MANAGED BY:
SENIN
26 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 15 Maret 2017 09:56
Orangtua Sempat Stres, Kini Jadi Kebanggaan lewat Prestasi Olimpiade Sains

Wu Alfred Hardy, Buktikan Anak Berkebutuhan Khusus Tak Berbeda

KASIH IBU SEPANJANG MASA: Wu Alfred Hardy mendapat dukungan penuh dari sang bunda, Njo Alice Priscilla agar tak patah semangat meski memiliki keterbatasan. (dina Angelina/kp)

PROKAL.CO, Tampil sebagai anak ‘spesial’, tak membuat Wu Alfred Hardy merasa berbeda dengan anak lainnya. Prestasinya justru gemilang. Dia terus menunjukkan eksistensinya lewat raihan gelar setiap tahun. Ya, dia adalah jagoan lomba olimpiade sains kuark dan matematika.

DINA ANGELINA, Balikpapan

DI selakesibukannya menjalani aktivitas belajar, Selasa (14/3) siang, bocah berusia 13 tahun ini meluangkan waktunya berbagi cerita dengan Kaltim Post. Kala itu, siswa SMP 1 Balikpapan tersebut sedang mendapatkan materi pelajaran bahasa Inggris. Ditemani sang ibu, Njo Alice Priscilla, perbincangan berlangsung hangat dan seru.

Jangan bayangkan akan sulit berkomunikasi dengan seorang autisme. Berbeda dengan bungsu dari empat bersaudara ini, dia mudah mengerti percakapan. Pun tidak ragu dan pelit menjawab pertanyaan awak media. Meski termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), Alfred, sapaan akrabnya, tetap mampu mengenyam pendidikan di sekolah normal. Tidak tanggung-tanggung, dia berhasil masuk sebagai siswa sekolah terbaik di Kota Minyak.

Jika kembali ke masa Alfred kecil, Alice mengenang momen kali pertama mengetahui putranya seorang autisme. Tepat saat Alfred menginjak usia 2 tahun 7 bulan. Kecurigaan itu bermula dari kawannya yang melihat balita mungil ini mengalami terlambat berbicara (speech delay). Salah satu dari sekian gejala autisme.

Di usianya itu, Alfred bahkan belum bisa sama sekali mengucapkan kata seperti mama dan papa. Bahkan untuk buang air kecil dan besar, dia tidak bisa menyampaikannya. Gejala autisme semakin jelas karena dia sulit konsentrasi dan cuek.  “Saya pikir tidak ada yang salah karena seperti kakaknya juga melalui speech delay itu. Tapi saya konsultasi ke pskiater anak, dokter mengatakan ada gejala autisme tidak sempurna,” ungkapnya.

Ibu dari empat orang anak ini mengaku, cukup sulit melewati momen tersebut. Sang anak yang divonis menderita autisme membuatnya stres berat dan menangis setiap hari. Seperti ada penolakan dalam diri dan tidak bisa menerima kenyataan. Terutama, ketika Alfred mulai menunjukkan gejala autisme, Alice semakin sadar bahwa anaknya berbeda dengan anak normal.

“Pikiran saya baru menerima kondisi anak ini saat bergabung dengan komunitas parents support group (PSG). Kami antar anggota saling menguatkan dan membuat saya sadar kalau tidak bisa terus menolak kondisi ini, harus bangkit untuk kebaikan anak,” tuturnya. Mulai dari saat itu, Alice mulai aware dengan kondisi anaknya.

Ia mencari edukasi seputar autisme dan memahami langkah-langkah terapi autisme serta pola makan. Alfred menjalani masa terapinya selama empat tahun. Terapi perilaku dan terapi wicara dijalani hingga dia masuk SD. Syukurlah, setelah terapi, dia dapat berkomunikasi dengan baik dan mudah paham.

“Ternyata akademiknya baik dan mampu berprestasi. Sebenarnya sejak kecil, Alfred memang cepat menangkap materi pelajaran, visualisasinya bagus sekali dibanding anak normal. Belajar membaca secara otodidak, saya kaget dia bisa menyusun kata di usia 3 tahun 8 bulan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, tercatat selama menjalani pendidikan SD, Alfred selalu masuk tiga besar juara kelas. Bahkan, ketika masuk ke jenjang SMP, prestasinya semakin baik. Nilai kelas VII semester pertama membawa Alfred sebagai juara umum dari seluruh siswa. Mereka merupakan siswa dari 10 kelas di SMP 1 Balikpapan.

Prestasi ini bukan hal yang pertama. Dari masih berada di bangku kelas 2 SD, Alfred sudah konsisten mengikuti olimpiade sains kuark (OSK). Alice menuturkan, putranya merengek atas permintaannya sendiri untuk ikut kompetisi. Alfred mengetahui kompetisi ini dari formulir pendaftaran yang tersedia di sebuah majalah favoritnya.

“Anak seperti ini keras dengan keinginannya, jadi saya coba ikutkan saja. Ternyata hasilnya bagus dan dia punya bakat. Sedari kecil, Alfred memang suka membaca, terutama komik berwarna. Kemudian saya coba berikan buku sains yang disampaikan dalam bentuk komik, ya majalah kuart itu,” jelasnya.

Setelah mempelajari dan gemar dengan komik kuark, bocah ini berkeyakinan untuk aktif ikut OSK yang diadakan setiap tahun.

Sejak 2012 hingga 2016, ia selalu masuk babak final dari seluruh peserta yang jumlahnya mencapai 90 ribu peserta dari seantero Indonesia. “Saya awalnya suka komik Doraemon. Lalu mama mengenalkan komik kuark, komik dengan unsur sains. Saya awalnya tidak suka dengan kuark karena unsur humornya kurang. Tapi saya baca terus malah jadi suka,” ungkap peraih medali perunggu OSK 2016 ini.

Alfred berkisah, sejujurnya sewaktu kecil, dia lebih sering main game setiap hari. Bahkan sampai waktu belajarnya habis karena bermain game. Kalau dilarang bermain, Alfred tidak ragu ngambek. Dia sangat gemar membuat animasi. Walau referensinya selama ini menggunakan bahasa Inggris, Alfred mempelajarinya secara otodidak.

“Lalu saya buat film pendek yang saya posting di media sosial. Ini terinspirasi dari teman saya bernama Daryl John, pemain musik yang juga seorang youtuber,” kata peraih Juara II Olimpiade Matematika Primagama tingkat SMP 2017 itu. Kini, selain olimpiade sains, Alfred juga sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade matematika.

Alice menuturkan, sedari kecil selalu menanamkan kedisiplinan pada putra tercintanya. Menurutnya, seorang autisme memiliki pemahaman disiplin yang kuat. Jam hidupnya pun teratur. setiap hari sudah terbagi waktu untuk belajar, makan, tidur siang, istirahat, main, sampai les piano.

“Harus bermain sambil belajar, kalau belajar terus tanpa diselingi bermain dia, mudah jenuh dan tantrum. Jadi kami harus imbangi, kalau mau main boleh tapi mungkin hanya satu jam. Saat sudah tidak menjalani terapi, kami ajak les piano untuk meredam tantrumnya,” bebernya.

Ibunya sendiri tidak membayangkan, jika sang anak cepat mempelajari dan cukup jago di bidang musik. Sebab, awalnya musik hanya untuk melatih emosi, konsentrasi, dan mengendalikan tantrum. Namun saat ikut lomba piano dari sekolah musiknya, Alfred berhasil meraih Juara I The Best Performance of Music Concert.

Bagi Alice, ada banyak pelajaran yang dia dapatkan dengan ujian ini. Kesulitan mendidik anak autisme membuatnya harus menguras tenaga, pikiran, kesabaran, sampai materi. Bagaimana pun, terapi bukan biaya yang sedikit. Kemudian saat anak mengalami tantrum, otomatis sebagai orangtua harus bisa lebih sabar. Tidak terpancing stres, walau kesabaran juga ada batasnya.

Kini, setelah melewati masa sulit, tantrum sudah mulai berkurang dan bisa terkontrol. Tinggal bagaimana mengendalikan emosinya. “Kalau menemukan masalah yang membuatnya tidak nyaman, dia tidak ragu untuk menyampaikan secara langsung. Semua kembali lagi butuh peran orangtua yang memberikan pemahaman,” sebutnya.

Meski awalnya dia berpikir, Alfred menjadi ujian yang membuatnya tidak bahagia dan stres. Sebaliknya, Alice mengaku sangat bangga terhadap kondisi dan prestasi Alfred. Ia berpendapat, anak-anak autisme kelak tidak akan menjadi sampah masyarakat, beban untuk orang tua dan negara. “Mereka nantinya dapat membuktikan bisa berprestasi dan hidup mandiri. Targetnya, Alfred bisa aktif ikut OSN hingga lomba tingkat internasional,” yakinnya. (riz/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 17 Juni 2017 01:48

Busana Muslimah Kian Diminati, Ibadah Sekaligus Berbisnis

Kian kemari busana muslimah terutama hijab terus memasuki era modernisasi. Berbagai bentuk gaya dipadupadankan…

Sabtu, 17 Juni 2017 00:31

Nyaris Di-chainsaw, Bangun Masjid Meski Bukan Muslim

Setelah puluhan tahun bertugas sebagai pasukan di Satuan Brimob, AKP Anton Saman kini dipercaya sebagai…

Sabtu, 17 Juni 2017 00:10

Rambah Bawang Putih, Faktor Geografis Jadi Tantangan Utama

Selain mandiri dengan bawang merah, Brebes juga mampu mencukupi kebutuhan bawang putihnya dari daerah…

Jumat, 16 Juni 2017 08:57

Antusias Berbagi Semangat, Tetap Menulis saat Sakit

Tri Wahyuni Zuhri, dia dikenal sebagai penulis, blogger, sekaligus survivor kanker. Banyak karya dan…

Jumat, 16 Juni 2017 08:39

Mudah Bersosialisasi dan lebih Lembut Tanpa Disuruh

Ada banyak literatur yang membuktikan khasiat musik. Baik bagi pendidikan langsung atau pendidikan karakter.…

Kamis, 15 Juni 2017 10:10
Kisah Sukses Pendiri BDS Snack, Sri Astuty

Tangan Kanan Pegang Stoples, Tangan Kiri Gendong Anak

Usaha yang dia bangun di Jakarta pernah terbakar dan dijarah. Belum lagi, modal habis tak bersisa akibat…

Rabu, 14 Juni 2017 09:47

Tak Hanya Kumulonimbus, Pencemaran Air Laut Juga Dimonitor

Dengan kecanggihan teknologi, masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan informasi prakiraan cuaca cukup…

Selasa, 13 Juni 2017 08:41

Gejala Berawal dari Badan Menggigil, Penderita Diabetes Berisiko

Meski bukan tergolong penyakit baru, masih banyak orang yang belum memahami salah satu penyakit saraf,…

Senin, 12 Juni 2017 08:53

Mengingat Budaya dari Balik Tembok

Lewat lukisan hyper realistic, pasangan suami-istri ini mengubah tembok yang semula membosankan jadi…

Sabtu, 10 Juni 2017 10:09

Mengintip Command Center Pertama di Kaltim Milik Polres Balikpapan

Masyarakat Balikpapan patut senang dan bangga. Polres Balikpapan berinovasi dengan menghadirkan layanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .