MANAGED BY:
JUMAT
28 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 21 Maret 2017 07:45
Masa Keemasan Walet Telah Memudar
SEPI BUYER: Tiongkok tak lagi melirik sarang walet Indonesia ditengarai sebagai penyebab sepinya pasar belakangan ini. Tak sedikit sarang kini kembali dijadikan rumah oleh sang pemilik.(RIFKI/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Bisnis sarang walet di Kota Tepian tampaknya telah mati suri. Dari target PAD sebesar Rp 50 juta, yang terealisasi hanya Rp 7 juta. Kondisi semakin berat lantaran ekspor harus melalui Malaysia.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Samarinda Hermanus Barus mengatakan, PAD dari sarang walet selalu tetap, tidak ada peningkatan. Dia juga mengaku bingung bagaimana cara menaikkannya. Hermanus menduga sarang walet tidak jadi objek menarik lagi. Sebab, kata dia, banyak rumah walet yang sudah tutup. “Beberapa rumah walet kembali jadi rumah biasa. Barangkali masa keemasan walet sudah sirna,” ujarnya.

Hermanus juga mengaku tidak tahu berapa jumlah pengusaha walet saat ini. Kata dia, dulu setiap jalan di Samarinda masih terdengar suara walet. Sekarang sudah tidak ada. Menurut dia, mungkin itu indikator bahwa bisnis walet kian sunyi. “Makanya kami tak berani pasang target pajak untuk sarang walet,” sebutnya.

Selain itu, ujar dia, beredar isu di kalangan pengusaha walet bahwa Tiongkok tidak tertarik lagi pada sarang walet dari Indonesia. Isu itu menyebutkan, sarang walet dari Indonesia dipaparkan memakai pemutih. Sebab, bagi pengusaha walet, semakin putih semakin laris. Namun, kata dia, kabar itu tak sepenuhnya bisa dipercaya. Sebab, ada juga persaingan bisnis dari negara tetangga. “Saingan berat kita dari Malaysia. Sekarang tak boleh ekspor langsung, tapi harus lewat Malaysia,” beber dia.

Diwartakan, PAD dari sektor pajak sarang walet sangat minim. Dari target Rp 50 juta, Pemkot Samarinda hanya mampu merealisasikan Rp 7 juta. Alasannya, jual-beli air liur walet ini kini sepi. Dari target Rp 50 juta, yang terealisasi hanya Rp 7 juta. Tarif pajaknya adalah 10 persen dari omzet mereka. Dari sekitar 200 gedung sarang walet di Kota Tepian, setidaknya hanya 25 yang aktif. (*/hdd/lhl/k16)


BACA JUGA

Rabu, 26 Juli 2017 07:35

Hanya 9,8 Persen Pengusaha Sadar Pajak

BALIKPAPAN – Saat ini, RI menduduki peringkat tertinggi untuk penetapan besaran Penghasilan Tidak…

Rabu, 26 Juli 2017 07:34

Minim Pemodal dan SDM

BALIKPAPAN - Perkembangan start-up di kota-kota besar di Pulau Jawa terus tumbuh dengan pesat. Bahkan…

Rabu, 26 Juli 2017 07:26

Ubah Siasat agar Meningkat

SAMARINDA – Lesunya bisnis tambang turut memaksa bisnis properti Bumi Etam kembali atur strategi.…

Rabu, 26 Juli 2017 07:22

Di Kaltim, Baru Samarinda dan Kukar yang Manfaatkan

BALIKPAPAN - Berkembangnya transaksi e-commerce di Indonesia cukup pesat. Bahkan, sampai kepada belanja…

Rabu, 26 Juli 2017 07:21

Kesenjangan Pengeluaran Masih Timpang

SAMARINDA – Kinerja ekonomi Kaltim Triwulan (Tw) I 2017 mengalami pertumbuhan positif. Badan Pusat…

Rabu, 26 Juli 2017 07:20

Angkat Kekhasan Lokal, Pasarkan Produk ke Eropa

Istri suka masak, suami doyan makan. Ini yang membuat pasangan Nany Achmad dan Suhar Junaedi kepincut…

Rabu, 26 Juli 2017 07:15

Potensi Besar, Aturan Tak Konsisten

JAKARTA - Bank Dunia menilai Indonesia memiliki potensi besar  untuk memengaruhi kondisi ekonomi…

Rabu, 26 Juli 2017 07:13

Ekspor CPO ke Nigeria Terus Turun

LAGOS - Pemerintah tengah mengupayakan peningkatan ekspor minyak sawit mentah (CPO) ke Nigeria. Saat…

Rabu, 26 Juli 2017 07:11

Tagih Angsuran Gandeng Kepolisian

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) untuk…

Selasa, 25 Juli 2017 07:34

Kembangkan Bisnis Pangan di Kaltim

SAMARINDA – Berbagai peluang bisnis bisa ditangkap di Benua Etam. Salah satunya sektor pangan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .