MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

BALIKPAPAN

Jumat, 21 April 2017 09:12
Perempuan Pertama di Sekolah Pilot Filipina

Rachel Eleeza Coloay, Mengejar Mimpi Jadi Nakhoda Burung Besi

Rachel Eleeza Coloay

PROKAL.CO, SEKITAR enam bulan terakhir, Rachel Eleeza Coloay berada di Filipina, negara yang terkenal dengan lumbung padi. Dia terpisah ribuan kilometer dari kota kelahirannya, Balikpapan.  Di sana, perempuan cantik ini sibuk menjalani masa pendidikan di sebuah akademi pilot, Eagle Air Academy Philippines.

Kepada Kaltim Post, perempuan dengan gelar Wakil II Duta Wisata Balikpapan 2016 itu bercerita seputar perjalanannya sampai ke Filipina. Sembari mengingat cita-cita masa kecil, Rachel sesungguhnya punya keinginan besar untuk masuk dalam dunia militer. Tepatnya sebagai personel TNI Angkatan Udara (AU).

Tak heran, ketika SMA dirinya aktif tergabung dalam tim Paskibraka. Bahkan, Rachel menembus jadi Paskibraka Nasional di Istana Kepresidenan 2014 lalu. Dia sangat menyukai semua kegiatan yang berhubungan dengan militer. Sayang, setelah lulus SMA, keinginan masuk militer itu terhalang usia.

"Sempat kecewa karena mau daftar tapi usia belum saya belum cukup, waktu itu masih usia 16 tahun. Padahal minimal syarat usia 18 tahun," ungkapnya. Jadi, setelah merampungkan pendidikan SMA, Rachel tidak ada pikiran untuk kuliah. Justru dirinya menyibukkan diri dengan kegiatan Puslatda PON 2016. Gadis multitalenta itu sejak 2012 aktif sebagai atlet selam Kaltim.

Dalam masa-masa tersebut, Rachel terpikirkan untuk mengambil pendidikan pilot. “Alasannya, saya pikir sekolah pilot tidak membutuhkan waktu lama. Apalagi saya cukup tomboi, suka profesi di lapangan. Kemudian pilot juga masih berhubungan dengan dunia penerbangan sesuai keinginan dulu masuk TNI AU," urainya.

Menariknya, gadis berzodiak aquarius itu memilih untuk sekolah penerbangan di Filipina. Informasi tersebut dia dapat bermodal hasil berselancar di dunia maya. Kemudian, Rachel berkomunikasi dengan salah satu siswa yang telah menjalani pendidikan di sana. Keputusan menjadi pilot cukup mengejutkan. Termasuk bagi kedua orangtuanya. Apalagi tidak ada background keluarga yang pernah bekerja di bidang penerbangan.

Namun, Rachel bersyukur, keluarganya mendukung penuh pilihan itu. Meski begitu, Rachel mengatakan sempat hopeless dengan keinginan itu. Mengingat biaya yang tidak sedikit untuk menjalani pendidikan pilot. Setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 800 juta. ”Orangtua tetap berusaha mencari jalan agar saya mampu menjalani pendidikan ini. Walaupun orangtua tidak pernah show off sulitnya mencari dana itu, berusaha memberikan yang terbaik untuk anak," ujarnya.

Semenjak akhir Oktober lalu, Rachel berada di Filipina untuk mengikuti proses seleksi, baik tes pengetahuan, bahasa Inggris, matematika, hingga kesehatan. Syukurlah, semua proses berjalan lancar dan dia pun resmi sebagai siswi di Eagle Air Academy. Kegiatan pendidikan telah berjalan November kemarin. Tahap awal, dia menjalani ground schooling, yaitu pembelajaran materi di kelas selama satu bulan.

Sedangkan latihan terbang telah berjalan sejak Desember. Pesawat Cessna 152 menemani pengalaman terbang pertamanya. "Waktu itu cukup dadakan dapat kesempatan terbang, mungkin sekitar satu bulan setelah mendapatkan materi di kelas," ujarnya. Hingga kini dia masih berorientasi dengan Cessna 152. Kemungkinan Juni mendatang baru siap mengendalikan Cessna 172.  Rachel mengambil masa pendidikan 200 jam single engine dan multi engine.

Kurang lebih memakan waktu dua tahun untuk merampungkan pendidikan. “Awal terbang pasti gugup karena saat terbang kami menjalani tes dari instruktur. Bidang ini termasuk baru dalam hidup saya. Jadi sekarang sedang asyik menjalani dunia penerbangan ini. Bahkan saya jadi perempuan pertama di sekolah pilot itu," tuturnya. Dia mengungkapkan, sistem penerimaan siswa penerbangan di Filipina seperti kebanyakan sekolah pilot di luar negeri.

Di mana, penerimaan siswa baru dilakukan setiap bulan sekitar 3–5 orang. Sehingga setiap angkatan yang masuk tidak terhitung per semester atau per tahun. Duta Belia Indonesia Jepang 2014 tersebut mengungkapkan, setiap hari dia selalu memiliki jadwal untuk latihan terbang. Kegiatan ini dilakukan dari Senin sampai Jumat sedangkan pada Sabtu dia kembali menjalani ground schooling alias pembelajaran materi di kelas.

"Filipina banyak sekolah pilot. Biasanya setiap pulau terdapat satu sekolah. Jadi, kelebihannya satu airport di sekolah itu khusus digunakan untuk siswa latihan terbang. Otomatis setiap hari selalu terbang, tidak ada istilah namanya ngantre untuk menggunakan pesawat," bebernya.
Rachel melanjutkan, lokasi sekolahnya berada di Pulau Marinduque. Di sana, suasana seperti desa layaknya masyarakat yang berada di pulau. Bahkan tidak ada supermarket, hanya ada toko-toko kecil.

Jauh dari riuhnya kota mendukungnya untuk lebih fokus belajar. Biaya hidup juga sangat kecil, hanya sekitar Rp 250 ribu per bulan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Kali pertama menginjakkan kaki di negeri orang cukup menyulitkan, terutama soal adaptasi makanan. Tidak mudah menyesuaikan lidah Indonesia dengan masakan Filipina. Sedangkan soal bahasa, Rachel bersyukur tidak mengalami masalah besar. Walau penduduk memiliki bahasa daerah yakni tagalog, masyarakat baik dari kalangan atas sampai bawah sudah dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa kedua.

"Kalau jumlah orang Indonesia di sekolah ini sekitar 25 orang, kami tinggal di sebuah mes pelajar," sebutnya. Selama enam bulan berada di sana, kendala justru terasa saat dirinya lama tidak berlatih terbang. Sebab perasaan nyaman rasanya hilang jika lama tidak terbang. Contohnya seperti kejadian dua minggu lalu. Ada hujan badai yang mengakibatkan aktivitas penerbangan harus terhenti. Kemudian saat harus berlatih terbang lagi, rasanya seperti harus adaptasi kembali.

"Pilot itu harus multitasking, saat bawa pesawat tetap bisa harus manuver, seimbang, dan report ke radio dilakukan di saat yang sama. Tapi lama-lama terbiasa sesuai jam terbang. Pilot itu bertumpu hitung hanya dengan kompas dan membaca arah angin. Untuk menentukan koordinat," ujarnya. Belum lagi, soal inspeksi pesawat sebelum terbang. Siswa harus cek quantity dan suhu bahan bakar dan oli sendiri. Hal ini tidak membedakan antara siswa cewek dan cowok. Jadi tidak ada istilah yang namanya terbang cantik.

"Saya pikir gampang hanya nerbangin pesawat, ternyata setelah mencoba langsung, baru paham kendalanya. Rasanya sudah badan bau bahan bakar dan oli kalau mau terbang," jelasnya. "Semua itu sudah saya pikirkan matang termasuk risiko karena nantinya hampir sepanjang hidup waktu habis di pesawat. Semua pekerjaan punya risiko, ada risikonya rendah sampai tinggi. Tapi, kalau semua pekerjaan itu berdasarkan passion, lewatinnya senang dan tidak ada beban, seumur hidup tidak ada penyesalan. Mikirnya sekarang hidup dan mati di tangan Tuhan," tutupnya. (*/gel/riz/k16)


BACA JUGA

Rabu, 22 November 2017 07:47

Perusda MBS Diduga Tak Punya Duit

BALIKPAPAN – Pemkot Balikpapan menagih komitmen Perusda Melati Bhakti Satya (MBS) untuk mengganti…

Rabu, 22 November 2017 07:44

Lima Tahun Sewa, Habis Rp 2,2 M

BALIKPAPAN – Tak kunjung dibangunnya kantor baru Kecamatan Balikpapan Tengah dan Kelurahan Mekar…

Rabu, 22 November 2017 07:43

Sentra IKM Tahu Tempe Diguyur Rp 5,8 M

BALIKPAPAN – Pusat industri tahu-tempe yang berada di Somber, Balikpapan Utara mendapat perhatian…

Rabu, 22 November 2017 07:42

P Dicopot dari Green Generation

BALIKPAPAN – Penangkapan remaja berinisial P atas tuduhan tindak pidana seksual terhadap sesama…

Rabu, 22 November 2017 07:40

116 Jamban Baru Telah Dibangun

BALIKPAPAN – Program Karya Bakti TNI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain…

Rabu, 22 November 2017 07:38

Daripada Menunggu, Lebih Baik Bayar

BALIKPAPAN – Persoalan pungutan terhadap guru yang akan mengikuti Program Keprofesian Berkelanjutan…

Rabu, 22 November 2017 07:35

Salip Truk, Pengemudi Motor Tewas

BALIKPAPAN – Kecelakaan maut melibatkan truk kembali terjadi. Selasa (21/11), sekira pukul 13.45…

Rabu, 22 November 2017 07:33

MENGINSPIRASI..!! Limbah Mangrove Dipesan Sampai Prancis

Bukan simsalabim. Tapi di tangan Guntur Hariyanto, sampah bisa diubah menjadi barang berkelas. …

Rabu, 22 November 2017 07:30

Lepas Karier di Arab, Merintis di Balikpapan

GUNTUR memang menyukai dunia seni. Sempat menjajal masuk ke jurusan Seni Rupa di Institut Seni Indonesia…

Rabu, 22 November 2017 07:29

Berhenti di Trotoar, Angkot Diangkut

BALIKPAPAN – Penertiban kendaraan yang parkir di trotoar terus dilakukan. Selasa (21/11), petugas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .