MANAGED BY:
SELASA
28 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 15 Maret 2017 11:27
Misi Supersulit Dua Ambulans
Menembus Jalur Darat dari Samarinda ke Long Apari
KE PERBATASAN MELAWAN KETERBATASAN: Mitsubishi Triton yang dimodifi kasi menjadi ambulans milik Diskes Mahulu harus diangkut ke atas dua perahu agar bisa sampai Long Apari, kecamatan paling ujung yang berbatasan dengan Malaysia.(DISKES MAHULU FOR KALTIM POST)

PROKAL.CO, Jauh dari infrastruktur yang memadai membuat penghuni pedalaman Kalimantan terbiasa hidup terbatas. Kesulitan adalah teman akrab mereka.

FELANANS MUSTARI, Long Apari

GELAP pada senja yang basah mulai menjalar di langit Kampung Datah Sangai, Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Hulu (Mahulu). Empat orang mengelilingi dua mobil yang terbelenggu lumpur tebal. Sudah tiga jam, mereka berusaha membebaskan kendaraan dari cengkeram kubangan selebar 3 meter.

Awal Februari lalu, dua Mitsubishi Triton yang dimodifikasi menjadi ambulans terbenam. Seluruh roda hilang ditelan lumpur. Terjebak di tengah hutan belantara yang sunyi. Para pembawanya berusaha mengeluarkan mobil milik Dinas Kesehatan (Diskes) Mahulu itu dengan cangkul. Kubangan pun digali sedemikian rupa agar lebih landai. Perlu enam jam lagi baru berhasil.

Dominikus Savung (29) adalah tenaga kerja kontrak Diskes Mahulu yang turut dalam rombongan. Misi mereka berat, nyaris mustahil. Empat laki-laki itu harus membawa dua ambulans menuju batas negara di Kecamatan Long Apari. Mustahil karena jalur darat sungguh berat. Tiada aspal mulus. Mereka harus melewati jalan belantara yang baru dibuka. Wajah-wajah jalan tanah itu sangat seram terutama ketika musim hujan. Muka jalan menyimpan senyum licik kubangan di banyak titik.

Sore pukul empat pada bulan lalu itu contohnya. Dua mobil yang dibawa Dominikus bersama Boy Ashari (25), Pavilus Panyu (40), dan Antonius Jiu (40), terjebak lumpur. Sembilan jam mereka mencangkul sampai akhirnya bebas. “Tepat tengah malam, kami baru bisa melanjutkan perjalanan,” tutur Dominikus kepada Kaltim Post. Ditemui di Puskesmas Tiong Ohang, Long Apari, pria bertubuh kurus itu bertutur panjang.

Sebelum malam panjang itu, keempat pembawa ambulans sudah melalap ratusan kilometer jalan. Satu hari mereka habiskan dari Samarinda menuju Kecamatan Tering, Kutai Barat (Kubar). Hari kedua, Dominikus dan rekan menembus Ujoh Bilang, ibu kota Mahulu.

Sampai di situ saja, mereka harus berkali-kali bongkar muat. Dominikus membawa beberapa batang kayu berbentuk balok untuk dibentangkan ketika bertemu sungai kecil. Bukan sekali, berkali-kali mereka membangun jembatan instan. Badan jalan yang baru dibuka belum dilengkapi jembatan. Padahal, ada ratusan kali kecil yang mesti diseberangi.

Hari berikutnya kian berat. Semakin jauh ke hulu Sungai Mahakam, jalur kian menantang. Berangkat pukul 11.00 Wita dari Ujoh Bilang, rombongan terjebak lumpur di Datah Sangai. Jebakan lumpur sembilan jam tadi ternyata hanya salam pembuka. Menembus malam, ayah satu anak itu menemukan rintangan berikutnya.

Hari belum terik ketika mereka mencapai tepi Sungai Pahangai, anak Sungai Mahakam. Hujan membuat air di tubuh sungai di Kampung Long Tuyoq tumpah ke mana-mana. Badan sungai kelewat banyak menenggak tumpahan langit. Lebarnya melar hingga 20 meter dengan kedalaman hampir 2 meter.

Tidak ada yang bisa dilakukan. Balok-balok yang dibawa tak cukup panjang untuk jembatan darurat. Tanpa jalan keluar, mereka akhirnya berjalan kaki mencari perkampungan terdekat. Setidaknya, itu lebih baik daripada berdiam di hutan yang sunyi. Keberuntungan kerap datang kepada orang-orang yang tekun berjuang. Sebuah kamp perusahaan kayu berdiri di dekat sungai. Dominikus dan kawan-kawan akhirnya tinggal sementara di permukiman karyawan. Mereka lalu menjalani pekerjaan yang paling membosankan; menunggu.

Waktu berjalan malas. Baru dua hari kemudian, air surut. Lebar Sungai Pahangai menyusut jadi 10 meter. Kedalamannya tersisa 30 sentimeter. Batu kerikil yang muncul di tengah sungai membuat penyeberangan ambulans lebih mudah.

Para pembawa misi mustahil itu akhirnya tiba di ibu kota Long Pahangai pada hari kelima. Satu ambulans diserahkan kepada petugas puskesmas di kecamatan itu. Masih satu lagi mobil berharga miliaran rupiah yang harus dibawa ke Long Apari, kecamatan paling jauh dari muara Sungai Mahakam.

Kesulitan rupanya belum jengah mengganggu. Jalan menuju Long Apari yang dibuka TNI belum selesai. Kalaupun sudah, medannya sangat berat. Selain sungai-sungai tak berjembatan, ada banyak titik rawan. Terlalu berisiko jika keras kepala melewatinya.

Pilihan yang tersisa tinggal membawa ambulans lewat sungai. Itu ide gila. Belum pernah seorang pun membawa roda empat di atas air di kawasan itu. Lagi pula, tidak ada kapal berukuran besar. Kapal paling jumbo di kecamatan yang memiliki bandara Datah Dawai itu hanya selebar tak sampai 2 meter.

Tim tidak kehabisan akal. Mereka mengikat dua perahu sejajar. Seluruh empat roda ambulans pun punya pijakan. Tapi, rintangan memang sudah akrab bagi mereka. Masalah berikutnya adalah mengangkut ambulans ke perahu. Tidak mungkin mobil pelat merah itu turun sendiri ke perahu. Mengandalkan tenaga manusia pun mustahil.

Akrab dengan masalah membuat Dominukus dan kawan-kawannya intim dengan solusi. Dibantu warga, mereka mendapat ide yakni meminjam ekskavator kepada perusahaan. Sepanjang hari itu, warga membantu menyiapkan lokasi berpijak untuk alat berat di tepi sungai.

Hari keenam perjalanan ambulans, ekskavator mulai bekerja. Setelah diikat, ambulans diangkat. Seluruh warga menatap lekat-lekat. Waswas dan cemas menjalar ketika ambulans dengan berat berbilang ton itu terangkat.

“Awas!” Warga berteriak serempak ketika ikatan di depan mobil mulai longgar. Posisi kendaraan miring ke depan. Semua gelisah yang terpendam langsung pecah.

Operator ekskavator rupanya sigap. Dia menurunkan ambulans dengan sangat hati-hati. Mobil itu mendarat di atas kapal gandeng dengan posisi miring. Warga segera memperbaiki ikatan. Ambulans diangkat lagi. Posisinya diperbaiki.

“Horeee!”

Semua berteriak gembira ketika “penumpang raksasa” itu akhirnya siap berlayar. Dua puluh orang mengantar mobil penyelamat nyawa itu. Dengan dorongan dua mesin kapal berdaya 40 tenaga kuda, mereka tiba di Tiong Ohang, Long Apari, pada siang di hari keenam. Warga meminjam ekskavator milik TNI untuk mengangkat mobil. Satu masalah datang lagi. “Ini yang terakhir,” tutur Dominikus.

Ketika ambulans mulai diangkat, tanah di bawah alat berat goyang. Warga harus menghabiskan setengah hari lagi untuk mengeraskannya. Setelah beres, ekskavator kembali mencoba memindahkan ambulans.

Sore di Long Apari menjadi saksi ketika ambulans itu tiba di puskesmas. Dominikus dan tiga temannya lega setengah mati. Mereka hampir menangis mengingat perjuangan keras membawa kendaraan itu.

“Begitulah kondisi kami di perbatasan,” terang Ketua DPRD Mahulu Novita Bulan. Politikus perempuan dari tapal batas negara itu menegaskan, infrastruktur yang minim adalah pangkal masalah di kabupaten termuda di Kaltim. 

Walau demikian, misi perjalanan 900 kilometer selesai dalam enam hari. Jarak yang dilalui Dominikus dan kawan-kawan hampir setara dengan jarak Jakarta dan Surabaya. Namun, di dua kota besar Pulau Jawa itu, cukup perlu satu hari perjalanan darat.

Sayangnya, Long Apari bukan Surabaya. Dia berdiri di pedalaman Kalimantan. Sebuah wilayah dengan pembangunan yang nyaris terlupakan. Menjadikan perjalanan dari Samarinda ke Long Apari hanya sehari, layaknya Jakarta ke Surabaya, adalah misi mustahil sesungguhnya. Misi yang mestinya diselesaikan pemerintah. (far/k8)


BACA JUGA

Senin, 27 Maret 2017 12:16
Berburu Perguruan Tinggi: Legalitas atau Formalitas

Kampus Lokal Makin Menjanjikan

Perguruan tinggi di luar Kaltim selama ini jadi pilihan utama. Dominasi itu kini perlahan bergeser ke…

Senin, 27 Maret 2017 12:09
DUGAAN PUNGLI TPK PALARAN

Masih Ada Aktivitas di Rumah Sitaan yang Mewah Itu

SAMARINDA – Sepekan lebih sudah kasus operasi tangkap tangan (OTT) di Terminal Peti Kemas (TPK)…

Senin, 27 Maret 2017 12:00

Kaltim Tertinggal dari Daerah Timur

BALIKPAPAN – Pemakaian listrik yang boros dari konsumen tak bisa dijadikan alasan PLN atas setrum…

Senin, 27 Maret 2017 09:48

Sudah Terbaik, Tetap Kejar Ketertinggalan

PERSAINGAN antara perguruan tinggi, khususnya di Kaltim kini semakin ketat. Pelbagai perguruan tinggi…

Senin, 27 Maret 2017 09:39

Jadi Motivasi Atlet Daerah ke Pentas Nasional

Pencinta bulu tangkis di Kaltim harus bersiap. Hari ini (27/3), ratusan atlet terbaik di Tanah Air siap…

Senin, 27 Maret 2017 09:35

Prahara Kakak Beradik Ini Masih Ruwet

BOLA liar masih menggelinding terkait surat pengunduran diri Abdul Gafur Mas’ud sebagai ketua…

Senin, 27 Maret 2017 09:35

Harga BBM Diminta Terus Stabil

MOMEN stabilnya harga bahan bakar minyak (BBM) sampai saat ini dinilai positif bagi para pengusaha.…

Minggu, 26 Maret 2017 09:53

Minim Hemat, Serakah Setrum

Earth Hour sudah memasuki tahun kesembilan di Indonesia. Momen ini diharapkan tak sekadar seremoni.…

Minggu, 26 Maret 2017 09:49

Terangi Perbatasan 24 Jam

PENYELESAIAN krisis listrik di daerah yang berbatasan dengan negara tetangga masih jauh panggang dari…

Minggu, 26 Maret 2017 09:44

Menumpang Truk ke Sekolah, Bersebelahan dengan Lokalisasi

Selama belasan tahun, perempuan yang berdomisili di Samarinda ini telah mengabdikan diri mengajar di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .