MANAGED BY:
KAMIS
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 20 April 2017 08:58
Butet-Djajuk Berbagi Inspirasi Seni Pertunjukan
Seniman Harus Buktikan Diri, Tak Berkutat dalam Tempurung
HARUS KREATIF: Butet Kertaradjasa (kiri) dan Djaduk Ferianto saat mengisi Bimbingan Teknis Seni Pertunjukan se-Kaltim di Samarinda, Rabu (19/4).(saipul anwar/kp)

PROKAL.CO, Kehidupan manusia adalah pertunjukan. Seni yang membuatnya menjadi indah dan bermakna. Disiplin namun selalu dinamis. Seni adalah sebuah produk budaya yang harus selalu dilestarikan.

MENEROPONG seni pertunjukan tidak hanya dari satu aspek. Seni tari, teater, atau musik saja. Pertunjukan dalam perspektif seni sangat luas maknanya. Dibalut hiburan dan tradisi. Berangkat dari hal inilah, lahir sebuah garapan yang mantap.

“Contohnya menggarap pementasan teater. Akting di panggung itu dibuat-buat. Pura-pura nangis, sedih, marah, dan lainnya. Yang pura-pura begitu saja bisa sukses, apalagi yang sungguhan,” terang seniman Butet Kertaradjasa saat mengisi Bimbingan Teknis Seni Pertunjukan se-Kaltim di Samarinda, Rabu (19/4).

Lantas, apakah kesuksesan itu lahir dari sebuah panggung saja? “Tentu tidak”. Menurut Butet, ada proses panjang di balik layar. Dikerjakan dengan berdarah-darah dan penuh perjuangan. Para pemain, si pelakon-pelakon panggung, pasti merangkap pekerjaan. Mereka latihan pentas juga menggarap promosi, mendesain panggung, mengatur musik, hingga menyebar proposal dan lainnya.

 Ada beberapa organisasi kesenian melakukan hal itu agar produksinya sukses sebagai hasil akhir. Yakni pertunjukan yang dipertontonkan kepada masyarakat luas. Kata dia, seperti itu yang harus dilakukan tiap seniman, termasuk di Kaltim. Para pekerja seni, baik dari komunitas maupun pemerintah, dituntut aktif jika ingin memajukan kesenian lokal. “Tidak akan datang para pelancong dan wisatawan bila orang-orang daerahnya tidak membangun ‘rasa’ untuk memajukan seni pertunjukan yang apik,” bebernya.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk membuat segalanya menjadi indah. Yaitu dengan karya. Ketika banyak seniman mengeluh karena tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, salah satunya disebabkan kurang membuktikan. Dia meminta seniman Kaltim membuat pemerintah daerah terperangah dengan berbagai seni pertunjukan. Jadi, tidak ada alasan pemerintah daerah menolak mendukung.

“Bila masih menutup mata, tuntut mereka untuk peduli dengan cara apapun yang penuh etika dan kecerdasan. Sebab, seni itu juga bagian dari kegiatan sosial. Itu tanggung jawab para pemangku kebijakan untuk mendukung para seniman,” kata pria kelahiran Jogjakarta, 21 November 1961 itu. Jadi, tantangan selanjutnya, ucap Butet, bukan lagi bagaimana menghadapi pemerintah yang tidak semua tahu tentang seni dan budaya.

Melainkan, kepada seniman itu sendiri. Bagaimana dengan berbagai gagasan dan mimpi-mimpi besar membangun daerahnya melalui seni pertunjukan. “Mulai dari yang kecil-kecil dulu, tetapi berkesinambungan. Tidak ada yang tinggi tanpa berada di tempat yang rendah. Tidak ada yang pintar tanpa menjadi bodoh terlebih dahulu. Tidak ada yang besar tanpa menjadi kecil dulunya. Itulah proses, ada yang namanya manajemen pertunjukan,” ungkap pria berkacamata tersebut.

Untuk mencapai hal tersebut, kuncinya adalah kedisiplinan. Itulah yang diterangkan oleh Djaduk Ferianto, adik Butet yang turut hadir kemarin di Kota Tepian. Kata pria berkumis itu, seni pertunjukan berkaitan dengan entertain, tradisi, kuliner, fashion. Bahasa internasional kerap menyebutnya dengan performance of art. Itulah pekerjaan rumah yang harus dijalankan. Bagaimana mendisiplinkan diri dalam seni. Menggali berbagai potensi lokal yang sangat kaya dan tidak pernah mati itu.

“Contoh, ritual adat itu seni pertunjukan. Sastra lisan dan tulisan juga bisa jadi seni pertunjukan, sangat luas, apakah itu sudah dilirik, sudahkah optimal, jangan-jangan hanya berkutat dalam tempurung,” bebernya. Seni juga bergerak dinamis, tidak berhenti pada satu titik saja. Para seniman muda dan tua harusnya saling bersinergi untuk mencapai pertunjukan yang sesungguhnya.

Tidak jarang, sebut Djaduk, kedua kelompok tersebut saling memisahkan diri dan tidak mau menerima kritikan satu sama lain. “Padahal, budaya itu selalu berubah, mengikuti zaman. Seni itu seperti kota, selalu ada perkembangan. Dan yang menjadikan ruhnya adalah visi misi yang sama. Yaitu untuk melestarikan dan mempertahankan budaya lokal,” ucap pria kelahiran Jogjakarta, 19 Juli 1964 tersebut.

Syafril Teha Noer, ketua Dewan Kesenian Daerah Kaltim menambahkan, dalam seni pertunjukan ada dua aspek yang harus diperhatikan. Yaitu aspek atas panggung dan di bawah panggung. Jika di panggung berhubungan dengan kreativitas, maka di bawah panggung berhubungan dengan komunikasi terhadap publik. “Itulah yang harus dilakukan para seniman agar tetap eksis. Tahu siapa publiknya yang terbagi dari pemerintah, masyarakat, dan daerahnya,” beber dia.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, terang dia, potensi kesenian Kaltim dapat berkembang. Para pekerja seni tidak bergantung terhadap pemerintah untuk berkarya. Apalagi saat ini dukungan dari pihak pemangku kekuasaan masih setengah-setengah. Hendak memajukan kesenian tetapi wadah belum terpenuhi. “Kaltim belum ada gedung kesenian. Padahal, itu adalah tempat yang dapat mewadahi dan menjembatani para seniman terus berkarya dan mengembangkan potensinya dalam melestarikan seni tradisi daerahnya,” tandasnya. (*/el/riz/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 07 April 2018 07:20

Menolak Partai demi Warga Kaltim, Target Jadi Ketua DPD RI

Polemik rencana pergantian Mahyudin di wakil ketua MPR mulai meredup. Hingga kemarin (6/4), dia masih…

Sabtu, 07 April 2018 07:09

DP Hanya Rp 3 Juta Bisa Pilih Lokasi

BALIKPAPAN  —  Borneo Paradiso tak pernah berhenti menyuguhkan hunian terbaik bagi warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .