MANAGED BY:
SENIN
29 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 03 April 2017 08:40
Melawan Takdir Pengemis Air

Krisis di Depan Mata, Desalinasi Menanti Akhir

PROKAL.CO, Krisisair yang melanda Kota Minyak merupakan persoalan serius. Diprediksi, dalam tiga tahun mendatang, hajat hidup orang ini menjadi barang mahal.

DINA ANGELINA, Balikpapan

MASALAH air memang bukan kali pertama melanda kota yang dipimpin oleh Rizal Effendi dan Rahmad Mas’ud ini. Sudah dalam beberapa tahun terakhir, ketersediaan air baku bikin warga resah. Apalagi kala musim kemarau tiba, Waduk Manggar yang jadi harapan utama produksi air baku bisa kering kerontang. Hanya berharap hujan datang agar waduk kembali terisi.

Pelbagai cara mencari sumber alternatif air baku pun ditempuh pemkot. Salah satu yang paling gencar dan kini dalam masa penjajakan adalah desalinasi. Mengubah air laut menjadi air tawar. Direktur Utama PDAM Tirta Manggar Balikpapan, Haidir Effendi  mengaku optimistis dengan desalinasi. Menurutnya, Balikpapan sebagai kota yang terletak di daerah pesisir memiliki kekayaan air laut yang sampai saat ini belum maksimal dimanfaatkan.

“Jelas yang ada di depan mata ini ketersediaan air dari laut. Jadi, kenapa kita tidak mencoba. Saat ini desalinasi menjadi hal yang paling memungkinkan. Selain sumbernya sudah ada, teknologi desalinasi sudah tersedia,” ungkapnya kepada Kaltim Post pekan lalu.

Selama ini, terang dia, Balikpapan hanya dapat berharap pada produksi air dari Waduk Manggar. Waduk yang terletak di Balikpapan Utara tersebut menyuplai kebutuhan air untuk tiga instalasi pengolahan air minum (IPAM). Yakni IPAM Batu Ampar di Kilometer 8 dengan kapasitas produksi 500 liter per detik, IPAM Mini Manggar di Kilometer 12 dengan kapasitas produksi 20 liter per detik.

Serta IPAM Kampung Damai dengan produksi 362 liter per detik. Jadi, meski tidak sedang dalam kondisi kemarau, krisis air baku bisa saja terus terjadi. Akibat kebutuhan air baku, warga Balikpapan hanya bergantung dari produktivitas Waduk Manggar sehingga perlu mencari alternatif sumber air secepatnya, seperti desalinasi.

 Sebab, jika berkaca pada pembangunan waduk, membutuhkan waktu lama dan biaya besar. Terlebih pembebasan lahan cukup rumit dan menyita waktu, seperti yang terjadi di Waduk Teritip, Balikpapan Timur. Haidir mengatakan, dalam proyek desalinasi ini, pemkot melibatkan investor yang berperan dalam sektor air baku dan pengelolaannya.

Sementara itu, distribusi menjadi tanggung jawab PDAM. “Namun, berapa harga jual dari produk desalinasi pasti melalui tahap negosiasi lagi. Perlu ada kajian dengan melihat feasibility study (FS) dan rapat internal PDAM,” tuturnya. Meski desalinasi menjadi opsi dengan biaya mahal, Haidir menyebutkan, tarif tidak akan jauh berbeda dengan yang telah berjalan sekarang.

Berdasar tarif yang berlaku pada 2015, harga jual relatif berdasar ketetapan golongan. Ada tarif dari Rp 2.400–Rp 12 ribu. “Kalau dihitung rata-rata, sekarang harga jual eksisting sekitar Rp 9 ribu per meter kubik. Sedangkan harga ongkos produksi 7.500 per meter kubik. Prinsipnya tetap menggunakan subsidi silang, mereka yang mampu membayar dengan harga lebih tinggi dapat membantu yang tidak mampu,” katanya.

Haidir menyebutkan, sesungguhnya sudah ada segmen pelanggan yang mampu membayar tarif desalinasi. Jadi, soal market bukan lagi kendala meski memang tidak ada segmen atau wilayah khusus yang akan menggunakan aliran air dari desalinasi ini. Dia mengatakan, dari awal tidak ada zonasi khusus untuk menunjukkan segmen pelanggan PDAM. Antara tempat tinggal, pemukiman, rumah toko (ruko), dan kantor hampir semua tersebar di berbagai wilayah.

“Jadi, teknologi ini akan berbanding lurus dengan harga. Kami jamin proporsional, bukan berarti ada desalinasi kemudian tarif subsidi sesuai golongan sosial yang saat ini berjalan akan hilang,” ungkapnya. Dia mengakui, jika ingin mendapatkan harga yang lebih kecil hanya dapat dilakukan dengan metode konvensional. Namun, dengan kondisi terdesak ini, alternatif penggunaan air baku dari air laut adalah solusi terbaik.

Haidir kembali mengingatkan warga untuk tidak perlu khawatir dengan kehadiran desalinasi. Sebab, desalinasi bukan menjadi backbone alias sumber air baku utama. Desalinasi hanya untuk membantu kebutuhan air terpenuhi. Pihaknya masih berharap Waduk Teritip secepatnya bisa beroperasi, sesuai target pada 2018 mendatang.

Adapun fokus utama PDAM saat ini adalah memproduksi air agar mencukupi kebutuhan. Jadi, dalam waktu yang singkat bisa menambah kapasitas air. Mengurangi jarak antara supply dan demand yang besar. Selain ketersediaan air baku, ada beragam faktor yang memengaruhi kinerja PDAM. Antara lain, keterbatasan pasokan energi listrik sampai topografi.

Berdasar data PDAM Balikpapan hingga Februari 2017, jumlah pelanggan tercatat sekira 96.370 sambungan rumah. Sementara cakupan pelayanan berkisar 76,61 persen dari seluruh jumlah penduduk Balikpapan yakni 766.046 jiwa. Daftar tunggu pelanggan mencapai 3.740 registrasi. “Rencana desalinasi dengan teknologi reverse osmosis (RO) berkapasitas produksi 50 liter per detik. Kira-kira bisa menambah lima sampai enam ribu pelanggan baru. Tinggal mencari daerah yang paling memungkinkan untuk menyerap agar desalinasi ini maksimal. Bagaimana membuat biaya dan harga bisa minim,” tuturnya. (riz/k16)


BACA JUGA

Selasa, 09 Mei 2017 09:29

Putar Otak demi Sebuah Ijazah

Meningkatnya kebutuhan jelang tahun ajaran baru patut diwaspadai para orangtua. Belum lagi, ditambah…

Selasa, 09 Mei 2017 09:13

Klaim Murah dengan Syarat Berlipat

BAYANG – bayang pengeluaran tinggi jelang tahun ajaran baru membuat sebagian besar orangtua waswas.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .