MANAGED BY:
KAMIS
27 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

OLAHRAGA

Sabtu, 11 Februari 2017 09:31
PR TIMO KARENA JAINO
BUANG CAP KASAR: Sistem dan kolektivitas diyakini Timo Scheunemann sebagai kunci permainan. Tak perlu mengandalkan pemain bintang.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Jaino Matos di Persiba Balikpapan hanya selama Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 bergulir. Itu pun tidak sampai satu tahun. Namun, efek yang ditimbulkan Jaino masih terasa. Di Piala Presiden 2017, Persiba Balikpapan menjadi tim teratas dalam urusan mengoleksi kartu.

Enam kartu kuning dan satu merah dikoleksi Abdul Rachman dkk. Lebih banyak dari Persipura Jayapuran dan Madura United dengan raihan tiga kartu kuning. Serta PSCS Cilacap yang baru diganjar satu kartu kuning dan satu merah.

Indikasinya jelas, anak-anak Beruang Madu bermain keras. Gaya yang diagung-agungkan pelatih terdahulu.  Pekerjaan rumah bagi Timo Scheunemann, pelatih baru. Mengubah gaya bermain Persiba jelang bergulirnya Liga 1.

Setelah menandatangani kontrak berdurasi dua tahun, Timo bertekad menyuguhkan permainan yang berbeda dari Persiba era Jaino. Salah satunya menghilangkan permainan keras menjurus kasar. Baginya, sepak bola bukanlah karate.

Setelah menyudahi perlawanan Persela Lamongan (6/2), dia mengaku kecewa dengan penampilan anak asuhnya. Ketika menjalani latihan rutin, sebenarnya dia sudah puas karena gaya permainan keras mulai hilang. Nyatanya, kembali saat pertandingan.

Banyaknya pemain yang dipertahankan dari musim lalu, sepertinya jadi salah satu penyebab. Diketahui, di skuad Persiba saat ini masih bercokol 10 nama eks andalan Jaino di TSC 2016. Dua di antaranya menyumbang kartu saat bersua Persela. Kapten tim Absor Fauzi mendapat kartu kuning, sementara Abdul Rachman dihadiahi kartu merah setelah dua kali melanggar lawan dengan keras.

Jumlah pemain muda di tim juga jadi bahan evaluasi. Dari lima pemain di bawah U-23 yang ditampilkan saat menghadapi Persela, dua di antaranya juga menyumbang kartu. Yakni, Robi Kriswantoro dan Ridho Nur Cahyo. “Ini memang sisi negatifnya kalau punya banyak pemain muda. Apalagi ada yang belum dikontrak, pasti mereka punya semangat tinggi untuk membuktikan diri,” kata Timo.

Lemahnya mental bertanding juga menjadi sorotan pria berpaspor Jerman tersebut. Dia menilai, kualitas anak asuhnya sebenarnya cukup baik. Hanya, mereka tidak percaya diri untuk menyuguhkan skill yang dimiliki dan merasa kualitasnya masih di bawah pemain lawan.

Ini terlihat dari jalannya program latihan yang berlangsung kurang dari sebulan. Meski tergolong baru, skuad Beruang Madu cepat menyerap materi yang diberikan. “Kualitas mereka ada. Hanya mentalnya saja yang harus diperbaiki,” tutur Timo. Peningkatan mental tidak bisa diberikan saat latihan. “Sebagai pelatih, saya hanya bisa memberi motivasi. Untuk tumbuh perlu pertandingan. Makanya kami ada di sini (Piala Presiden),” sambungnya.

Menurut Timo, gaya permainan negatif bisa merusak program yang diinginkan. Permainan yang mengandalkan sistem, kolektivitas tim, serta menerapkan bola bawah, jadi andalan Timo. Bukan mengandalkan bola-bola atas sembari berharap Tuhan menurunkan takdir baik dengan bola langsung mengarah ke kaki striker yang kemudian dikonversi menjadi gol. “Ini bukan keinginan saya,” tegasnya.

Timo mengaku sejalan dengan keinginan Ketua Umum Persiba Syahril HM Taher. Dalam sepak bola, tidak ada permainan kasar. Harus bermain cantik supaya bisa menghibur suporter. Sepak bola bukan sekadar permainan tapi juga hiburan. “Lewat sepak bola, kami juga membawa nama baik daerah. Malu kalau sampai dicap sebagai tim kasar. Apalagi sampai memberatkan manajemen karena membayar kartu,” terangnya.

Ketika disinggung minimnya pemain bintang di tim, mantan arsitek timnas putri itu menganggap bukan kendala. Sebab, tahun ini dia ingin menjadikan sistem permainan sebagai bintangnya. Tak lupa kerja keras. “Justru di Persiba, akan muncul bintang-bintang baru,” pungkasnya.  

Terpisah, Absor menegaskan tidak ada arahan dari Timo kepada rekan-rekannya untuk bermain kasar. Pria yang didaulat sebagai kapten ini menyebut, kartu yang diperoleh murni karena insiden di lapangan. “Banyaknya kartu yang kami terima karena beberapa keputusan wasit yang kurang tepat. Yang seharusnya diberi peringatan tapi langsung diberi kartu,” tuturnya. (ndu/er/k9)

 


BACA JUGA

Rabu, 26 April 2017 09:46

TIMPANG TIMO

BALIKPAPAN – Pekan kedua Liga 1 Indonesia 2017 menunjukkan sisi kompetitifnya. Tak satu pun tim…

Rabu, 26 April 2017 09:44

Terlalu Dini untuk Menghakimi

DIDATANGKAN dengan ekspektasi besar membawa Mitra Kukar ke level tertinggi, duo asing anyar Naga Mekes…

Rabu, 26 April 2017 09:43

Bek Asing Bisa Angkat Kaki

MENGUSUNG misi empat poin di dua laga away, Borneo FC hanya bisa pulang dengan satu poin. Manajemen…

Rabu, 26 April 2017 09:39

Pereda Sakit Chamberlain

BINTANG Arsenal Alex Oxlade-Chamberlain menyelesaikan semifinal Piala FA, Minggu (23/4) malam lalu,…

Rabu, 26 April 2017 09:21

Fokus Hadapi MU

TENGGARONG - Mitra Kukar tidak punya waktu bersantai. Selepas ditahan imbang 1-1 oleh PSM Makassar di…

Rabu, 26 April 2017 09:18

PS TNI Undang Ivan Kolev

BANTEN - Manajemen PS TNI membantah kabar soal Ivan Kolev yang akan menjadi pelatih baru Abduh Lestaluhu…

Rabu, 26 April 2017 09:17

Opsi Mundurkan Jam Laga

SAMARINDA – Menjalani debut perdana di kandang dalam lanjutan Liga 1 menjamu Persegres Gresik…

Rabu, 26 April 2017 09:15

Atensi Khusus Pemain Muda

SAMARINDA - Dua laga telah dilalui Borneo FC. Regulasi yang ditetapkan PSSI pun telah dijalankan dengan…

Rabu, 26 April 2017 09:14

Timnas U-22 Masih Bermain Individu

TANGERANG - Asisten pelatih Persita Tangerang Wiganda Saputra, merasa para pemain timnas Indonesia U-22,…

Rabu, 26 April 2017 09:13

Menikmati Tekanan

LONDON – Arsene Wenger habis? Eits, tunggu dulu. Seiring masifnya permintaan agar dirinya out…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .