MANAGED BY:
RABU
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 20 April 2017 10:43
Merasakan Mondok di Tiongkok (2)
“Indu-ni-si-ya” Wajib Berbahasa Lokal
NIKMATI GRATIS: Koleksi baju perang ini hanya ada di Nanjing Museum Park. (LUCMAN/KP)

PROKAL.CO, Warga Tiongkok sangat menghargai dan menghormati sejarah negara. Itulah yang terlihat saat rombongan Internasional Youth Spring Camp 2017 garapan Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC), menyambangi jejak peradaban silam di Negeri Tirai Bambu ini.

LUCMAN, Jiangsu

MATA beberapa peserta mulai sayu. Mereka sedang menerima pelajaran Sejarah Negeri Tiongkok. Ya, pelajaran itu masuk dalam agenda kuliah di Jiangsu Institute of Commerce, pada hari kedua Selasa (11/4) pagi. Tak hanya sejarah, saya beserta rombongan diajarkan tata cara berbahasa Tiongkok.

“Bahasa Tiongkok itu, susah-susah gampang. Gampang kalau mau belajar,” kata Linda Lien, dosen Fakultas Pariwisata Tiongkok di Jiangsu Institute.

Ya, perempuan 40 tahun itu menyebut, semua mahasiswa luar Tiongkok wajib menerima mata kuliah ini. Sebab, Tiongkok tak menggunakan bahasa lain, termasuk tidak menggunakan bahasa Inggris seperti di beberapa negara lain.

“Mau di mana pun, selama masih di Tiongkok, tidak ada bahasa lain yang digunakan, termasuk di bandara maupun hotel. Kami mengutamakan bahasa Tiongkok,” ujar perempuan yang sebenarnya fasih berbahasa Inggris dan Jepang itu.

Diakui, tak hanya susah diingat, bahasa Tiongkok pun susah diucapkan. Seperti menyebut kata Indonesia, di Tiongkok, penyebutannya adalah “Indu-ni-si-ya”. Tak hanya itu, peserta juga diberikan informasi mengenai perbatasan negara dan jumlah agama di Tiongkok.

Peserta mulai bersemangat saat Linda Lien mengajak beberapa peserta berinteraksi lewat percakapan bahasa Tiongkok. Ya bagi kami, berbicara langsung menggunakan bahasa Tiongkok merupakan pengalaman berharga dan akan menjadi ilmu bermanfaat selama di sini. 

“Di tempat kami, beberapa perusahaan sudah banyak menggunakan bahasa Mandarin. Karena memang banyak pekerja asal Tiongkok. Jadi, siswa juga akan kami ajarkan tata cara berbahasa Mandarin selain bahasa Inggris,” kata Wakil Kepala SMA Kristen Barana Toraja Utara Christian Palamba.

Terakhir, rombongan juga diberikan informasi tempat-tempat sejarah di Tiongkok. Salah satunya, Nanjing Museum Park dan makam Sun Yat-sen, presiden pertama sekaligus founding father Tiongkok (akan diulas dalam edisi besok, Red).

Mendengar Nanjing Museum Park, rombongan pun bersorak senang. Ya, setelah pelajaran sejarah Tiongkok ini, rombongan akan bertolak ke Nanjing Museum yang berjarak satu jam perjalanan menggunakan bus. Pertemuan dengan Linda Lien pun diakhiri foto bersama. Para peserta mendapatkan sertifikat pernah mengikuti belajar bahasa Tiongkok di Jiangsu Institute of Commerce.   

BANGUN MILIARAN, TIKET GRATIS

Jujur, di dalam benak saya, museum identik gedung tua dan lumayan menyeramkan. Sebab, selama di Indonesia dan beberapa kali berkunjung ke museum, seperti inilah yang saya rasakan. Sebab, di sanalah tempat menyimpan koleksi bersejarah, ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Namun, saat menginjakkan kaki di Nanjing Museum Park, perasaan itu berubah menjadi kagum. Wow… luar biasa megah dan terawat.

Menuju lokasi memakan waktu satu jam dari kampus Jiangsu Institute. Jadwal rombongan ke sini pukul 14.00 (waktu Tiongkok sama waktu Indonesia tengah/Wita) sangat tepat. Karena sebelumnya rombongan lebih dulu menerima kuliah sejarah Tiongkok.

“Tiongkok termasuk negara pencinta sejarah. Tak hanya cinta, mereka juga merawat dan menghargai sejarah di atas segalanya. Mungkin itu yang buat Tiongkok sekarang sukses,” kata pemandu rombongan, Eric.

Ungkapan mahasiswa Jiangsu Institute asal Surabaya itu bukanlah isapan jempol belaka. Sebab, nyaris di seluruh daratan Tiongkok tersebar museum atau tempat bersejarah. Dan semuanya dijaga dan dibuka untuk umum. Seperti halnya Nanjing Museum Park.

Nanjing Museum Park terletak di Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu di Tiongkok bagian timur. Persis di sebelah Grand Metropark Hotel Nanjing. Dengan luas 7 hektare, museum memiliki lebih dari 400.000 item dalam koleksi. Dan merupakan museum pertama yang didirikan di Tiongkok pada 1933.

Suasana sejuk sangat terasa, karena suhu di sini mencapai 10 derajat. Rumput hijau setinggi 5 sentimeter di beberapa sudut museum juga terawat dan bersih. Untuk menuju gedung utama, pengunjung harus berjalan kaki sepanjang sekitar 300 meter.

Secara utuh, arsitekturnya menggabungkan gaya Tiongkok dan Barat. Bagian depan struktur gaya tradisional dan memiliki atap ubin emas. Memiliki empat lantai, dengan 17 ruangan. Koleksinya sangat lengkap, mulai lukisan, guci, alat perang, hingga fosil utuh mammoth (gajah purba berbulu).

Yang menarik, di sini juga ada ruangan khusus yang semuanya menggunakan media video digital dan sangat modern. Jika ke ruangan ini, tidak terasa seperti di museum, melainkan di bioskop, karena ada pemutaran film 3D tentang kehidupan rakyat Tiongkok pada zaman tradisional.

Selain itu, ada koleksi favorit pengunjung dan hanya ada di museum ini, yakni satu set baju perang. Baju ini terbuat dari ubin batu giok kecil yang dijahit kawat perak. Baju perang ini merupakan peninggalan Dinasti Han Timur. Untuk melihat semua koleksi di sini, diperlukan waktu tiga jam.

Jika lelah, jangan khawatir. Sebab, di setiap lantai, pengelola menyiapkan kursi yang bisa diduduki hingga puluhan orang. Plus, tersedia tempat minum gratis.

“Saya tidak ingat pasti angkanya, namun untuk membuat museum ini, pemerintah Tiongkok mengeluarkan dana miliaran rupiah,” tambah Eric.

Yang lebih membuat bangga adalah, jika ingin masuk ke sini, pengunjung tidak dikenakan biaya alias gratis. Dan terbuka untuk siapa saja, asal tidak sore hari, karena waktu buka museum hanya dibatasi sampai pukul 5 sore. 

“Sangat puas. Koleksinya banyak dan gedung sangat bersih, termasuk toiletnya juga bersih. Apalagi di sini juga bisa beli oleh-oleh,” kata Rifki Firdaus, salah satu rombongan asal SMA 1 Balikpapan.  (*/zal/k8/bersambung)


BACA JUGA

Rabu, 26 April 2017 13:09

Bareskrim Sasar Penyembunyi Jafar

JAKARTA – Upaya praperadilan dari Jafar Abdul Gaffar bukan halangan bagi Bareskrim Mabes Polri…

Rabu, 26 April 2017 13:00

Ini Dia Efek Positif OTT Komura

SAMARINDA – Ramadan sebulan lagi. Volatilitas harga, utamanya kebutuhan pokok, rawan terjadi pada…

Rabu, 26 April 2017 09:59

Sejak OTT TPK Palaran, Pria Ini Prihatin Nasib TKBM

Hingga kini, proses hukum seputar kasus pungutan liar (pungli) oleh Koperasi Samudera Sejahtera (Komura)…

Selasa, 25 April 2017 13:13

Nginap di Hotel Melati, Akhirnya Bos Komura Itu Tertangkap

SAMARINDA – Kasus pidana di Koperasi Samudera Sejahtera (Komura) Samarinda masih memanas. Minggu…

Selasa, 25 April 2017 13:05

Sabotase Bandara demi Hindari Selingkuhan

AKSI playboy zaman sekarang tak melulu hanya menyakiti hati gadis. Bahkan juga bisa bikin repot negara.…

Selasa, 25 April 2017 13:00
Rita Widyasari, Calon Gubernur Perempuan Kaltim yang Begitu Didukung (1)

“Jangan Lihat Usia dan Gender, tapi Lihat Niat Saya Bangun Daerah”

Perempuan di provinsi ini belum banyak bersuara lantang. Terutama dalam menyuarakan derita di pelosok…

Selasa, 25 April 2017 12:00

Spirit Persiba Nodai Marora

BALIKPAPAN – Persiba Balikpapan mengusung misi berat di pekan kedua Liga 1 2017. Tim berjuluk…

Selasa, 25 April 2017 10:14

Bulan dari Perbatasan

Sepanjang 72 tahun kemerdekaan, merobek isolasi perbatasan negara layaknya pungguk merindukan rembulan.…

Senin, 24 April 2017 13:00

Izin Tambang Ditertibkan, Kukar Tak Perlu Gusar

SAMARINDA – Kekhawatiran Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari bahwa penertiban izin…

Senin, 24 April 2017 12:45

Paling Kotor, Kalimantan Terparah Kedua di Asia Versi Forbes

Menyambut Hari Bumi, ada kado tidak istimewa dari Forbes. Pada 19 April lalu, situs berita majalah bergengsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .