MANAGED BY:
JUMAT
28 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Kamis, 13 April 2017 10:17
Si "Gila" dan Serangan Sindikat 11 Negara
BERKARAKTER: Pemred Kaltim Post Chrisna Endrawijaya dan Kepala BNN Budi Waseso.

PROKAL.CO, CATATAN: CHRISNA ENDRAWIJAYA 

BUDI Waseso, kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), mengakui sering disebut gila. Bahkan, oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tapi, dia tidak memusingkan hal itu. Dia lebih pusing karena serangan jaringan sindikat narkoba dari 11 negara yang menyasar Indonesia. Termasuk Kaltim yang jadi target pasar jaringan asal Malaysia.

Pertemuan saya dan para pemimpin redaksi (pemred) se-Jawa Pos Group dengan Buwas, panggilan bekennya, berlangsung di Hard Rock Hotel, Bali. Kemarin dia duduk di meja depan, menjadi narasumber. Panggilannya sangar, suaranya serak parau. Dengan wajah berkarakter keras, sekilas Buwas terlihat galak. Namun ternyata, dia justru kerap melucu.

Salah satu joke dari sekian banyak yang bikin geger kami adalah ini. "Bapak saya yang pensiunan tentara AD pernah bilang, Budi, saya pensiun kolonel. Kalau kamu pensiun sebagai kolonel juga, maka negara jalan di tempat. Kalau pensiun di bawah itu, negara mundur. Nah, ketika saya diangkat bintang tiga, saya lalu datang ke makam Bapak. Pakaian polisi lengkap, saya lalu angkat tangan hormat dan bilang, lapor, Bapak, negara telah maju". Seketika kami tertawa.

Buwas mengakui, gayanya memberantas narkoba kerap disebut gila. Karena berbagai ide nyeleneh melawan bandar. Misalnya, dia tak peduli bila bandar yang melawan ditembak. Bahkan hingga tewas. Sebab, menurut dia, korban si bandar jauh lebih banyak. Termasuk ide penjara khusus di pulau, yang penghuninya dibiarkan bertahan hidup sendiri. Hingga ide penjara narkoba dijaga buaya.

"Orang menyebut saya gila, padahal saya melihat persoalan secara utuh. Kenapa buaya, karena kalau penjaganya manusia bisa disogok dan faktanya begitu. Kenapa pelaku narkoba dilepas di pulau kosong, supaya kalau mereka susah bertahan hidup, maka akan lupa dengan narkoba. Karena hanya berusaha keras cari makan saja. Itu semua ide saya. Jadi, tak apa disebut gila. Karena yang dilawan juga para orang gila," katanya.

Buwas lalu memaparkan fakta penting. Indonesia kini menjadi sasaran serbuan sindikat narkoba dari 11 negara. Meski tak memerinci, dia memastikan sindikat-sindikat ini antara lain dari Afrika Barat dan Eropa. Ada pula sindikat dari Iran, Tiongkok, Pakistan, dan Malaysia. "Totalnya ada 72 sindikat. Kami ikuti terus mereka. Bandarnya siapa, perbincangannya seperti apa, kami tahu semua. Namun, penindakan butuh bukti. Ini yang kami kerjakan," katanya.

Buwas tambah pusing, karena musuhnya adalah jaringan kuat. Dia dan BNN bahkan melawan kekuatan uang tak berseri. Sebagai gambaran, berdasarkan data BNN, nilai narkoba yang beredar di Indonesia lebih dari Rp 72 triliun. "Ada oknum aparat yang kami tangkap mengaku. Sekali amankan pengantaran dibayar Rp 2 miliar. Dalam sebulan tiga kali antar, minimal dia dapat Rp 6 miliar. Jadi, kami menghadapi jaringan yang kekuatan uangnya besar sekali," kata Buwas lagi.

Selain itu, mereka menghadapi berbagai cara penyelundupan model baru. Mulai narkoba disembunyikan di dalam filter tabung air, di dalam mesin diesel, hingga yang terbaru dalam perut ikan. Ya. Narkoba itu dimasukkan dalam perut ikan. Ini terungkap baru-baru ini ketika Menteri Kelautan dan Perikanan Sri Pudjiastuti mendapat info bahwa ada kapal datang membawa narkoba. Info ini lalu dikirim ke Buwas, yang bersama TNI kemudian melakukan penyergapan. Ternyata benar, modusnya sudah seperti di dalam film-film Hollywood.

Yang juga gila, kata Buwas, sekarang di Indonesia kalangan bawah yang sehari-hari makan saja sulit, justru menjadi pecandu sabu-sabu. Pendapatan di bawah Rp 10 ribu sehari, tapi bisa menikmati narkoba seharga Rp 2 jutaan per gram. Rupanya ini adalah taktik lain dari jaringan-jaringan sindikat. Mereka berinvestasi. Sasarannya dikasih gratis sehingga ketika sudah kecanduan, dipaksa menjadi pengedar dan bandar. Celakanya, mereka ini yang justru militan. Seperti teroris. "Ini fakta. Makanya melawan narkoba harus semua bergerak. Ini proxy war," katanya.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah narkoba di lapas. Sebanyak 70 persen penghuni lapas adalah pelaku narkoba. Dan mirisnya, 50 persen peredaran narkoba berasal dari lapas. Ini diperparah taktik sindikat yang menyusupi TNI-Polri dan menyuap. Termasuk oknum sipir di lapas juga terkontaminasi. "Gaji oknum sipir Rp 4 jutaan per bulan. Oleh sindikat ditawari gaji Rp 50 juta per bulan plus rumah dan mobil. Tentu ada yang tergiur. Ini salah satu masalah besar," kata Buwas.

Bahkan, di salah satu daerah di Kalimantan, ungkap dia lagi, ada seorang bandar di lapas yang ternyata mengendalikan peredaran narkoba di daerah lain. Ketika mau dibawa dari lapas, justru ditahan-tahan. Dengan alasan bisa chaos di dalam lapas bila tahanan tadi dibawa BNN. Buwas mencium ada permainan dan ini banyak terjadi di berbagai daerah. "Suatu saat saya akan serbu lapas yang seperti ini," katanya, geram.

Bagaimana dengan Kaltim? Pertanyaan ini mendapat respons yang cukup baik dari Buwas. Dia menjawab, Kaltim memang sasaran empuk narkoba dari sindikat asal Malaysia. Begitu banyak jalan tikus di perbatasan. Berbagai kalangan juga sudah terlibat sindikat. Bahkan, sudah banyak para ibu rumah tangga yang ditangkap karena berjualan narkoba. Kata Buwas, kondisi Kaltim ini bahkan sempat membuat jajaran BNP Kaltim "lemes". Tak berdaya menghadapi situasi dan sindikat yang kuat secara finansial tadi. Tapi, Buwas mengaku terus menguatkan. Dia mendorong jajarannya jangan kalah, pelajari situasi, dan minimal terus menggelorakan penyampaian bahaya narkoba lewat media.

Apalagi para sindikat ini kini terus mengincar pasar muda. Tak tanggung-tanggung, sasarannya kini murid SD dan SMP. Bahkan, satu kasus di Kalteng, ada bayi yang sudah terkontaminasi narkoba. Ini semua dilakukan karena sindikat ini ingin meremajakan pasar mereka. Menurut sindikat, pasar penikmat narkoba saat ini sebentar lagi mati. Karena itu, mereka berusaha mengambil pasar yang lebih muda sebagai pangsa pasar baru.

Buwas berharap, dengan kondisi yang begitu parah ini, semua pihak terlibat dalam pencegahan. Dia ingin Kepala Dinas Pendidikan Kaltim turun menjadi contoh jajarannya, untuk bicara bahaya narkoba dari sisi pendidikan. Dia juga ingin Kepala Dinas Kesehatan Kaltim rutin turun ke sekolah-sekolah, bicara bahaya narkoba dari sisi kesehatan. Begitu juga para polisi dan pengacara, bicara di sekolah-sekolah tentang bahaya narkoba dari sisi hukum. Kalau semua terlibat, Buwas yakin masih ada harapan melawan para sindikat ini. Pertanyaannya, Anda sudah tahu kondisinya, apakah hanya diam? (far/k8)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .