MANAGED BY:
SELASA
25 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 20 Maret 2017 08:56
TERISAK TANPA TERLIHAT

Syifa Aulia, Berjuang Melawan Penyakit Jantung Bawaan

PROKAL.CO, Musibah bisa datang kapan saja. Tanpa pandang umur.

DINA ANGELINA, Balikpapan

SYIFA Aulia hanya bisa duduk diam. Dari kejauhan, dia hanya bisa memandang sebayanya yang sedang bermain sepuasnya, melompat setingginya dan berlari sekencangnya. Syifa, begitu dia disapa, harus memendam hasrat menikmati indahnya masa kanak-kanak.

Sebaliknya, di usia yang baru 11 tahun, Syifa harus berjuang melawan penyakit yang diderita dari lahir. Yakni Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Akibat penyakit ini, murid yang tengah duduk di bangku kelas IV SD 020 Kariangau, Balikpapan Utara, wajib menjaga diri dari kelelahan.

Namun putri dari pasangan Juliansyah dan Rina Wahyuni ini berusaha tegar melewati musibah. Wajahnya terlihat teduh saat Kaltim Post menemuinya pekan lalu di sekolah dan kediamannya. Secara kasat mata, tidak terlihat bahwa dirinya berbeda dengan anak sebayanya. Padahal, akibat PJB yang diderita, dia kerap bolak balik ke Jakarta menjalani pengobatan yang tidak sebentar.

Rina Wahyuni, ibu Syifa menuturkan, gejala PJB pada buah hatinya itu mulai terasa kala berusia satu bulan. Kala itu, anak bungsunya mengalami flu dalam masa yang panjang. Cukup bingung dengan keadaan itu, Rina dan sang suami, Juliansyah membawa Syifa berobat ke Puskesmas Karang Joang.

Bak tersambar petir di siang bolong, keduanya kaget bukan kepalang mengetahui anak tercintanya divonis menderita kelainan jantung. Rina sampai tidak bisa berucap saat dokter mengucapkan diagnosis. Namun, dokter juga menjelaskan agar dirinya tidak perlu khawatir dan tetap tenang.

Alasannya, pada kasus tertentu jika gizi sang anak baik, ada kemungkinan organ jantungnya tertutup dan sempurna sendiri. Hanya, wajib rutin ke dokter untuk mengontrol. Dari momen itu, Syifa terus mendapatkan pengawasan ekstra. Terutama soal konsumsi makanan dan asupan gizi.

Rina menuturkan, kecurigaan kehadiran PJB pada buah hatinya sudah terasa di awal masa persalinan. Rina menyebutkan, gejala ini tampak dari kondisi kebiruan di sekitar bibir Syifa. Namun dia membuang jauh pikiran dan rasa curiga. Apalagi saat itu dia tidak begitu paham tentang PJB.

“Saya pikir mungkin kedinginan karena AC saja. Sampai di rumah, gejala itu tak hilang. Misalnya saat dia selesai mandi, kalau terlalu lama satu badan bisa membiru,” ungkapnya.

Rina menyebutkan, dari penjelasan dokter, ada beragam faktor yang menyebabkan Syifa mengidap PJB.

Pemicu terbesarnya akibat riwayat penyakit diabetes yang dia alami. Sebelum hamil, dokter pernah mengingatkan agar ibu yang tampil berhijab itu mengurungkan niat untuk memiliki anak lagi. Sebab kehamilan terlalu berisiko dan diabetes akan berpengaruh pada janin.

“Tapi keinginan saya besar. Saya ingin mencoba dan konsultasi dengan dokter lain pun tidak apa-apa. Begitu hamil, asupan gizi tidak terpenuhi. Saya sulit menerima makanan. Bahkan kadar gula yang biasanya tinggi jauh turun drastis dan cenderung kurang. Sering sekali saya bolak balik masuk rumah sakit,” bebernya.

Ketika mengetahui kondisi putrinya berbeda, Rina dan Juliansyah tidak bisa langsung memberikan pengobatan secepatnya. Keuangan keluarga kecilnya saat itu terbatas. Tidak memungkinkan untuk menjalani operasi yang biayanya cukup besar. Padahal, secara medis operasi bisa dilakukan kapan saja sedari dini.

Terlebih kelainan jantung juga tidak begitu mengganggu Syifa kala itu. Anak ketiganya itu tumbuh normal tanpa keluhan. Namun kondisi berbeda muncul ketika Syifa mulai aktif dan mampu berjalan. Bocah kelahiran Balikpapan, 21 November 2006 itu mudah lelah. Seketika jongkok jika merasa kecapekan.

Lalu, Syifa pernah pingsan karena asyik bermain di pantai, tubuhnya kedinginan terlalu lama. Kalau sudah begitu, Rina cukup memangku dan menyelimuti buah hatinya dari kepala sampai kaki agar hangat. “Kalau sudah istirahat dan napas normal, aktivitasnya lanjut lagi. Dia tidak bisa diam, layaknya anak kecil yang aktif. Tapi anak saya juga tidak pernah mengeluh sakit. Paling hanya bilang capek,” katanya.

Dokter spesialis anak pertama kali memintanya agar Syifa segera menjalani tindakan pada jantungnya pada 2013 lalu. Dengan semangat yang ada, Rina dan Juliansyah mencari pertolongan dana pengobatan. “Saya disarankan untuk cari bantuan ke Yayasan Jantung Indonesia Cabang Balikpapan. Ternyata setelah saya urus, akhirnya yayasan bisa kasih bantuan. Saya sangat bersyukur karena dengan bantuan itu, Syifa benar-benar dapat menjalani operasi,” ucapnya.

Tindakan awal berlangsung tiga tahun lalu. Atau saat Syifa berusia delapan tahun. Penanganan berlokasi di RS Harapan Kita Jakarta sebagai pusat rumah sakit jantung dan pembuluh darah. Awalnya Syifa mendapatkan tindakan berupa kateterisasi. Lalu dua bulan menunggu di ibu kota, kemudian dia menjalani bypass.

“Berdasarkan penjelasan medis, ada beberapa kelainan. Misalnya jantung berada di sebelah kanan, padahal normalnya di kiri. Kemudian sempat ada kebocoran dan penyumbatan pembuluh darah ke paru-paru,” sebutnya.

Setelah itu mereka kembali ke Balikpapan. Setahun pasca operasi, mereka kembali ke Jakarta untuk menjalani kontrol. Sekaligus mempersiapkan diri menjalani tindakan operasi kedua yakni bypass keseluruhan. Sejak awal, dokter mengatakan putrinya perlu menjalani operasi selama dua kali. Rencananya dalam waktu dekat ini, Syifa akan melewati operasi besar kedua.

“Memang tidak bisa operasi langsung semua, harus menunggu organ terbentuk sempurna. Berbeda dengan kasus pada orang dewasa. Jadi kami lihat keberhasilan tahap pertama,” ujarnya.

Sang ayah, Juliansyah mengatakan sangat bahagia dengan kemajuan Syifa. Terlebih lagi setelah melalui tindakan bypass pertama.

Menurutnya, terlihat kemajuannya yang besar. Apabila biasanya kulit anaknya itu membiru hingga satu badan, kini gejala itu hanya terlihat di sekitar bibir dan kuku. Itu pun jika kondisinya terlalu lelah.

“Lebih kuat beraktivitas, kalau dulu dikit-dikit capek. Naik gunung sudah kuat, bisa jalan dari rumah ke sekolah. Dia memang ingin seperti anak lain yang bisa pulang sendiri ke rumah,” terangnya. “Dulu sebelum operasi, setahun bisa dua kali opname akibat flu, tipes, dan trombosit yang turun tanpa sebab. Gara-gara daya imun yang rendah ini. Dia tidak kuat dingin, namun gemar sekali berenang dan main air,” sambungnya.

Selain itu, konsumsi makanan menjadi perhatian utama. Syifa tidak bisa makan terlalu banyak dan kekenyangan. Dia cukup makan sedikit demi sedikit. Setiap kali dia lapar baru makan. Dokter berujar, tidak ada larangan makanan. Selama itu makanan sehat dan bebas pengawet.

“Paling utama menghindari penyedap rasa, snack, sampai minuman sachet. Dia menurut saja. Kalau dia bohong dan melanggar aturan, efeknya bisa langsung terlihat. Entah sakit batuk dan lainnya,” urainya.

Menuju persiapan operasi besar kedua ini, Syifa menjalani perawatan gigi. Alasannya karena saat operasi, kesehatan gigi juga harus terjamin. Misalnya tidak boleh ada gigi yang berlubang. “Kalau soal biaya sudah tidak bisa terhitung, saya mikirnya anak bisa pergi berobat saja. Alhamdulillah sebagian dana bantuan dari yayasan juga. Terima kasih pada semua pihak yang telah membantu. Semoga akan ada banyak bantuan lainnya,” pungkasnya. (riz/k18)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .