MANAGED BY:
SABTU
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 15 Maret 2017 09:56
Orangtua Sempat Stres, Kini Jadi Kebanggaan lewat Prestasi Olimpiade Sains

Wu Alfred Hardy, Buktikan Anak Berkebutuhan Khusus Tak Berbeda

KASIH IBU SEPANJANG MASA: Wu Alfred Hardy mendapat dukungan penuh dari sang bunda, Njo Alice Priscilla agar tak patah semangat meski memiliki keterbatasan. (dina Angelina/kp)

PROKAL.CO, Tampil sebagai anak ‘spesial’, tak membuat Wu Alfred Hardy merasa berbeda dengan anak lainnya. Prestasinya justru gemilang. Dia terus menunjukkan eksistensinya lewat raihan gelar setiap tahun. Ya, dia adalah jagoan lomba olimpiade sains kuark dan matematika.

DINA ANGELINA, Balikpapan

DI selakesibukannya menjalani aktivitas belajar, Selasa (14/3) siang, bocah berusia 13 tahun ini meluangkan waktunya berbagi cerita dengan Kaltim Post. Kala itu, siswa SMP 1 Balikpapan tersebut sedang mendapatkan materi pelajaran bahasa Inggris. Ditemani sang ibu, Njo Alice Priscilla, perbincangan berlangsung hangat dan seru.

Jangan bayangkan akan sulit berkomunikasi dengan seorang autisme. Berbeda dengan bungsu dari empat bersaudara ini, dia mudah mengerti percakapan. Pun tidak ragu dan pelit menjawab pertanyaan awak media. Meski termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), Alfred, sapaan akrabnya, tetap mampu mengenyam pendidikan di sekolah normal. Tidak tanggung-tanggung, dia berhasil masuk sebagai siswa sekolah terbaik di Kota Minyak.

Jika kembali ke masa Alfred kecil, Alice mengenang momen kali pertama mengetahui putranya seorang autisme. Tepat saat Alfred menginjak usia 2 tahun 7 bulan. Kecurigaan itu bermula dari kawannya yang melihat balita mungil ini mengalami terlambat berbicara (speech delay). Salah satu dari sekian gejala autisme.

Di usianya itu, Alfred bahkan belum bisa sama sekali mengucapkan kata seperti mama dan papa. Bahkan untuk buang air kecil dan besar, dia tidak bisa menyampaikannya. Gejala autisme semakin jelas karena dia sulit konsentrasi dan cuek.  “Saya pikir tidak ada yang salah karena seperti kakaknya juga melalui speech delay itu. Tapi saya konsultasi ke pskiater anak, dokter mengatakan ada gejala autisme tidak sempurna,” ungkapnya.

Ibu dari empat orang anak ini mengaku, cukup sulit melewati momen tersebut. Sang anak yang divonis menderita autisme membuatnya stres berat dan menangis setiap hari. Seperti ada penolakan dalam diri dan tidak bisa menerima kenyataan. Terutama, ketika Alfred mulai menunjukkan gejala autisme, Alice semakin sadar bahwa anaknya berbeda dengan anak normal.

“Pikiran saya baru menerima kondisi anak ini saat bergabung dengan komunitas parents support group (PSG). Kami antar anggota saling menguatkan dan membuat saya sadar kalau tidak bisa terus menolak kondisi ini, harus bangkit untuk kebaikan anak,” tuturnya. Mulai dari saat itu, Alice mulai aware dengan kondisi anaknya.

Ia mencari edukasi seputar autisme dan memahami langkah-langkah terapi autisme serta pola makan. Alfred menjalani masa terapinya selama empat tahun. Terapi perilaku dan terapi wicara dijalani hingga dia masuk SD. Syukurlah, setelah terapi, dia dapat berkomunikasi dengan baik dan mudah paham.

“Ternyata akademiknya baik dan mampu berprestasi. Sebenarnya sejak kecil, Alfred memang cepat menangkap materi pelajaran, visualisasinya bagus sekali dibanding anak normal. Belajar membaca secara otodidak, saya kaget dia bisa menyusun kata di usia 3 tahun 8 bulan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, tercatat selama menjalani pendidikan SD, Alfred selalu masuk tiga besar juara kelas. Bahkan, ketika masuk ke jenjang SMP, prestasinya semakin baik. Nilai kelas VII semester pertama membawa Alfred sebagai juara umum dari seluruh siswa. Mereka merupakan siswa dari 10 kelas di SMP 1 Balikpapan.

Prestasi ini bukan hal yang pertama. Dari masih berada di bangku kelas 2 SD, Alfred sudah konsisten mengikuti olimpiade sains kuark (OSK). Alice menuturkan, putranya merengek atas permintaannya sendiri untuk ikut kompetisi. Alfred mengetahui kompetisi ini dari formulir pendaftaran yang tersedia di sebuah majalah favoritnya.

“Anak seperti ini keras dengan keinginannya, jadi saya coba ikutkan saja. Ternyata hasilnya bagus dan dia punya bakat. Sedari kecil, Alfred memang suka membaca, terutama komik berwarna. Kemudian saya coba berikan buku sains yang disampaikan dalam bentuk komik, ya majalah kuart itu,” jelasnya.

Setelah mempelajari dan gemar dengan komik kuark, bocah ini berkeyakinan untuk aktif ikut OSK yang diadakan setiap tahun.

Sejak 2012 hingga 2016, ia selalu masuk babak final dari seluruh peserta yang jumlahnya mencapai 90 ribu peserta dari seantero Indonesia. “Saya awalnya suka komik Doraemon. Lalu mama mengenalkan komik kuark, komik dengan unsur sains. Saya awalnya tidak suka dengan kuark karena unsur humornya kurang. Tapi saya baca terus malah jadi suka,” ungkap peraih medali perunggu OSK 2016 ini.

Alfred berkisah, sejujurnya sewaktu kecil, dia lebih sering main game setiap hari. Bahkan sampai waktu belajarnya habis karena bermain game. Kalau dilarang bermain, Alfred tidak ragu ngambek. Dia sangat gemar membuat animasi. Walau referensinya selama ini menggunakan bahasa Inggris, Alfred mempelajarinya secara otodidak.

“Lalu saya buat film pendek yang saya posting di media sosial. Ini terinspirasi dari teman saya bernama Daryl John, pemain musik yang juga seorang youtuber,” kata peraih Juara II Olimpiade Matematika Primagama tingkat SMP 2017 itu. Kini, selain olimpiade sains, Alfred juga sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade matematika.

Alice menuturkan, sedari kecil selalu menanamkan kedisiplinan pada putra tercintanya. Menurutnya, seorang autisme memiliki pemahaman disiplin yang kuat. Jam hidupnya pun teratur. setiap hari sudah terbagi waktu untuk belajar, makan, tidur siang, istirahat, main, sampai les piano.

“Harus bermain sambil belajar, kalau belajar terus tanpa diselingi bermain dia, mudah jenuh dan tantrum. Jadi kami harus imbangi, kalau mau main boleh tapi mungkin hanya satu jam. Saat sudah tidak menjalani terapi, kami ajak les piano untuk meredam tantrumnya,” bebernya.

Ibunya sendiri tidak membayangkan, jika sang anak cepat mempelajari dan cukup jago di bidang musik. Sebab, awalnya musik hanya untuk melatih emosi, konsentrasi, dan mengendalikan tantrum. Namun saat ikut lomba piano dari sekolah musiknya, Alfred berhasil meraih Juara I The Best Performance of Music Concert.

Bagi Alice, ada banyak pelajaran yang dia dapatkan dengan ujian ini. Kesulitan mendidik anak autisme membuatnya harus menguras tenaga, pikiran, kesabaran, sampai materi. Bagaimana pun, terapi bukan biaya yang sedikit. Kemudian saat anak mengalami tantrum, otomatis sebagai orangtua harus bisa lebih sabar. Tidak terpancing stres, walau kesabaran juga ada batasnya.

Kini, setelah melewati masa sulit, tantrum sudah mulai berkurang dan bisa terkontrol. Tinggal bagaimana mengendalikan emosinya. “Kalau menemukan masalah yang membuatnya tidak nyaman, dia tidak ragu untuk menyampaikan secara langsung. Semua kembali lagi butuh peran orangtua yang memberikan pemahaman,” sebutnya.

Meski awalnya dia berpikir, Alfred menjadi ujian yang membuatnya tidak bahagia dan stres. Sebaliknya, Alice mengaku sangat bangga terhadap kondisi dan prestasi Alfred. Ia berpendapat, anak-anak autisme kelak tidak akan menjadi sampah masyarakat, beban untuk orang tua dan negara. “Mereka nantinya dapat membuktikan bisa berprestasi dan hidup mandiri. Targetnya, Alfred bisa aktif ikut OSN hingga lomba tingkat internasional,” yakinnya. (riz/k18)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 11:21

Kinigalau Kampung Sebelah

Oji hanya bisa bengong. Dia tak mengira, Lapangan Kinigalau di Kampung Sebelah yang jadi tempat bermainnya…

Selasa, 05 Desember 2017 11:02

Dari Ingin Eksistensi hingga Kurang Perhatian Orangtua

Aksi remaja usia SMA yang mengunggah aksinya berciuman di Mahakam Lampion Garden mendapat tanggapan…

Sabtu, 02 Desember 2017 07:46

Berusia Lebih 70 Tahun, Lahirkan Pesepak Bola Besar

Lapangan Kinibalu bukanlah lapangan biasa bagi Kota Tepian. Sederet nama besar pesepakbola lahir dari…

Sabtu, 02 Desember 2017 07:27

Tinggal Bersama Keluarga Ateis, Aktivitas Agama Justru Didukung

An-Nahl Aulia Hakim merupakan satu dari empat siswa SMA 1 Balikpapan yang diterbangkan ke luar negeri…

Sabtu, 02 Desember 2017 06:59

Meneteskan Air Mata Kala Dengar Curhat PSK

Menjadi petugas trantib (ketenteraman dan ketertiban) pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten…

Jumat, 01 Desember 2017 07:38

Asuh 40 Anak Yatim Piatu, Suami Meninggal karena Depresi

Perempuan ini telah menghabiskan waktu 11 tahun hidup bersama human immunodeficiency virus (HIV). Bukan…

Kamis, 30 November 2017 08:34

Bawa Rempah Sendiri, Sanggup Menampung 20 Orang

Sauna ini baru pertama di TPA yang ada di Indonesia. Terobosan ini dulunya sempat dianggap gila. GUNUNGAN…

Rabu, 29 November 2017 08:35

Pengajuan Anggaran Molor, Hasil Musrenbang Belum Diakomodasi

  Masalah utang pihak ketiga yang tak kunjung tuntas menghantui Pemkot Samarinda. Solusi sejatinya…

Selasa, 28 November 2017 08:38

Harus Cerdas Ekspos Temuan agar Tak Ditunggangi Kepentingan Politik

Investigasi Kaltim Post pada Desember 2016 di wilayah Muara Jawa, Kutai Kartanegara, berdampak signifikan.…

Sabtu, 25 November 2017 07:44

Sebagian Besar Makanan yang Dikonsumsi Diolah Sendiri

Pada usia yang memasuki angka 80 tahun, artis Titiek Puspa seolah tak kalah dengan penuaan. Wajahnya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .