MANAGED BY:
JUMAT
25 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 21 April 2017 09:37
Kami Bukan Barang!

Objektifikasi perempuan bukanlah hal yang pantas

model : ayu rezalina dan jeremy ricardo irino fotografer : hilmi/zetizen team, ilustrasi : fikri/zetizen team

PROKAL.CO, class="WW-Default">SELAMAT Hari Kartini! Raden Adjeng Kartini emang jadi salah seorang pahlawan emansipasi perempuan. Kini, berkat perjuangannya, perempuan bisa lebih bebas berkarya dan bersuara. Nah, pada zaman kesetaraan gender banyak disuarakan seperti sekarang, ternyata justru timbul pertanyaan baru. Yap, apakah perempuan udah mendapatkan perlindungan dan kehormatan seperti yang juga diperjuangkan Kartini dulu?

Kenyataannya, sejak zaman penjajahan hingga sekarang, kehormatan perempuan belum dihargai sepenuhnya. Lebih parahnya, masih ada orang yang menganggap perempuan hanya sebuah objek atau benda yang dapat dinilai, dipertaruhkan, bahkan dipermainkan. Contoh sederhananya adalah perilaku membanding-bandingkan perempuan secara fisik layaknya sebuah barang tanpa menghargai perasaannya.

Nah, buat cewek, pernah nggak sih ngerasa risi saat jalan di depan kerumunan laki-laki yang kemudian menggodamu? Pasti kalian pernah merasa waswas dan nggak nyaman saat hal tersebut terjadi. Yap, itulah salah satu bentuk objektifikasi yang dikenal dengan istilah catcalling. Siulan, panggilan, atau komentar yang mengarah ke fisik merupakan bentuk objektifikasi perempuan yang jarang disadari.

Bukan hanya itu, pada zaman yang makin canggih ini, objektifikasi bisa dilakukan melalui media online. Adanya grup chat di media sosial membuat kaum laki-laki lebih leluasa membahas detail soal perempuan. Buktinya, 43 persen Zetizen cowok punya grup chat khusus cowok. Sebanyak 25 persen Zetizen di antaranya sering membahas perempuan. Mulai fisik hingga membanding-bandingkan dengan perempuan lain.

So, apa sih yang mengakibatkan laki-laki cenderung suka mengobjektifikasi perempuan? Yap, ada kondisi biologis yang berperan dalam tindakan laki-laki saat menjadikan perempuan sebagai objek. Secara kinerja otak, laki-laki lebih mudah terstimulasi melalui visual. Rangsangan visual itu memicu produksi hormon testosteron yang dimiliki pria.

’’Pria cenderung mudah terangsang jika melihat perempuan yang berpenampilan menarik. Rangsangan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk verbal,’’ ujar psikolog Gartinia Nurcholis SPsi MPsi.

Selain itu, ada beberapa faktor yang mendukung pria melakukan tindakan objektifikasi kepada perempuan. Menurut Gartinia, laki-laki pada dasarnya memiliki ego lebih tinggi dan selalu ingin dihargai atas apa yang dimiliki. ’’Laki-laki memiliki hormon adrenalin yang lebih tinggi daripada perempuan. Jadi, laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat. Kekuatan fisik yang menonjol itulah yang kerap menjadikan ego lelaki lebih tinggi,’’ tuturnya.

Meski wajar, perilaku tersebut berbahaya jika dibenarkan dalam kehidupan sehari-hari. Bakal muncul pemakluman terhadap perilaku objektifikasi perempuan. Buat perempuan, hal tersebut berbahaya karena pelecehan verbal dapat menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi pelecehan fisik.

Gartinia menuturkan, perilaku seperti itu bisa diatasi agar nggak tumbuh menjadi kebiasaan buruk. ’’Cara meng-handle-nya bisa dimulai dari pola pikir dan kesadaran individu untuk nggak membiasakan perbuatannya dalam mengobjektifikasi perempuan,’’ ujarnya.

Selain itu, seorang laki-laki wajib tegas terhadap diri sendiri untuk nggak bergabung dengan lingkungan yang kurang sehat. Yap, as we know, perilaku objektifikasi perempuan sering kali terjadi karena lingkungan dan inner circle para lelaki tersebut melakukan hal yang sama.

Walau bukan hal mudah, menghargai perempuan bisa dibiasakan kok. Salah satunya udah diterapkan salah seorang Zetizen, Bryan Ramadhana, 17. Menurut dia, objektifikasi perempuan nggak bisa serta-merta dianggap wajar.

’’Menurutku, perbuatan seperti itu emang beneran negatif. Nggak seharusnya perempuan jadi bahan objektifikasi. Orang yang melakukan objektifikasi emang keterlaluan. Meski ada kondisi biologis yang mendukung pria mengobjek perempuan, seharusnya mereka lebih memilih untuk meng-handle-nya,’’ ucap Bryan. Well, girls are not an object so try to respect them! (abs/c22/als)


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 07:02

Yuk, Ngabuburit!

SALAH satu suasana Ramadan yang enggak dirasakan di bulan-bulan lainnya adalah momen-momen ketika ngabuburit…

Kamis, 24 Mei 2018 07:00

Diet Sehat saat Puasa

BANYAK yang beranggapan, saat puasa berat badan akan turun dengan sendirinya. Well, enggak selamanya…

Rabu, 23 Mei 2018 07:11

Headpiece Ruled the World

’’Hat making has been around since the beginning of time; it's part of every culture.’’…

Rabu, 23 Mei 2018 07:04

Tidak Kalah dari Desainer Luar

KESUKSESAN Rinaldy Yunardi pada Met Gala 2018 membuktikan bahwa kemampuan desainer dalam negeri nggak…

Rabu, 23 Mei 2018 07:02

Akrab dengan Alquran sejak Kecil

BAGI Nurlinda Fitriani, Alquran sudah menjadi bagian hidup yang enggak bisa dipisahkan. Cewek cantik…

Rabu, 23 Mei 2018 06:59

Mengoptimalkan Syiar dengan Pertunjukan Teater Sejarah Islam

MENURUT Naufal Derian, salah satu anggota Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Fatihah Politeknik Negeri Balikpapan…

Rabu, 23 Mei 2018 06:55

Aktor Indonesia Kembali Bikin Bangga

SETELAH Iko Uwais menorehkan namanya sebagai salah satu pemerandi film Hollywood berjudul Mile 22, kini…

Rabu, 23 Mei 2018 06:52

Hobi Murah Sewaktu di Rumah

SEBENTAR lagi libur panjang nih. Kalau udah ada side job atau mau pergi traveling sih enak. Tapi, kalau…

Senin, 21 Mei 2018 06:56

Dear Senior, I Love You

PESONA senior emang selalu menarik perhatian para junior. Apalagi ketika masa orientasi siswa (MOS).…

Senin, 21 Mei 2018 06:49

Curi Simpati ala Aluna

BERAMBUT panjang, ceria, dan cerewet adalah karakter khas Aluna, si tokoh utama buku Senior dan Inestable.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .