MANAGED BY:
SABTU
24 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 20 April 2017 08:45
Nyali Sempat Ciut Dengar Musik Kolombia dan Brazil

Kenalan dengan Uyau Moris, Musisi Sape dari Dayak Kenyah

LESTARIKAN SENI: Setelah tampil di Eropa, dalam waktu dekat Uyau Moris menghibur pencinta sape di Malaysia. (dok.pribadi)

PROKAL.CO, class="yiv7331364407msonormal">Berbadan tinggi, kulit putih, dan rambut terurai panjang. Itulah ciri unik yang membuat orang mudah mengenalinya. Sosok generasi muda yang eksis dengan alat musik tradisional asal Kalimantan, Sape.

DINA ANGELINA, Balikpapan

UYAU MORIS pertama kali menyentuh sape saat masih berusia 8 tahun. Ada peran sang kakek. Semasa kecil, pria asal Malinau, Kalimantan Utara, itu kerap melihat kakeknya bersenandung dengan sape. Rupanya, sang kakek terkenal sebagai seorang pembuat sekaligus musisi sape. Tidak heran jika dia mulai terbiasa hidup dan akrab dengan alat musik petik tersebut.

“Saya sering liat dan meniru kakek bermain sape. Saya diajarin bahkan sampai dibuatkan sape versi kecil untuk anak-anak. Kakek bilang, dengan cara ini dia bisa mengenang masa mudanya,” kenangnya.

Sejak saat itu, Moris–sapaan akrabnya–terjun mempelajari sape hingga dia beranjak dewasa. Bukan sekadar hobi, latar belakang semasa kecil ini turut memengaruhi pendidikannya. Moris mantap memilih Jurusan Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Tidak hanya sape, dia juga mempelajari beragam jenis musik nusantara.

“Dari situ saya berpikir kenapa tidak semakin serius berkutat di bidang ini. Jadi, saat mulai kuliah sekitar 2010 lalu, saya coba garap maksimal. Kalau dulu mungkin sape hanya hobi, sekarang rasanya saya benar-benar hidup untuk bermusik,” katanya kepada Kaltim Post.

Pria berusia 26 tahun itu mengaku, ada alasan besar mengapa dirinya terus bermain sape. Misinya hanya ingin seluruh kalangan, terutama anak muda dapat menerima dan melestarikan sape. Serta bisa tampil memukau dengan kolaborasi beragam jenis musik lain. “Jarang ada generasi muda yang bisa tertarik dengan musik tradisional. Rasanya itu jadi pekerjaan rumah juga buat saya. Bagaimana menularkan virus ini kepada anak muda lainnya,” imbuhnya.

Untuk mencapai misi tersebut, sulung dari tiga bersaudara itu harus siap melewati kendala yang mengadang. Tampilan dan hasil suara sape terlihat lebih sederhana dan tradisional. Hal itu yang membuatnya berpikir keras bagaimana generasi muda dapat menerima sape. Bagaimanapun anak muda tengah asyik dengan arus tren musik masa kini.

“Dulu saya konsisten mainin rhythm dan lagu tradisional. Tujuannya agar anak muda tahu bagaimana pakemnya bermain sape. Tapi ternyata cara itu tidak berhasil. Saya pikir harus cari cara bagaimana membawa sape ini sesuai dengan selera anak muda,” bebernya. Bahkan, Moris sudah pernah tampil di jalanan dengan apresiasi yang minim.

Akhirnya, putra dari Ujang Lawai dan Suin Majan tersebut memutuskan untuk memodifikasi alat musiknya.

Jika sape biasanya memiliki pilihan rhythm sedikit dan hanya bisa digunakan untuk musik tradisional, maka Moris memberi sentuhan berbeda. Jadi, sape bisa digunakan untuk jenis musik lain, seperti pop.  Melalui media sosial seperti YouTube dan Instagram, Moris memperlihatkan indahnya musik sape dengan lagu masa kini. Didukung dengan kepiawaiannya bermain alat musik tersebut, sape bisa digunakan untuk beragam genre musik.

Mulai lagu Coldplay, Alan Walker, hingga Celine Dion. Responsnya positif, banyak anak muda yang tertarik dengan sape. “Tapi memutuskannya agak berat. Pertimbangannya karena saya orang asli Dayak Kenyah. Tentu tahu bagaimana pakem bermain sape. Namun bagaimana lagi, saya harus berubah mengikuti zaman agar banyak orang tertarik. Tuntutan membawa sape lebih modern agar tidak punah dan banyak yang tertarik melestarikannya,” ungkapnya.

Dia bersyukur, dengan cara itu minat anak muda terhadap sape terus meningkat. Terlihat dari respons banyaknya orang yang tertarik untuk belajar menggunakan sape. Kegiatan ini telah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Terutama tahun ini, dia merasa ingin serius dan semakin eksis menyebarkan virus sape. “Sape itu berbeda dan unik, punya hasil suara dan rasa khas dibandingkan gitar. Kelebihannya, sape dapat mengeluarkan musik sentuhan tradisional. Apalagi sekarang sape bisa dipadukan dengan musik modern dan beragam alat musik. Itu jadi poin lebih karena bisa masuk di berbagai macam genre musik dari pop sampai jazz,” tuturnya.

Tidak hanya eksis di media sosial, setiap minggu, Moris kerap road show ke beberapa daerah memperkenalkan musik sape. Dia sibuk mengisi workshop sampai event festival musik. Jakarta dan Bali menjadi kota yang paling sering dikunjungi. Sejauh ini, Moris telah mengenalkan musik sape ke berbagai negara. Di antaranya Prancis, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Kazakhstan.

“Ada yang tampil sendiri dan ada juga kolaborasi. Kebanyakan festival undangan, seperti festival musim panas. Contoh lainnya konser kebudayaan Indonesia, penampilan berbagai alat musik dari Sabang sampai Merauke. Saya mewakili alat musik asal Kalimantan," sebutnya. Saking seriusnya, Moris pernah berada di Prancis selama dua bulan melakukan pertunjukan. Kegiatan tersebut berlangsung 2015 lalu. Di negara yang terkenal dengan Menara Eiffel itu, dia menggelar  konser di tujuh kota.

Setiap kota menghabiskan waktu selama satu minggu. Moris pun bahagia tak terkira. Sebab, banyak yang tertarik dan terpukau melihat penampilannya bersama musik sape.  “Pertunjukan di pinggir pantai dan panggungnya di atas air. Rata-rata yang tampil membawakan musik riuh. Seperti musik Kolombia dan Brazil. Itu yang buat nyali saya sempat ciut, apa bisa mencuri perhatian mereka. Tapi, ternyata saat kami tampil semua suasana langsung hening. Penonton seperti terhipnotis, musik begitu soft dan vocal hanya dari sape,” jelasnya.

Jika tidak ada show, pria ramah senyum itu memilih menjalankan project sendiri. Seperti bikin klip lagu cover hingga membuat alat musik sape. Maksimal dalam satu bulan, Moris bisa menghasilkan 10 sape. Semua itu membuatnya untuk tetap produktif. “Di sela-sela performance, kebanyakan kerja nukang (bertukang). Jadi musisi sekaligus tukang. Saya kerjakan semua sendiri termasuk mahatnya,” urainya.

“Tidak buka kelas khusus belajar sape, tidak sempat waktunya dan malah tidak konsen. Paling sharing ilmu saat ada event atau workshop. Pesertanya dari orang Indonesia sampai bule,” sambungnya. Rencananya, akhir April ini, Moris bertolak ke Malaysia selama seminggu. Dia menghadiri sebuah festival musik. Sebab, di sana sape juga ikut populer melalui komunitas. Targetnya, Moris ingin menggaungkan sape hingga mendunia.

“Sekarang saya masih menetap di Jogjakarta agar lebih mobile saja. Selain ingin terus memperkenalkan sape, saya berharap tahun ini dapat merampungkan album ketiga,” tutupnya. (riz/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 17 Juni 2017 01:48

Busana Muslimah Kian Diminati, Ibadah Sekaligus Berbisnis

Kian kemari busana muslimah terutama hijab terus memasuki era modernisasi. Berbagai bentuk gaya dipadupadankan…

Sabtu, 17 Juni 2017 00:31

Nyaris Di-chainsaw, Bangun Masjid Meski Bukan Muslim

Setelah puluhan tahun bertugas sebagai pasukan di Satuan Brimob, AKP Anton Saman kini dipercaya sebagai…

Sabtu, 17 Juni 2017 00:10

Rambah Bawang Putih, Faktor Geografis Jadi Tantangan Utama

Selain mandiri dengan bawang merah, Brebes juga mampu mencukupi kebutuhan bawang putihnya dari daerah…

Jumat, 16 Juni 2017 08:57

Antusias Berbagi Semangat, Tetap Menulis saat Sakit

Tri Wahyuni Zuhri, dia dikenal sebagai penulis, blogger, sekaligus survivor kanker. Banyak karya dan…

Jumat, 16 Juni 2017 08:39

Mudah Bersosialisasi dan lebih Lembut Tanpa Disuruh

Ada banyak literatur yang membuktikan khasiat musik. Baik bagi pendidikan langsung atau pendidikan karakter.…

Kamis, 15 Juni 2017 10:10
Kisah Sukses Pendiri BDS Snack, Sri Astuty

Tangan Kanan Pegang Stoples, Tangan Kiri Gendong Anak

Usaha yang dia bangun di Jakarta pernah terbakar dan dijarah. Belum lagi, modal habis tak bersisa akibat…

Rabu, 14 Juni 2017 09:47

Tak Hanya Kumulonimbus, Pencemaran Air Laut Juga Dimonitor

Dengan kecanggihan teknologi, masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan informasi prakiraan cuaca cukup…

Selasa, 13 Juni 2017 08:41

Gejala Berawal dari Badan Menggigil, Penderita Diabetes Berisiko

Meski bukan tergolong penyakit baru, masih banyak orang yang belum memahami salah satu penyakit saraf,…

Senin, 12 Juni 2017 08:53

Mengingat Budaya dari Balik Tembok

Lewat lukisan hyper realistic, pasangan suami-istri ini mengubah tembok yang semula membosankan jadi…

Sabtu, 10 Juni 2017 10:09

Mengintip Command Center Pertama di Kaltim Milik Polres Balikpapan

Masyarakat Balikpapan patut senang dan bangga. Polres Balikpapan berinovasi dengan menghadirkan layanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .