja, sehingga kita bisa menyebutnya gila kerja. Slogan ini kelak diadopsi oleh Presiden Jokowi dengan kerja, kerja, kerja!

Namun, lebih dari itu, gaya dan cara kerja Dahlan yang serbacepat kerap membuat bawahannya pontang-panting. Persis seperti orang gila.

MENCARI TEROBOSAN

Sebagai pengusaha, cara kerja Dahlan kerap dianggap melompat-lompat, bergantung kebutuhan karena terjadi sumbatan-sumbatan pembangunan. Belum selesai urusan yang satu, dia sudah dipaksa pindah ke urusan yang lain. Seperti  pengusaha lain. Maka mereka butuh manajer yang andal. Di birokrasi manajer amat langka, yang ada adalah birokrat yang sayangnya amat lamban.

Orang seperti Pak Dahlan, dalam ilmu manajemen kita sebut sebagai penyandang helicopter view. Mereka tak perlu masuk sampai ke urusan yang terlalu teknis dan detail. Itu biar diurus oleh para eksekutifnya.

Para pengusaha, kalau ada urusan yang macet, mereka suka mencari terobosan. Dahlan juga begitu. Misalnya, sebagai menteri BUMN, dia melihat jalur komunikasi sesama CEO perusahaan pelat merah, ternyata macet. Mereka tak saling kenal satu sama lain. Kalau sudah begini, bagaimana BUMN mau bersinergi?

Guna menerobos jalur yang macet ini, Dahlan mengundang para CEO BUMN untuk rapat koordinasi mingguan. Lokasinya digilir di kantor-kantor pusat BUMN dan rapatnya selalu pagi hari, pukul 07.00. Kalau minggu ini rapatnya di kantor pusat Garuda Indonesia, minggu depannya pindah ke kantor BUMN lain. Begitu seterusnya. Dengan cara seperti ini, akhirnya, para CEO BUMN pun menjadi saling kenal.

Lalu, karena ketika itu yang sedang tren adalah BlackBerry (BB), Dahlan pun menggagas grup BBM untuk para CEO BUMN. Jadi, rapat-rapat atau pengambilan keputusan tak harus dilakukan di ruang rapat. Cukup lewat grup BBM. Walhasil, sinergi pun mulai terbangun.

NEGERI SOP

“Musuh besar” pengusaha gila kerja dan suka kerja cepat adalah birokrasi yang lengkap dengan standard operating procedure (SOP) yang kaku. Itu ibarat gas dengan rem. Kalau jalanan macet, gas dan rem memang bisa dimainkan secara proporsional. Tapi, kalau jalanan tidak macet dan remnya terus diinjak, kita pun jengkel. Sayangnya, kita lebih percaya integritas itu sebagai bagian dari kekuatan, padahal dunia sendiri sudah membangun konsep kegesitan yang berkebalikan.

Dahlan, saya kira, menghadapi situasi yang semacam ini. Kantornya, baik selama dia menjadi dirut PLN atau menteri BUMN, sama-sama berisi birokrat. Padahal, sebagai entrepreneur, Dahlan perlu ditemani dengan intrapreneur (entrepreneurship dalam perusahaan).

Di luar itu tentunya ada pertimbangan yang lebih besar, yakni kepentingan untuk kemaslahatan masyarakat.

Pertimbangan seperti inilah yang akhirnya bisa membuat Dahlan kena jerat dalam kasus pembangunan 21 gardu induk listrik. Siapa pemimpin yang tahan mendengar rakyatnya setiap hari mengeluh dengan listrik yang biarpet alias mati hidup. Maaf, persisnya lebih banyak matinya ketimbang hidupnya.  Sudah banyak yang mempersulit, alamak, mafianya minta ampun.

Negeri kita masih mendewa-dewakan SOP. Dalam banyak hal, ini celakanya, SOP kerap saling kait-mengait sejumlah aspek, termasuk kepentingan atau sakit hati. Misalnya, SOP kerap digunakan untuk mencari-cari kesalahan. Walhasil, kerap hal yang lebih besar dikalahkan oleh kepentingan yang lebih kecil.

Keberpihakan semacam ini ternyata harganya bisa sangat mahal. Harga itulah yang kini harus dibayar oleh Dahlan. Bukan hanya untuk kasus gardu induk, melainkan juga kasus-kasus lain, seperti yang tengah dia hadapi di Jawa Timur.

Saya sama sekali tidak percaya kalau Dahlan Iskan didakwa melakukan korupsi atau memperkaya diri sendiri. Dia sudah kaya. Bahwa dia menabrak SOP, mungkin saja. Tapi, kalau itu untuk kepentingan yang lebih besar, apa salahnya? Hidup di negeri yang mendewa-dewakan SOP membuat kita sering tak bisa menjawab pertanyaan tadi. Maka, jadilah kita hanya bisa mengurut dada. Kok bisa! (far/k8)

(*) Akademisi dan praktisi bisnis


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 08:17

Satu Tahun Menyongsong Pemilu Serentak

OLEH: NOOR THOHA SPD SH(Ketua KPU Kota Balikpapan) SATU tahun menyongsong pemilihan umum legislatif…

Senin, 16 April 2018 08:20

Membela Minoritas

OLEH: ARIFUL AMIN BILA kita mencermati perkembangan sosial masyarakat baik di media sosial maupun di…

Sabtu, 14 April 2018 06:00

Menjamin Perlindungan Perempuan dan Anak di Kaltim, Siapa Berani?

OLEH: SUWARDI SAGAMA SH MH(Ketua Program Studi Hukum Tata Negara/Siyasah)IAIN Samarinda PERHELATAN pilkada…

Kamis, 12 April 2018 08:20

Konde Versus Cadar, Polemik Puisi Sukmawati

Oleh: Rusdi Abdullah Minda, MSI, Dosen IAIN Samarinda KASUS kontroversi kembali terjadi. Beberapa hari…

Rabu, 11 April 2018 09:25

Isra Mikraj, Tragedi Teluk, dan Banjir

CATATAN: BAMBANG ISWANTO* ADA tiga peristiwa pada Rajab 1439 H, yakni peringatan Isra Mikraj, tragedi…

Rabu, 11 April 2018 08:35

Profesionalisme Kepala Sekolah

OLEH: NOOR AIDAWATI, M.PD.(Guru SMK 1 Samarinda) KEPALA sekolah adalah orang yang diberi wewenang dan…

Rabu, 11 April 2018 07:26

Konsekuensi Revolusi Industri (2-Habis)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) MENANGGAPI revolusi industri…

Selasa, 10 April 2018 08:16

Jika Sungai Mahakam Tanpa Ikan

Oleh: Etik Sulistiowati Ningsih SP MSi(Lecture and Enumerator Unmul Samarinda) MENYUSUR sepanjang Sungai…

Selasa, 10 April 2018 07:05

Konsekuensi Revolusi Industri (1)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) WALAU isunya sudah sedikit…

Minggu, 08 April 2018 07:55

Ketimpangan Akses Informasi Kesehatan

CATATAN: dr DANIAL* BEBERAPA waktu lalu, kesedihan menimpa seorang kerabat penulis. Betapa tidak, sang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .