MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 20 April 2017 08:45
Nyali Sempat Ciut Dengar Musik Kolombia dan Brazil

Kenalan dengan Uyau Moris, Musisi Sape dari Dayak Kenyah

LESTARIKAN SENI: Setelah tampil di Eropa, dalam waktu dekat Uyau Moris menghibur pencinta sape di Malaysia. (dok.pribadi)

PROKAL.CO, class="yiv7331364407msonormal">Berbadan tinggi, kulit putih, dan rambut terurai panjang. Itulah ciri unik yang membuat orang mudah mengenalinya. Sosok generasi muda yang eksis dengan alat musik tradisional asal Kalimantan, Sape.

DINA ANGELINA, Balikpapan

UYAU MORIS pertama kali menyentuh sape saat masih berusia 8 tahun. Ada peran sang kakek. Semasa kecil, pria asal Malinau, Kalimantan Utara, itu kerap melihat kakeknya bersenandung dengan sape. Rupanya, sang kakek terkenal sebagai seorang pembuat sekaligus musisi sape. Tidak heran jika dia mulai terbiasa hidup dan akrab dengan alat musik petik tersebut.

“Saya sering liat dan meniru kakek bermain sape. Saya diajarin bahkan sampai dibuatkan sape versi kecil untuk anak-anak. Kakek bilang, dengan cara ini dia bisa mengenang masa mudanya,” kenangnya.

Sejak saat itu, Moris–sapaan akrabnya–terjun mempelajari sape hingga dia beranjak dewasa. Bukan sekadar hobi, latar belakang semasa kecil ini turut memengaruhi pendidikannya. Moris mantap memilih Jurusan Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Tidak hanya sape, dia juga mempelajari beragam jenis musik nusantara.

“Dari situ saya berpikir kenapa tidak semakin serius berkutat di bidang ini. Jadi, saat mulai kuliah sekitar 2010 lalu, saya coba garap maksimal. Kalau dulu mungkin sape hanya hobi, sekarang rasanya saya benar-benar hidup untuk bermusik,” katanya kepada Kaltim Post.

Pria berusia 26 tahun itu mengaku, ada alasan besar mengapa dirinya terus bermain sape. Misinya hanya ingin seluruh kalangan, terutama anak muda dapat menerima dan melestarikan sape. Serta bisa tampil memukau dengan kolaborasi beragam jenis musik lain. “Jarang ada generasi muda yang bisa tertarik dengan musik tradisional. Rasanya itu jadi pekerjaan rumah juga buat saya. Bagaimana menularkan virus ini kepada anak muda lainnya,” imbuhnya.

Untuk mencapai misi tersebut, sulung dari tiga bersaudara itu harus siap melewati kendala yang mengadang. Tampilan dan hasil suara sape terlihat lebih sederhana dan tradisional. Hal itu yang membuatnya berpikir keras bagaimana generasi muda dapat menerima sape. Bagaimanapun anak muda tengah asyik dengan arus tren musik masa kini.

“Dulu saya konsisten mainin rhythm dan lagu tradisional. Tujuannya agar anak muda tahu bagaimana pakemnya bermain sape. Tapi ternyata cara itu tidak berhasil. Saya pikir harus cari cara bagaimana membawa sape ini sesuai dengan selera anak muda,” bebernya. Bahkan, Moris sudah pernah tampil di jalanan dengan apresiasi yang minim.

Akhirnya, putra dari Ujang Lawai dan Suin Majan tersebut memutuskan untuk memodifikasi alat musiknya.

Jika sape biasanya memiliki pilihan rhythm sedikit dan hanya bisa digunakan untuk musik tradisional, maka Moris memberi sentuhan berbeda. Jadi, sape bisa digunakan untuk jenis musik lain, seperti pop.  Melalui media sosial seperti YouTube dan Instagram, Moris memperlihatkan indahnya musik sape dengan lagu masa kini. Didukung dengan kepiawaiannya bermain alat musik tersebut, sape bisa digunakan untuk beragam genre musik.

Mulai lagu Coldplay, Alan Walker, hingga Celine Dion. Responsnya positif, banyak anak muda yang tertarik dengan sape. “Tapi memutuskannya agak berat. Pertimbangannya karena saya orang asli Dayak Kenyah. Tentu tahu bagaimana pakem bermain sape. Namun bagaimana lagi, saya harus berubah mengikuti zaman agar banyak orang tertarik. Tuntutan membawa sape lebih modern agar tidak punah dan banyak yang tertarik melestarikannya,” ungkapnya.

Dia bersyukur, dengan cara itu minat anak muda terhadap sape terus meningkat. Terlihat dari respons banyaknya orang yang tertarik untuk belajar menggunakan sape. Kegiatan ini telah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Terutama tahun ini, dia merasa ingin serius dan semakin eksis menyebarkan virus sape. “Sape itu berbeda dan unik, punya hasil suara dan rasa khas dibandingkan gitar. Kelebihannya, sape dapat mengeluarkan musik sentuhan tradisional. Apalagi sekarang sape bisa dipadukan dengan musik modern dan beragam alat musik. Itu jadi poin lebih karena bisa masuk di berbagai macam genre musik dari pop sampai jazz,” tuturnya.

Tidak hanya eksis di media sosial, setiap minggu, Moris kerap road show ke beberapa daerah memperkenalkan musik sape. Dia sibuk mengisi workshop sampai event festival musik. Jakarta dan Bali menjadi kota yang paling sering dikunjungi. Sejauh ini, Moris telah mengenalkan musik sape ke berbagai negara. Di antaranya Prancis, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Kazakhstan.

“Ada yang tampil sendiri dan ada juga kolaborasi. Kebanyakan festival undangan, seperti festival musim panas. Contoh lainnya konser kebudayaan Indonesia, penampilan berbagai alat musik dari Sabang sampai Merauke. Saya mewakili alat musik asal Kalimantan," sebutnya. Saking seriusnya, Moris pernah berada di Prancis selama dua bulan melakukan pertunjukan. Kegiatan tersebut berlangsung 2015 lalu. Di negara yang terkenal dengan Menara Eiffel itu, dia menggelar  konser di tujuh kota.

Setiap kota menghabiskan waktu selama satu minggu. Moris pun bahagia tak terkira. Sebab, banyak yang tertarik dan terpukau melihat penampilannya bersama musik sape.  “Pertunjukan di pinggir pantai dan panggungnya di atas air. Rata-rata yang tampil membawakan musik riuh. Seperti musik Kolombia dan Brazil. Itu yang buat nyali saya sempat ciut, apa bisa mencuri perhatian mereka. Tapi, ternyata saat kami tampil semua suasana langsung hening. Penonton seperti terhipnotis, musik begitu soft dan vocal hanya dari sape,” jelasnya.

Jika tidak ada show, pria ramah senyum itu memilih menjalankan project sendiri. Seperti bikin klip lagu cover hingga membuat alat musik sape. Maksimal dalam satu bulan, Moris bisa menghasilkan 10 sape. Semua itu membuatnya untuk tetap produktif. “Di sela-sela performance, kebanyakan kerja nukang (bertukang). Jadi musisi sekaligus tukang. Saya kerjakan semua sendiri termasuk mahatnya,” urainya.

“Tidak buka kelas khusus belajar sape, tidak sempat waktunya dan malah tidak konsen. Paling sharing ilmu saat ada event atau workshop. Pesertanya dari orang Indonesia sampai bule,” sambungnya. Rencananya, akhir April ini, Moris bertolak ke Malaysia selama seminggu. Dia menghadiri sebuah festival musik. Sebab, di sana sape juga ikut populer melalui komunitas. Targetnya, Moris ingin menggaungkan sape hingga mendunia.

“Sekarang saya masih menetap di Jogjakarta agar lebih mobile saja. Selain ingin terus memperkenalkan sape, saya berharap tahun ini dapat merampungkan album ketiga,” tutupnya. (riz/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 11 November 2017 06:43

Kenalkan Pariwisata PPU kepada Anak Muda Se-Indonesia

Tiga pemuda asal PPU terpilih mewakili Kaltim dalam Jambore Pemuda Indonesia (JPI) 2017. Pertemuan akbar…

Selasa, 07 November 2017 08:18

Tak Perlu Matang, Desain Awal Menentukan

Seni memahat bisa diaplikasikan ke berbagai media. Dulu, kayu dan tembikar umum digunakan. Saat ini,…

Senin, 06 November 2017 08:20

Baru 5 Kilometer, Keringat Sudah Bercucuran

Adrenalin goweser benar-benar diuji pada Ahad (5/11). Mereka harus menaklukkan rute “gila”…

Senin, 06 November 2017 08:13

Tetap Keluarkan Sertifikat Halal, Siapkan Solusi Bantu UMKM

Tak hanya memperhatikan komposisi. Adanya label halal di sebuah kemasan pun jadi penentu. Terutama bagi…

Sabtu, 04 November 2017 08:01

Minim Pesaing, Sepuluh Tahun Membina Bulu Tangkis

Sepak bola selalu menjadi yang terpopuler di Indonesia. Tapi, bulu tangkis adalah olahraga nasional.…

Sabtu, 04 November 2017 07:54

Riki Bawakan Dua Lagu Karya Sendiri

Minggu (5/11), akan menjadi kali pertama tampil di hadapan masyarakat Balikpapan. Dengan musik yang…

Sabtu, 04 November 2017 06:59

Raih Gelar Pemain Terbaik, Utamakan Doa Orangtua

Sempat dianggap gila teman sepermainan, Bima Sakti membayar dengan prestasi. Dia jadi penggawa Timnas…

Jumat, 03 November 2017 08:25

Ratusan Ribu Koleksi Buku Belum Dimanfaatkan

Ada orang yang enggan berlari karena menunggu semua sempurna. Ada pula yang tak ragu berlari meski penuh…

Jumat, 03 November 2017 08:18

Siapkan Jadwal Besuk Seminggu Dua Kali kepada “Kids Zaman Now”

Ada beragam cara menyelamatkan lingkungan. Salah satunya, menanam pohon. Tak sekadar ditanam, tetapi…

Kamis, 02 November 2017 09:01

Tangani 328 Kasus, Pelakunya Karyawan Tambang hingga Pelajar

Bagi pasangan suami istri, kenikmatan seksual jadi hal penting. Berbagai cara pun dilakukan. Bagi laki-laki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .