MANAGED BY:
RABU
16 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 18 April 2017 09:11
Berkunjung ke Desa Budaya Pampang, Kampung Dayak Kenyah di Kota Tepian
Lamin Dibentengi Kampung Bugis dan Kampung Jawa
SAJIAN KHAS: Simson Imang saat menyuguhkan Tarian Tunggal pembuka kegiatan di rumah lamin Dodok Tamung Tawai, Desa Budaya Pampang, Samarinda. (DINA ANGELINA/KP)

PROKAL.CO, Beberapa tahun terakhir, kian banyak wisatawan melirik Desa Budaya Pampang. Mereka memilih kampung ini sebagai salah satu destinasi liburan. Tempat untuk mengenal seni dan budaya milik suku Dayak Kenyah.

DINA ANGELINA, Samarinda

PERJALANAN menuju Desa Budaya Pampang kurang lebih memakan waktu sekitar 45 menit. Posisi desa ini terletak sejauh 25 kilometer dari pusat kota Samarinda. Berlokasi di bagian utara Kota Tepian, Anda akan melewati jalan poros Samarinda–Bontang yang cukup berliku hingga akhirnya tiba di daerah tersebut. Kendaraan pun hanya bisa melaju dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per jam.

Desa Budaya Pampang memiliki ikon berupa lamin yang bernama Dodok Tamung Tawai. Ukuran rumah ini cukup besar. Memiliki panjang 30 meter dan lebar 15 meter. Terbuat dari kayu ulin dan memiliki tinggi mencapai 3 meter. Lamin merupakan  rumah adat Kaltim sekaligus identitas bagi masyarakat suku Dayak. Seperti lamin pada umumnya, rumah yang terdapat di Desa Budaya Pampang tersebut juga memiliki tampilan khas. Yakni ukiran Dayak yang menghiasi dinding rumah.

Ukiran begitu cantik dan berkilau dengan gabungan pelbagai warna kuning, hitam, putih, dan merah. Ketua Kesenian Rumah Lamin Desa Budaya Pampang Simson Imang bercerita, ukiran Dayak dengan beragam warna itu merupakan simbol dari persatuan. Berdasarkan cerita nenek moyangnya, gambaran warna-warni itu melambangkan bahwa ada berbagai ras, suku, dan agama dalam kehidupan sekitar. Walau berbeda, namun semua tetap menjadi satu seperti maksud dan tujuan Pancasila.

Pria paruh baya itu mengungkapkan, rencana pendirian lamin sudah berjalan dari tahun 1987. Namun dengan dana yang berasal dari swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah, rumah ini baru dapat resmi berfungsi sekitar 1991. Keberadaan lamin memang hal penting bagi masyarakat Dayak. Alasannya karena warga Dayak memiliki banyak pertemuan dan bermacam acara.          

“Ada banyak kegiatan yang kami lakukan. Seperti kesenian, pesta panen, upacara pemakaman, dan lain-lain. Acara dulu biasanya dilakukan tiga kali dalam seminggu, tergantung dari keinginan masyarakat di sini. Maka dari itu, kami butuh tempat yang lebih memadai untuk warga yang saat itu jumlahnya sekitar 80 keluarga,” ujarnya. Kegiatan adat tersebut terus berlangsung hingga saat ini.

Namun khusus untuk pertunjukan seni, biasanya selalu dilakukan hari Minggu. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga dilakukan setiap hari saat wisatawan datang berkunjung. Simson menyebutkan, setidaknya ada 11 tarian yang masih eksis dan terus mereka suguhkan. Di antaranya tari tunggal pembukaan dengan tujuan membersihkan halaman dan mencegah terjadinya hambatan selama acara.

Tarian ini cukup dilakukan oleh satu orang pemuda. Lalu tari persaudaraan yang ditampilkan oleh dua orang perempuan. Kemudian Tari Enggang Terbang yang juga Tari Perang, Tari Mempawai yang artinya persatuan, Tari Ajay yang bermakna perjuangan, Tari Anyam Tali, dan sebagainya. Menari bagi suku Dayak Kenyah sudah menjadi tradisi dan turunan dari nenek moyang. Dia menuturkan, jika ada tamu yang datang bertamu hingga pukul 16.00 Wita, maka warga yang ada di kampung tersebut akan memberikan sambutan dalam bentuk tarian.

Biasanya dilakukan saat memasuki pukul 19.00 Wita. Tarian ini bentuk persahabatan dan ramah tamah. “Kalau dulu kegiatan ini bisa berlangsung dari malam hingga pagi hari lagi. Sekarang tarian yang paling aktif kami bawakan adalah Tari Ajay Perjuangan,” sebut pria yang lahir di Long Nawang, 1 Juni 1948. Semenjak resmi menjadi warga Desa Pampang, pria yang memiliki dua cucu ini juga terpilih sebagai ketua kesenian.

“Saya sendiri tidak pandai menari. Tetapi  karena diangkat jadi ketua kesenian akhirnya saya perlu belajar dengan ahlinya. Sekarang sudah jadi tugas saya untuk membagikan ilmu seni ini ke generasi muda. Sekitar 70 orang pemuda yang aktif mempelajari seni,” kata pria berusia 69 tahun itu. Pria yang berasal dari rumpun Apo Kayan, Kabupaten Malinau, awalnya hanya pergi merantau ke Bulungan. Ketika menginjak usia 24 tahun, dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Samarinda dan bekerja di bagian pertanian.

Simson pun menyempatkan diri bertemu dengan keluarganya yang sudah lebih dahulu bermukim di Desa Pampang. Tahun 1985, momen kali pertama dirinya menginjakkan kaki di kampung tersebut. Ayah dari satu anak ini ternyata merasa nyaman dan memilih untuk bermukim di sana. Ketika itu, kampung Dayak ini masih dihuni oleh 80 keluarga yang terdapat dalam satu rukun tangga (RT). Kini penduduk Dayak Kenyah telah berkembang hingga 700 orang yang terdaftar dalam 200 kartu keluarga (KK).

“Dari hanya berada di satu lingkup RT, berkembang menjadi 3 RT. Semuanya berada di sekitar rumah lamin. Daerah ini juga bersebelahan dengan kampung Bugis di sebelah kiri dan kampung Jawa di bagian kanan. Semua bisa hidup rukun bersama, maka dari itu kami dikenal sebagai kelurahan budaya karena ada beragam budaya berdampingan,” bebernya.

Selain fokus dalam hal seni, setiap harinya Simson turut mengawasi lamin dan menjelaskan sejarah daerah itu kepada pengunjung. Ia berkisah, biasanya pengunjung mulai ramai dari Rabu hingga akhir pekan. Pengunjung dapat melihat kehidupan warga suku Dayak Kenyah lengkap dengan penampilan seni tari itu. Tidak ada pungutan biaya yang pasti bagi wisatawan, siapa saja dapat menyumbangkan dana seikhlasnya.

Bukan hanya rumah lamin. Terdapat beberapa kios suvenir yang menjual produk cendera mata. Misalnya baju adat, hiasan dinding, aksesoris, lukisan, dan sebagainya. Para pengrajin cenderamata sendiri adalah warga Dayak yang bermukim di Desa Budaya Pampang. Sehingga dengan hidupnya daerah ini sebagai destinasi wisata budaya turut mampu memperbaiki ekonomi kehidupan masyarakat di sana.(riz/k18)


BACA JUGA

Selasa, 08 Agustus 2017 09:08

Kerepotan karena Tidak Semua Pengrajin dari Kalangan Bangsawan

Setelah menembus pasar industri kreatif di Jogjakarta, anyaman khas Dayak dalam waktu dekat akan masuk…

Senin, 07 Agustus 2017 09:18

Seminggu Terkatung-katung di Krayan meski Tiket di Tangan

Kesadaran melestarikan budaya leluhur terkadang datangnya dari luar, kendati hasilnya hanya berbentuk…

Sabtu, 29 Juli 2017 07:39

Langsung Daftarkan Empat Anak Naik Haji

Dulu para petambak di Pangkep bisa menyimpan garam di gudang sampai tujuh tahun, menunggu harga bagus.…

Jumat, 28 Juli 2017 08:56

Pemasangan Cat Antigores Tiga Kali Gagal

Lukisan tiga dimensi (3D) pertama di bandara ini akhirnya terpampang nyata. Cadio Tarompo, seniman asal…

Kamis, 27 Juli 2017 08:44

“Tahun Lalu Saya Kalah tetapi Saya Masih Tetap Semangat”

Lahir dengan keterbatasan fisik, tak membuat semangat Denisa Putriana Marie luntur. Dia berhasil menorehkan…

Rabu, 26 Juli 2017 08:52

Senandika, Candu Bahagia Seorang Erfan

Meski aliran musik ini tergolong anti-mainstream, folk mulai memiliki ruang dan tempat tersendiri di…

Selasa, 25 Juli 2017 08:54

Habiskan Waktu Lima Bulan, Setahun Dua Rekor Pecah

Siapa sangka di usianya yang baru lima tahun, Kiyoshi sudah mengantongi tiga penghargaan bergengsi.…

Sabtu, 22 Juli 2017 07:52

Laptop Rp 2,91 M Bikin Heran, 11 Tersangka di Beras Basah

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim tengah gencar memberangus korupsi di Bumi Etam. Tak ingin dicap pepesan…

Jumat, 21 Juli 2017 08:34

Terinspirasi Ayah, Singkirkan 60 Kandidat

Gadis yang baru menginjak usia 15 tahun ini sudah berhasil menjajal kompetisi modeling hingga level…

Kamis, 20 Juli 2017 08:38

85 Persen Risiko Stroke Dapat Dicegah

Sekitar 15-22 persen kematian pasien stroke disebabkan perdarahan intraserebral spontan (PIS). Sementara,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .