MANAGED BY:
KAMIS
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 17 April 2017 11:45
Lutfi Mahmudah, Inspirasi dan Prestasi di Tengah Kesederhanaan
Hafal Empat Juz, Hanya Kamarnya yang Berlapis Keramik
DOBRAK PENGADANG: Lutfi Mahmudah bersama keluarga di rumah mereka, Gunung Sari, Balikpapan, kemarin.(anggi praditha/kp)

PROKAL.CO, Di balik kesederhanaannya, Lutfi Mahmudah adalah siswi berprestasi. Selalu berada di enam besar peraih nilai ujian nasional (UN) tertinggi se-Kaltim saat SMP dan SMA. Juga, pernah menjadi pelajar akselerasi saat SMP.  Kini dia tengah bersiap mengikuti learning camp (LC) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Berikut ceritanya?

SALAM yang menggantung di ujung pintu terjawab. Sosok berkerudung cokelat turun dari lantai, dia membalas lembut sapaan media ini. Senyumannya pun mengembang. Dia adalah Lutfi Mahmudah. Di balik kesederhanaan dan wajah polos tanpa makeup itu, Lutfi adalah peraih Learning Camp (LC) Rumah Amal Salman, ITB.

LC diperuntukkan bagi mereka yang mendapatkan beasiswa perintis. Berupa pembinaan menuju persiapan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Para peserta merupakan siswa SMA/sederajat yang berasal dari keluarga golongan ekonomi menengah ke bawah. Program ini bertujuan meringankan dan membantu para siswa yang memiliki prestasi cukup baik dan berkeinginan melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri, akan tetapi terbentur kendala ekonomi karena mahalnya biaya bimbingan belajar SBMPTN.  

Siang kemarin, di sebuah ruangan yang menjadi tempat “menggamit asa” dengan secangkir teh yang mulai dingin, dan semilir angin yang melenggang masuk dari jendela, remaja 17 tahun itu mulai bercerita sebelum bersiap terbang ke Bandung.  Bermula pada sebuah link yang masuk pada telepon seluler miliknya, melalui pesan singkat media sosial, Line. Dari situ dia mendapatkan informasi seputar LC. Dibarengi rasa dahaga akan ilmu, Lutfi penasaran. Lalu memberanikan diri mencoba mengikuti seleksi secara online. “Ah siapa tahu beruntung,” pikirnya kala itu.

“Sebenarnya sempat down, karena September 2016 itu informasi yang saya dapatkan hanya terbatas bagi daerah Jawa Barat. Tapi, Januari lalu saya dapat pesan lagi bahwa peserta di luar Pulau Jawa bisa ikut serta melalui seleksi online,” ucap penerima peringkat enam UN se-Kaltim 2014 dengan NEM 38,40 atau rata-rata nilai 96.

Bimbingan belajar berjalan selama satu bulan sejak 16 April sampai 14 Mei nanti. Gratis. Tentulah kesempatan yang tak disia-siakan. Beruntunglah dia menjadi salah seorang dari 40 orang yang berhasil melewati seleksi dari 300 pendaftar. Sedangkan normalnya bila ingin mengikuti kegiatan ini mestilah membayar hingga puluhan juta. Melalui LC, pihak kampus pun menginginkan generasi muda muslim banyak terjun ke dunia hukum dan kedokteran. Yup, berkat prestasi akademik, dia kerap menggondol peringkat pertama di kelas dengan nilai ujian memuaskan. Nilai yang mentereng membuatnya berkesempatan masuk Universitas Brawijaya, Malang. Langkah-langkah mimpi menjadi seorang dokter itu dibangun melalui semangat belajar yang tinggi. Bila melihat ke dalam kamar sederhana berukuran 1,5x3 meter, tumpukan buku mengenai dunia kedokteran dan motivasi telah menjadi kawan setianya.    

“Buku-buku ini saya pinjam dari kakak kelas saya yang telah menjadi dokter dan mereka yang masih kuliah,” ucapnya sembari membereskan tumpukan buku dan pakaian yang akan dimasukkan ke dalam koper. Banyak sekali penghargaan diraih dari berbagai lomba. Sebagai cucu seorang veteran 1945, Lutfi sempat merasakan beasiswa dari pemerintah dan Beasiswa Kaltim Cemerlang.

GALI-TUTUP LUBANG

Kehidupan Lutfi sangatlah sederhana. Seperti rumah berukuran 11x20 meter yang dihuni ayah, ibu, dan dua adiknya belumlah selesai dibangun sejak 2007. Terlihat di beberapa bagian masih berupa batu bata tanpa lapis dan kayu ulin. Bangunan dua lantai itu memiliki dua kamar tidur, satu ruang belajar, satu ruang tamu, dapur, dan tempat ayahnya bekerja. Barang berharga yang terlihat hanya sebuah televisi tabung, kulkas yang sedang ngadat, dan mesin cuci bekas.

Menuju rumah Lutfi, dari Masjid Da’watul Khair, Gunung Sari, Balikpapan, menempuh jarak sekitar 1 kilometer. Rumahnya berada di Gang Alfadilah dengan jarak tempuh berjalan kaki sejauh 100 meter. Jarak rumahnya dengan tetangga pun cukup jauh.

Sang ayah, Ahmad Muadlom, sempat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia selama 10 tahun.

Keluarganya memutuskan hijrah dari Blitar, Jawa Timur, ke Balikpapan pada 2002 dengan harapan mengubah nasib. Lutfi baru berusia 2 tahun saat itu. Keluarga ini sempat berpindah-pindah kontrakan sebelum membeli tanah dan membangun rumah di Jalan Wonosari RT 24, No 39, Gunung Sari, Balikpapan Tengah. Pria murah senyum itu menghidupi keluarganya dengan menjajakan keripik singkong.

Tentu hasil yang didapatkan jauh dari cukup. Dengan mendorong gerobak mulai sore hingga malam hari, dia hanya mendapatkan keuntungan Rp 50 ribu dalam seharinya. Tetapi, Muadloam merupakan sosok ayah yang ingin selalu membesarkan hati putrinya. Bahkan, hanya di ruang tidur Lutfi, keramik terpasang agar putri sulungnya itu betah belajar di kamar.

“Saya ingin dia bisa belajar dengan tenang, karena saya ingin dia bisa jadi orang yang memiliki pendidikan tinggi. Kami juga mengajarkan keberanian dan disiplin sejak dini pada Lutfi,” kata bapak tiga anak itu. 

Pria berusia 47 tahun itu juga pernah berutang puluhan juta ke bank demi memulai usaha lain dan memenuhi pendidikan buah hati, termasuk untuk membayar biaya les akselerasi semasa Lutfi SMP. Hal itu pula yang membuat Lutfi memilih tidak menerima tawaran akselerasi saat masuk SMA dulu.

“Saya ingin menikmati masa-masa sekolah di SMA. Lagi pula kasihan Bapak, biaya les tidak murah, Rp 6 juta per tahun,” ujar remaja yang sempat bergabung dalam Forum Komunikasi Pelajar Muslim ini. Dalam satu waktu, ketika sang ayah sedang sakit, sepulang sekolah Lutfi yang menggantikan peran ayahnya. Berjualan di sekolah juga pernah dilakoni saat dia duduk di kelas dua. Tidak ada rasa malu di benaknya.

DOKTER DAN PENDAKWAH

Fasilitas belajar di rumah memang tidaklah lengkap. Sebuah laptop yang dimiliki pun kini tak berfungsi. Selain di rumah, Lutfi lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan kota. Membaca dan mendapatkan akses internet. Di antara buku-buku yang dibaca, dia begitu tergugah ketika membaca buku yang menuliskan tentang kehidupan 30 orang inspirator.

Termasuk Zakir Naik. Pendakwah ulung asal India yang ramai dibicarakan di media sosial beberapa pekan lalu karena kedatangannya ke Indonesia. Mulai dari situlah dia mengidolakannya. Terlebih, cita-cita yang dimiliki serupa, menjadi dokter sekaligus pendakwah. Ya, penyuka mi ayam ini pun tengah berjuang menjadi penghafal Alquran. Kini telah menghafal empat juz.

Dia sempat mengikuti pemondokan di Pondok Putri Aminah Balikpapan selama setahun pada 2016 guna memperdalam ilmu agama. “Banyak yang menyarankan agar saya menjadi dokter kandungan, orangtua menginginkan saya memilih dokter paru-paru, tetapi saya ingin mengambil psikologi agar bisa menjadi seperti Zakir Naik. “Bahkan, dia (Zakir Naik) pernah mengatakan, dia bukanlah seorang dokter bedah tetapi dokter jiwa. Jiwa dan sosial tentu erat kaitannya dengan psikologi, bukan?” torehnya.

Gemar menulis dan akrab dengan dunia sastra, Lutfi menginginkan menjadi dokter sekaligus pendakwah ulung. Sebagai awal, dia sempat ditunjuk sebagai pembicara di sebuah kegiatan Rohis. Sekalipun masih belia, pemikirannya begitu dewasa. Berbeda dengan anak-anak seusianya, dia berharap remaja bisa menyeimbangkan antara pelajaran dunia dan akhirat.  

“Harusnya mengaji menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah. Agar remaja tidak hanya berpikir soal nilai akademik dan hangout semata,” tegasnya. Sebelum mengakhiri pembicaraan, Lutfi berpesan agar remaja lebih percaya diri, tidak menyontek saat ujian. Melalui proses belajar yang disebutkan sebagai ibadah dan ladang amal. (*/lil/far/k8)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 13:00

ALAMAKKK..!! Lihatlah, Samarinda “Dihantam” Atas-Bawah

SAMARINDA – Banjir menjadi momok yang mendampingi datangnya Lebaran di Samarinda. Cuaca ekstrem…

Kamis, 22 Juni 2017 12:00
JEJAK CHENG HO DARI TIONGKOK KE INDONESIA (25)

Pempek Pun Diperkirakan dari Tiongkok

KEDATANGAN Cheng Ho dan penumpasan bajak laut menjadikan Bumi Sriwijaya lebih tenang. Akulturasi budaya…

Kamis, 22 Juni 2017 11:11

Pemprov Dorong Percepatan PLTA

JAKARTA - Usaha yang dilakukan Pemprov Kaltara akhirnya membuahkan hasil. Kawasan Industri dan Pelabuhan…

Kamis, 22 Juni 2017 11:05

Rita Lapor Menteri ESDM

SAMARINDA - Polemik pembagian porsi hak partisipasi alias participating interest (PI) milik Kaltim di…

Kamis, 22 Juni 2017 11:04

Kapolda Dukung Penuh Jawa Pos Fit Tenggarong

BALIKPAPAN – Gelaran Jawa Pos Fit Tenggarong hanya menyisakan beberapa pekan lagi. Kapolda Kaltim…

Rabu, 21 Juni 2017 13:09

HATI-HATI..!! Cuaca Buruk Mengintai Selama Mudik

SAMARINDA - Mendung belum mau angkat kaki dari langit Kaltim. Setidaknya sampai Idulfitri. Badan Meteorologi,…

Rabu, 21 Juni 2017 13:00

YANG MUDIK WASPADALAH...!! Rute Kaltim-Kalsel Paling Rawan

BALIKPAPAN – Poros Balikpapan-Samarinda masih menyandang label jalur tengkorak di Kaltim. Walaupun…

Rabu, 21 Juni 2017 12:12
Istri Gubernur Bengkulu Kena OTT, Diduga Suap Proyek Jalan

MANTAP..!! Quattrick OTT KPK Jelang Lebaran

JAKARTA – Bengkulu layak masuk zona merah korupsi. Sebab, sepanjang dua minggu selama bulan Ramadan…

Rabu, 21 Juni 2017 11:03

700 Lubang Sudah Ditambal, Warga Diminta Atur Waktu Mudik

SAMARINDA- Kepala Bidang Perhubungan Darat, Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim, Mahmud Samsul Hadi, menuturkan,…

Rabu, 21 Juni 2017 09:41

Kabar Palsu Pernikahan Gratis

BROADCAST yang satu ini bak angin surga. Khususnya bagi para jomblo yang ingin segera berkeluarga. Apalagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .