MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 21 April 2017 09:37
Kami Bukan Barang!

Objektifikasi perempuan bukanlah hal yang pantas

model : ayu rezalina dan jeremy ricardo irino fotografer : hilmi/zetizen team, ilustrasi : fikri/zetizen team

PROKAL.CO, class="WW-Default">SELAMAT Hari Kartini! Raden Adjeng Kartini emang jadi salah seorang pahlawan emansipasi perempuan. Kini, berkat perjuangannya, perempuan bisa lebih bebas berkarya dan bersuara. Nah, pada zaman kesetaraan gender banyak disuarakan seperti sekarang, ternyata justru timbul pertanyaan baru. Yap, apakah perempuan udah mendapatkan perlindungan dan kehormatan seperti yang juga diperjuangkan Kartini dulu?

Kenyataannya, sejak zaman penjajahan hingga sekarang, kehormatan perempuan belum dihargai sepenuhnya. Lebih parahnya, masih ada orang yang menganggap perempuan hanya sebuah objek atau benda yang dapat dinilai, dipertaruhkan, bahkan dipermainkan. Contoh sederhananya adalah perilaku membanding-bandingkan perempuan secara fisik layaknya sebuah barang tanpa menghargai perasaannya.

Nah, buat cewek, pernah nggak sih ngerasa risi saat jalan di depan kerumunan laki-laki yang kemudian menggodamu? Pasti kalian pernah merasa waswas dan nggak nyaman saat hal tersebut terjadi. Yap, itulah salah satu bentuk objektifikasi yang dikenal dengan istilah catcalling. Siulan, panggilan, atau komentar yang mengarah ke fisik merupakan bentuk objektifikasi perempuan yang jarang disadari.

Bukan hanya itu, pada zaman yang makin canggih ini, objektifikasi bisa dilakukan melalui media online. Adanya grup chat di media sosial membuat kaum laki-laki lebih leluasa membahas detail soal perempuan. Buktinya, 43 persen Zetizen cowok punya grup chat khusus cowok. Sebanyak 25 persen Zetizen di antaranya sering membahas perempuan. Mulai fisik hingga membanding-bandingkan dengan perempuan lain.

So, apa sih yang mengakibatkan laki-laki cenderung suka mengobjektifikasi perempuan? Yap, ada kondisi biologis yang berperan dalam tindakan laki-laki saat menjadikan perempuan sebagai objek. Secara kinerja otak, laki-laki lebih mudah terstimulasi melalui visual. Rangsangan visual itu memicu produksi hormon testosteron yang dimiliki pria.

’’Pria cenderung mudah terangsang jika melihat perempuan yang berpenampilan menarik. Rangsangan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk verbal,’’ ujar psikolog Gartinia Nurcholis SPsi MPsi.

Selain itu, ada beberapa faktor yang mendukung pria melakukan tindakan objektifikasi kepada perempuan. Menurut Gartinia, laki-laki pada dasarnya memiliki ego lebih tinggi dan selalu ingin dihargai atas apa yang dimiliki. ’’Laki-laki memiliki hormon adrenalin yang lebih tinggi daripada perempuan. Jadi, laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat. Kekuatan fisik yang menonjol itulah yang kerap menjadikan ego lelaki lebih tinggi,’’ tuturnya.

Meski wajar, perilaku tersebut berbahaya jika dibenarkan dalam kehidupan sehari-hari. Bakal muncul pemakluman terhadap perilaku objektifikasi perempuan. Buat perempuan, hal tersebut berbahaya karena pelecehan verbal dapat menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi pelecehan fisik.

Gartinia menuturkan, perilaku seperti itu bisa diatasi agar nggak tumbuh menjadi kebiasaan buruk. ’’Cara meng-handle-nya bisa dimulai dari pola pikir dan kesadaran individu untuk nggak membiasakan perbuatannya dalam mengobjektifikasi perempuan,’’ ujarnya.

Selain itu, seorang laki-laki wajib tegas terhadap diri sendiri untuk nggak bergabung dengan lingkungan yang kurang sehat. Yap, as we know, perilaku objektifikasi perempuan sering kali terjadi karena lingkungan dan inner circle para lelaki tersebut melakukan hal yang sama.

Walau bukan hal mudah, menghargai perempuan bisa dibiasakan kok. Salah satunya udah diterapkan salah seorang Zetizen, Bryan Ramadhana, 17. Menurut dia, objektifikasi perempuan nggak bisa serta-merta dianggap wajar.

’’Menurutku, perbuatan seperti itu emang beneran negatif. Nggak seharusnya perempuan jadi bahan objektifikasi. Orang yang melakukan objektifikasi emang keterlaluan. Meski ada kondisi biologis yang mendukung pria mengobjek perempuan, seharusnya mereka lebih memilih untuk meng-handle-nya,’’ ucap Bryan. Well, girls are not an object so try to respect them! (abs/c22/als)


BACA JUGA

Minggu, 19 November 2017 07:15

PUBERTAS KIAN LEKAS

SEMUA orang pasti pernah dan bakal mengalami pubertas. Tapi, kalau diamati lebih jauh, pubertas ternyata…

Minggu, 19 November 2017 07:06

Cerita Dua Generasi

ZAMAN dan perkembangan teknologi terus berubah. Mau nggak mau, kondisi masyarakat yang hidup di dalamnya…

Sabtu, 18 November 2017 07:11

Enggak Sabar Melihat Rumah Hobbiton

Sudah kenal dengan Che Che Mile Fironike? Yap, cewek manis kelahiran Berau ini adalah Alpha Zetizen…

Jumat, 17 November 2017 08:59

Bersuara untuk Kabupaten Layak Anak

SEENGGAKNYA ada 31 hak anak yang harus semuanya terpenuhi. Namun, masih banyak anak-anak yang haknya…

Kamis, 16 November 2017 09:21

Ciptakan Jiwa Pendekar

MENS sana in corpore sano. Di dalam tubuh kuat terdapat jiwa yang sehat. Let’s meet Persaudaraan…

Kamis, 16 November 2017 09:19

On Time? It’s A Must!

ADA beberapa alasan mengapa tepat waktu itu penting. Salah satunya untuk mempermudah diri dalam sebuah…

Kamis, 16 November 2017 09:17

Terus Berlatih Raih Kemenangan

SEBAGAI cewek yang enggak bisa diam, Sukmalia Aritonang mengungkapkan jika basket merupakan olahraga…

Kamis, 16 November 2017 09:13

Guilty Pleasure Food

TIAP orang punya guilty pleasure-nya sendiri. Perasaan bersalah melakukan sesuatu oleh sebagian besar…

Kamis, 16 November 2017 09:10

Ghosting

EITS, fenomena ghosting enggak ada hubungannya dengan makhluk halus meski kadar seramnya setara, he-he.…

Kamis, 16 November 2017 09:05

How to Deal

MEMILIKI pacar atau gebetan yang suka hilang tiba-tiba bak ditelan bumi pastinya membuat kita galau.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .