MANAGED BY:
SABTU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 14 Maret 2017 08:28
Diolah Jadi Sambal yang Mengandung Senyawa Aktif

Cerita Dua Mahasiswa Unmul Bawa Mandai Mendunia

SEDERHANA TAPI BERKUALITAS: Fahmi Ilmi Sinatriya dan Henoch Tegar Prakorso membuat terobosan sambal dari bahan dasar mandai.

PROKAL.CO, Berawal dari kejenuhan menikmati menu yang itu-itu saja, dua mahasiswa Universitas Mulawarman ini berhasil menciptakan olahan mandai yang lezat. Cikal bakal sambal Nusantara dari Pulau Borneo.

DINA ANGELINA, Balikpapan

WARGA Benua Etam tentunya tak asing lagi dengan mandai. Olahan makanan dari kulit cempedak yang diasinkan. Melalui proses fermentasi, kulit buah ini menjadi lembut dan layak konsumsi. Bagaimana jika mandai tampil sebagai produk sambal? Warna merah gelap dari sambal dapat menggugah selera makan.

Gagasandatang dari dua mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul). Yaitu Fahmi Ilmi Sinatriya dan Henoch Tegar Prakorso. Keduanya membuat olahan mandai sambal dalam bentuk kemasan yang bisa diperjualbelikan dengan praktis dan higienis. Namanya Sambal Mandai Awak.

Fahmi menuturkan, ide ini muncul mengingat banyaknya penggemar mandai di Samarinda. Padahal, mandai merupakan makanan khas yang berasal dari Kalimantan Selatan. Namun, saking booming-nya, entah mulai kapan makanan ini sudah tersebar ke seluruh wilayah Pulau Kalimantan, termasuk Kaltim. Fahmi dan Henoch tergolong pencinta makanan ini. Mereka sudah cukup bosan karena mandai tampil tanpa perubahan.

Ditambah lagi kondisi penjual mandai di Kota Tepian juga tidak berubah dari masa ke masa.Lalu, lahirlah ide untuk memodifikasi rasa mandai. Keduanya pun melakukan branding pada mandai dengan cara yang berbeda dan modern. “Ibaratnya, mandai ini jadi makanan khas yang punya potensi terjual di pasar nasional hingga internasional. Tapi bagaimana kita bisa jual, kemasan saja tidak begitu diperhatikan. Alias masih seadanya dan membuat orang ragu membeli,” kata mahasiswa kelahiran 28 Oktober 1993 itu.

Pada umumnya, terang dia, orang Indonesia suka dengan beragam jenis sambal. Sehingga lidah masyarakat tidak akan sulit menerima kehadiran produk sambal. Hal ini menjadi alasan lain, mengapa mereka memilih membuat mandai menjadi sebuah sambal. Apalagi, menurut dia, saat ini sambal masih tergolong kurang variasi.

“Jadi, kami buat sambal dengan kombinasi olahan makanan lokal. Peluang pasar besar dan bahan baku utama tersedia banyak,” tuturnya. Bagian menarik dan spesial dari Sambal Mandai Awak juga datang lewat pembuatannya. Yakni sedikit sekali penggunaan garam dalam proses fermentasi mandai.

Berbeda dengan mandai umumnya, garam justru menjadi kunci dari proses fermentasi. Mahasiswa Jurusan Psikologi tersebut mengatakan, sengaja menghindari penggunaan garam yang cukup banyak. Sebab, efek garam yang berlebih dapat mendatangkan risiko seperti gangguan ginjal.

Lalu, bagaimana mereka melakukan fermentasi? Ternyata resepnya ada pada penggunaan yakult. Jadi, timnya menggunakan bakteri prebiotik yang terkandung dalam yakult. Nantinya, yakult dapat melakukan fermentasi dengan baik dan menghasilkan rasa yang gurih. Henoch menjelaskan, fermentasi kulit cempedak dari bantuan prebiotik tersebut dapat memecah senyawa aktif.

“Kelebihan mandai ini, punya kandungan senyawa aktif yang berfungsi menangkal radikal bebas. Kalau sambal pasaran, isinya hanya lombok biasa. Tapi produk sambal hasil kombinasi mandai dan cara fermentasi khusus itu memiliki kandungan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan,” ucap pria asal Batu Timbau, Kabupaten Kutai Timur itu.

Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian tersebut berkisah, dirinya kesulitan dalam produksi Sambal Mandai Awak adalah waktu. Sebab, proses fermentasi membutuhkan waktu hingga tujuh hari. Kemudian, tempat pembuatan sambal juga harus jadi perhatian. Cari tempat yang bersih agar bebas dari pencemaran.

Kemudian, mereka juga perlu menciptakan kemasan mandai semenarik mungkin. Semua itu untuk menarik minat pembeli dan produk dapat bersaing di pasar. “Kalau kemasan kami masih harus pesan ke Jawa karena di sini stok botol seperti itu terbatas. Rencananya akan kami jual Rp 25 ribu untuk kemasan 250 gram,” katanya bersemangat.

Henoch mengaku optimistis dengan produk timnya. Bagaimanapun, Sambal Mandai Awak memiliki beragam nilai produk yang menjual. Mulai bahan baku lokal, tidak menggunakan bahan pengawet, kemasan praktis, higienis, tahan lama, dan rasa unik seperti daging ayam.

“Kami punya mimpi produksi sambal mandai ini secara massal dan bisa jadi produk ikon oleh-oleh khas Kaltim,” tandasnya. (riz/k16)

 


BACA JUGA

Sabtu, 12 Agustus 2017 08:03

Tagihan Hotel Belum Dibayar, Jamaah Ngotot Umrah

Masih ingat kasus Timur Sarana (Tisa) Tour and Travel yang gagal memberangkatkan ribuan calon jamaah…

Sabtu, 12 Agustus 2017 06:58

Lamar Jadi PRT, Berhasil Gondol Barang Elektronik

Memiliki tubuh yang ramping, kulit putih, serta suara yang lembut menjadi modal bagi Su, warga Kelurahan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 06:49

Kian Modern, Kini Siapkan Perluasan Daya Tampung, Koridor, hingga Wisata Kuliner

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Pelabuhan Semayang tak lagi kumuh, kuno, dan kusam. Penumpang…

Jumat, 11 Agustus 2017 08:40

Ibu Terhindar Kanker Payudara, Anak Luput Diabetes

Paras cantiknya tentu sudah tak asing lagi. Meski berstatus sebagai dokter, Lula Kamal sempat malang…

Kamis, 10 Agustus 2017 09:02

Dehidrasi, Tetap Antusiasi ke Masjid Khandaq

SELAGI menjalankan rutinitas ibadah salat Arbain selama 40 waktu atau 8 hari di Madinah, jamaah calon…

Kamis, 10 Agustus 2017 08:58

Kini, Hilda Lebih Sehat, Tidur Nyenyak dan Tidak Pelupa Lagi

Coiling endovascular merupakan metode pengobatan aneurisma untuk mencegah stroke. Sebelumnya, metode…

Rabu, 09 Agustus 2017 08:38

Sisihkan 300 Kompetitor dalam Tujuh Menit

Satu lagi pemuda berprestasi dari Kota Minyak, Muchtar Nashir namanya. Hampir setiap tahun, pria berusia…

Selasa, 08 Agustus 2017 09:08

Kerepotan karena Tidak Semua Pengrajin dari Kalangan Bangsawan

Setelah menembus pasar industri kreatif di Jogjakarta, anyaman khas Dayak dalam waktu dekat akan masuk…

Senin, 07 Agustus 2017 09:18

Seminggu Terkatung-katung di Krayan meski Tiket di Tangan

Kesadaran melestarikan budaya leluhur terkadang datangnya dari luar, kendati hasilnya hanya berbentuk…

Sabtu, 29 Juli 2017 07:39

Langsung Daftarkan Empat Anak Naik Haji

Dulu para petambak di Pangkep bisa menyimpan garam di gudang sampai tujuh tahun, menunggu harga bagus.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .