MANAGED BY:
SABTU
24 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MASKULIN

Minggu, 09 April 2017 11:52
Kisah Lilo yang Candu Piringan Hitam
Mimpi Bangun Museum Mini
SULIT NAMUN BAHAGIA: Selain langka, alat pemutar piringan hitam sulit didapat, sehingga penggemar vinyl pun sukar ditemui.

PROKAL.CO, MATANYA mendelik tepat ketika pandangannya bertemu kotak asing di sudut kamar indekos seorang kawan. Dari gagang pintu, jemarinya lantas berpindah menyusuri sudut demi sudut kotak tipis dengan ujung jarum terangkat itu. Berbekal penasaran, Trisa Hipmi Sudarma segera menyambut uluran piringan hitam Deep Purple keluaran tahun 1970 dari tangan kawannya dan meletakkannya di permukaan kotak. Kunjungan ke Bandung kala itu menjadi awal mula perkenalannya dengan vinyl dan turntable atau alat pemutar piringan hitam.

“Album In Rock milik Deep Purple ialah vinyl pertama yang saya dengar. Sensasinya memang berbeda, rasanya lebih puas ketika mendengarkan lagu dengan vinyl. Suara yang dihasilkan juga lebih jernih,” ungkap pria yang akrab disapa Lilo kepada Maskulin, Minggu (2/4) sembari mengenang memori 18 tahun silam itu saat menempuh pendidikan di Kota Kembang.

Profesi sang ayah sebagai gitaris dan ibu sebagai penyanyi mengantarkan Lilo kecil akrab dengan dunia musik. Sejak umur 8 tahun, dirinya kerap mendengarkan lagu-lagu musisi kesayangan dari compact cassette atau kaset pita. Kegemarannya mendengarkan lagu melalui rilisan fisik tetap berjalan seiring pergeseran kaset pita ke media yang lebih canggih, yaitu compact disc (CD).

Kebiasaan sedari kecil itulah yang membuat rasa penasaran Lilo membuncah ketika menemukan piringan hitam. Sejak saat itu, dia membulatkan tekad agar suatu hari dapat membeli vinyl dengan uang sendiri.

Sepuluh tahun berlalu, ingatan tentang piringan hitam kembali menguak ketika menyambangi konser musik di daerah Blok M Square di Jakarta Selatan. Dikenal sebagai tempat menjual berbagai rilisan fisik, Lilo kemudian berburu piringan hitam. Walhasil, album Ride The Lightning dari Metallica menjadi vinyl pertamanya.

“Waktu itu harganya tiga ratus ribu. Padahal, enggak punya alat pemutarnya, tapi tetap dibeli buat pajangan di dinding kamar. Pokoknya yang penting punya vinyl dulu, deh,” ujarnya lantas tertawa.

Kunjungan selanjutnya ke Jakarta membawa rezeki tersendiri tatkala seorang kawan menawarkan turntable second miliknya dengan harga murah. Tak ingin kehilangan kesempatan, pria yang kini tinggal di Tenggarong itu akhirnya berhasil membawa pulang turntable Kenwood keluaran tahun 1970.

“Dikasih murah sama teman, lima ratus ribu saja. Katanya, biar bisa dengar vinyl,” kenangnya.

Sejak saat itu, Lilo mulai tertarik berburu vinyl. Namun, hanya sedikit musisi Indonesia merilis album berbentuk piringan hitam. Lazimnya, vinyl digunakan sebagai media promosi ke radio-radio di kota, sedangkan rilisan fisik diperjualbelikan berupa kaset pita.

“Di rumah ada koleksi dari God Bless, Iwan Fals, dan Ikang Fauzi. Memang enggak banyak sebab rilis piringan hitam biayanya mahal,” sambungnya.

Hingga saat ini, Lilo masih gemar berburu vinyl. Selanjutnya, dia ingin membangun sebuah tempat untuk menyimpan dan memajang seluruh koleksi piringan hitam miliknya. Boleh dikatakan, museum mini khusus vinyl. Bangunan tersebut nantinya dapat dijadikan sebagai tempat bersantai dan terbuka untuk umum.

“Banyak yang menawar koleksi saya, tapi hanya beberapa saja yang dijual. Selebihnya disimpan untuk dinikmati,” pungkasnya. (*/ypl/k11)


BACA JUGA

Minggu, 18 Juni 2017 12:07

Dipanggil Adiboy, Lahirkan Filosofi

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, demikian sang anak yang tumbuh dengan merekam kebiasaan sang ayah.…

Minggu, 18 Juni 2017 12:05

Ukir Nama di Alas Kaki

JARI telunjuk Eri Kurniawan bergerak aktif memainkan scroll mouse tersambung ke komputer, sedangkan…

Minggu, 18 Juni 2017 12:04

Hobi Rawat Sendiri

MATAHARI pagi menyapa malu ketika Eri Kurniawan duduk di ruang tengah rumahnya. Tangannya sibuk menghimpun…

Minggu, 18 Juni 2017 12:00

Buah Tangan East Kalimantan Center, Terkenal di Tiga Benua

ABON ikan, tas rotan, manik-manik, lempok durian, boleh dikatakan buah tangan khas Bumi Mulawarman.…

Minggu, 18 Juni 2017 11:59

Fenomena Mudik Lebaran, Ajang Tukar Kasih dan Kisah

FENOMENA mudik nyatanya bukan hanya terjadi di Indonesia, ramai-ramai kembali ke kampung halaman lazim…

Minggu, 18 Juni 2017 11:58

Sesuaikan Karakter Pemudik

SETELAH berjuang satu tahun sibuk di kota orang, kini saatnya kembali ke rumah. Bagi pemudik, setidaknya…

Minggu, 18 Juni 2017 11:52

Sejam Reduksi 1.000 Kalori

JANGAN sepele dengan skipping. Walau hanya menggunakan tali sebagai media olah fisik, beberapa bagian…

Minggu, 18 Juni 2017 11:51

Rutin Olahraga, Jangan Begadang

ANDREAS Panjaitan terus memutar tali yang digenggamnya. Dentuman musik menemani lompatannya yang terhubung…

Minggu, 18 Juni 2017 11:50

Periksa sebelum Konsumsi

TAMPILAN fisik selalu menjadi utama. Sebab, itu ragam cara dilakukan untuk bisa mendapatkan tubuh ideal.…

Minggu, 18 Juni 2017 11:49

VARIASI OLAH FISIK LOMPAT TALI

Gerakan lompat saat berolahraga dengan jump rope dapat dilakukan dengan beragam gaya. Selain menghalau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .