MANAGED BY:
SENIN
29 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 18 April 2017 10:58
Disiplin di Semua Lini, Sukses Menanti

PROKAL.CO, CATATAN: LUCMAN, Tiongkok

MEDIO 1990-an, saya masih berstatus anak sekolah dasar. Saat itu, sudah sering mendengar kalimat, “tuntutlah ilmu sampai ke Cina”. Mengapa Tiongkok dijadikan kiblat ilmu kala itu? Jawabnya saya temukan, saat Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) yang berpusat di Surabaya, mengajak awak Kaltim Post menyambangi Jiangsu Institute of Commerce di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, 8–17 April 2017.  

Sabtu (8/4) pagi, gerimis membasahi Samarinda. Kendaraan saya pacu lebih cepat, dari rumah menuju kantor. Masih ada berkas yang harus dilengkapi sebelum bertolak ke Makassar, penerbangan pukul 11.00 Wita. Dari Samarinda, saya menggunakan jasa kendaraan travel menuju Bandara Internasional Sultan AM Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. 

Tiba di Makassar pukul 12.10. Di sana, saya bertemu Rifki Firdaus. Siswa kelas X IPS I di SMA 1 Balikpapan itu merupakan peserta rombongan International Youth Spring Camp 2017, garapan ITCC Surabaya. Dia satu-satunya dari Kaltim. 

Lima jam menunggu, saya dan Rifki bertemu rombongan asal SMA Kristen Barana Toraja. Total rombongan ada 30 orang yang siap berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten. Sebelum menuju Bandara Pudong di Shanghai, Tiongkok.

Perjalanan rombongan rupanya tak mulus. Ada kendala teknis saat akan berangkat dari Jakarta. Sesuai jadwal, harusnya rombongan yang menumpangi Pesawat Garuda tipe Airbus berangkat pukul 23.20 WIB. Namun, karena faktor cuaca, ratusan penumpang yang mayoritas warga asing harus menunggu di bandara hingga pukul 04.45.   

“Harusnya infonya cepat. Malu dong sama orang asing. Ini pesawat kebanggaan negara, lho. Berjam-jam menunggu baru ada kabar, baru petugas sibuk siapkan makanan ringan dan selimut. Harus lebih baik lah pelayanannya,” teriak penumpang di ruang tunggu keberangkatan. 

Walhasil, penumpang memilih tidur di ruang tunggu. Beralaskan selimut yang disiapkan pihak maskapai. Imbasnya, jadwal rombongan yang harusnya tiba pukul 07.20 waktu Tiongkok–waktu di Tiongkok sama dengan waktu Indonesia tengah (Wita)–namun karena delay, rombongan tiba pukul 12.20.  

KETAT

Untuk keluar-masuk ke negara lain, semua warga harus menjalani pemeriksaan imigrasi di dalam bandara. Di Indonesia, prosesnya dimulai dengan pemeriksaan barang bawaan dan identitas diri. Bagi pemula, ini merupakan proses menegangkan. Sebab, jika tak lolos verifikasi berkas, siap-siap gagal berangkat dan gigit jari. Beruntung semua rombongan ITCC, sukses masuk. Meski ada saja barang yang tidak lolos verifikasi.

“Saya enggak tahu kalau kecap tidak bisa dibawa dalam kabin pesawat. Padahal, itu kecap asin khas Toraja, rasanya enak,” kata Christian Palamba, wakil kepala SMA Kristen Barana Toraja, yang ikut dalam rombongan lantas tertawa. 

Ya, bagi penumpang yang ingin keluar negeri, sebaiknya dihindari membawa makanan dan minuman dalam kemasan lebih dari 100 mililiter. Jika disimpan dalam koper dan di bagasi pesawat, barang bisa lolos. Sambal dalam kemasan botol saya pun ikut tersita di sini.

Proses imigrasi di Tiongkok termasuk yang ketat. Khusus di Bandara Pudong, terdapat 20 loket antrean Imigrasi. Menuju loket, penumpang harus masuk dalam satu antrean yang sudah didesain rapi. Dijamin, tidak ada yang menyerobot, karena masuk antrean saja, sudah ada belasan petugas yang berjaga. 

Di sini, penumpang yang ingin masuk Tiongkok diperiksa secara ketat. Mulai paspor, visa, hingga pemeriksaan foto secara langsung. Ya, tiap loket memiliki satu kamera otomatis. Di situ penumpang akan diminta melihat mata lensa. Lagi-lagi, rombongan pun lolos tanpa hambatan. Proses ini memakan waktu sekitar 1 jam.  

Dari bandara menuju bus, kami disambut hujan. Udara dingin menusuk kulit. Suhu di Shanghai saat itu mencapai 8 derajat. Meski demikian, rombongan harus kuat menikmati perjalanan, karena akan menempuh 5 jam perjalanan dari Shanghai menuju Kota Nanjing di Provinsi Jiangsu, Tiongkok. 

 

KUNCI SUKSES

Dari Shanghai menuju Jiangsu, rombongan mendapat beberapa penjelasan dari Andre So, coordinator ITCC yang juga ketua rombongan. Dia berkisah, bagaimana pola disiplin menjadi bagian hidup rakyat Tiongkok. 

“Kalau enggak bisa disiplin, ya jangan bermimpi bisa tinggal di Cina ya. Kita kalau jalan di jalur tol ini sangat aman ya. Enggak takut ada yang ugal-ugalan,” kata dia. 

Sebab, lanjut dia, di setiap jalan tol terpasang CCTV. Laju tiap-tiap kendaraan juga diatur. Seperti mobil pribadi batas maksimal kecepatannya 120 km. Sementara itu, truk atau kendaraan besar lain hanya 100 km per jam. Jika lewat, siap-siap saja kurang poin. 

“Ini baru contoh kecil saja, hebatnya disiplin di Cina,” jelas pria yang menamatkan studi S-2 di Tianjin University of Sciences and Technology, Taiwan, itu. 

Sesampainya di Jiangsu Institute of Commerce, rombongan disambut Dekan International Student, Mr Diao Zhen Xiang. Dia ditemani beberapa staf, tak lupa mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di kampus yang memiliki luas kurang lebih 70 hektare ini.   

“Kami sangat senang bisa kedatangan siswa yang mengikuti study tour di kampus kami. Semoga betah dan jangan lupa wajib mengikuti semua aturan yang ada. Makan, tidur, jam malam, dan semuanya. Kalau melanggar, tentu akan merugikan kami dan diri sendiri,” jelas pria yang memiliki tinggi 190 cm itu.  

Harusnya, sambung dia, sesuai jadwal rombongan datang siang. Namun, ternyata molor hingga malam hari. Ya, rombongan sampai di lokasi pukul 18.30. “Karena kalian terlambat tidak disengaja, maka saya terima. Karena bagi saya, disiplin waktu sangat erat dengan bagian hidup,” ujarnya, lantas mengajak rombongan makan bersama. (far/k8)


BACA JUGA

Senin, 22 Mei 2017 07:58

Mengelak Defisit, Menagih CSR

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO DEFISIT anggaran yang melanda dalam 2-3 tahun terakhir merupakan persoalan…

Jumat, 19 Mei 2017 09:55

Ormas Tak Bisa Dibubarkan dengan Keppres

CATATAN: YUSRIL IHZA MAHENDRA (*) PROFESOR Jimly Asshiddiqie, Rabu (17/5), menyarankan Presiden Joko…

Jumat, 19 Mei 2017 08:31

Candu Dana Desa (2-Habis)

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO BICARA dana desa, kapabilitas dan kapasitas aparat desa, mulai dari kepla…

Kamis, 18 Mei 2017 10:22

Pertahankan Hukum Penista Agama

CATATAN: YUSRIL IHZA MAHENDRA (*) DI negara demokrasi, setiap warga berhak menyampaikan pikiran dan…

Kamis, 18 Mei 2017 09:04

Candu Dana Desa (1)

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO BERBICARA dana desa, tidak lepas dari perjuangan heroik para kepala desa…

Kamis, 18 Mei 2017 08:59

Tetap Surplus dalam Defisit ala KRPL Erlima

OLEH: BAMBANG SAPUTRA(Konsultan PUMKM KPw Bank Indonesia Balikpapan) DI TENGAH perlambatan ekonomi yang…

Sabtu, 13 Mei 2017 02:10

Abah dan Kreativitas yang Dihukum

PADA 7 Mei 2017, Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah menggelar apel akbar “Menggembirakan…

Jumat, 12 Mei 2017 09:01

Rangkap Jabatan, Aneh bin Ajaib

CATATAN: SYARIFUDDIN NOOR PERMASALAHAN mengenai rangkap jabatan kerap mencuat dan muncul di permukaan…

Kamis, 11 Mei 2017 11:30

Rasanya Kita yang Besarkan HTI

  Oleh: Dahlan Iskan Begitu banyak kelompok dalam Islam. Non-Islam sering tidak tahu. Lalu mengira…

Rabu, 10 Mei 2017 09:48

Biayai Pilkada, Tanggung Jawab Siapa?

CATATAN: MUHAMMAD JABAR(*) Kepala Kajian Politik Lingkar Studi Peradaban Unmul PEMILIHAN kepala daerah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .