MANAGED BY:
JUMAT
28 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 21 April 2017 09:37
Kami Bukan Barang!

Objektifikasi perempuan bukanlah hal yang pantas

model : ayu rezalina dan jeremy ricardo irino fotografer : hilmi/zetizen team, ilustrasi : fikri/zetizen team

PROKAL.CO, class="WW-Default">SELAMAT Hari Kartini! Raden Adjeng Kartini emang jadi salah seorang pahlawan emansipasi perempuan. Kini, berkat perjuangannya, perempuan bisa lebih bebas berkarya dan bersuara. Nah, pada zaman kesetaraan gender banyak disuarakan seperti sekarang, ternyata justru timbul pertanyaan baru. Yap, apakah perempuan udah mendapatkan perlindungan dan kehormatan seperti yang juga diperjuangkan Kartini dulu?

Kenyataannya, sejak zaman penjajahan hingga sekarang, kehormatan perempuan belum dihargai sepenuhnya. Lebih parahnya, masih ada orang yang menganggap perempuan hanya sebuah objek atau benda yang dapat dinilai, dipertaruhkan, bahkan dipermainkan. Contoh sederhananya adalah perilaku membanding-bandingkan perempuan secara fisik layaknya sebuah barang tanpa menghargai perasaannya.

Nah, buat cewek, pernah nggak sih ngerasa risi saat jalan di depan kerumunan laki-laki yang kemudian menggodamu? Pasti kalian pernah merasa waswas dan nggak nyaman saat hal tersebut terjadi. Yap, itulah salah satu bentuk objektifikasi yang dikenal dengan istilah catcalling. Siulan, panggilan, atau komentar yang mengarah ke fisik merupakan bentuk objektifikasi perempuan yang jarang disadari.

Bukan hanya itu, pada zaman yang makin canggih ini, objektifikasi bisa dilakukan melalui media online. Adanya grup chat di media sosial membuat kaum laki-laki lebih leluasa membahas detail soal perempuan. Buktinya, 43 persen Zetizen cowok punya grup chat khusus cowok. Sebanyak 25 persen Zetizen di antaranya sering membahas perempuan. Mulai fisik hingga membanding-bandingkan dengan perempuan lain.

So, apa sih yang mengakibatkan laki-laki cenderung suka mengobjektifikasi perempuan? Yap, ada kondisi biologis yang berperan dalam tindakan laki-laki saat menjadikan perempuan sebagai objek. Secara kinerja otak, laki-laki lebih mudah terstimulasi melalui visual. Rangsangan visual itu memicu produksi hormon testosteron yang dimiliki pria.

’’Pria cenderung mudah terangsang jika melihat perempuan yang berpenampilan menarik. Rangsangan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk verbal,’’ ujar psikolog Gartinia Nurcholis SPsi MPsi.

Selain itu, ada beberapa faktor yang mendukung pria melakukan tindakan objektifikasi kepada perempuan. Menurut Gartinia, laki-laki pada dasarnya memiliki ego lebih tinggi dan selalu ingin dihargai atas apa yang dimiliki. ’’Laki-laki memiliki hormon adrenalin yang lebih tinggi daripada perempuan. Jadi, laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat. Kekuatan fisik yang menonjol itulah yang kerap menjadikan ego lelaki lebih tinggi,’’ tuturnya.

Meski wajar, perilaku tersebut berbahaya jika dibenarkan dalam kehidupan sehari-hari. Bakal muncul pemakluman terhadap perilaku objektifikasi perempuan. Buat perempuan, hal tersebut berbahaya karena pelecehan verbal dapat menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi pelecehan fisik.

Gartinia menuturkan, perilaku seperti itu bisa diatasi agar nggak tumbuh menjadi kebiasaan buruk. ’’Cara meng-handle-nya bisa dimulai dari pola pikir dan kesadaran individu untuk nggak membiasakan perbuatannya dalam mengobjektifikasi perempuan,’’ ujarnya.

Selain itu, seorang laki-laki wajib tegas terhadap diri sendiri untuk nggak bergabung dengan lingkungan yang kurang sehat. Yap, as we know, perilaku objektifikasi perempuan sering kali terjadi karena lingkungan dan inner circle para lelaki tersebut melakukan hal yang sama.

Walau bukan hal mudah, menghargai perempuan bisa dibiasakan kok. Salah satunya udah diterapkan salah seorang Zetizen, Bryan Ramadhana, 17. Menurut dia, objektifikasi perempuan nggak bisa serta-merta dianggap wajar.

’’Menurutku, perbuatan seperti itu emang beneran negatif. Nggak seharusnya perempuan jadi bahan objektifikasi. Orang yang melakukan objektifikasi emang keterlaluan. Meski ada kondisi biologis yang mendukung pria mengobjek perempuan, seharusnya mereka lebih memilih untuk meng-handle-nya,’’ ucap Bryan. Well, girls are not an object so try to respect them! (abs/c22/als)


BACA JUGA

Selasa, 25 April 2017 09:30

Rolling is Me

SAKITNYA terjatuh saat bermain sepatu roda, serta letihnya badan melawan terik matahari enggak bisa…

Selasa, 25 April 2017 09:27

Welcome Back, Tamagotchi

YEAY, the legend is back! Siapa sih generasi 90-an yang enggak kenal sama game satu ini? Sempat hilang…

Selasa, 25 April 2017 09:23

Cinta Seni, Kunjungi Galeri

BUAT para pencinta seni, mengunjungi galeri seni merupakan hiburan tersendiri. Melihat sebuah karya…

Selasa, 25 April 2017 09:20

Galeri Seni di Mata Zetizen

PERKEMBANGAN seni mulai meningkat di kalangan anak muda. Apalagi bagi mereka yang memiliki jiwa artsy.…

Senin, 24 April 2017 08:54

Hiphop Never Stop

HIPHOP memang enggak ada matinya. Enggak cuma genre musik yang terus melejit, style-nya pun enggak pernah…

Senin, 24 April 2017 08:41

Maksimalkan Kreativitas pada Acara HUT Sekolah

Oleh: Riska Widya Saputri - MAN 2 Samarinda PEKAN lalu tepatnya 20 April, sekolahku mengadakan acara…

Senin, 24 April 2017 08:38

Balikan Yuk!!!

BAYANGAN mantan itu ibarat tugas Matematika yang selalu menghantui pikiran. Pergi ke tempat makan favorit…

Senin, 24 April 2017 08:33

Bangun Perpustakaan dengan Semangat Kolektif

’’OUR word is our weapon,’’ tulis Subcomandante Marcos, pemimpin gerakan revolusi…

Senin, 24 April 2017 08:29

Bukan Sekadar Perpustakaan

SELAIN berperan sebagai kanal distribusi informasi, C2O Library & Collabtive aktif dalam berbagai…

Senin, 24 April 2017 08:26

What Zetizen Says

DI era serba internet ini, pengetahuan dapat diakses dengan mudah lewat search engine. Meski begitu,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .