MANAGED BY:
RABU
26 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 21 April 2017 09:37
Kami Bukan Barang!

Objektifikasi perempuan bukanlah hal yang pantas

model : ayu rezalina dan jeremy ricardo irino fotografer : hilmi/zetizen team, ilustrasi : fikri/zetizen team

PROKAL.CO, class="WW-Default">SELAMAT Hari Kartini! Raden Adjeng Kartini emang jadi salah seorang pahlawan emansipasi perempuan. Kini, berkat perjuangannya, perempuan bisa lebih bebas berkarya dan bersuara. Nah, pada zaman kesetaraan gender banyak disuarakan seperti sekarang, ternyata justru timbul pertanyaan baru. Yap, apakah perempuan udah mendapatkan perlindungan dan kehormatan seperti yang juga diperjuangkan Kartini dulu?

Kenyataannya, sejak zaman penjajahan hingga sekarang, kehormatan perempuan belum dihargai sepenuhnya. Lebih parahnya, masih ada orang yang menganggap perempuan hanya sebuah objek atau benda yang dapat dinilai, dipertaruhkan, bahkan dipermainkan. Contoh sederhananya adalah perilaku membanding-bandingkan perempuan secara fisik layaknya sebuah barang tanpa menghargai perasaannya.

Nah, buat cewek, pernah nggak sih ngerasa risi saat jalan di depan kerumunan laki-laki yang kemudian menggodamu? Pasti kalian pernah merasa waswas dan nggak nyaman saat hal tersebut terjadi. Yap, itulah salah satu bentuk objektifikasi yang dikenal dengan istilah catcalling. Siulan, panggilan, atau komentar yang mengarah ke fisik merupakan bentuk objektifikasi perempuan yang jarang disadari.

Bukan hanya itu, pada zaman yang makin canggih ini, objektifikasi bisa dilakukan melalui media online. Adanya grup chat di media sosial membuat kaum laki-laki lebih leluasa membahas detail soal perempuan. Buktinya, 43 persen Zetizen cowok punya grup chat khusus cowok. Sebanyak 25 persen Zetizen di antaranya sering membahas perempuan. Mulai fisik hingga membanding-bandingkan dengan perempuan lain.

So, apa sih yang mengakibatkan laki-laki cenderung suka mengobjektifikasi perempuan? Yap, ada kondisi biologis yang berperan dalam tindakan laki-laki saat menjadikan perempuan sebagai objek. Secara kinerja otak, laki-laki lebih mudah terstimulasi melalui visual. Rangsangan visual itu memicu produksi hormon testosteron yang dimiliki pria.

’’Pria cenderung mudah terangsang jika melihat perempuan yang berpenampilan menarik. Rangsangan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk verbal,’’ ujar psikolog Gartinia Nurcholis SPsi MPsi.

Selain itu, ada beberapa faktor yang mendukung pria melakukan tindakan objektifikasi kepada perempuan. Menurut Gartinia, laki-laki pada dasarnya memiliki ego lebih tinggi dan selalu ingin dihargai atas apa yang dimiliki. ’’Laki-laki memiliki hormon adrenalin yang lebih tinggi daripada perempuan. Jadi, laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat. Kekuatan fisik yang menonjol itulah yang kerap menjadikan ego lelaki lebih tinggi,’’ tuturnya.

Meski wajar, perilaku tersebut berbahaya jika dibenarkan dalam kehidupan sehari-hari. Bakal muncul pemakluman terhadap perilaku objektifikasi perempuan. Buat perempuan, hal tersebut berbahaya karena pelecehan verbal dapat menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi pelecehan fisik.

Gartinia menuturkan, perilaku seperti itu bisa diatasi agar nggak tumbuh menjadi kebiasaan buruk. ’’Cara meng-handle-nya bisa dimulai dari pola pikir dan kesadaran individu untuk nggak membiasakan perbuatannya dalam mengobjektifikasi perempuan,’’ ujarnya.

Selain itu, seorang laki-laki wajib tegas terhadap diri sendiri untuk nggak bergabung dengan lingkungan yang kurang sehat. Yap, as we know, perilaku objektifikasi perempuan sering kali terjadi karena lingkungan dan inner circle para lelaki tersebut melakukan hal yang sama.

Walau bukan hal mudah, menghargai perempuan bisa dibiasakan kok. Salah satunya udah diterapkan salah seorang Zetizen, Bryan Ramadhana, 17. Menurut dia, objektifikasi perempuan nggak bisa serta-merta dianggap wajar.

’’Menurutku, perbuatan seperti itu emang beneran negatif. Nggak seharusnya perempuan jadi bahan objektifikasi. Orang yang melakukan objektifikasi emang keterlaluan. Meski ada kondisi biologis yang mendukung pria mengobjek perempuan, seharusnya mereka lebih memilih untuk meng-handle-nya,’’ ucap Bryan. Well, girls are not an object so try to respect them! (abs/c22/als)


BACA JUGA

Selasa, 25 Juli 2017 09:55

Ciptakan Terobosan Baru di Bidang Peternakan

Oleh: Pandu Dharma Wicaksono - Universitas Gadjah Mada Jogjakarta BAGIKU, saat ini bukan lagi zamannya…

Selasa, 25 Juli 2017 09:52

Memilih Aktif Berkontribusi untuk Alam

DENGAN berbagai prestasi dan partisipasi dalam kegiatan lingkungan, aku berharap dapat menularkan aksi…

Selasa, 25 Juli 2017 09:46

Show Us Your Compassion

BARU-baru ini dunia dikejutkan dengan berita meninggalnya vokalis Linkin Park akibat suicide. Do you…

Selasa, 25 Juli 2017 09:40

Multitasking: Let's Do It Right

NGERJAIN PR sambil dengar lagu dan scrolling down feed Instagram, eh tiba-tiba chat dari doi masuk.…

Selasa, 25 Juli 2017 09:36

Membantu Enggak, Sih?

Dede Arfiansyah Institut Teknologi Kalimantan Hape Jadi Korban “Dulu pernah hampir kecelakaan…

Selasa, 25 Juli 2017 09:33

Cara Efektifnya

MULTITASKING isn't a bad thing if we do it right. Yap, dengan tahu cara memaksimalkannya, kita bakal…

Senin, 24 Juli 2017 10:14

From Basic To Terrific

SEBAGAI mahasiswa baru, pasti pengin memiliki pengalaman yang enggak terlupakan di kampus. Apalagi kenangan…

Senin, 24 Juli 2017 10:11

Let’s Make Friends!

HI, guys! Gimana nih, pengalaman MPLS di sekolah? Untuk si introvert, masa-masa penerimaan siswa baru…

Senin, 24 Juli 2017 10:09

Ekskul Seru di Sekolah Baru

TAHUN ajaran baru bakal jadi momen yang sangat spesial. Rutinitas harian jadi lebih menyenangkan dengan…

Senin, 24 Juli 2017 10:06

Nongkrong: Quality Time atau Kejar Eksistensi?

SADAR enggak sih, akahir-akhir ini nongkrong udah menjadi lifestyle tersendiri, terutama bagi anak muda?…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .