MANAGED BY:
SENIN
27 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Selasa, 14 Februari 2017 07:37
Humas dan Media

PROKAL.CO, CATATAN: INDRA NUSWA
(Kepala Biro Kaltim Post PPU)

NAMANYA Pak Darmawan, alumnus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) angkatan pertama. Dia menyempurnakan strata satu berupa Sarjana Sosial (SSos) di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dan meraih gelar Master of Science (MSi) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Dia juga sempat juga mengenyam pendidikan di Australia. 

Pada usia 48 tahun,  dia dipercaya sebagai kabag Humas dan Protokol Setkab PPU. Jabatan itu baru didudukinya selama tiga minggu terakhir, setelah mendapat promosi pada 26 Januari.

Akhir pekan lalu,  saya ke ruang kerjanya. Niat awalnya hanya ingin silaturahmi.  Jujur saja, walau saling kenal, selama ini kami jarang berkomunikasi. Mungkin karena saya belum lama tugas di PPU. Begitu juga Pak Darmawan, yang baru  pindah dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Akhirnya kami pun ngobrol atau lebih tepatnya diskusi. Cukup lama, nyaris dua jam. Saya sampai tidak enak hati dengan tamu-tamu lain yang harus menunggu di luar. Beberapa bahkan ada yang  terpaksa balik badan.  Tapi ya sudahlah. Toh ketika ingin pamit, saya tidak diizinkan. Artinya si pemilik ruangan masih ingin bercerita.

Diskusi dengan Pak Darmawan sangat asyik. Wawasannya luas. Pola pikirnya modern. Kaya ide. Tutur katanya gaul, kekinian, teratur, sehingga gampang dicerna. Setidaknya itu terjemahan saya tentang dia.

Penguasaan bahasa Inggris juga fasih. Gara-gara bahasa Inggris itu, Pak Darmawan berwacana membuat gerakan One Day of Speak English.

“Misalnya saat staf menghadap pimpinan, bahasa pengantarnya wajib pakai bahasa Inggris. Ini best practice. Lebih efektif daripada kursus, itu saja dilatih. Kalau konsisten, pegawai pemkab bisa mahir ngomong Inggris,” urai dia.

Cetaak… (saya menjentikan jari). “Good idea. Sepakat Pak. Kita konkretkan nanti.”

Nah, di sela diskusi itu, ada satu hal yang membuat saya makin respect. Sebagai kabag humas, Pak Darmawan sadar betul, bahwa tugas barunya berkaitan erat dengan media, khususnya soal pemberitaan. Itu benar. Dia  tak sungkan bertanya. Saya pun ikhlas berbagi ilmu.

Saya sampaikan, berita yang baik harus ada standarnya. Kalau merujuk istilah Kaltim Post, standar itu disebut rukun iman. Urut-urutannya adalah magnitude, eksklusif, actual, proximity, ketokohan, dramatik, humanis, unik, lucu, informatif, dan tren. Masing-masing indikator memiliki bobot, bergantung isu apa yang terjadi. Makin lengkap unsur rukun imannya, tentu makin berkualitas beritanya.

Saya lantas memisalkan, pada era koran modern seperti sekarang, berita yang sekadar informatif sudah usang. Basi! Sajiannya pasti kalah dengan media online dan berita televisi yang menyuguhkan informasi real time. Maka dibutuhkan pola reporting in depth agar koran tetap eksis. Karena di situlah letak diferensiasinya.

Ilustrasi tadi sengaja saya tegaskan, karena ada hubungannya dengan kerja sama halaman kontrak antara Pemkab PPU dan  Kaltim Post yang sudah terjalin baik.  Selama ini berita yang disajikan cenderung seremonial. Hanya sebatas menulis kejadian.

Begitu pun foto-fotonya, sangat formal. Selalu diisi orang-orang baris berdiri tegak. “Ini sangat jadul, membosankan. Pembaca masa kini sudah alergi dengan konten seperti itu. Padahal banyak sisi lain yang lebih menarik bisa disajikan dari sebuah acara seremonial,” urai saya.

Pak Darmawan tampak serius mendengar omongan saya. Kepalanya manggut-manggut, sembari sedikit menyipitkan tatapan matanya. “Sepakat bro. Saya sepandangan dengan itu,” ujar Pak Darmawan.

“Kalau begitu, saya usul agar Kaltim Post bikin pelatihan untuk staf humas. Ajarkan mereka cara menulis dan membuat berita yang baik, sekaligus teknik fotografinya. Saya sangat support,” katanya penuh antusias.

Ternyata Pak Darmawan juga memiliki keresahan terkait berita-berita pemerintahan yang kerap disajikan secara “tradisional”. Maka, dia bertekad untuk menjadikan peran humas lebih maksimal.

Dia menyebut, humas akan dikemas sebagai agent publikasi yang benar. Sehingga message yang ingin disampaikan pemerintah kepada publik, bisa diterima secara baik pula. (indra.nuswa@kaltimpost.co.id/ica/k8)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .